Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Dia juga partner bisnis saya


__ADS_3

"Makasih ya kak dah jemput kita. Cindy bosan di rumah terus. Habis sekolah dijemput trus di rumah aja kalo pas gak ada les."


Rara tersenyum mendengar keluhan Cindy. Sementara Jimmy hanya mengaduk-aduk mimumannya.


"Ada apa Jim ? Kayaknya kamu ada sesuatu." ucap Rara.


Jimmy menghela nafas.


"Gak ada sih kak. Jimmy juga bosan di rumah. Bang Albert sedang sibuk. Jadi kita malah jarang ketemu di rumah."


"Oh....padahal ya, bang Albert loh yang minta kakak jemput kalian. Karena hari ini abang ada kerjaan di luar kota. Jadi kakak jemput kalian buat tidur di apartemen abang."


"Wah....beneran kak. Kok abang gak bilang ke kita ya bang." kata Cindy agak kesal.


"Hem...kerjaannya mendadak Cin. Tadi abang ngabari kakak juga udah di bandara. Maafin abang ya Cin, Jim." kata Rara.


"Kok kakak yang minta maaf sih." kata Jimmy sambil mengunyah kentang goreng.


"Ya soalnya abang memang lagi sibuk banget. Rencananya satu bulan lagi kan abang sama kakak nikah. Jadi abang pengen pas mendekati hari H, kerjaan gak banyak."


"Oh....." ucap Jimmy dan Cindy bersamaan.


"Kalau itu Cindy dukung deh. Ga jadi marah sama abang."


"Heem" kata Jimmy menyetujui perkataan Cindy.


"Okay. Makasih ya."


Cindy dan Jimmy hanya tersenyum.


"Kak....kalau kakak udah nikah sama bang Al. Kakak gak akan berubah kan sama kita ?" tanya Cindy sambil memegang tangan Rara.


Rara menatap kedua adik Albert yang menunggu jawabannya.


"Cin...Jim....apa maksud kalian kakak akan menjadi ibu tiri yang jahat gitu ya ? Kalian kebanyakan nonton sinetron ?" jawab Rara dengan geli.


Jimmy menggaruk lehernya yang tidak gatal. Sementara Cindy meminum minumannya.


"Kenapa sih kalian sampai kepikiran begitu ?" tanya Rara penasaran.


Cindy dan Jimmy saling tatap. Rara menghela nafas. Kemudian dia menatap kedua adik tunangannya.


"Cin...Jim..., kakak gak pernah ada niat sedikitpun untuk menyakiti hati kalian. Kalian juga tahu kan. Kalian yang buat kak Rara dekat dengan abang dan mau terima abang. "


"Kak...maaf." kata Cindy seraya meraih tangan Rara.


"Cindy hanya teringat perlakuan cewek-cewek yang pernah mendekati abang. Saat abang tidak menerima mereka, mereka pikir itu karena kami yang minta pada abang." jelas Cindy.


"Iya kak, bahkan mereka juga bilang jika kami akan dibuang saat abang menikah dengan wanita yang dicintainya."


"Ya Tuhan. Kenapa mereka mengucapkan perkataan seperti itu." Rara menekan dahinya.


"Bahkan ada yang bilang kalau Cindy dan bang Jim hanya beban untuk bang Al."

__ADS_1


Rara menggelengkan kepalanya.


"Nggak Cin, kalian adalah segalanya buat abang kalian. Abang kalian sayang banget sama kalian." kata Rara berusaha menghibur mereka.


"Tapi...kalau kakak dan bang Al punya anak sendiri. Kalian akan melupakan kami ". Cicit Cindy sambil menundukkan kepala.


"Aduh Cin....kakak gak bakal lakuin hal itu. Sebisa mungkin kakak akan mengatur waktu buat kalian dan keponakan kalian nanti. Tapi mungkin perhatian kakak akan lebih kepada baby, karena kalian tahu kan baby pasti butuh ibunya. Malah kakak berharap kalian bisa bantuin kakak jaga baby."


"Kakak gak bakal kirim kita ke sekolah asrama ?" tanya Jimmy.


"Kok sekolah asrama ? Kalian emang mau tinggal diasrama ?" tanya Rara bingung.


Jimmy dan Cindy saling menatap.


"Maksudnya gimana sih Jim ? Kok kakak jadi bingung ya. Kenapa kalian harus tinggal di asrama? Jangan-jangan ada yang bilang begitu?"


Keduanya menganggukkan kepala.


Dalam hati Rara memaki siapapun yang mengatakan hal itu kepada adik-adik Albert.


"Kakak akan bilang ke bang Al kalau dia udah pulang. Nanti kita bahas lagi ya. Jujur kakak gak pernah ada pikiran kalau kalian akan tinggal diasrama. Kakak pikir bang Al juga gak akan pernah melakukan hal itu."


"Iya kak" kata mereka berdua.


"Ya sudah kita lanjutkan makan siangnya. Oh iya, kalau kalian ada ganjalan atau apapun. Katakan kepada kakak atau abang. Jangan mengambil kesimpulan sendiri. Bisa ?"


Merekapun menganggukkan kepala.


"Wah lagi makan siang keluarga nih." kata seseorang yang tiba di dekat meja mereka.


Semua mendongak dan melihat sosok Nadia dihadapan mereka.


"Hai Jim, hai Cin." sapa Nadia.


"Hai kak" kata Jimmy dan Cindy hampir bersamaan.


"Boleh saya gabung?" tanyanya.


Jimmy, Cindy dan Rara saling berpadangan.


"Oh silakan mbak. Lagian kami juga baru mulai. Mbak mau pesen apa ?"


Nadia duduk dan tersenyum.


"Nggak usah. Saya sudah makan tadi."


"Oh...ya sudah. Kalau mau pesen minuman silakan." kata Rara.


Nadia tersenyum dan menganggukkan kepala.


"Kalian akrab banget dengan calon kakak ipar." kata Nadia.


Jimmy dan Cindy hanya diam dan melanjutkan makannya.

__ADS_1


"Kalian yakin calon kakak ipar kalian beneran sayang sama kalian." lanjutnya.


Rara menghentikan makannya. Kemudian meraih tisu dan mengusap mulutnya.


"Maksud anda apa ya mba ?" tanyanya kemudian.


Nadia hanya mengangkat bahu.


"Hem....atau jangan-jangan mbak yang ngeracuni pikiran mereka tentang kakak ipar ?" kata Rara kesal.


"Hei...jangan asal nuduh ya. Aku hanya bertanya kepada mereka kenapa kamu yang sewot." kata Nadia tak kalah kesal.


"Saya bisa bilang ke Albert kalau mbak Nadia meracuni pikiran adik-adiknya."


Nadia tertawa.


"Kamu pikir...Albert bakal percaya gitu aja sama ucapan kamu ? Aku sudah cukup lama kenal Albert dan dia bukan orang yang mudah dipengaruhi. Lagian aku adalah partner bisnisnya." kata Nadia dengan sombong.


Rara menarik nafas dan menghembuskannya.


"Saya adalah calon istrinya dan dia juga partner bisnis saya."


Nadia tertawa lagi.


"Nggak salah ya. Emang kamu ada bisnis apa sama Albert ?"


"Yah....memang gak sebesar bisnis bengkel sih. Tapi anda juga sering berkunjung ke butik blessing kan ?"


Nadia terhenyak. Butik blessing sering ia kunjungi meskipun bukan pelanggan tetap tapi beberapa kali dia memesan gaun dari butik itu dan dia menyukainya.


Jangan bilang kalau butik itu adalah butik yang dikelola oleh wanita didepannya.


Sial...makinya dalam hati.


Sementara itu Jimmy dan Cindy hanya menahan tawa melihat wajah merah Nadia.


"Oh....jadi butik itu yang didanai oleh Albert."


"Hem...kayaknya Albert sudah cerita sama anda."


"Yah....sedikit banyak saya tahu kegiatan Albert dan juga teman-temannya."


Rara hanya menganggukkan kepala dan meminum jus didepannya.


Jimmy segera mengirim pesan ke ponselnya.


Jimmy_S : "Gawat....abang harus siap-siap."


Jimmy_S : "Kak Nadia ketemu sama kak Rara dan aku lihat kak Rara cukup kesal."


Jimmy S : "Abang harus bisa jelasin ke kak Rara bagaimana bisa abang cerita ke kak Nadia kalau abang mendanai butik kak Rara."


Semu pesan hanya centang satu diaplikasi hijau. Jimmy hanya menghela nafas. Setidaknya abangnya bisa mencari solusi untuk menghadapi Rara.

__ADS_1


__ADS_2