
Luna sedang melukis di ruangannya yang sedikit berantakan, sambil mendengarkan musik favoritnya. Bryan sengaja membuat ruangan khusus untuk hobby putri bungsunya. Bryan dan syasa selalu mendukung apa yang menjadi minat anaknya. Bryan dan syasa sudah mengetahui jika Luna mempunyai hubungan Spesial dengan Attar namun Bryan dan syasa hanya diam tidak melarang Luna mempunyai hubungan pada siapa pun.
''Luna..'' panggil Bryan menghampiri Luna, Luna menoleh kebelakang
''ya pa'' jawab nya melihat Bryan yang menghampirinya
''bagus'' ucap Bryan melihat lukisan Luna
''terima kasih pa'' jawab Luna lalu tersenyum
''papa ada kabar baik untuk mu dan Attar''
''kabar apa pa?'' tanya Luna penasaran
''di kantor ada bagian staff yang kosong untuk Attar tapi staff biasa'' ucap Bryan memberitahu Luna
''benarkah''
''heum.. beritahu Attar untuk menyiapkan berkas berkasnya'' balas Bryan tersenyum melihat sang anak juga bahagia
''gajinya berapa?''
''5 juta''
''tidak ada lebihnya pa?''
''lebihnya jika dia rajin'' jawab Bryan tersenyum melihat ekspresi Luna yang sedikit kurang terima.
''di tambah pa..'' rengek Luna namun Bryan hanya tertawa
''itu sudah ketentuan perusahaan sayang''jelas Bryan memeluk Luna
''5 juta?.. nanti kalau Luna menikah dengan kak Attar mana cukup pa, 5 juta itu harga sepatu Luna kemarin'' ucap Luna sendu lalu melepas pelukannya kemudian duduk di lantai di ikuti Bryan,dan Bryan hanya tertawa kecil.
''dengar sayang.. berapa pun kelak pendapatan suamimu, bersyukurlah dan kamu harus bisa mengaturnya. dan penuhi kebutuhan keluarga mu jangan keinginan mu, tapi percayalah laki laki yang bekerja keras untuk keluarganya, itu yang pantas kita pertahankan. ingat takdir bisa saja berubah kapan pun dan tugas mu kelak jika menjadi seorang istri harus selalu mendukung dan mendoakan suamimu, untuk materi itu gampang bisa kalian cari bersama sama, kamu bisa contoh om Reza dan Tante Bianca, paham'' jelas Bryan panjang lebar dan tidak mau anaknya bungsu manja.
''tapi papa kan bisa bantu Attar pa''
''bisa saja sayang, tapi laki laki itu mempunyai prinsip sendiri dan harga diri, tugas mu menjaganya jangan sampai bantuan yang papa berikan nanti malah terkesan menjatuhkan harga dirinya, dan di balik laki laki yang sukses ada wanita hebat di sampingnya, dan kamu harus bisa menjadi hebat dan harus terus mendukungnya dengan cinta yang tulus dan kepercayaan, kepercayaan dalam arti percaya bahwa lelaki mu bisa melakukannya''jelas Bryan melihat Luna yang begitu serius mendengar nasehat sang papa.
''iya pa.. Luna paham, dan mulai besok Luna juga akan berjuang untuk masa depan Luna nanti'' balas Luna penuh semangat, Bryan hanya tertawa kecil melihat sang putri bungsunya.
''hai.. kenapa kamu justru yang paling semangat'' goda Bryan mengusap kepala Luna
''selesaikan pendidikan mu lebih dulu sayang'' ucap Bryan lagi dan Luna hanya menyunggingkan senyumnya.
''baiklah pa.. Luna kan menemui kak Attar di depan'' ucap Luna lalu berdiri di ikuti Bryan
''iya..'' jawab Bryan lalu tersenyum kemudian Luna berlari menuju depan untuk menemui Attar. Bryan melihat Luna yang berlari pun hanya tersenyum.
''ternyata anak anak ku sudah tumbuh dewasa, sebentar lagi mungkin juga Luna menikah, Julio, di tambah cucu ku neha juga sebentar lagi juga menikah, ternyata aku sudah tua'' batin Bryan lalu tersenyum melihat sekeliling ruangan Luna yang penuh lukisan hasil karyanya.sementara itu Luna berlari ke arah Attar dengan rasa bahagia tidak perduli para asisten rumah tangga yang sedang menyapa nya ia terus berlari menghampiri Attar yang sedang mengobrol dengan salah satu sopir rumahnya
''kak Attar..'' panggilnya yang masih berlari ke arah Attar, Attar melihat Luna berlari menjadi heran dan mengerutkan dahinya, Luna semakin dekat Attar pun semakin heran hingga akhirnya Luna melompat ke pelukan Attar beruntung Attar bisa mengimbangi tubuhnya sehingga mereka tidak terjatuh, kini Luna sudah seperti anak kecil di gendongan Attar. sang sopir rekan kerjanya pun hanya tersenyum melihat nona majikan dengan Attar.
''astaga Luna.. ada apa?'' tanya Attar sambil mendudukkan Luna di kap mobil.
''papa bilang, kalau di kantor ada lowongan bagian staff, jadi kakak di minta untuk menyiapkan berkas data diri kakak'' ucap Luna sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Attar.
''benarkah?''
''heum''
''tapi di kantor yang mana?''
''di perusahaan papa bukan perusahaan kak Krisna''
__ADS_1
''baiklah Kakak mengerti, dan terima kasih'' jawab Attar lalu mengusap usap kepala Luna seperti anak kecil
''tapi nanti siapa yang menjadi pengganti ku''
''itu urusan nanti, yang penting kakak Sekarang sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, demi masa depan kakak'' jelas Luna tersenyum.
''baiklah.. Sekarang siapkan mobil dan ikut denganku, tapi aku mandi dulu'' ucap Luna lalu ia turun dari kap mobil.
''aku tunggu'' jawab Attar lalu tersenyum kemudian Luna masuk kedalam.
''Attar sepertinya Luna sangat mencintaimu'' ucap pak imam salah satu sopir keluarga Bryan.
''saya tahu pak.. tapi sebenarnya apa saya pantas untuknya perbedaan kami sangat jauh, bapak tahu sendiri latar belakang saya. tidak mempunyai apa apa yang bisa di banggakan untuk meminangnya kelak, saya juga tidak mempunyai orang tua, saya hanya mempunyai paman, berkat beliau saya bisa ada disini''jelas Attar yang merasa tidak pantas untuk Luna sang putri bungsu keluarga Bryan.
''siapa bilang kamu tidak mempunyai apa pun, kamu berpendidikan, jujur, dan tentunya tampan, jika tidak mana mungkin nona Luna jatuh hati pada mu dan memperjuangkan mu sampai kamu di rekomendasikan kerja di kantor papanya, ingat Attar gadis yang sudah mau menerima dan membantu mu untuk menjadi lebih baik itu artinya gadis itu benar benar mencintaimu, jangan kamu sia siakan'' jelas pak imam menasehati,dan Attar bisa tersenyum dan meresapi nasehat pak imam. sementara itu Bryan dan syasa sedang berada di teras belakang dan membahas hubungan Luna dan Attar.
''mas.. sepertinya Luna sangat mencintai Attar, semakin hari mereka semakin dekat, aku takut terjadi sesuatu, mas tahu sendiri gaya pacaran jaman sekarang'' ucap syasa yang khawatir pada Luna
''makanya mas menyetujui usulan Luna sayang, agar mereka tidak sering bertemu. biar Attar bekerja di perusahaan ku menjadi bagian staff, sekaligus mas juga ingin melihat potensinya seperti apa, mas sengaja menempatkan Attar di bagian staff yang bukan di bidangnya, mas ingin melihat kegigihannya, mas melakukan itu semua demi anak kita agar mendapatkan pasangan yang tidak hanya menikmati apa yang Luna miliki, lagi pula putri kita harus menyelesaikan pendidikannya dulu bukan?''
''iya mas benar '' jawab syasa lalu tersenyum
''Attar pemuda baik, mas sudah mencari tahu siapa keluarganya , kamu jangan khawatir heum'' ucap Bryan melihat kedatangan Luna
''ma, pa , Luna izin keluar sebentar''
''mau kemana?'' tanya syasa
''cat lukis Luna sebagian habis ma, dan luna mau mengantarkan 3 lukisan ke galeri, di sana ada pemeran lukisan, semoga nanti bisa terjual'' jawab Luna penuh semangat
''Aamiin.. mama papa doakan ada pecinta lukisan yang menawar lukisan mu dengan harga paling tinggi'' balas syasa lalu berdiri dan mengusap pipi Luna, dan Bryan hanya tersenyum
''jaga diri sayang, hati hati'' ucap syasa lalu tersenyum
''iya ma pa, Luna berangkat ''pamit Luna menyalami orang tua nya kemudian berangkat bersama Attar menuju lokasi galeri.
Julio kini sedang berada di toko kue meli, ia sengaja datang hanya untuk sekedar melihat meli.dan sekedar mengobrol ringan dengannya tentunya di saat Rey tidak ada.
''permisi.. '' ucap Julio
''selamat siang tuan bisa kami bantu'' ucap pelayan toko meli bernama Yuna.
''meli nya ada?''
''ibu meli, sedang istirahat tuan ada di ruangannya'' jawab Yuna tersenyum sopan
''oh.. kalau begitu aku pesan es cappucino dan kue bulu kejunya satu porsi''
''baik tuan''
''ok aku tunggu'' balas Julio mengerlingkan satu matanya ke arah Yuna, Yuna pun seketika tertunduk.
''dasar laki laki mesum'' batin Yuna lalu mengambilkan pesanan Julio. Julio melihat lihat lihat sekelilingnya. ia tidak menyangka meli dan Rey bisa membangun usahanya dan mempunyai beberapa karyawan. lalu ia tersenyum simpul kemudian melihat Yuna yang sedang membawakan pesanannya menggunakan nampan.
''silahkan tuan '' ucap Yuna sambil meletakkan nampan nya di depan Julio
''terima kasih'' jawabnya lalu tersenyum
''permisi tuan'' balasnya namun saat hendak melangkah Julio menahan pergelangan tangannya
''tunggu''
''tuan maaf, tolong lepaskan, saya harus kembali bekerja.'' elak Yuna berusaha melepaskan cengkraman Julio
''duduklah, temani aku sebentar'' jawab Julio melepaskan cengkramanya
__ADS_1
''tapi tuan''
''duduk'' jawab Julio tidak mau di bantah. dengan terpaksa Yuna duduk di kursi di sebrang meja Julio dan mereka duduk berhadapan.
''siapa nama mu'' tanya Julio lalu meminum es cappucinonya
''yuna tuan''
''oh.. ''
''berapa usiamu''
''dua puluh Lima tuan'' jawab Yuna apa adanya, seketika Julio tersedia karna mengira Yuna seumuran Jane karena wajahnya yang imut
''maaf, aku pikir kamu umur dua puluhan'' jawab Julio lalu mengelap bibirnya dengan tisu, Yuna hanya tersenyum jengah dan merasa tidak nyaman
''sudah menikah?'' tanya Julio lagi, dan itu membuat risih Yuna namun ia harus tetap profesional dalam bekerja dan harus selalu ramah dengan semua pengunjung. karena Yuna tidak mau menjawab Yuna hanya tersenyum.
''ok baiklah jika kamu tidak mau menjawab'' ucap Julio lalu ia melanjutkan makan kuenya. entah apa yang ada di pikiran Julio, dengan beraninya menggoda pegawai meli.yang jelas Julio mempunyai rencana tertentu, entahlah hanya Julio yang tahu. setelah selesai Julio pun membayar semua pesanannya tak lupa ia juga membeli beberapa kue untuk ia bawa pulang karena ia tahu sang kakak ipar sangat menyukainya.
Disisi lain Jane terbangun dari tidurnya dan jam menunjukkan pukul dua dini hari, Jane merasa lapar lalu ia memutuskan untuk menuju ke dapur untuk mengambil makanan ringan di lemari pendingin. namun kebetulan di lemari pendingin tidak ada stok makanan dan itu membuatnya kecewa lalu ia memutuskan untuk meminum air putih saja. sedangkan maidnya tidur, dan Jane tida mau mengganggunya. karna maid di luar negri bekerja sesuai jam kerja dan malam waktunya untuk istirahat.
''kak Rey.. ''batin Jane sambil meneteskan air matanya, ia mengingat kembali kenangannya bersama Rey, Jane memang sudah melupakan semuanya namun tidak sepenuhnya. Ada masa nya ia mengingat Rey, saat ini Jane hanya ingin sebuah pelukan, dan ia menginginkan pelukan itu dari Rey , pelukan dari ayah bayinya ia juga merasa ingin meminum susu buatan Rey, namun semua itu tidak mungkin, semua hanya bisa ia pendam sendiri.
''ya Tuhan aku ingin benar benar melupakannya, bantu aku'' gumamnya sambil mengusap perutnya tak lama ia mengambil ponselnya di atas meja makan lalu ia menuju sofa, ia berbaring di sofa sambil memainkan ponselnya. tak terasa ia pun tertidur di sofa sampai pagi.
Maria mendapati Jane tidur di sofa, tanpa selimut dan hanya menggunakan baju tidur tebal dan kaos kaki, namun ia tidak berani membangunkannya, kemudian Maria mengambil selimut untuk Jane lalu menyelimutinya. setelah menyelimuti Maria mencoba menghubungi Amar dan memberitahu kondisi Jane.
Tidak butuh waktu lama Amar langsung menuju ke apartemen Jane tidak lupa Amar membawakan makanan untuk jane dan Maria, Amar tahu jika persediaan makanan Jane habis dan Jane belum sempat membelinya. selang beberapa menit Amar datang dan mendapati Jane masih tertidur di sofa. lalu memberikan makananya pada Maria agar Maria menyiapkannya dan ia pun membangunkan Jane.
''jane.. hai..'' ucap Amar mengusap rambut Jane kemudian mengusap perut Jane. perlahan Jane membuka mata dan melihat Amar kemudian tersenyum.
''good morning'' sapa Jane mengusap wajahnya
''morning'' balas Amar lalu Jane duduk di ikuti Amar .
''Amar tidak biasanya kamu sepagi ini sudah ada di apartemenku
''maria menghubungiku''
''oh.. ''
''eum.. amar boleh aku memeluk mu sebentar'' tanya Jane sedikit takut, Amar hanya mengerutkan dahinya dan melihat raut wajah jane.
''tentu saja kemarilah ''balas Amar merentangkan tangannya
''sambil berdiri'' pinta Jane dan itu membuat Amar tertawa melihat tingkah Jane
''ok baiklah'' jawab Amar lalu berdiri dan membantu Jane berdiri mereka tersenyum dan tak lama Amar merentangkan tangannya lalu Jane sedikit ragu memeluk Amar dan perlahan ia memejamkan matanya. awalnya Jane biasa saja namun perlahan ia mempererat pelukannya, dan tak terasa ia pun menangis, mengingat kembali Rey. Amar hanya membalas pelukan Jane Karena ia tahu Jane membutuhkan nya, Amar tahu tidak mudah bagi Jane menjalani kehamilannya sendiri tanpa suami.
''menangislah'' ucap Amar sambil mengusap punggungnya
''rey..'' batin Jane dan mempererat pelukannya pada Amar. setelah selesai menumpahkan rasa sesak di dadanya, Jane melepaskan pelukannya lalu mengusap air matanya, Amar tersenyum melihat Jane sambil mengusap sisa air matanya
''Amar terim kasih'' ucap Jane lalu tersenyum kemudian meraih jemari Amar dan ia letakkan di perutnya
''aku sudah merasakan bayi ku bergerak'' ucap Jane dan Amar pun ikut senang dan mengusap perutnya, benar saja Amar juga merasakan gerakan bayi jane.
''hai kamu ingin bermain'' ucap Amar pada perut jane, Jane pun hanya tertawa
''nanti kita bersama, ok'' ucap Amar lagi lalu mengusap usap perut' Jane lagi
''iya uncle nanti kita bermain, jika aku sudah lahir, tapi sekarang aku lapar'' balas Jane menirukan suara anak kecil dan keduanya tersenyum
''baiklah Ayo kita sarapan, Maria sudah menyiapkannyan'' ucap Amar lalu keduanya menuju ruang makan dan sarapan bersama.
__ADS_1
* * * * * * * * *