Syailendra Love Story

Syailendra Love Story
Permintaan Cindy


__ADS_3

Rara menggenggam ponselnya dengan erat.


Hal itu tidak luput dari perhatian Albert.


"Kak Rara kenapa bang ?" Tanya Cindy.


Albert tersenyum dan mengusap kepala Cindy.


"Setiap orang punya masalah sendiri Cin dan kak Rara pasti bisa menghadapinya."


Cindy menganggukkan kepala.


"Abang akan bantu kak Rara kan ?" Tanya Cindy lagi.


Albert tertawa dan kembali mengacak rambut Cindy, mengakibatkan Cindy menghentakkan kaki dan merapikan rambutnya lagi.


"Abang ih...jahil banget. Rambut Cindy jadi berantakan nih." Kata Cindy kesal.


"Habis kamu, anak kecil, sok ikut campur urusan orang dewasa."


"Ih...biarin. Cindy gak mau lihat kak Rara sedih."


"Kamu sesayang itu sama kak Rara...?"


Cindy menganggukkan kepala.


"Kak Rara baik banget bang. Cindy pengen merasakan punya mama." Kata Cindy menatap Albert.


Albert menarik Cindy ke dalam pelukannya.


Dari kecil Cindy memang tidak pernah merasakan dekapan seorang ibu, karena saat melahirkan Cindy, mama mereka mengalami pendarahan dan tidak selamat.


Rara melihat Cindy yang dipeluk Albert. Dia pun mendekatinya.


"Cindy kenapa Al ?"


Albert tersenyum.

__ADS_1


"Hanya keinget Mama." Jawab Albert sambil menghapus air mata Cindy.


Rara tersenyum.


"Jangan sedih ya Cin, kamu bisa lihat kan, banyak anak Panti disini yang tidak pernah melihat wajah Mamanya. Bahkan mereka tidak punya foto Mama atau Papa mereka."


Rara mengajak Cindy duduk di sofa didekat mereka.


"Walaupun Cindy tidak pernah bertemu Mama, Cindy masih bisa melihat foto Mama kan ?"


Cindy menganggukkan kepala.


"Senyum ya...Cindy lebih cantik jika banyak senyum."


Cindy menghambur ke pelukan Rara.


Rara mengelus rambut Cindy.


"Cindy sayang kakak. Kakak mau jadi istri Bang Al ya...biar Cindy bisa deket sama kakak."


"Ra....maaf, aku gak pernah minta Cindy bilang gitu ke kamu." Kata Albert berusaha menjelaskan agar Rara tidak salah paham.


Muka Rara memerah.


"Kak....bukan bang Al yang suruh kok. Itu kemauan Cindy" kata Cindy sambil meraih tangan Rara.


Rara mengelus lehernya dengan tangan satunya.


"Ehm...Cin...bukan kakak nyalahin kamu. Cuma kakak dan bang Albert juga baru kenal. Maafin kakak belum bisa kabulin permintaan kamu."


"Kakak gak suka sama bang Al ?" Tanya Cindy sedih.


"Bu....bukan gitu...." Rara serba salah menjawab pertanyaan Cindy.


Albert mengusap wajahnya gusar. Sebenarnya dia juga mau Rara jadi kekasihnya, tapi dia tahu Rara masih belum move on dari pacarnya yang dulu.


"Cin...jangan gitu ke kak Rara. Nanti kita bahas lagi. Sekarang sudah sore. Ayo abang antar ke tempat kak Rara." Kata Albert karena tidak ingin Rara canggung akibat permintaan spontan dari Cindy.

__ADS_1


Mereka pun mencari Jimmy yang ternyata sedang bermain bola dengan anak-anak Panti.


Selama perjalanan Rara hanya diam, dia agak canggung karena ingat perkataan Cindy.


Jimmy yang tidak tahu kejadian itu hanya terdiam sambil melirik ke Cindy. Tapi Cindy hanya menggelengkan kepalanya.


Albert ikut masuk ke unit Rara, mereka makan malam bersama karena Albert memaksa memesan makanan untuk mereka sebagai ucapan terima kasih karena Rara mau menjaga adik-adiknya.


Setelah Jimmy dan Cindy masuk ke kamar untuk beristirahat, Rara menghampiri Albert yang masih duduk di ruang tamu.


"Hem....Ra, aku mau minta maaf soal permintaan Cindy tadi sore. Cindy memang kurang kasih sayang Mama, karena semenjak lahir dia tidak pernah merasakan dekapan dan kasih sayang Mama. Dan dia merasa senang saat ada kamu. Mungkin bisa kukatakan dia egois karena dia ingin kamu selalu ada disisinya." Kata Albert saat Rara duduk di sofa didepannya.


Rara menghela nafas panjang.


"Iya Al, aku maklum sih, cuma kenapa juga dia mau aku jadi istrimu. Permintaannya agak berlebihan menurutku."


"Mungkin dengan menjadi istriku, menurut Cindy dia akan dekat dengan kamu, karena otomatis kamu akan tinggal dengan kami."


Rara menganggukkan kepala.


"Sudah lupakan saja. Aku hanya terkejut dengan permintaannya."


Albert mengangguk.


"Ehm....baiklah, aku akan pergi. Maaf sudah merepotkanmu."


Rara tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Rara menghela nafas lega saat Albert sudah meninggalkan unitnya.


Tapi wajahnya menjadi dingin saat melihat ponselnya berkedip.


"Ya..."


"Aku sudah dibawah Ra."


"Tunggu di cafe, aku akan turun."

__ADS_1


__ADS_2