TAKDIR 2

TAKDIR 2
53.Syarat


__ADS_3

MAHENDRA SHCOOL


Hari ini adalah hari pertemuan wali murid tahun ajaran baru, Martin dan laras pun datang, dan para wali murid lainnya. seperti biasa Laras duduk paling depan bersama martin mendengarkan apa yang di sampaikan kepala sekolah serta setiap tahun laras menjadi donator terbesar di sekolah Ardan, dan memberi beasiswa bagi murid murid yang mempunyai prestasi.


Acara berjalan lancar, dan setelah selesai semua wali murid pulang, dan kegiatan sekolah tetap berlangsung, Namun Martin dan Laras masih di sekolah dan berbicara dengan Ardan dan kepala sekolah tentang dana tahun lalu, dan semuanya transparan.  Laras sangat mempercayai itu karena Ardan lah yang menanganinya langsung. setelah selesai Martin dan Laras pamit untuk pulang,


"Ardan kami pamit" pamit Martin lalu menyalami Ardan begitu juga Ardan.


"Iya, kalian hati hati" jawab Ardan lalu tersenyum dan sekilas melihat Laras.


"Dreet dreett' ponsel Martin bergetar, lalu martin mengambil ponsel dari sakunya. kemudian meminta izin pada Laras untuk mengangkatnya dengan bahasa isyarat. saat Martin mengangkat ponselnya, Laras tersenyum dengan Ardan seolah menanyakan kabarnya.


"sudah setahun kakak sendiri?, apa kakak tidak ingin menikah lagi?'' tanya Laras, Ardan tertawa kecil mendengar pertanyaan dari Laras, lalu menggaruk tengkuknya.


"kakak sudah tidak memikirkannya, sudah cukup, jika kakak harus menikah lagi mungkin harus ada persetujuan dari Anak anak. tapi kakak sudah tidak ingin lagi menikah" jelasnya lalu tersenyum simpul


"Kenapa?"


"Menunggu seseorang" jawab Ardan ambigu dan membuat Laras mengerutkan dahinya. lalu Ardan melihat Martin yang sudah selesai menerima panggilan, lalu berpamitan kembali dengan Ardan, setelahnya Martin dan Laras meninggalkan Ardan.


"JiKa Tuhan mengizinkan,  Aku menunggu mu Ras, aku menunggu mu sampai nanti" batin Ardan melihat laras yang di gandeng Martin. Begitu juga Laras ia memikirkan ucapan Ardan siapa gerangan orang yang di tunggu Ardan.Namun ia tidak mau memikirkan terlalu dalam walau sebenarnya tanpa sadar ia sudah mengetahui jawabannya, dan hanya bisa mengatakan MUSTAHIL.


"Martin Aku lapar" Ucap Laras saat di mobil.


"Mau makan apa?'' tanya Martin mengusap rambut Laras sambil mengemudi mobilnya.


"Apa saja yang penting makan dari tangan mu" jawab Laras yang masih manja dengan martin, dan martin tidak keberatan dengan hal itu.


"Baiklah, kalian berdua mau makan apa" tanya martin pada kedua anaknya Daren dan Amara yang duduk di kursi belakang.


"Amara mau ayam panggang pa"


"Ok, Daren?"


"Terserah, apa saja" jawab Daren  memandang keluar jendela.


"ok baiklah kita ke kafe" jawab Martin lalu  tersenyum seraya menarik jemari Laras, Daren yang melihat Martin dan Laras tersenyum. melihat kedua orang tuanya selalu akur dan harmonis, begitu juga Amara.


Sesampainya di kafe Martin  memesankan makanan untuk anak dan istrinya, sedangkan Laras menuju ruangannya bersama Anak anaknya. mereka duduk di sofa, tertawa dan bercanda.Namun itu tidak lama, laras memilih untuk mengecek laporan kafenya dan duduk di kursinya, sedangkan Anak anak memainkan ponsel masing masing dan duduk di sofa, tak lama Martin duduk di sofa bersama anak anaknya dan tidak mau mengganggu sang istri yang sedang memeriksa laporan kafe.


Saat selesai memeriksa laporannya mata laras tidak sengaja melihat kedalam laci mejanya, ia melihat sebuah foto di sana, lalu ia mengambilnya, ternyata foto dirinya dan Ardan dahulu saat masih awal menikah.


"kenapa foto ini masih ada, bukankah dulu aku sudah menyuruh  Andi untuk membuang semua barang yang berhubungan dengan Ardan'' Batinnya melihat foto Ardan bersama dirinya yang sedang berpelukan.


Sekilas ia tersenyum mengingatnya, tapi itu tidak lama lalu ia menyobek foto tersebut dan membuangnya di tempat sampah, baginya Ardan hanyalah kenangan, ia cukup mengenangnya saja dalam ingatan dan hati yang terdalam. Bagi laras bersama atau tidak Ardan mempunyai tempat istimewa di dalam hatinya, tempat khusus di dalam hatinya dan hanya ia yang tahu.


"Selamat siang " sapa pelayan Kafenya yang masuk membawakan pesanan Martin.


"Siang" jawab Martin lalu tersenyum. kemudian Dua pelayan meletakan  pesanannya di meja.


"Terima kasih Mbak" ucap Martin lalu tersenyum dan di balas sang pelayan kemudian sang pelayan keluar dari ruangan Laras.

__ADS_1


''Sayang.. Ayo makan" ajak Martun pada Laras. lalu laras berdiri dari duduknya dan menghampiri suami dan Anaknya.


Laras duduk di dekat Martin lalu tanpa di suruh Martin menyuapi Laras, anak anak mereka sudah paham kebiasaan sang mama jika makan pasti di suapi sang papa.Daren begitu bahagia melihat orang tuanya. dan tidak ada lagi khawatir jika sang mama akan di rebut oleh Ardan, yah walau itu tidak mungkin Ardan Lakukan.


* * * * * * *


Siena dan Nathan berkunjung di apartemen Jane saat Amar sedang berada di kampus. Siena tidak mengetahui jika Sang adik Akhir akhir ini mengalami tekanan batin dan sedikit mendapat kekerasan fisik dari Amar.


"Ting tong'' bel Rumahnya berbunyi, Jane yang sedang kerepotan pun mau tidak mau menuju Pintu sambil menggendong Adnan dan menuntun Aryan, dengan mengunakan kaos longgar dan  celana panjang longgar serta rambut yang ia ikat asal, dan sedikit ada luka lebam di pipinya, sungguh memperhatikan. ia berjalan membuka pintu sebelum membuka pintunya, ia melihat dari celah lubang pintu terlebih dahulu, siapa yang datang. Saat mengetahui Siena yang datang ia sedikit merapikan baju dan rambutnya.lalu ia membuka pintunya.


"Hai..."sapa Siena melihat Sang Adik, Namun wajahnya berubah saat melihat wajah sang adik terdapat luka lebam. Siena memperhatikan Jane lalu melihat Nathan, Nathan juga terkejut saat melihat Jane.


"Hai kak, masuk kak, maaf ruangan Jane berantakan" jawanya seperti tidak terjadi apa apa. Siena masuk bersama Nathan penuh tanda tanya.


"Jane, wajah mu kenapa?'' tanya siena memegang wajah Jane, jane mengalihkan pandangannya seraya meletakan  Adnan di boksnya sedangkan Aryan bermain bersama Nathan.merasa pertanyaannya di abaikan Siena bertanya kembali


"Jane apa yang terjadi" tanya Siena.


"Tidak ada yang terjadi, aku baik baik saja'' jawab Jane lalu tersenyum berusaha menyembunyikan semuanya. lalu ia berjalan menuju dapur untuk membuatkan kakaknya minuman.


"kakak mau minum apa?" tanya Jane seraya mengambil gelas.


"Jane!'' bentak Siena yang tahu jika sang adik sedang tidak baik baik saja, seketika Jane menangis di pelukan Siena dan Nathan hendak menghampiri, Namun siena  mencegahnya.


"Katakan apa yang terjadi?" tanya Siena. perlahan Jane duduk di lantai dapur di ikuti Siena yang sudah ikut menangis melihat kondisi sang adik yang memperhatinkan.


"Amar, menampar ku kemarin saat aku pulang dari kantor, salah ku aku pulang agak terlambat, saat aku pulang Amar sudah di rumah"


"What?'' hanya terlambat pulang"


"Aku tidak tahu kak, kenapa Amar berubah setelah Adnan lahir, sikap manisnya yang dulu seakan hilang,aku takut perkembangan Aryan dan Adnan terganggu, dan Amar semakin cemburu dan posesif pada ku, apa yang aku lakukan harus  izin dengannya, dan ia sebenarnya melarang ku untuk bekerja membantu kakak di kantor'' jelas Jane menumpahkan semuanya pada Siena. Siena yang tidak tega pun memeluk sang Adik.


"Aku.. aku ingin memberikan hak Asuh Aryan pada kak Rey kak, aku takut Amar semakin menjadi jika kak Rey menemui ku dan Aryan"


"Kenapa kamu berbicara seperti itu, pikirkan baik baik Aryan masih membutuhkan mu"


"Tapi Aryan tidak membutuhkan Ayah seperti Amar yang sifat aslinya semua terlihat, tempramental, aku tidak mau Aryan tumbuh seperti Amar kak, nanti Kak Rey menyalahkan ku jika perilaku Aryan seperti Amar.


"asudah, nanti kak Nathan biar menasehati Amar, dan pikirkan lagi pengalihan hak Asuh Aryan" jawab Siena menenangkan Jane. dan terus memeluknya, siena dan Nathan tahu apa yang harus mereka lakukan.


"Sekarang mandi dan biarkan kekacauan apartemen mu ini kakak yang mengurusnya."ucap siena lalu tersenyum mengusap kepala sang adik. Jane mengangguk lalu berdiri dan menuju kamarnya, sementara itu Siena menghubungi Asisten rumah tangga harian disalah satu biro jasa untuk membereskan Apartemen Jane yang sudah seperti kapal pecah. dan ia mengurus kedua keponakannya bersama sang suami.


Waktu terus berjalan semua sudah terkendali di tangan Siena, siena dan Nathan masih di rumah sang Adik, ia sengaja menunggu Amar pulang, dan membiarkan Jane tidur bersama kedua Anaknya.


"Aku tidak habis pikir  dengan Amar yang sifatnya berubah" ucap siena pada Nathan yang duduk bersandar di sofa dan siena bersandar di dadanya, seperti biasa mereka selalu romantis walau usia Nathan sudah tidak muda lagi dan selalu mengimbangi Siena yang masih muda begitu sebaliknya, siena yang usianya  39 tahun dan Nathan 53 tahun semakin bertambah usia mereka, mereka semakin saling melengkapi.


"Pasti karena ia cemburu buta tapi caranya sudah salah, biar  aku  nanti yang menasehatinya   baik baik, jika tidak bisa biar aku beri pelajaran" jawab Nathan namun justru siena tertawa, dan menepuk dada sang suami.


"kamu sudah tua sayang, hematkan tenaga mu untuk ku'' goda Siena menggigit bibir bawahnya lalu sekilas mereka berciuman.


"ceklek" suara pintu terbuka ternyata Amar pulang

__ADS_1


"Sayang.. aku pulang" panggilnya dan belum melihat keberadaan Siena dan Nathan, Siena menatap tajam pada Amar dan langsung menghampirinya.


"kakak" sapa nya dan


"plak" Siena menampar Amar.


"kakak" ucapnya melihat Siena


"kamu apakan adik ku hah!, kenapa wajahnya lebam, apa kamu memukulnya'' tanya Siena penuh emosi, Amar terdiam dan menyadari kesalahan.


''Sayang.. sudah kita bicarakan baik baik'' saut Nathan menengahi. namun Siena justru memegang kedua kerah kemeja Amar


''Ingat Amar sebelum kamu menjadi suami adik ku, adik tidak pernah hidup susah dan kerepotan dalam hal apa pun, bahkan untuk makan saja dia selalu di layani. dan orang tua kami selalu membuat diri kami aman dan nyaman, jangan sampai mama papa tahu sikap mu, jika sampai mereka tahu bukan hanya karier mu yang habis tapi nyawa mu juga hilang, ingat itu.'' jelas Siena mendorong Amar hingga terhuyung.


''Amar'' sapa Jane yang baru saja keluar kamar karena mendengar keributan, seraya menggendong Adnan dan menuntun Aryan.


''Jane..'' jawab Amar menghampirinya lu memeluknya. namun Jane hanya diam dan meneteskan air mata.


''Maafkan aku Jane maafkan aku'' ucapnya


''kamu sudah sering mengucapkan itu, dan aku sudah putuskan lebih baik kita berpisah, aku sudah tidak tahan lagi dengan sikap mu'' jawab Jane datar tanpa ekspresi.


''Jane apa yang kamu katakan'' balas Amar memegang kedua pundaknya . Siena dan Nathan yang melihat pun terperangah.


''Aku ingin berpisah dengan mu, kamu sudah tidak seperti dulu yang lembut dan menyayangi ku'' jelas Jane lalu melihat Amar. perlahan Siena mengambil Adnan dan Aryan dan membiarkan mereka berbicara.setelahnya Jane masuk ke kamar di ikuti Amar.


''Jane Apa maksud mu, aku mencintaimu sayang, jangan pergi dari ku''


''Cinta mu membuat ku tersiksa Amar, kamu menyakiti ku dan sudah berapa kali kamu melakukannya, aku sudah tidak tahan'' ucap Jane lantang sampai terdengar Siena dan Nathan.


''Maafkan aku Jane ,maafkan aku'' balas Amar yang sudah berlutut di hadapan Jane.namun Jane tidak perduli Karena ia sudah seringkali seperti itu.


''Jane'' ucapnya lagi memegangi tangan Jane


''Maaf Amar, aku sudah tidak tahan''


''Aku janji tidak akan melakukannya lagi, aku janji Jane, jika terulang lagi kamu boleh pergi dari ku, tapi aku Pastikan tidak akan terjadi lagi'' balas Amar memohon karena memang Amar sangat mencintainya. Jane berfikir ulang namun tidak secepat itu ia percaya, terlebih ini semua menyangkut perkembangan sang anak.


''Baik.. tapi dengan syarat''


''Apa itu?''


''Maafkan mama Aryan kamu harus ikut papa kandung mu, mama harus menyelamatkan mu'' batin Jane memikirkan Aryan.


''cabut nama Khan dari nama Aryan, alihkan hak asuhnya pada papa kandungnya, dan berikan naman papa kandungnya di belakangnya, prakoso'' ucap Jane dengan berat hati, Jane seolah tahu kedepannya akan seperti apa jika Aryan terus bersamanya. dan mengetahui Amar pasti akan mengulangi hal yang sama, setidaknya ia harus menyelamatkan salah satu anaknya.


''kenapa harus seperti itu, Aryan juga anak ku''


''Iya aku tahu, tapi papa kandungnya lebih berhak, itu syarat yang harus kamu penuhi'' jelasnya seraya menangis, menangisi Aryan.


''maafkan mama aryan, Maafkan mama'' batin Jane.

__ADS_1


''Baik, aku penuhi syarat mu, Asal kamu selalu bersama ku''jawab Amar pasrah, bagaimana pun Rey lebih berhak.


* * * * *


__ADS_2