TAKDIR 2

TAKDIR 2
27.hanya takdir


__ADS_3

''sayanng ini batagor dari mana? tanya syasa melihat batagor di meja makan yang masih di dalam kotak


''dari menantu yang gak dianggap di keluarga ini, kak Yuna mati Matian berusaha bisnis batagor di rumahnya dengan perut besar, hanya untuk membantu suaminya dan menambah uang periksa ke dokter, dan membeli susunya sendiri'' jawab Luna santai namun terkesan kesal sambil bermain ponsel di ruang santai dekat ruang makan


''kenapa berbicara seperti itu''


''kenapa? mama tidak menyukainya, Luna hanya mengatakan kenyataan ma, jika kak Julio dan kak Yuna tidak di anggap di keluarga ini'' balas Luna lalu berdiri menghadap ke arah syasa.


''apa pernah mama melihat keadaan mereka?, apa pernah mama tahu kondisi dan keadaan mereka, kak Yuna sampai menangis menahan diri hanya karena ingin memeluk mama, dan dia juga ingin di anggap sebagi menantu di rumah ini, bahkan pesta pernikahan untuk menyambut kak Yuna saja tidak pernah ada di sini, apa salah kak Yuna, Luna tahu kak Julio yang salah, tapi kak Julio sudah mengakui kesalahannya, mama selalu membanggakan kak Krisna, kak krisna, dan kak Krisna..!'' jawab Luna emosi yang selama ini melihat perlakuan sang mama sangat berbeda terhadap kedua kakak laki lakinya.


''apa mama pernah ingin tahu mereka tinggal di mana, tidurnya seperti apa ,ruang tamunya seperti apa, apa pernah mama melihat mereka kehabisan beras. ya, memang gaji kak julio lebih dari cukup bagi mama tapi mereka mempunyai kebutuhan tak terduga ma, bahkan gajinya kak Julio lebih kecil dari kak Rey sewaktu kak Rey menjadi asisten kak Krisna, kenapa ada perbedaan ma, kenapa?, kerja mereka juga sama bahkan acara empat bulan kehamilan kak Yuna pun mama dan papa tidak datang '' jelas Luna yang sudah tidak tahan melihat keadaan Julio dan kakak iparnya. Luna menangis dan berlari menaiki anak tangga rumahnya dan menuju kamarnya.sedangkan syasa terdiam dan duduk di sofa. merenungi sikapnya kepada Julio dan menantunya,apakah ia sudah keterlaluan.ah tidak itu hukuman yang pantas untuk Julio tapi syasa memang menyadari selama ini tidak mau mengetahui keadaan Julio dan menantunya bahkan kehamilan Yuna,tanpa sadar meneteskan air matanya


''apa aku keterlaluan menghukum anak ku sendiri, jujur mama sangat merindukan mu Julio, mama merindukan mu'' batin syasa dan menangis tanpa henti.bagaimana pun Julio adalah anaknya. anak pertama dari pernikahannya dengan Bryan.


''sayang kamu kenapa?'' tanya Bryan mendapati syasa menangis


''mas.. tidak apa apa, aku hanya sedang memikirkan jane, apa anak itu bisa mengurus anaknya atau tidak, mengingat baru 2 bulan usia Reymond'' ucap syasa berbohong.


''pasti bisa, Jane anak pintar dan naluri ibunya pasti lebih kuat dan Amar pasti membantunya, tenanglah bulan depan kita ke sana lagi untuk acara pernikahan mereka'' jawab Bryan yang sudah duduk di sampingnya.


tak lama terdengar suara langkah kaki Luna yang terdengar tergesa-gesa menuruni anak tangga dan sedikit berlari, Bryan dan syasa pun menoleh ke arah sumber suara langkah kaki Sang anak.


''pelan pelan sayang'' ucap Bryan melihat sang anak menuruni anak tangga, Luna hanya tersenyum dan memperlambat langkahnya.


''pa.. Luna mau pergi sebentar, mau ke galeri lukisan, lukisan Luna terjual 50 juta pa..'' ucap Luna kegirangan


''wow.. Amazing sayang, siapa yang membeli lukisan mu''


''kak Fatir pa.. anak om Wibowo, papa ingatkan''


''fatir..? eum .. ah.. iya papa ingat, memangnya dia sudah pulang dari Jerman, bukanya dia kuliah di sana , kenapa bisa tahu lukisan mu'' tanya Bryan melihat Luna yang duduk di sofa


''dua hari yang lalu dia pulang pa dan dia ke galeri terus melihat lukisan Luna, dia tertarik dan membelinya, tadi pihak galeri menghubungi ku untuk bertemu dengannya''jelas Luna


''lalu uangnya mau untuk apa?''


''untuk membantu kak Julio memperbesar kafe batagornya'' jawab Luna melihat tajam syasa


''kafe batagor?'' tanya Bryan yang belum mengetahui jika Yuna membuka kafe kecil di rumahnya


''biar mama saja yang menjelaskan, Luna pamit'' pamit Luna menyalami Bryan dan syasa lalu ia pergi bersama sang sopir barunya.


''maksud Luna apa sayang'' tanya Bryan melihat syasa yang sedari tadi diam.


''antarkan aku kerumah Julio mas'' balas syasa melihat Bryan dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya, dan itu membuat Bryan tanda tanya.


''kamu kenapa sayang, heum''


''aku merindukan Julio mas'' jawab syasa yang langsung menghambur kepelukan Bryan.


''hampir setahun aku tidak melihatnya''balas syasa yang masih memeluk erat Bryan.


''baiklah, aku tahu perasaan mu, ayo aku antarkan ketempat tinggalnya'' balas Bryan lalu mereka menuju rumah Julio.saat sampai di daerah rumah Julio syasa hanya melihat dari kejauhan.ia Melihat Yuna yang sedang melayani pelanggan dengan bantuan satu karyawannya.


Yuna berjalan perlahan dengan membawa nampan berisikan gelas jus dan batagor lalu meletakkannya ke meja pelanggan dengan senyum yang terus mengembang lalu mengelus perutnya. kemudian ia duduk sambil. bercerita dengan karyawannya.tak lama Julio keluar dengan membawa beberapa kotak makanan yang akan ia antarkan dengan menggunakan motor.


''sayang..aku mau mengantar pesanan batagor ini ke rumah pak lurah'' pamit Julio sambil berjalan menuju Motornya, motor bekas yang sengaja ia beli untuk mengantarkan pesanan jika ia sedang tidak bekerja di kantor.


''iya hati hati..'' jawab Yuna lalu berdiri mengikuti langkah Julio. Julio sedang menyusun kotak makanan di dalam boks boks yang ia ikat di jok motor untuk tempat kotak makanan.


''julio..''sapa syasa tiba tiba menghampiri Julio dan Yuna


''mama'' ucap Julio terkejut,tidak menyangka sang mama akan datang dan menyapanya, Yuna pun tidak percaya melihat sang mertua datang ke rumahnya. tak lama ponsel Yuna berdering dan ternyata dari pak lurah, lalu ia pun mengangkatnya.


''halo iya pak''


''bu pesanan saya sudah di antar?''


''oh iya pak, ini suami saya sudah mau berangkat, mohon di tunggu nya pak'' jawab Yuna lalu melihat Julio, Julio pun langsung menggunakan helmnya.dam Yuna mematikan ponselnya.


''maaf ma pa, Julio mau mengantarkan pesanan batagor ke rumah pak lurah'' pamit Julio canggung lalu menaiki motornya dan menarik tuas gasnya menuju rumah pak lurah, syasa dan Bryan hanya melihat dengan prihatin.


''mari masuk pa ma..''ucap Yuna sopan dan tersenyum begitu juga syasa dan Bryan, mereka masuk kedalam rumah.

__ADS_1


''Ami, tolong jaga sebentar ya, ada mama dan papa julio, oh ya tolong buatkan minuman jus jeruk 2 dan batagor, yang satu tanpa bumbu kacang karena mama alergi kacang '' ucap yuna sebelum ikut masuk kedalam .


''iya mbak '' jawab Ami sopan, lalu Yuna masuk kedalam.


Yuna masuk kedalam dan melihat Bryan duduk di lantai beralaskan karpet, lalu Yuna menyalami Bryan, sedangkan syasa melihat dapur dan kamar serta kamar mandi, hatinya teriris, melihat kamar Julio yang tidur tanpa tempat tidur dan hanya kasur saja, tanpa pendingin ruangan dan hanya ada kipas dinding , melihat dapur kecil yang sedikit masih berantakan.


''ya Tuhan apa aku terlalu keras menghukum anak dan menantu ku'' batin syasa yang menangis di dapur sambil duduk di kursi meja makan. tak lama Julio datang menghampiri syasa di dapur.


''ma..''sapa julio lalu berlutut dan mendekap kaki sang mama


''maafkan Julio ma..maafkan julio'' ucapnya dalam Isak tangisnya begitu juga syasa sambil mengusap rambut Julio.


''iya sayang.. mama memaafkan mu'' jawab syasa lalu mereka saling berpelukan. Yuna dan Bryan pun ikut menangis melihat ibu dan anak yang saling berpelukan.


''yuna.'' panggil syasa melihat Yuna berdiri di belakang Julio bersama Bryan, perlahan Yuna menghampiri Yuna dan syasa pun berdiri di ikuti Julio. Dengan rasa bersalah syasa memeluk menantunya dengan erat. Yuna pun membalasnya dengan mereka semua menangis.


''pulang ya.. tinggal di rumah mama'' ucap syasa mengusap rambut Yuna , Yuna melihat Julio begitu juga Julio lalu keduanya tersenyum


''maafkan kami ma.. biarkan kami tinggal disini, tempat kami disini, biarkan kami hidup mandiri, sebisa kami'' ucap Julio yang sudah enggan untuk tinggal bersama orang tuanya.karena Julio ingin membuktikan bahwa bisa bisa mandiri.


''rumah ini kecil sayang''


''tidak apa ma.. rumah ini justru lebih luas, penuh dengan cinta, ternyata hidup sederhana lebih nikmat, Julio lebih tahu arti kerja keras, Yuna mengajarkan banyak hal ma'' balas Julio merangkul Yuna lalu mengusap perut Yuna.


''yuna sudah menjadi menantu yang baik yang selalu mengajarkan hal hal positif pada anak mama yang kurang ajar ini'' jelas Julio lagi.


''mama menunggu kedatangan kalian di rumah, setiap hari mama menunggu kalian''


''kak Julio sudah hampir setiap hari datang ke rumah ma, hanya untuk melihat mama dari kejauhan'' saut Luna tiba tiba


''Luna..'' jawab Julio lalu tersenyum


''ayo keluar mau sampai kapan di dapur'' cetuk Luna, mengerucutkan bibirnya, semua tertawa melihat ekspresi Luna, kemudian mereka keluar dari dapur kecuali Yuna dan syasa.


''ma.. boleh Yuna memeluk mama''


''tentu,kemarilah'' jawab syasa lalu merentangkan tangannya dan mereka saling berpelukan, Yuna yang memang merindukan pelukan seorang ibu merasa sangat terobati


''sudah.. jangan menangis, terima kasih kamu sudah memenuhi janji mu untu merubah Julio lebih baik''


''ma..ayo keluar'' panggil Luna dari ambang pintu.


''iya, ayo..''jawab syasa sambil mengajak Yuna dan mereka berkumpul di ruang tamu. mereka bercerita tertawa dan makan batagor bersama.


''julio..''


''heum..''


''mana uang dari pak lurah''


''oh ya lupa'' jawab nya sambil merogoh kantong celananya


''ini seratus lima puluh'' ucap Julio memberikan uangnya pada Yuna yang ada di sampingnya.


''terima kasih'' jawab Yuna lalu tersenyum dan mencium pipi Julio,. syasa , Bryan dan juga Luna hanya tersenyum simpul melihat ke harmonisan Julio dan Yuna walau hidup mereka tidak semewah dirinya.


''ma..Julio ingin mengatakan sesuatu tapi Julio yakin mama dan papa pasti marah besar''


''marah besar? maksud mu?''


''soal Rey''


'oh.. mama sudah mengetahuinya, kakak mu memberitahu mama,dan itu pelajaran untuk mu, kamu sudah dewasa'' jelas syasa lalu tersenyum, syasa sudah lama mengetahuinya namun ia hanya diam dan membiarkan Julio bertanggung jawab sendiri.


''mama tidak memarahi ku'


''untuka apa, kamu sudah dewasa Julio dan kamu sudah tahu konsekuensinya'' jawab syasa lalu tersenyum dan mengusap pundak Julio


''yang penting kamu bertanggung jawab'' ucap syasa lagi, Yuna terdiam dan tersenyum simpul dan merasa bersalah tidak bisa mengawasi Julio saat itu


''oh ya.. Luna mana Attar?'' tanya Yuna mengalihkan pembicaraan


''nanti menyusul, katanya masih di bengkel ban motornya bocor''

__ADS_1


''oh.. eum.. bagaimana pendaftaran kuliah mu''


'' aku ikut jalur seleksi kak dan lulus, bulan depan sudah mulai masuk kuliah''


''bagus..'' jawab Bryan lalu tersenyum, tiba tiba ponsel Luna berdering.lalu ia melihat layar ponselnya


''kak Attar?'' lalu ia mengangkat ponselnya


''ya kak..''jawabnya Luna lembut


''Luna, maaf kakak tidak bisa menyusul ke rumah Julio, kakak keserempet mobil sekarang kakak ada di rumah sakit Mitra sehat''


''apa?, baiklah Luna kesana'' jawab Luna cemas lalu mematikan ponselnya.


''kenapa Luna?'' tanya Julio


''kak Attar ,kak Attar keserempet mobil dan Sekarang ada di rumah sakit'' jawab Luna tergesa gesa sambil mengambil tas dan memasukkan ponselnya kedalam tas.


''kamu dengan siapa, bukannya tadi sopir mu sudah pulang?'' tanya Julio


''naik taksi''


''tidak biar kakak yang antar''


''naik apa''


''naik motor kakak''


''hah''


kenapa, kamu gak mau naik motor butut'' jawab Julio meraih kunci motornya, dan yang lainnya tertawa melihat ekspresi wajah Luna


''sudah sudah ini pakai mobil papa saja, bair papa dan mama sedikit lama di sini dan Yuna ada yang menemani'' saut Bryan lalu memberikan kunci mobil nya pada Julio


''terima kasih pa, papa terbaik'' jawab Luna lalu mencium pipi Bryan kemudian Julio dan Luna ke rumah sakit.sesampainya rumah sakit Luna berlari ke ruang UGD namun Attar sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Lalu ia pun menuju ruangan perawatan bersama julio .


''kak Attar..!'' panggil Luna cemas melihat Attar duduk di brankar, lalu berlari kecil menghampiri Attar.


''kak.. kakak tidak apa apa'' ucapnya sambil memegang tangan Attar


''auh.. sakit sayang'


''ah.. maaf, aku pikir tidak sakit''


''sakit lah.. lihat ini'' balas Attar menunjukkan tangannya yang memar


''ini''


''auh.. sakit'' pekik Attar lagi saat Luna memegang kaki Attar.


''he..maaf''


''kamu ada ada saja namanya terserempet ya sakit semua Luna, ya kan '' balas Julio menepuk pundak Attar


''sakit., astaga'' pekik Attar memejamkan matanya sedangkan Julio dan Luna hanya tertawa.


''maaf kak, sebenarnya..''


''sebenarnya dia tadi menangis di dalam mobil karena cemas memikirkamu '' saut Julio memotong kalimat Luna lalu tersenyum dan duduk di kursi


'' benarkah?'' tanya Attar meraih tangan Luna


''heum'' jawab Luna malu malu.


''aku tidak apa apa, hanya sedikit sakit saja'' ucap Attar menepuk punggung telapak tangan Luna.


''besok kakak sudah boleh pulang, jangan cemaskan kakak lagi, dan yang menyerempet kakak juga sudah bertanggung jawab, tapi bapak itu sudah pulang karena istrinya sedang sakit'' jelas Attar lalu tersenyum begitu juga Luna.


''kapan kalian mau menikah?'' tanya Julio menggoda


''kakak.. ''pekik Luna melebarkan matanya ke arah Julio , Attar dan Julio hanya tertawa melihat ekspresi wajah Luna.


''secepatnya, tapi aku masih mengumpulkan uang untuk melamarnya'' jawab Attar tersenyum ke arah Luna dan itu membuat Luna tersipu malu.

__ADS_1


ada rasa yang tidak bisa di ungkapkan di dalam hati Luna saat Attar mengatakan lamaran, ia bahagia laki laki yang ia pertahankan memang benar benar berniat melamarnya dan ia pun tak segan membantu Attar untuk niat baiknya. tapi entah kapan niat itu terlaksana.terwujud tidak nya hanya takdir yang bisa menyatukan mereka berdua


* * * * * * *


__ADS_2