TAKDIR 2

TAKDIR 2
57. Logika


__ADS_3

Jane kini bersiap dan menggunakan baju kantor, ia sudah tidak perduli lagi dengan ucapan Amar yang selalu melarangnya ini dan itu. Ia sudah jengah dengan segala aturannya. sebelum berangkat ia sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya dan menyiapkan sarapan serta memandikan Adnan.


Amar bangun dan melihat Jane sudah rapi dan bersiap ke kantor, Amar menatap heran dengan penampilan Jane pagi ini. dan sudah bersiap berangkat seraya menggendong sang anak yang kini sudah berusia lima bulan.


"Kamu mau kemana Jane" tanya Amar yang masih duduk di tempat tidurnya,


"Ke kantor aku ada rapat penting hari ini" jawabnya datar


"Apa maksudmu?" tanya Amar yang kini bangkit dari tempat tidur dan menghampiri Jane yang menggendong sang buah hati


"Aku sudah memasak untuk mu, semua keperluan mu sudah aku siapkan Apartemen sudah rapi" Jawab Jane dengan nada yang masih sama lalu tersenyum, lalu berjalan keluar kamar.


"Aku melarang mu bekerja" ucap Amar melihat Tajam Jane, namun Jane terus berjalan.lalu ia mengejarnya. sampai ke depan pintu keluar apartemen dan menahan tangan Jane.


"Mungkin kamu lupa siapa aku Amar, aku ingatkan aku Jane putri Akbar ,Putri Bryan Ahmad  Akbar, dan aku mempunyai tanggung jawab dengan perusahaan ku, satu laki yang mungkin kamu lupa, aku juga orang berpengaruh di New york" jawab Jane tegas menatap Amar, perlahan Amar melepaskan tangannya. dan melihat Jane membuka pintu. saat membuka pintu Jane sudah di sambut, fernando dan dua bodyguard.


"selamat pagi nona" sapa Fernando sedikit menunduk.


"Pagi" jawab Jane datar lalu melihat  Amar kemudian memakai kaca mata hitamnya


"jangan pernah lupa siapa diri ku Amar, dam kamu tenang saja mereka adalah bodyguard ku selama aku di  new york, dan aku tahu batasan ku sebagi istri dan ibu, permisi'' jawabnya lalu melangkah dan di ikuti ketiga pria di belakanganya.


Amar terdiam melihat istrinya berjalan dan di dampingi tiga pria, lalu ia masuk dan menutup pintunya,lalu ia duduk dan merenungi apa yang selama ini ia paksakan pada Jane. Namun sepertinya logikanya masih dominan ia masih tidak rela jika Jane bekerja, bagaimana pun istri harus di rumah dan itu keyakinannya dan tradisinya, sekali lagi mungkin Amar lupa ia menikahi siapa, dan pada akhirnya ia mencari semua tentang keluarga istrinya lewat internet, sebenarnya ia sudah mengetahui namun ia tidak begitu mengamati apa saja pengaruh keluarga istrinya di negara asalnya dan negara yang sekarang ia tinggali.


"sial,,!!" cicitnya kesal melempar ponselnya di sofa. kemudian ia menuju kamarnya untuk bersiap ka kampus.


Sementara itu Jane yang sudah berada di kantor, kini tengah memimpin rapat, ia tidak segan dan malu jika harus rapat sambil menggendong sang buah hati, dan itu mempunyai daya tarik sendiri bagi kliennya dan tidak mempermasalahkan hal itu, justru banyak yang kagum dan salut dengan Jane.wanita muda dan seorang ibu yang mampu mengerjakan semua hal. siapa yang tidak jatuh hati dengan Jane.


"Baik tuan mungkin ada yang mau di tanyakan" tanya Jane kepada kliennya saat selesai rapat. namun tidak ada yang bertanya. san mereka hanya tersenyum puas.


"Baiklah kalau begitu saya akhiri rapat ini" jelas Jane lalu tersenyum seraya mengusap rambut sang anak.


lalu para klien berpamitan dan menyalami Jane , setelah itu Jane pulang dan di antar sopir serta bodyguard nya.


Sesampainya di rumah, ia menidurkan bayinya di dalam boks dan membersihkan kamar serta sisa sarapan sang suami, lalu ia makan siang setelah ia tidur bersama sang bayi. tidak terasa sore pun tiba, Jane tidur dengan begitu pulas,dan tidak menyadari kepulangan sang suami.


Amar melihat sang istri begitu lekat, lalu mengeraskan rahangnya, ia benar benar tidak menyukai sikap sang istri tadi pagi, Namun saat ini ia tidak mau lagi berdebat dengan Jane. Tidak lama Jane membuka matanya dan melihat Amar di sampingnya , Jane tersenyum dan meraih jemari nya


''Sudah pulang'' ucap Jane lalu ia bangkit dan duduk.


''heum'' jawab singkat Amar yang masih terdiam, Jane perlahan mendekati Anar dan membuka kancing kemejanya.

__ADS_1


''Amar, tolong jangan marah lagi,aku harap kamu mengerti posisi ku'' ucap Jane yang sudah berhasil melepas kancing kemeja Amar lalu meraba lembut dada Amar. Amar menahan pergelangan tangan Jane dan melihatnya datar.


''Amar.. '' panggil Jane lalu menarik kerah kemeja nya dan Jane mencium Amar.


''Ayolah Amar jangan marah lagi, aku mencintaimu'' ucap Jane dan kini Amar membalas ciuman Jane, tak butuh waktu lama mereka bercumbu, Jane tersenyum saat melihat Amar selalu menikmati permainannya. dan inilah yang membuat Amar tidak bisa melepas Jane dalam arti tidak mengizinkan Jane bertemu dengan orang banyak khususnya laki laki.


''Ah..'' suara Jane terdengar dan membuat Amar semakin menggila.


Hujan yang turun di sore hari membuat permainan mereka semakin panas, Amar yang awalnya kesal dan lelah setelah beraktivitas, kini menjadi bergairah.


''Amar terima kasih, jangan marah lagi'' ucap Jane lalu keduanya tersenyum.


''Tidak, mulai saat ini aku izinkan kamu bekerja tapi dengan syarat, layani aku lebih dulu sebelum kamu pergi bekerja dan tetap utamakan suami dan anak'' jawab Amar yang mulai melunak dan berfikir tidak mau kehilangan Jane, Amar tahu jika Jane terus di kekang bisa bisa Jane benar benar pergi darinya. dan Amar tidak mau itu.


''Terima kasih'' jawab Jane lalu memeluk Amar.


''Terima kasih ibu atas saran mu'' batin Jane mengingat saran sang mertua, bagaimana pun sang mertua pasti tahu titik lemah putranya. diam diam Jane sering menghubungi sang ibu mertua dan mengeluhkan sikap kasar Amar akhir akhir ini. dan menyarankan agar jangan membalas dengan keras sikap Amar, karena Amar orang yang keras jika keras di lawan keras akan susah di luluh kan dan hanya satu cara yaitu dengan kelembutan dan logika yang masuk akal.


* * * *


Yuna berjalan memasuki kantor sang suami dengan wajah kesal, pasalnya Yuna mendengar selentingan jika sang suami dekat dengan wanita lain yaitu Aulia. Yuna tidak tinggal diam saat mengetahui karena ia tahu suaminya itu lemah dengan wanita dan gampang tergoda, sebenarnya Yuna tidak mau ambil pusing namun Yuna juga takut jika tiba tiba Julio lepas kendali dan berakhir meniduri gadis gadis ia goda.


''Brakk..'' Yuna masuk ke ruangan Julio dengan membuka pintu dengan kasar, Roni tidak lagi bisa mencegah istri bosnya itu masuk dan Akhirnya, Julio tertangkap basah sedang berciuman dengan Aulia.


''Maaf tuan saya sudah melarang nyonya masuk'' saut Roni sang asisten.


''oh jadi kamu juga mewanti wanti Roni agar aku tidak bisa masuk, hebat kamu Julio'' ucap Julio yang masih duduk di kursinya. sedangkan Aulia tertunduk ketakutan.


''kamu, pergi dan jangan pernah injakan kaki ini lagi di kantor suami ku , dan kamu Roni ganti Aulia dengan pegawai pria.'' ucap Yuna begitu tegas dan melihat Aulia ketakutan.


''Tapi.. '' ucap Aulia ingin membela diri


''Diam! pergi kamu'' ucap Yuna menunjuk pintu, dengan rasa takut yang luar biasa Aulia pergi dari ruangan Julio sedangkan Julio justru duduk santai dan bersandar di kursinya sambil memijit pelipisnya.


''Kamu benar benar belum taubat Lio, dasar suami mesum'' ucap Yuna melempar semua berkas berkasnya di wajah Julio. namun Julio tetap tenang dan santai.serta memikirkan cara agar Yuna tenang.


''Mau sampai kapan kamu seperti ini Lio'' ucap Yuna 6ang sudah meneteskan air mata. Julio memberi isyarat agar ia keluar dan menutup pintunya. dan di angguki Roni


''cup'' Julio mencium Yuna agar Yuna berhenti berbicara. Yuna memberontak dan memukul mukul dada Julio namun hasilnya nihil. mau tidak mau ia pasrah. dan sedikit membalasnya.


''Sudah.. duduklah'' jawab Julio lalu ia duduk dan menarik Yuna agar duduk di pangkuannya

__ADS_1


''Aku memang brengsek, tapi ketahuilah hanya ada kamu dan Emir di hati ku'' goda Julio memangku Yuna dan memeluknya. Yuna tak lantas percaya dan hanya tersenyum licik.


''ok, baiklah sekarang terserah kamu yang terpenting semua aset ini sudah menjadi milik ku dan Emir, jika sekali lagi aku mendapati mu bercumbu dengan wanita lain , kita cerai dan aku pastikan kamu menjadi qjadi gembel di jalanan. '' ucap tegas Yuna Lalu berdiri dan meninggalkan Julio, Julio tersenyum dan menyukai sikap tegas Yuna. di sisi lain ia juga takut menjadi gembel sungguhan.


''Apa yang kalian lihat, kerja'' ucap Yuna saat mendapati semua karyawan suaminya melihat dirinya.


''İ..iya nyonya'' jawab salah satu karyawannya.


''Roni..!'' panggil Yuna


''iya nyonya'' jawab Roni seraya berlari ke arah Yuna.


''Pecat Aulia, dan Awasi gerak gerik suami ku, paham'' balas Yuna tegas lalu matanya melihat sekelilingnya.


''Paham nyonya''


''Bagus'' jawab Yun lalu melangkah pergi meninggalkan kantor Julio.


Sesampainya di rumah Yuna masih saja menggerutu sampai sampai Elsa tertawa melihat Yuna mengomel di dapur.


''Hai.. kamu kenapa, aku perhatikan pulang dari pasar mengomel tidak jelas'' tanya Elsa melihat Yuna meminum jusnya dengan beberapa teguk saja.


''Julio, bermain perempuan, ciuman di depan ku, menyebalkan, kalau bukan dia anak papa Bryan dan dia papanya Emir sudah aku tinggal Julio'' gerutu Yuna dengan kesal dan meletakkan gelasnya dengan kasar, itu membuat Elsa semakin tertawa.


''Kamu jangan tertawa kak, kakak juga harus hati hati , nanti kak Krisna tiba tiba mempunyai simpanan bagaimana, laki laki itu tidak bisa di percaya seratus persen, di luar buaya di rumah kayak kucing, Meong meong hiis menyebalkan'' oceh Yuna dan membuat Elsa semakin tertawa keras.


''Kamu itu lucu, sudah, Aku percaya dengan Krisna, Krisna tidak mungkin seperti itu aku tahu Krisna seperti apa dan kamu harus tetap memakai logika mu ok.. '' jawab Elsa yang memang percaya tidak mungkin Krisna berbuat yang akan menyakitinya.


''Tetap saja harus waspada'' balas Yuna lalu tersenyum..


''Ada apa ini sepertinya seru'' saut Krisna yang tiba tiba pulang di siang hari.


''Krisna? sudah pulang'' tanya Elsa lalu masuk kedalam pelukan Krisna


''heum.. tiba tiba aku merindukan mu'' jawab Krisna mencium kening Elsa dan membuat Yuna jengah


''ck.. kalian, sudah aku mau ke kamat. silahkan lanjutkan adegan romantisnya'' saut Tuna lalu melenggang meninggalkan Elsa dan Krisna di dapur, Elsa hanya tertawa melihat iparnya.


''Kenapa dia?'' tanya Krisna


'' sedang cemburu dengan seseorang di kantor, kamu tahu sendiri adik mu Julio seperti apa'' jawab Elsa apa adanya.

__ADS_1


''Dasar Julio, sudah tahu istrinya seperti Oma ,masih saja mencari gara gara'' ujar Krisna lalu keduanya tertawa. kemudian mereka menuju kamar.


* * * *


__ADS_2