TAKDIR 2

TAKDIR 2
17 Amar


__ADS_3

Bryan dan syasa marah besar pada julio, karenanya kini Jane harus menyandang gelar status janda di usia muda, syasa dan Bryan tidak menyangka Julio bisa berbuat nekat dengan mengancam Rey terlebih menggunakan senjata. Julio hanya diam, ia sadar ia salah namun diamnya justru nyimpan dendam pada Rey.


''papa kecewa padamu Julio, papa dan mama tidak pernah mengajarkan padamu untuk memasakkan sesuatu terlebih masalah hati, papa tahu kamu hanya ingin membuat adikmu bahagia tapi apa hasilnya, kamu lihat sendiri'' beber Bryan emosi sedangkan syasa memikirkan nasib Jane yang sudah di perjalanan ke new York. syasa juga tidak mengetahuinya jika Jane tengah hamil anak Rey


''sebagai hukumannya, kamu harus mengantikan Rey di perusahaan. papa sudah memecatnya dari perusahaan'' ucap Bryan lagi melihat tajam Julio lalu meninggalkannya menuju kamar di ikuti syasa .


''ini semua pelajaran buat dirimu julio, aku harap kamu banyak belajar dalam hal ini'' saut Krisna menepuk pundak sang adik lalu meninggalkannya menuju lantai atas .


''Rey.. meli.. tunggu pembalasan ku, dan Jane kamu tenang di sana kakak jamin Rey akan mencari mu dan bertekuk lutut pada mu,dan meli tunggu sayang, aku tidak akan melepas mu'' batin Julio tersenyum sinis.


''sepertinya aku harus bermain secara halus'' batin Julio lalu ia berdiri menuju kamarnya. entah iblis mana yang merasuki Julio sehingga mempunyai dendam di hatinya, entah karena terlalu sayang dengan Jane atau ia melakukan karena ingin memilik meli.entahlah hanya Julio yang tahu. disisi lain meli dan Rey tengah merencanakan sesuatu untuk masa depan mereka.


''Rey apa rencana mu ke depan setelah tidak bekerja di perusahaan tuan Krisna'' tanya meli saat mereka sedang di kamar berdua dan berbaring di tempat tidur saling berpelukan.


''tidur..'' jawab Rey singkat lalu tertawa di ikuti meli


''nanti aku pikirkan, saat ini aku ingin menghabiskan waktu bersama mu dan calon anak kita, kamu tenang saja kita masih dapat penghasilan dari ruko dan sewa apartemen tiap bulannya.tapi mungkin tidak banyak hanya untuk biaya sekolah adik adik mu dan kebutuhan kita sehari hari'' jelas Rey lalu tersenyum memeluk erat meli


''maaf Rey.. aku dan adik ku menjadi beban untuk mu''


''tidak apa apa mereka juga adik ku'' jawab Rey lalu tersenyum.


''Rey bulan depan ruko kita ada yang kosong bagaimana kalau kita gunakan sendiri untuk membuka usaha'' balas meli melihat raut wajah Rey


''eum..ide bagus, besok kita buat rencana yang matang, sekarang sudah malam kamu harus tidur lebih awal heum..''jawab Rey mencium kening meli dan mengusap perutnya


''iya.. kamu juga harus tidur'' balas meli memeluk Rey dan mereka tidur saling berpelukkan.setelah meli tertidur Rey bangun dan melihat wajah meli dan tersenyum.


setelah meli tidur Rey bangun dan duduk di kursi memikirkan nasib Jane. Rey berfikir bagaimana jika Jane mengandung anaknya. dan itu tidak mudah jika Jane mengandung anaknya dan harus menjalani kehamilannya sendirian. bagaimana pun selama tiga bulan mereka melakukannya walau 2 Minggu sekali dan itu hanya memenuhi kewajibannya untuk memberi nafkah batin untuk Jane.


''tidak mungkin Jane hamil, jika memang iya pasti dia akan memberitahuku tapi ini Jane hanya diam dan justru meninggalkanku.''


''tapi bagaimana jika Jane hamil? ya Tuhan kenapa ini semua menjadi rumit'' batinnya lalu mengacak rambutnya lalu dan melihat Jane dan menghela nafas panjang. tak lama ia melihat map yang berisikan surat perceraiannya bersama Jane yang ia letakkan di meja yang asa di dekatnya.


''bukankah ini yang aku inginkan, Jane meminta perpisahannya sendiri, lalu apa apa yang aku cemaskan'' batin Rey mengambil pulpen dan hendak menandatangani surat perceraiannya namun ia pikir lagi.


''tidak.. aku tidak akan menjatuhkan talak pada Jane dan menandatangani surat ini sebelum aku mengetahui Jane hamil atau tidak'' batinnya lagi Lalu menyimpan surat dan pulpen nya di dalam laci Lalu ia menyusul meli untuk tidur.


pengumuman lomba melukis Luna sudah di umumkan dan Luna mendapat juara kedua, sedikit kecewa tapi itu bukan masalah setidaknya ia sudah mencobanya. kini ia masih berada di area perlombaan dan Tengah mencari keberadaan Attar di tengah keramaian. ia menoleh ke sana kemari sambil memegang piala dan piagam.


''nona.. '' bisik Attar yang tiba tiba ada di belakangnya lalu Luna menoleh kebelakang


''kakak'' balasnya lalu tanpa sadar ia memeluk Attar dan sedikit melompat lompat karena rasa bahagianya menjadi juara ke dua . dan Attar pun juga tanpa sadar membalas pelukan Luna


''kak aku juara dua'' ucapnya yang masih memeluk Attar


'' iya non.. selamat ya '' jawab Attar melepas pelukan Luna


''ah.. maaf kak Luna tidak sengaja'' balas Luna yang baru sadar memeluk Attar dan menjadi salah tingkah


'' tidak apa apa nona, pasti nona sangat senang'' jawabnya lalu tersenyum


'' ya sudah non, mari'' ucap Attar mempersilahkan Luna jalan lebih dulu namun Luna hanya diam dan masih merasa malu. Attar pun melihat Luna heran


''nona..'' panggilnya


''ah.. iya ayo'' Jawab Luna jalan lebih dulu lalu di ikuti Attar yang hanya satu langkah di belakangnya.


''kenapa aku merasa gugup'' batin Attar yang berjalan di belakang Luna dan melihat Luna. namun tiba tiba Luna hampir terpeleset saat menuruni tangga beruntung Attar sigap menangkapnya.


''hati hati nona'' ucap Attar saat Attar membantu nya berdiri


''terima kasih kaka'' jawabnya lalu tersenyum begitu juga Attar, kemudian Attar mengambil alih barang bawaan Luna dan mereka berjalan kembali sambil luna memegang lengan Attar. mereka sudah seperti sepasang kekasih yang di mabuk asmara namun keduanya masih sama sama malu mengakui perasaan mereka masing-masing.

__ADS_1


setelah mereka sampai di mobil. Attar meletakkan barang bawaan Luna di bagasi mobil sedangkan Luna duduk di depan di samping kemudi. tak lama Attar pun masuk ke mobil


''kak..ini air minum kakak'' yang Luna memegang botol yang ada di dekatnya


''iya non'' jawab Attar sambil menggunakan sabuk pengamannya sedangkan Luna meminum air bekas Attar


''kak..'' panggil Luna saat selesai minum dan melihat Attar sedang menyalakan mobil, Attar sejenak menoleh ke arah Luna dan tersenyum


''ya non..''


''cup'' Luna tiba tiba mengecup pipi Attar dan membuat Attar terdiam tidak tahu harus berbuat apa sedangkan Luna menggigit bibir bawahnya dan membuang pandangannya. Karena merasa malu Luna memutuskan ingin keluar dari mobil namun Attar menarik lengan nya.


''apa maksud nona mencium ku?'' tanya Attar yang masih menatap ke arah depan dan tidak berani melihat wajah Luna


''eum.. Luna..eum..Luna suka sama kakak'' jawab Luna masih menunduk .Attar yang mendengar pernyataan Luna hanya bisa tersenyum Lalu melihat Luna.


''suka? suka dalam arti apa'' tanya Attar memastikan, Luna perlahan melihat wajah Attar


''eum.. Luna jatuh hati sama kakak'' jawab Luna. Attar berlahan menghadap ke arah Luna setelah melepaskan sabuk pengamannya lalu tersenyum melihat Luna


''kakak juga'' jawab Attar lalu meraih jemari Luna


''jadi kakak mau jadi pacar Luna'' namun Attar tertawa kecil lalu mengusap lembut kepala Luna


''seharusnya Kakak yang mengatakan itu'' balas Attar lalu tersenyum


''ya sudah coba kakak katakan'' ucap Luna lalu tersenyum dan sedikit memajukan wajahnya


''Luna.. apa kamu mau jadi pacar kak Attar yang hanya orang biasa, seorang sopir'' balas Attar yang juga memajukan wajahnya dan mereka tersenyum


''iya aku mau jadi pacar kakak, jangankan pacar menjadi calon istri kakak Luna mau'' jawab Luna lalu tersenyum. namun Attar tertawa kecil


''selesaikan sekolahmu lebih dulu'' jawab Attar mencubit kedua pipi Luna


''tapi nona bagaimana jika tua Bryan mengetahuinya''


''eum..kita diam diam saja dulu kak, di rumah kita biasa saja, di rumah sebenarnya juga sedang banyak masalah, Luna juga tidak mau menambah masalah'' beber Luna mengingat pernikahan Jane yang kandas begitu saja.


''baiklah'' jawab Attar lalu memasangkan sabuk pengamannya Luna setelah ia juga memasang sabuk pengamannya kemudian melajukan mobilnya.


New York


pemandangan di luar apartemen yang begitu indah. terdapat gedung gedung tinggi menjulang namun itu tidak membuat Jane takjub, ia hanya terdiam melihat dari balkon apartemennya. ia tinggal bersama satu maid yang di sediakan Bryan untuk membantu dan menemani nya saat di apartemen karena sang papa tahu jika Jane tidak bisa melakukan apa pun sendirian sedangkan Siena sang kakak tinggal di apartemen yang hanya beda satu lantai.siena mengetahui jika Jane mengandung namun Jena meminta agar tidak mengatakan kepada keluarganya di Indonesia terlebih Rey.


ia menghirup nafas dalam dalam lalu menghembuskannys lalu tersenyum simpul dan mengusap perutnya.


''kita pasti bisa tanpa papa mu sayang, pasti bisa, ternyata melepaskan orang yang kita cintai dengan ikhlas jauh melegakan, kak Laras benar. lepaskan'' batinnya sambil mengusap perutnya


''selamat pagi nona'' sapa sang maid yang bernama Maria sambil membawakan susu dan sarapan pagi untuk Jane


''pagi Maria..''jawab Jane lalu duduk di kursi yang ada di balkon dan Maria meletakan sarapannya di meja.


''silahkan nona''


''terima kasih Maria'' jawab Jane lalu tersenyum.


''jane.. '' panggil Nathan tiba tiba datang sambil membawa beberapa lembar kertas


''iya kak.. Jane di sini'' jawab Jane lalu Nathan menghampirinya


''ini berkas pendaftaran kuliahmu sudah kakak urus dan besok pagi kamu bisa langsung masuk kuliah'' jelas Nathan lalu tersenyum dan memberikan berkas berkasnya dan Maria permisi meninggalkan Jane dan Nathan berdua.


''iya kak terima kasih'' jawab Jane lalu tersenyum

__ADS_1


''oh ya nanti ada teman kakak yang akan membantumu di kampus. dia salah satu dosen di sana, namanya Amar'' jelas Nathan lagi lalu tersenyum


''iya kak terima kasih''


''baiklah.. kalau begitu Kakak berangkat kerja, dan yang sabar'' jawabnya lalu mengusap kepala Jane dan tersenyum begitu juga Jane kemudian Nathan berangkat ke kampus tempat ia menjadi dosen namun bukan di kampus tempat Jane kuliah nanti. Nathan Sangat menyayangi adik iparnya seperti anaknya sendiri.


''sayang.. ayo kita sarapan'' ucap Jane pada perutnya dan mengusap usap Perutnya lalu Jane menyantap sarapanya. sampai habis tidak tersisa.


setelah sarapan ia memutuskan untuk mandi lalu ia pergi jalan jalan di sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli keperluan pribadinya serta melepas penat. Jane hanya pergi sendiri dan ia sudah paham betul tempat mana saja yang ingin ia kunjungi karena ia sudah terbiasa waktu kecil saat liburan di new York. Jane berjalan perlahan menelusuri toko toko dan pandangannya terhenti saat melihat toko perlengkapan bayi. ia mencoba masuk dan melihat lihat.ia tersenyum saat melihat kereta bayi dan mainan bayi serta baju baju bayi. setelahnya ia keluar dan berjalan menuju supermarket untuk membeli susu.


''baiknya aku membeli beberapa kotak'' batin Jane lalu tersenyum membeli beberapa kotak susu hamil, lalu ia berjalan sambil mendorong trolinya dan mengambil beberapa biskuit dan juga minuman kemasan.


''minuman kemasan tidak baik untuk ibu hamil'' celetuk seseorang yang ada di sebelahnya. lalu Jane menoleh ke arah orang tersebut. orang tersebut mengetahui Jane hamil karena melihat kotak susu yang ada di troli milik Jane


''ah.. iya terima kasih tuan,sudah mengingatkan saya'' jawab Jane lalu tersenyum.


''sama sama, apa kamu sendiri di mana suami mu'' tanyanya namun Jane hanya diam dan tersenyum.


''ok baiklah aku mengerti'' jawabnya yang mengira Jane hamil tanpa suami karena hal semacam itu sudah biasa.


''tapi aku salut dengan mu kamu bertanggung jawab'' sambungnya lagi sambil mengikuti langkah Jane


''terima kasih tuan'' jawabnya lalu Jane mengambil lagi beberapa bahan makanan.kemudian Jane menuju kasir dan orang tersebut juga menuju kasir. setelah membayar Jane keluar tanpa melihat orang tersebut sampai dompetnya terjatuh pun Jane tidak mengetahui, namun beruntung orang tersebut mengejar Jane setelah membayar belanjaannya


''nona tunggu.. '' panggilnya seketika Jane menoleh ke belakang


''ya..''


''dompet anda terjatuh''


''ah. terima kasih'' jawabnya sambil menerima dompetnya


''sama sama''


''oh ya.. perkenalkan nama saya Amar'' ucapnya mengulurkan tangannya dan Jane menyambutnya


''jane.. '' lalu keduanya tersenyum.kemudian mereka berdua berjalan bersama. Amar melihat Jane begitu lekat. ia melihat banyak kesedihan di raut wajahnya. mungkin karena Amar sering mendapati gadis seperti Jane dan hal semacam itu bukanlah hal tabu di negara yang sekarang ia tempati


'' tuan sebagai tanda terima kasih bagaimana jika saya mentraktir tuan minum kopi di kafe itu''ucap Jane tiba tiba menunjuk sebuah kafe yang ada di sebrang jalan


''eum.. tidak buruk.. mari'' jawabnya lalu mereka melangkah menuju kafe yang di maksud Jane dan Amar juga mengambil alih barang belanjaan Jane agar Jane tidak keberatan membawa belanjaannya. setelah sampai mereka duduk di kursi di dekat jendela kemudian sang pelayan menghampiri mereka. lalu amar memesan kopi capuccino sedangkan Jane jus jeruk.


''sepertinya anda baru di sini'' tanya Amar setelah sang pelayan meninggalkan mereka untuk mengambil pesanannya


''iya tuan saya memang baru di sini baru satu Minggu tapi saya sering ke negara ini'' jelasnya lalu tersenyum


''apa saat ini anda sedang berlibur di sini'' tanya nya melihat Jane begitu lekat dan tersenyum.


''eum.. untuk kali ini tidak, saya di sini untuk menenangkan diri sekaligus melanjutkan pendidikan saya''


''oh.. '' jawab Amar yang hanya bersih ria


''oh ya jangan panggil saya dengan sebutan tuan, panggil saja nama'' ucap Amar


''itu tidak sopan tuan sepertinya anda jauh lebih tua''


''ya tapi di sini sudah biasa menyebut nama tanpa melihat usia dan usia ku tiga puluh lima tahun''


''baiklah saya mengerti di sini memang tidak sama seperti di negara ku Indonesia dan Anda seumuran dengan kakak saya yang pertama tapi lebih tua Kakak saya dua tahun'' jelas Luna lalu mereka tertawa kecil . tak lama pesanan mereka datang dan mereka minum bersama dan saling bercerita berbagai hal kecuali masalah pribadi. hingga akhirnya Jane tahu jika Amar adalah teman seprofesi Nathan sang kakak ipar .


ya, Jane kini perlahan memang harus melupakan Rey dengan cara menjauhinya. dan memperbanyak teman agar lebih cepat melupakan mantan suaminya. dan pertemuannya dengan Amar mungkin ini adalah salah satu cara ia melupakan kenangan masa lalunya.


* * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2