TAKDIR 2

TAKDIR 2
65.Sedikit egois


__ADS_3

"Duh mana jepit rambut ku" gumam Neha mencari jepit rambut di dalam tasnya saat mau keluar dari mobil.


''kamu cari apa sayang'' tanya Ardan yang juga masih duduk di sebelahnya di bagian kemudi


''Jepit rambut ku mas, perasaan tadi aku menaruhnya di tas" jawab nya dan terus mencari jepit rambutnya.


''pakai ikat rambut punya Arsy saja" balas Ardan membuka laci mobilnya.


''ini''


''Terima kasih mas'' jawab Neha lalu mengikat rambutnya. Saat mengikat rambut terlihat leher jenjang Neha, dan membuat Ardan menelan silva nya. Lalu ia langsung membuang pandangannya, ia tidak tahan melihatnya. Neha yang sadar pun tersenyum. tak lama neha hendak membuka pintu namun Ardan menahannya, dan mengunci pintunya kembali dan Ardan sudah menyusuri tengkuk Neha.


''Mas, sudah.. nanti aku terlambat masuk ke kelas, ayo turun, nanti ada siswa yang melihat''


''Tidak ada, kita hanya berdua disini'' ucap Ardan yang sudah memandangi wajah Neha yang tersenyum.


''cup..'' Neha sekilas mencium bibir Ardan lalu tersenyum dan mengusap lembut bibirnya.


''Sudah, Ayo'' jawab Neha lalu mereka berdua turun dari mobil.


Semua siswa sudah memasuki kelas masing-masing, tidak ada lagi yang berlalu lalang, hanya beberapa tukang kebun sekolah, Ardan dan Neha berjalan menyusuri koridor sekolah. Ardan tidak sungkan menggenggam jemari Neha, Neha sedikit risih karena di lingkungan sekolah, Namun ia hanya menurut saja. Desas desus kedekatan neha dan Ardan sudah terdengar oleh rekan guru lainnya dan mereka semua diam, mengingat keduanya sama sama sendiri dan justru banyak yang mendukungnya.


"Mau mas antar ke kelas TK" bisik Ardan saat di depan ruangan guru''


''Sudah mas sana, malu di lihat guru yang lainnya" jawab Neha pelan, dan Ardan hanya tertawa kecil.lalu mengusap lembut pipi Neha.


''Ya sudah mas ke ruangan BK, nanti jam istirahat temui mas di ruangan BK''


''Iya..'' jawabnya lalu tersenyum kemudian Ardan melangkah menuju ruangannya, dan Neha masuk ke ruangan guru.


''Selamat pagi bu, pak.." sapa Neha


''Pagi Bu Neha, Wah.. Aura yang sedang jatuh cinta memang berbeda?'' goda rekan kerjanya yang bernama Fatma.


''Ibu bisa saja'' jawab Neha lalu tersenyum kemudian duduk di tempatnya, dan mempersiapkan buku buku untuk mengajar hari ini .


''Nanti jangan lupa ya Bu undangannya'' ucap yang lainnya lagi


''pasti Bu..'' jawab Neha menahan malu karena hampir setiap hari di goda rekan kerjanya.


''Mari Bu saya duluan'' ucap Neha yang sudah berdiri membawa buku pelajaran anak TK, kemudian ia berjalan keluar menuju kelasnya.


''Tidak menyangka Neha murid ku itu sebentar lagi akan menggantikan nyonya Laras di samping pak Ardan '' celetuk salah satu guru SMA Neha yang masih mengajar di sekolah MAHENDRA.


''Iya Bu, namanya juga takdir tidak ada yang mengetahui jalanya sepertinya apa , Tapi aku melihat pak Ardan seperti yang lebih posesif pada Bu Neha'' jawab yang lain lalu semua nya tertawa kemudian menuju kelasnya masing-masing.


Ardan yang di ruangannya pun tersenyum sendiri mengingat kebersamaan dengan wanita yang usianya jauh darinya. tiba tiba ada yang membuka pintu tanpa mengetuk dan membuat kaget dirinya.


''Laras..!''ucapnya melihat Laras dengan wajah kesal.


''Masuk ras, Ada perlu apa?'' tanyanya melihat Laras masuk, lalu duduk di sofa di ikuti ardan duduk di sofa bagian ujung.


''Ada perlu apa pagi pagi sekali datang ke sekolah?'' tanya Ardan.


''kamu mempunyai hubungan dengan Neha?'' selidik Laras dengan wajah kesal dan cemburunya.


''Kamu tahu dari mana?''


''tidak penting aku tahu dari mana''


''lalu apa urusan mu?''


''Ardan, Neha itu keponakan ku, dan dulu keponakan kita , apa tidak ada wanita lain'' ucap Laras berapi api namun masih merendahkan suaranya. Ardan tertawa kecil melihat sikap Laras yang tiba tiba memperhatikan hubungannya dengan wanita lain.


''Dulu Laras, itu dulu, aku sudah melupakan semuanya, aku ingin membuka hati ku untuk wanita lain tidak terkecuali Neha, dan hanya Neha yang bisa membantu ku menghapus nama mu dalam hati ku''


''Apa?''


''Laras sudahlah, kita tidak mungkin lagi bersatu walau kita masih saling mencintai tapi aku yakin kamu lebih memilih Martin dan anak anak dan biarkan aku mencari kebahagiaan ku di sisa usia ku, Aku tidak pernah mencampuri urusan pribadi mu dan hatimu dengan Martin, dan tolong jangan ikut campur urusan hati ku dengan Neha, kami saling mencintai ,ya.. aku tahu hubungan kami masih berjalan beberapa bulan dan aku akan segera melamar nya dan meminta Nathan untuk menikahkan kami.

__ADS_1


''Apa kak Nathan mengetahui hubungan kalian?''


''Belum, tapi segera kami akan memberitahunya. dan sudahlah jangan mencampuri urusan asmara ku, aku bukan siapa siapa mu lagi, kita hanya teman''


''Apa aku sudah tidak ada lagi di hati mu?'' tanya Laras memastikan, dan Ardan hanya menggeleng tanda di hatinya tidak ada cinta lagi untuk Laras semua sudah berakhir


''Baiklah, Terima kasih'' ucap Laras menahan air matanya,lalu ia keluar, sebelum keluar ia menggapai buku yang ada di meja Ardan lalu mendorong nya sampai jatuh berserakan di lantai, Ardan hanya memejamkan matanya karena ia tahu bagaimana Laras.


''Maaf ras, aku juga ingin bahagia, bukan terlihat bahagia'' Batin Ardan sedikit egois tanpa memikirkan hati Laras yang mungkin terluka mendengar ucapannya yang sudah tidak mencintainya lagi.


''Ardan kenapa harus Neha, itu artinya kamu akan menjadi bagian keluarga ku lagi, kenapa tidak wanita lain, tapi ya sudah, yang penting kamu bahagia, seperti katamu aku tidak akan ikut campur lagi masalah kehidupanmu'' Batinnya Laras saat di dalam mobil.


''Jalan pak'' ucapnya pada sang sopir lalu menyeka air matanya.


* * * *


NEW YORK


Nathan begitu gelisah saat mengetahui kabar Neha dan Ardan dari Laras. ia cemas, takut terjadi sesuatu pada diri sang putri sulungnya itu, pasalnya yang ia dekati adalah seorang duda berumur.


''Nathan kamu kenapa gelisah, sudah malam istirahat lah'' ucap Siena saat melihat Nathan tak kunjung berbaring dan duduk bersandar di sandaran tempat tidur.


''Neha"


''kenapa dengan anak kita?''


''Neha mempunyai hubungan dengan Ardan'' jelas Nathan melihat Siena seeolah minta pendapatnya. Siena tersenyum lalu mengusap dada sang suami agar Sang suami tidak cemas lagi, lalu ia masuk kedalam pelukan Nathan.


''Apa yang kamu takutkan, jika mereka saling mencintai, nikahkan saja mereka''


''Tidak semudah itu sayang, usia mereka terpaut jauh 22 tahun''


''Apa bedanya dengan kita, jangan seperti itu , ingat kisah kita, bagaimana kamu mendapatkan ku, kita juga terpaut jauh sayang'' jelas Siena mengingatkan perjuangan cinta mereka.


''Aku dengan mu hanya 14 tahun Siena, tidak begitu jauh''


''Aku mengerti sayang'' jawab Nathan menghela nafasnya. lalu tersenyum.


''Tapi aku ingin memberi pelajaran lebih dulu pada Ardan, tidak semudah itu menikahi putri kita''


''Pelajaran?, kamu ingin mengerjai pak Ardan''


''Tepat sekali ,aku ingin melihat bagaimana perjuangannya mendapatkan putri kita, dan seberapa besar cinta mereka, apa seperti kita?'' jelas Nathan menyeringai membayangkan pelajaran apa yang akan ia berikan pada sahabatnya itu.


''Kamu calon mertua yang jahat Nathan''


''Biar, biar seperti papa'' jawab Nathan terkekeh bersama Siena.


''Kira kira mau kamu berikan hukuman berapa lama''


''eum.. mungkin sebulan'' jelas Nathan, lalu keduanya tertawa


''Itu tidak seberapa di banding kita sayang, kita sampai bertahun-tahun'' jelas Nathan lagi melihat Siena.


''Jangan berat berat hukumannya sayang Kasihan mereka berdua, Neha pernah gagal menikah, dan Pak Ardan kamu tahu sendiri luka batin setelah berpisah dari Laras, biarkan mereka bahagia'' jelas Siena.


''Iya aku tahu sayang dan tolong bantu aku untuk bersandiwara'' jawab Nathan lalu keduanya tertawa kecil


''Pasti, tapi aku akan di pihak mereka, seolah olah mendukung mereka" balas Siena lalu memeluk erat Nathan dan kedua tidur bersama.


Nathan lega setelah bercerita dengan istrinya. Nathan hanya ragu perbedaan usia mereka, tapi untuk hal lainnya Nathan tidak pernah ragu dengan sahabatnya itu , Ardan tipikal pria yang bertanggung jawab, dan rela mengorbankan perasaannya demi kebaikan bersama. terbukti jika ia mau egois mungkin saja ia akan meninggalkan Andin,dan kembali pada Laras, bisa saja ia menuntut Laras karena ia belum menceraikannya waktu itu, Namun ia memilih bertahan dengan Andin dan bertanggung jawab atas anak mereka dan kehidupan Andin serta memaafkan semua kesalahan Andin.


* * *


Para siswa sudah pulang, termasuk Arsy dan Devan, mereka pulang di jemput supir rumahnya, sedangkan guru guru masih ada yang membereskan buku bukunya, baru mereka pulang.


Ardan sendiri baru selesai mengisi jam kosong, lalu masuk ke ruangan, di ruangan ternyata sudah ada Neha yang menunggunya.


''Mas''

__ADS_1


''sayang? kamu menunggu ku?'' tanya Ardan saat baru masuk kedalam ruangannya.


''heum, bagaimana aku pulang, aku tidak membawa mobil sendiri, tadi pagi mas menjemput ku'' ucap Neha berdiri di depan Ardan dan memegang kedua lengannya, sedangkan Ardan memegang kedua pinggangnya.


''Bisa naik taxi''


''Mas..'' rengek Neha dan Ardan tertawa lalu memeluk Neha


''Ya sudah ayo pulang'' ajak Ardan sekilas mencium pucuk rambut Neha.


''Oh ya, Anak anak sudah pulang?''


''Sudah, tadi aku menyuruh sopir untuk menjemput mereka, dan aku juga sudah izin Arsy dan Devan untuk mengantarkan mu'' jelas Ardan lalu keduanya melangkah menuju parkiran.


''Maaf Mas, waktu mas untuk mereka menjadi berkurang karena diri ku''


''Tidak apa apa, mereka mengerti, dan senang karena sebentar lagi mempunyai bunda yang cantik''


''Mas..'' dan Ardan pun hanya tertawa kecil.


Mereka berjalan menuju parkiran dengan berjalan biasa, karena ada penjaga sekolah dan satpam sekolah yang melihat mereka. Dan mereka hanya tersenyum pada Ardan dan Neha, karena mengetahui jika Ardan dan Neha mempunyai hubungan.


Sesampainya di Apartemen, mereka makan bersama, mereka makan Ayam bakar kesukaan Ardan yang ia beli di kafe Laras yang dekat sekolah, karena Laras membuka cabang kafenya di dekat sekolah.


''Mas suka ayam bakar?'' tanya Neha memperhatikan Ardan makan dengan lahapnya.


''Heum..''


''kalau begitu, hari libur nanti ajak anak anak kemari, nanti aku masak ayam bakar untuk mas dan untuk anak anak''


''tapi Arsy tidak suka Ayam bakar, dia lebih suka Sop ayam''


''Ya, nanti aku akan membuatkannya untuk Arsy'' jawab Neha lalu tersenyum


''Kamu bisa memasak?''


''Bisa ,aku belajar banyak hal dari mama Siena dan nenek di India, apa mas mau aku masak masakan India?''


''Tidak, aku hanya bertanya ,tapi jika kamu mau memasak untuk ku, aku siap memakannya'' jawab Ardan lalu tersenyum. Tak lama mereka selesai makan, Lalu duduk di ruangan depan sambil menonton televisi. hampir satu jam mereka diam sambil menonton televisi hingga acaranya selesai. jam menunjukkan jam 3 sore,


''Neha aku pulang'' pamit Ardan Henda berdiri, namun Neha menahannya dan menarik lengan Ardan.


''Tunggu'' ucapnya lalu ia duduk mengangkang di pangkuan Ardan.


''Aku masih merindukan mu mas'' ucapnya lalu memeluk Ardan dan Ardan hanya mengusap punggungnya. Neha meletakkan wajahnya di curuk leher Ardan,Dan membuat Ardan meremang menahan hasratnya,


''Neha jangan seperti ini,kamu membuat si kecil bangun'' balas Ardan di iringi tawa Neha.


''Biar, mungkin dia mencari sarangnya'' ucap Neha yang langsung mencium Ardan dan mendapat balasan dari Ardan, entah mengapa Neha seolah menggoda Ardan, Ciuman mereka berubah menjadi panas, ciuman Ardan kini beralih ke leher dan dada neha, sekilas neha melengkuh membuat keduanya kehilangan kendali,


''Mas.. ah..'' terdengar suara Neha,dan akhirnya Ardan tersadar lalu melihat Neha yang nafasnya sudah memburu.


''Jangan di lanjutkan'' ucap Ardan lalu mengancingkan kembali kemeja Neha kemudian sedikit mengakat Neha agar bangkit dari pangkuannya.


''Mas kenapa tidak dilanjutkan''


''Tidak sayang, aku pulang'' jawab Ardan lalu sekilas mengecup kening Neha kemudian ia keluar dari apartemen neha tanpa kata lagi, Neha tahu Ardan sedang menginginkannya, ia sengaja menguji Ardan, seberapa cintanya Ardan pada dirinya.


''Ternyata Kamu mencintai ku mas, Terima kasih'' jawabnya lalu tersenyum kemudian berbaring di sofa seraya menggerakkan kakinya seperti anak kecil.


''eum.. tapi Ciuman om Ardan membuat aku ketagihan, Arrrqqqq.. papa.. Neha minta kawin eh.. menikah'' gumamnya lalu tertawa sendiri.


Sementara itu Ardan yang sudah sampai rumah langsung menyalakan shower tanpa melepaskan setelan kemejanya, Ia terlihat kacau dan nafasnya masih berat karena menahan hasratnya.


''Shit ! ,Neha kamu membuat ku gila'' ucapnya di guyuran air shower, perlahan ia mengatur nafasnya agar hawa panas di tubuhnya sedikit mereda. Namun bayangan Apa yang ia lihat tadi terus menari di mata dan otaknya.


''Ardan pikirkan yang lain, Dan sejak kapan aku menjadi om mesum ,ya Tuhan'' batinnya mengusap rambutnya frustasi.


* * * *

__ADS_1


__ADS_2