
Pagi pun tiba, Luna teringat apa yang di ucapkan Abi kemarin, ia memikirkan nya semalaman, ada benarnya apa yang di sampaikan Abi. kali ini ia benar benar memberanikan niatnya untuk meminta izin sang papa untuk menikah muda.
Luna menuruni anak tangga dengan tergesa gesa dan menyusul sang papa yang sedang olah raga di taman belakang.
''Papa'' panggil nya lembut, Bryan pun menolah merespon panggilan sang anak
''Iya.. ada apa?''
''Pa, Luna ingin bicara hal penting dengan papa'' ucap Luna sedikit takut dan ragu.
''Apa?, kenapa dirimu begitu cemas''
''Eum..Luna ingin menikah'' ucap Luna seraya memejamkan mata dan menunduk. Bryan tertawa saat mendengar ucapan Sang anak.syasa yang men dengar Bryan tertawa pun, langsung menghampiri yang sedari tadi menyirami bunga.
''Pa..''balas manja Luna
''Ayo duduk sini'' ajak Bryan lalu mereka duduk di taman
''Ada apa ini, sepertinya ada hal penting'' tanya Syasa yang duduk di samping Luna.
''Putri kita ingin menikah?'' balas Bryan melihat Syasa dan Luna bergantian. Syasa menautkan kedua alisnya dan melihat Luna begitu lekat. merasa tidak percaya dengan apa yang di sampaikan Luna.
''Kamu yakin ?'' tanya Syasa dan di angguki Luna. Bryan dan Syasa menghela nafas panjang sebelum memberi jawaban dan pengertian pada Luna lalu tersenyum. Bryan sekilas memeluk Luna.
''Coba sebutkan satu Alasan kenapa kamu ingin cepat menikah?"
''IBADAH'' jelas Luna tegas dan yakin
''kamu sudah tahu konsekuensi menikah muda, apa kamu sudah siap menerima orang lain dalam hidupmu?'' jelas Bryan di angguki Luna.
''Luna sudah memikirkan konsekuensinya, Luna hanya tidak ingin menambah dosa dan membuang waktu hanya untuk berpacaran, Luna ingin kebersamaan Luna dengan kak Attar mempunyai nilai ibadah di mata Tuhan dan tidak menjadi fitnah di mata manusia. Luna juga tahu pernikahan tidak akan pernah terlepas dari semua permasalahan, tapi bukankah permasalahan itu pasti ada di setiap hubungan, baik pernikahan, pacaran bahkan hubungan saudara pun mempunyai permasalahan sendiri,dan pasti semua ada solusinya. jika papa dan mama mempermasalahkan materi, iya Luna tahu seperti apa kak Attar, begitu sederhana, dan biasa saja, tidak seperti kita, tapi di sini Laras tidak mau membandingkan kehidupan kak Attar dan kehidupanku ,Luna ingin saling melengkapi. dan materi bisa kita cari bersama tapi lelaki seperti kak Attar seribu satu ,baik tulus, jujur dan yang paling penting setia seperti papa'' jelas Luna panjang lebar lalu tersenyum .
Bryan dan Syasa saling memandang tidak tahu harus mengatakan apa. mereka tidak menyangka si bungsu pemikiran nya begitu dewasa entah siapa yang mengajarinya, tapi yang jelas Luna telah banyak mengambil pelajaran dari kakak kakaknya terlebih Laras.
Dari Laras ia belajar banyak hal tentang keikhlasan, dan kerja keras sebagai wanita karier. dari Krisna belajar dari sebuah kesetiaan, dari Julio belajar hidup sederhana dan dari Siena belajar tentang perbedaan. semua itu adalah kombinasi yang mungkin dapat ia pelajari dan mengamati bagaimana gambaran kedepannya setelah ia memutuskan menikah Luna juga paham semua
jalan cerita dan TAKDIR setiap orang pasti lah berbeda.
''Baiklah, papa izinkan kamu menikah asal kamu benar benar bertanggung jawab atas hidup mu sendiri. Dan bicarakan pada Attar, suruh besok malam untuk menemui papa'' jawab Bryan yang menghormati keputusan sang Anak, bagaimana Luna mempunyai hak tentang pilihan hidupnya, dan Bryan sudah menjalankan tugasnya sebagai orang tua yang baik.
''iya pa, kalau begitu Luna mau siap siap ke kampus'' ucap Luna lalu tersenyum kemudian meninggalkan beyan dan Syasa di taman belakang rumahnya dan menuju kamarnya untuk bersiap pergi ke kampus.
Syasa terdiam begitu juga Bryan. mereka masih tidak percaya Luna sudah mengutarakan niatnya untuk menikah dan otomatis sang anak akan pergi dari rumah mengikuti suaminya.
''Aku masih tidak percaya mas, ternyata kita memang sudah tua, baru kemarin aku menikah dengan mu , mempunyai anak dari mu, kemarin mereka masih bergelayut di kaki ku meminta makan , meminta gendong semua merengek pada ku dan sekarang mereka sudah mempunyai kehidupan masing-masing dan kita akan menua di rumah besar ini berdua, seperti opa Herman dan Oma Dita'' ucap Syasa dengan bibir bergetar karena menahan air matanya, ia rindu masa masa anak anaknya waktu kecil , rumah begitu ramai dengan suara jeritan dan tangisan kini berubah sepi dan sebentar lagi Luna akan menikah dan ikut suaminya.
''begitulah kehidupan sayang,kita hanya bisa menjalaninya, dan pada akhirnya kita hanya berdua,dan anak anak adalah titipan mereka mempunyai kehidupan sendiri, kita hanya membimbing mereka dan keikhlasan kita adalah jalan mereka menuju hidup yang lapang'' jelas Bryan memeluk Syasa
''Mas.. '' jawab lirih Syasa menenggelamkan wajah di dada Bryan.
''Sudah aku mau ke kantor, mau serah terima masa kepemimpinan ku dengan Julio.'' ucap Bryan lagi lalu melepaskan pelukannya kemudian mereka masuk kedalam.
✨
''Ada apa Luna, ini hari pertama kakak bekerja menjadi asisten kakak mu tolong jangan mengganggu kakak bekerja'' ucap lembut Attar tersenyum manis ke arah Luna yang duduk di depan mejanya.
''kak, sebentar saja kak, Luna ingin menyampaikan sesuatu'' balas Luna memelas. Attar menarik nafas panjang lalu tersenyum,
''baiklah katakan, tapi hanya sebentar karena sebentar lagi kakak mau ada meeting'' jawab Attar lalu berdiri menghampiri Luna.
__ADS_1
''kak.. ayo menikah'' ucap Luna tanpa ragu seraya meraih jemari Attar. Attar sedikit terkejut, dan sedikit salah tingkah, ia tersenyum lalu berlutut di hadapan Luna dengan sedikit kesusahan karena kakinya belum begitu pulih.
''Coba ucapkan lagi'' tanya Attar memperhatikan wajah manis Luna, Luna menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan-lahan. tanpa mereka sadari krısna memperhatikan mereka dari ambang pintu dan tersenyum seraya menggelengkan kepalanya melihat dan mendengar ucapan sang adik yang seolah melamar kekasihnya.
''kakak.. mau kah menikah dengan ku'' ucap Luna sedikit takut dan menahan malu, mendengar kalimat Luna Attar tersenyum dan mengusap pipi Luna
''kamu melamar kakak''
''Heeum''
''Baiklah kakak mau'' jawab Attar lalu tersenyum
''Tapi tunggu kamu lulus kuliah'' jawab Attar lagi mengira Luna hanya bercanda
''Kakak Luna serius, Luna sudah membicarakan ini dengan papa dan papa menyuruh kakak nanti malam datang ke rumah'' jelas Luna serius.
''maksud mu?''
''iya kakak, papa mengizinkan kita menikah'' jawab Luna pasti dan tersenyum bahagia namun Attar nampak ragu, ragu takut jika nanti tidak bisa membahagiakan Luna karena perbedaan mereka tentang materi.
''Baiklah jam istirahat siang nanti temui kakak di tempat biasa, kita bicarakan lagi'' jawab Attar ragu lalu tersenyum. dan mengusap lembut pipi Luna. setelahnya ia berdiri di bantu Luna. kemudian ia mengambil tongkatnya. sedangkan krısna memutuskan untuk menutup kembali pintu dan mengurungkan niatnya untuk menemui Attar, Krısna paham apa yang sedang Attar pikirkan nampak jelas di raut wajahnya .
''kalau begitu, kakak mau meeting dulu'' pamit Attar lalu tersenyum kemudian keluar ruangannya.
Luna melihat Attar berjalan dengan menggunakan tongkatnya pun tersenyum. lalu ia memutuskan untuk ke galerinya.
Attar berjalan menuju ruang meeting, ia tidak perduli banyak yang melihat nya yang berjalan menggunakan tongkat, dan krısna tidak mempermasalahkan itu yang terpenting bagi krısna, Attar bisa profesional dalam bekerja dan memang pekerjaan Attar sangat memuaskan.skil Attar tidak di ragukan lagi dalam mempersentasikan sebuah ide, dan membuat klien percaya , aura positif nya selalu membuat lawan bicaranya tunduk. hingga krısna pun tidak ingin kehilangan orang seperti Attar.
Meeting berjalan selama 2 jam, dan dengan hasil yang memuaskan. Krısna bangga dengan kinerja Attar, begitu juga staff yang lainnya. setelah meeting semua keluar ruangan kecuali Krısna dan Karena Attar harus membereskan berkas berkasnya
''Attar.. '' panggil Krısna yang masih duduk di di kursi nya,dan melihat Attar
''Terima kasih, baru pertama bekerja kamu sudah memberi kesan yang sangat bagus pada ku'' balas krısna menepuk lengan Attar
''Sama sama tuan''
''jangan memanggil ku tuan jika hanya berdua dan di luar pekerjaan, dan nanti malam aku tunggu diri mu di rumah untuk melamar adik ku'' jawab krısna lalu tersenyum dan berdiri namun Attar mencegahnya.
''Tunggu kak, ada hal yang ingin aku katakan'' cegah Attar, krısna terdiam lalu duduk kembali.
''Apa ?''
''kakak tahu sendiri saya seperti apa, tidak mempunyai siapa siapa di Jakarta dan paman ku sudah kembali ke kampung halaman. aku juga baru saja pulih dari kecelakaan, aku tidak bisa membawa barang mewah untuk melamar Luna. aku hanya bisa membawa diriku kak'' ucap Attar sendu.
''tidak perlu mewah ,bawa saja yang menurutmu pantas untuk adik ku'' jawab krısna lalu tersenyum kemudian ia berdiri dan meninggalkan Attar sendiri di rumah meeting.
''oh ya jam istirahat nanti kamu ingin menemui adik ku bukan?, aku beri waktu longgar untuk mu, setelah istirahat temui adik ku dan langsung pulang saja, bicarakan dengan matang.'' ucap krısna sebelum benar benar keluar dari ruang meeting.
''tapi kak bagaimana pekerjaan ku''
''sudah tidak apa apa, jangan membantah dan jangan membuat adik ku kecewa''
''İya kak terima kasih'' jawab Attar lalu tersenyum kemudian Krisna menuju ruangan nya.
Jam terus berputar dan jam istirahat pun telah tiba, Attar segera mengemasi barangnya dan memberi pesan pada sekertaris Dani bahwa ia tidak kembali lagi setelah istirahat. karena ada urusan dan sudah mendapatkan izin dari Krisna.
Attar menuju ke tempat dimana ia sering bertemu Luna yaitu di sebuah kafe, bukan kafe Laras atau kafe batagor Yuna melainkan kafe pertama mereka kencan saat pertama jadian. Luna sudah datang lebih awal. Luna nampak bahagia saat melihat Attar datang dan terus tersenyum.
''Sudah lama menunggu''
__ADS_1
''Lumayan kak, tidak begitu lama'' jawab Luna lalu tersenyum.
''Sudah makan?'' tanya Attar duduk di depan Luna
''Belum, aku menunggu kakak''
'baiklah kakak pesankan'' ucap Attar hendak berdiri, Namun Luna mencegahnya
''biar aku saja kak'' jawab Luna lalu berdiri dan menuju pantry untuk memesan makanan.
Luna memesan makan kesukaan Attar ikan nila bakar beserta sambel dan lalapan nya sedangkan dirinya lebih suka sop ayam. tak lupa nasinya. setelah itu Luna membawa pesanannya menuju meja
''silahkan pangeran Attar'' ucap Luna meletakkan pesanannya.
''Terima kasih'' jawab Attar tersenyum melihat Luna duduk di depannya.
mereka makan bersama saling bergurau dan bercanda Hingga selesai makan. setelahnya sejak mereka terdiam hingga Attar memulai pembicaraannya.
''Luna, kamu ingin kakak lamar dengan apa'' tanya Attar meraih jemari Luna
''kakak kan sudah melamar ku'' jawab Luna menunjukan jemarinya.
''iya, tapi belum secara resmi di hadapan papa dan mama mu serta saudara mu'' ucap Attar melihat Luna begitu dalam, ia juga memikirkan apa sebaiknya yang pantas untuk ia berikan pada Luna, mengingat Luna sudah memiliki segalanya. Luna pun berfikir tidak mau memberatkan Attar ia tahu semenjak kecelakaan, Attar memang sedang kesulitan masalah ekonomi, terkadang justru Luna yang membantunya hanya sekedar untuk makan dan keseharian nya.
''Berikan yang memang pantas untuk ku, dan menurut kakak berharga, Luna tidak meminta seperti orang orang pada umumnya, Luna hanya minta kepastian, kepastian janji kakak pada Luna''
''Baiklah, tapi kakak hanya datang seorang diri karena kamu tahu sendiri kakak tidak mempunyai siapa pun disini, ya mungkin kakak akan meminta tolong sama pak RT dan İstrinya untuk mewakili, dan mungkin paman datang saat hari pernikahan saja'' jelas Attar.
sebenarnya Attar juga tidak tahu barang berharga apa yang harus ia berikan pada Luna saat acara lamaran nanti, ia juga bingung uang dari mana. Namun ia tidak ingin menunjukkan pada Luna tentang keadaannya yang sebenarnya.
''Luna , sebenarnya apa kamu sudah memikirkan matang matang ingin segera menikah dengan kakak ,apa kamu siap berjuang bersama kakak, apa kamu nanti bisa hidup seperti kakak jalani saat ini?'' tanya Attar serius melihat Luna dengan begitu lekat ,Attar menanyakan hal itu karena tidak ingin Luna nanti menyesal menikah dengan nya
''sudah kak, hidup seperti kakak yang Luna inginkan, sederhana tapi bermakna. Luna ingin menjadi orang biasa, yang tidak pernah di kawal kemana mana, kakak tau sebenarnya Luna ini masih di kawal dua orang bodyguard dari kejauhan'' jelas Luna sedikit menoleh kebelakang di ikuti Atar yang juga melihat dua orang berbadan tegap di belakang Luna dan berjarak hanya dua meja dari meja mereka.
''Luna tidak menginginkan itu lagi kak, Luna tidak nyaman kak. '' jelas Luna yang sudah menghadap Attar lagi dan tersenyum simpul.
''Bukan itu lebih bagus kamu lebih Aman''
''iya Aman tapi aku menjadi tidak begitu mempunyai banyak teman, teman teman ku takut, bersama ku''
'' iya kakak paham'' balas Attar meraih jemari Luna dan mengusap punggung tangan nya.
''sebisa mungkin kakak nanti akan menjaga mu'' ucap Attar lalu tersenyum begitu juga Luna.
Semetara itu, Krisna yang sudah mengetahui semuanya tentang rencana dan keadaan Attar pun diam diam, menyuruh seseorang untuk menyiapkan semua barang yang harus ia persiapkan untuk lamaran nanti malam.
''Bagaimana mbak sudah di persiapkan semuanya barang hantaran lamarannya?'' ucap Krisan kepada orang suruhannya
''Sudah tuan, semuanya sesuai pesanan tuan''
''baiklah nanti aku kirim Alamatnya'' balas Krisna lalu mematikan sambungan ponselnya.
''Maaf Attar hanya itu yang bisa aku bantu, aku hanya ingin adik ku bahagia bersama mu''batin Krisna lalu ia melanjutkan pekerjaannya nya.
* * * * * * *
terima kasih.
di tunggu komentar komentarnya.
__ADS_1
like , vote ,rate-nya jangan lupa