
pernikahan Amar dan jane
Setelah akad selesai, acara pesta pun di mulai, pesta di adakan di tempat terbuka di sebuah taman dengan tema dan adat dari negara Amar. semua nampak cantik dan tampan dengan busana yang mengadaptasi dari negeri tempat asal Amar Pakistan.
''kamu cantik'' ucap Amar memuji Jane sembari mengusap lembut pipinya, Jane hanya tersenyum dan tidak membalas Pujian Amar, walau kenyataannya Amar pun nampak tampan dan gagah walau sangat terlihat jelas perbedaan usia mereka namun tidak menyurutkan kebahagiaan di pesta pernikahan mereka. tak lupa kedua orang tua masing masing turut hadir kecuali Yuna,Julio dan Krisna serta Elsa karena Yuna hamil besar dan Elsa baru saja melahirkan.
''ya Tuhan, aku tidak percaya dengan diri ku sendiri, aku sudah menikah lagi dengan laki laki yang jauh lebih tua, tapi jika ini terbaik untuk hidup ku dan anak ku, tolong tumbuhkan rasa cinta ini hanya untuk Amar, jujur aku belum bisa melupakan kak Rey seutuhnya, terlebih ada Reymond kecil'' batin Jane yang tersenyum ke arah Amar, entah mengapa hatinya seakan belum bisa menerima pernikahan yang sudah terjadi. tapi bagaimana pun gejolak di hatinya ia tidak mungkin membuat Amar kecewa, Amar yang selalu setia ada untuknya di saat ia hamil dan melahirkan, dan selalu mencintai dirinya apa adanya dan juga anaknya
''kak Rey.. kenapa aku kesulitan melupakanmu, aku sudah berusaha mati Matian kak.. '' batin nya tak terasa ia menitihkan air mata di depan Amar, Amar tersenyum dan mengusap air mata Jane.Amar mengira jika air mata Jane adalah untuknya.
''jangan menangis, ini hari bahagia kita'' ucap Amar menakup kedua pipi Jane dan mengecup keningnya.
''Amar..''jawab Jane lalu mengecup bibir Amar, Jane sengaja melakukan itu agar bayang bayang Rey terlepas dari ingatannya
''bantu aku Amar'' batinnya yang masih mengecup bibir Amar, tidak perduli suara sorak semua orang terutama Abi dan Reza , ya ke dua om nya memang biang ulah dan paling ramai
''ahem...''suara Nathan mengagetkan mereka berdua
''nanti malam di lanjut'' ucap Nathan lalu menepuk pundak Amar lalu menyerahkan baby Reymond pada Amar dan mereka semua berpose untuk berfoto bersama. setelah prosesi foto keluarga selesai mereka bebas berpesta, menyalakan musik India sedangkan Jane memilih untuk duduk sambil menyusui baby Rey di tempat khusus yang sudah di sediakan agar tidak terlihat banyak orang jika ia sedang menyusui bayinya. tak lama Laras dan Siena dan juga Luna masuk untuk menemani Jane.
''hai Jane..'' sapa Laras lalu duduk di depan Jane di ikuti Siena sedangkan Luna duduk di dekat pintu sambil bermain ponselnya
''kak.. ''jawab Jane lalu tersenyum simpul.
''menangislah jika ingin menangis tapi janji untuk yang terakhir kalinya'' ucap Laras yang mengetahui sorot mata jane yang sedari tadi melihat Jane menangis bukan menangis karena bahagia karena menikah dengan Amar melainkan menangisi Rey.
''Laras'' pekik Siena melihat Laras. dan melihat Jane yang langsung berderai air mata,lalu Siena mengambil baby Rey dari pangkuan jane sedangkan Laras berdiri santai sambil melipat kedua tangan di dadanya dan membiarkan Jane menangis.
''jangan mencintai seseorang dengan jiwa mu cukup dengan hati mu, karena saat kamu sakit karenanya hanya hati mu yang sakit bukan jiwamu, tidak mudah memang, kakak saja hampir gila saat kehilangan Ardan tapi kakak sadar sekuat apa pun kita menggenggam seseorang jika bukan takdir kita, tidak akan pernah menjadi milik kita terlebih Rey tidak mencintaimu''
''Laras..!'' saut Siena agar Laras diam dan memahami perasaan Jane
''tidak apa apa kak, kak Laras benar, kak Rey tidak pernah mencintai ku'' jawab Jane dalam Isak tangisnya
''kakak tahu isi hati mu Jane, jadi tolonglah lupakan masa lalu dan berdamai dengan hati mu sendiri, terima Amar, dia mencintai mu jangan buat dia kecewa karena kamu masih terbayang bayang masa lalu mu, jika kamu ingin melupakan Rey ganti nama panggilan bayi mu menjadi Aryan itu jauh lebih baik '' jelas Laras melihat Jane yang masih menangis.
''sst..kak Amar datang kemari'' ucap Luna yang yang sedari tadi hanya mendengarkan kakak kakaknya berbicara.secepat kilat Jane menyambar tisu dan menghapus air matanya, setelah nya Jane mengambil make up dan membenarkan riasannya sendiri. sedangkan Laras duduk di kursi bersama siena.
''hai Luna''
''hai kak..'' jawab Luna lalu tersenyum melihat Amar yang juga tersenyum padanya lalu melihat Jane yang masih merapikan make up nya hingga tidak terlihat bekas ia menangis. Luna memperhatikan kakak kakaknya lalu ia mengingatkan dan mencerna ucapan Laras bahwa mencintai cukup dengan hati jangan dengan jiwa
''mencintai dengan hati, jika sakit karena cinta hanya hati saja bukan sakit jiwa, waduh gila dong eh tapi aku juga tergila gila dengan kak Attar, berarti aku sakit jiwa, ah apa yang aku pikirkan, kisah cinta ku tidak serumit mereka, Hem..'' batin Luna mengangkat kedua bahunya lalu ia keluar dan berkumpul dengan lainya
''kalau begitu kami keluar'' pamit Laras saat Siena sudah memberikan baby Rey pada Amar
''iya nanti kita menyusul'' jawab Amar lalu tersenyum kemudian Siena dan Laras keluar
''hai baby Rey''
''aryan, mulai saat ini panggil Aryan saja'' saut Jane lalu melihat Amar lalu tersenyum simpul
''eum.. baiklah aku mengerti, terima kasih'' jawab Amar yang mengerti ini saatnya Jane benar benar harus melupakan cinta yang dulu.
''Amar, apa semua keluarga sebenarnya menerima ku dan anak ku'' tanya Jane tiba tiba, namun Amar diam sejenak dan tersenyum
''mama dan papa ku menerima mu apa adanya Jane, jaman sudah berubah, jangan khawatir dengan keluarga ku yang lain, seiring waktu semuanya nanti pasti mengerti keputusan ku menikahi mu'' jelas Amar meyakinkan Jane Karena ada beberapa saudara Amar yang tidak menyetujui Amar menikah dengan Jane yang seorang janda dan membawa anak
''baiklah aku percaya pada mu, jika kamu tidak akan mengikuti tradisi perjodohan dengan sepupumu,dan ini surat perjanjian yang harus kamu tanda tangani sebagai bukti kamu tidak akan melakukan itu, jika kamu melanggar kamu berurusan dengan semua keluar ku'' jelas Jane memberikan surat perjanjiannya, Jane melakukan itu hanya untuk berjaga-jaga.
''kamu percaya pada ku tapi kenapa ada surat perjanjian?'' tanya Amar heran
''hanya sebagai bukti jika kamu benar benar mencintai ku''
''jane..'' ucap Amar sambil meletakkan baby Rey di kereta dorongnya
''Amar Aryan khan''
__ADS_1
''ok baiklah'' jawab Amar pasrah lalu membaca surat perjanjiannya.
''ini..'' ucap Amar memberikan surat perjanjiannya pada Jane lalu Jane meletakkannya di tasnya lalu tersenyum dan mendekati Amar
''Amar..'' panggil Jane lembut lalu mengecup pipi Amar dan tersenyum.
''jane'' balasnya lalu mereka saling berpelukkan.
''ayo.. semua sudah menunggu di meja makan '' ajak Amar lalu mereka keluar bersama menuju tempat pesta tak lupa baby Rey ikut serta.
mereka keluar dan berjalan berdampingan, Amar menggendong baby Rey dengan senyum yang terus mengembang begitu juga jane.semua yang melihat juga turut bahagia.
✨
sinar mentari menyinari kota new York, sinarnya yang hangat sampai menembus kaca hotel tempat Jane dan Amar menginap setelah acara pernikahannya. Jane yang sudah bangun tersenyum mengingat malam pertamanya bersama Amar, malam pertama yang ia inginkan, begitu romantis dan penuh cinta dari Amar.
Jane begitu senang Amar memperlakukannya dengan lembut, beda dengan Rey yang begitu kasar padanya. namun tangisan sang bayi membuyarkan lamunannya lalu ia bangkit dan mengambil bayinya dan menggendongnya kemudian membawanya sedikit jauh dari Amar . jane membawanya ke kamar mandi, lalu ia mandikan , setelahnya ia Menganti baju Aryan dan mengganti popoknya, kemudian ia membuat kopi untuk Amar dan susu untu dirinya sambil menggendong Aryan setelahnya ia duduk di sofa sambil menyusui Aryan dan sekali meminum susunya.
Amar bangun dan meraba tempat tidur namun ia tidak mendapati Jane di sampingnya kemudian ia bangkit dan duduk di tempat tidur. Amar melihat Jane yang sedang menyusui bayinya pun tersenyum.
''ah.. aku lupa jika istri ku mempunyai seorang bayi'' batin Amar yang sebenarnya ingin meminta haknya yang sama seperti tadi malam mereka lakukan. lalu ia menghela nafas panjang dan tersenyum.
''pagi sayang.. ''
''pagi baba'' jawab Jane yang memanggil Amar dengan sebutan baba,yang artinya papa atau ayah, ya Amar menyebut dirinya baba untuk baby Aryan karena itu panggilan dari negaranya.perlahan Amar mendekati Jane lalu mencium kening Jane, Amar melihat Jane yang masih menggunakan dress mini dan nampak lekuk tubuhnya, serta dadanya yang sedang menyusui sang bayi. Amar duduk di sebelah Jane lalu meminum kopinya.
''terima kasih'' ucap Amar setelah meminum kopinya.
''sama sama ''jawab Jane lalu tersenyum
''apa Aryan sudah mandi''
''sudah.. aku sengaja memandikannya lebih awal, karena sebentar lagi pasti Oma nya mengambil nya.'' jawab Jane lalu tersenyum, tak lama terdengar suara ketukan pintu lalu Amar membukanya. sebelum membuka pintu Amar tak lupa mengenakan piyamanya. benar saja saat Amar membuka pintu ternyata syasa yang datang.
''pagi Amar''
''apa Jane sudah bangun''
''sudah ma, Jane sedang menyusui Aryan''
''oh.. '' jawab syasa lalu masuk kedalam kamar dan menghampiri Jane sedangkan Amar memilih untuk kekamar mandi.
''jane.. ''
''ya ma..''
''kamu bahagia''
''bahagia ma.. ''jawab Jane lalu tersenyum dan melihat syasa duduk di sampingnya
''tapi Jane juga masih bingung dengan perasaan Jane sendiri ma''
''kenpa''
''tidak tahu, Jane nyaman dengan Amar tapi.. entahlah ma Jane bingung, Jane jalani saja'' jawab Jane menghela nafas panjang lalu menyudahi Aryan menyusu kemudian meletakkan Aryan di dadanya agar Aryan bersendawa sambil menepuk nepuk lembut punggung Aryan.
''ikhlas Jane, rasa ikhlas itu nanti akan membawa mu dengan kebahagiaan mu sendiri dan menumbuhkan cinta di hati mu untuk Amar''
''iya ma, Jane akan terus mencoba'' jawab Jane lalu tersenyum tak lama terdengar suara sendawa Aryan dan itu membuat tawa keduanya.
''mari, biar Aryan bersama mama, kamu layani suami mu'' ucap syasa lalu mengambil Aryan dari pangkuan Jane .
'' terima kasih ma'' jawab nya lalu tersenyum kemudian syasa keluar dari kamar Jane. Amar tidak mengetahui apa yang di bicarakan mertua dan istrinya. ia keluar dari kamar mandi.
''sudah mandi'' tanya Jane menghampiri Amar
''sudah..''jawab Amar meraih pinggang Jane
__ADS_1
''mana anak kita?''
''ada, sama mama'' jawab Jane lalu tersenyum melihat Amar dengan jarak begitu dekat wajah hidung mereka saling bersentuhan dan tak lama Amar menciumnya dan menggiringnya ke tempat tidur. perlahan ciuman mereka semakin panas dan mereka melakukannya lagi. di sisi lain Luna gelisah di kamar hotel, ia sangat merindukan Attar namun ia tidak mau mengganggu Attar yang sedang bekerja di luar kota.
''kak Attar aku merindukanmu, pasti kak juga merindukan ku'' gumam Luna yang masih bermalas-malasan di atas tempat tidurnya.
''tabungan ku sudah lumayan , tabungan hasil kerja ku sendiri, kak Attar juga sedang membangun rumah untuk ku . kak Attar memang laki laki tanggung jawab ,ah.. kakak aku merindukan mu'' gumam Luna dan kesal dengan dirinya sendiri.
''ah sudah aku mau jalan jalan, mumpung di new York'' batinnya lalu ia menuju kamar mandi, setelahnya ia jalan jalan sendiri tanpa dampingan siapa pun karena Ia sudah hafal kota new York. Luna pergi ke sebuah pantai yang tidak jauh dari hotel tempat keluarganya menginap. ia duduk di tepi pantai dengan menggunakan celana pendek dan kaos tanpa lengan serta topi dan sepatu santai dan tas kecil yang ia selempang kan di bahunya.
Luna hanya menikmati deburan ombak dan melihat beberapa orang yang lalu lalang, wajahnya yang khas Asia membuat daya tarik sendiri bagi yang melihat khusus laki laki pribuminya hingga salah satu menyapanya
''hai.. boleh aku duduk di sini'' sapanya dengan bahasanya
''ya tentu'' jawab Luna lalu sekilas tersebut dan melihatnya lalu laki laki tersebut duduk di sebelah Luna dengan jarak setengah meter
''dari Asia''
''eum.. ya , Indonesia''
''wow.. sudah aku duga, wanita Indonesia memang sangat cantik dan eksotis'' jawabnya namun Luna hanya tersenyum simpul
''perkenalkan nama ku Robin'' ucap nya sambil mengulurkan tangannya
''Luna''
''oh.. nama yang indah''
''terima kasih'' jawab Luna seperlunya.
''kamu datang sendiri'' tanya Robin memperhatikan Luna''
''ya..''
''Luna..'' panggil Abi tiba tiba karena sedari tadi ada yang tidak beres dengan lawan bicara Luna , dan Luna sadar dengan hal itu namun ia sebisa mungkin untuk santai.
''om Abi.. '' batin Luna melihat Abi menghampirinya
''kenapa pergi tidak memberitahu ku'' tanya Abi ,dan Luna pun berdiri di ikuti Robin
''eum.. maaf sayang , aku lihat tadi kamu masih tidur jadi aku tidak mau mengganggu tidur mu'' jawab Luna sambil mengerlingkan satu matanya beruntung Abi tahu maksud Luna.
''aaarrrqqq kamu membuat ku khawatir sayang'' jawab Abi yang mengikuti sandiwara Luna lalu meraih pinggang Luna dan memperlakukan Luna bak istrinya
''oh ya siapa dia? ''tanya Abi melihat Robin
''oh ini teman baru ku Robin, Robin ini my sugar daddy '' bisik Luna pada Robin di akhir kalimatnya lalu tersenyum dan meraih lengan Abi, sebenarnya Abi ingin tertawa dan merasa risih dengan tingkah sang ponakannya namun apa boleh buat ia juga tidak mau cari masalah dengan orang yang baru ia kenal terlebih orang tersebut bukan satu negaranya.
''robin''
''Alex'' jawab Abi menggunakan nama samaran lalu tersenyum
''kalaui begitu aku permisi'' pamit Robin sedikit kesal lalu meninggalkan Luna dan Abi. setelah Robin jauh Luna dan Abi tertawa terpingkal pingkal.
''kamu dapat ide dari mana'' tanya Abi merangkul Luna dan mereka berjalan menuju hotel tempat mereka menginap
''dari film film , terpaksa karena orang tadi seperti bukan orang baik, dan melihat Luna dari atas sampai bawah''
''makanya kamu jangan berpakaian seperti ini''
''iya om maaf , soalnya di sini panas'' jawab Luna yang terus memegang lengan Abi dan terus berjalan menuju hotelnya.
* * * * * *
komen like vote
terima kasih
__ADS_1