
Jane dan Amar tengah berada di salah satu taman di New York, mereka berdua sedang menghabiskan hari libur mereka. Amar sengaja membawa Jane jalan jalan agar Jane merasa senang. Amar begitu peka jika Jane butuh suasana baru.
''bagaimana perasaanmu? kamu senang'' tanya Amar saat mereka duduk di salah satu bangku yang ada di taman.
''iya.. udaranya segar banyak pepohonan'' jawab Jane melihat sekelilingnya.
''terima kasih Amar'' ucap Jane melihat Amar dan keduanya tersenyum
''Amar.. kamu percaya cinta sejati'' tanya Jane tiba tiba dan Amar tersenyum lalu membuang pandangannya melihat ke arah depan yang terdapat bunga bunga indah.
''percaya.. tapi cinta sejati hanya untuk orang yang saling mencintai'' jelas Amar singkat namun itu sangat menusuk relung hati Jane. ia mengingat kisah cintanya dengan Rey yang hanya bertepuk sebelah tangan. lalu mengingat kisah cinta sang mama dan papanya, ia juga mengingat kisah cinta sang kakak Siena, mereka semua saling mencintai, saling membutuhkan dan melengkapi.
''tapi tingkat tertinggi dalam mencintai seorang adalah melepaskan'' balas Jane lalu melihat Amar begitu lekat. dan teringat kisah cinta sang kakak Laras dan Ardan.
''lebih indah di cintai dari pada mencintai, akan tetapi jauh lebih indah jika saling mencintai'' jawab Amar lagi.
''aku berharap suatu saat nanti kamu mencintai ku tanpa paksaan atau kasihan, aku juga tahu hati mu masih untuk mantan suami mu tapi izinkan aku untuk merebut hati mu darinya'' beber Amar melihat lekat Jane lalu meraih jemarinya
''aku sudah memberi mu kesempatan Amar, aku sudah membuka hatiku, tugas mu hanya satu bantu aku untuk benar benar menghilangkan rasa cinta itu, sampai akhirnya rasa itu hanya kamu yang memiliki, aku sadar tidak mungkin melupakan Rey sepenuhnya karena ini '' tegas Jane mengarahkan tangan Amar ke perutnya.
''bayi ini tetaplah anak Rey dan dia mempunyai hak untuk tahu siapa ayah kandungnya, tapi kamu juga berhak untuk bahagia jane, aku akan membahagiakanmu''
''Amar.. '' ucap Jane lirih lalu menunduk dan ia tak kuasa menahan air matanya, dengan sigap Amar merangkul nya dan meletakkan kepala Jane di dadanya.
''ini terakhir tangisan yang aku lihat, seterusnya hanya tawa yang akan menghiasi wajahmu''
''nanti aku di sangka orang gila jika terus tertawa'' jawab Jane menepuk dada Amar
''iya tergila gila padaku'' goda Amar lalu tertawa kecil begitu juga Jane
''Amar jangan menggodaku'' balas Jane lalu mengusap air matanya dan tak lama mereka melepaskan pelukannya masing-masing lalu Amar memberikan Jane minum
''minumlah ''
''terima kasih'' jawabnya lalu Jane meminumnya .
Ada rasa lega di hati jane, setelah bercerita dengan Amar, Amar juga merasa senang Jane sudah membuka hatinya. walau Jane sedikit ragu dengan langkahnya karena perbedaan usia mereka sangat jauh, namun Jane berpikir kembali, apa lagi yang ia cari, cinta sudah ada di depan mata, tidak ada laki laki setulus Amar yang mau menerima semua yang ada pada dirinya.
''yakin saja jane, jika Amar takdir mu maka terimalah, dengan senang hati'' batin Jane lalu tersenyum.sambil bersandar di bahu Amar, sandaran yang ia rindukan, Sandara yang ia butuhkan.
Bagai gelap yang menemukan sinar, bagai tanaman yang menemukan air di padang pasir yang tandus, itu lah rasa yang di rasakan jane, ia menemukan sosok yang ia butuhkan saat ini, seseorang yang mengerti akan dirinya. dan Amar menemukan kenyamanan, entah mengapa saat melihat senyuman Jane ia merasa damai dan nyaman.
''Amar ayo kita pulang'' ucap Jane melihat Amar.
''baiklah ayo..'' jawab Amar lalu ia berdiri kemudian membantu Jane berdiri. mereka berjalan menelusuri jalan setapak di taman tersebut, Amar terus menggenggam tangannya sampai keluar dari taman dan menuju halte bis. setelah sampai di halte mereka duduk di kursi tunggu. cukup lama mereka menunggu, namun dengan sabar Jane dan Amar menunggu.
''sepertinya untuk hari berikutnya lebih baik menggunakan mobil saja'' ucap Amar melihat Jane
''tidak mau''
''kenapa?''
''tidak mau menolak'' jawab Jane lalu keduanya tertawa kecil
''kamu bisa saja, aku pikir kenapa'' balas Amar lalu tersenyum.selang beberapa menit bis yang mereka tunggu pun datang kemudian mereka naik bis tersebut. mereka duduk berdampingan di dalam bis dan banyak pasang mata yang melihat mereka namun Jane dan Amar tidak perduli, terlebih amar yang terus menggenggam jemari jane, sesekali ia mengusap perut Jane hingga tanpa sadar Jane tertidur di pundak Amar, perlahan Amar menarik lembut kepalanya lalu ia letakkan di dadanya dan merangkulnya agar Jane merasa nyaman.
* * *
Amar menidurkan Jane di sofa panjang, Jane tertidur lelap saat di dalam bis sampai Amar tidak berani membangunkannya dan memilih untuk membopongnya sampai ke apartemennya
__ADS_1
''jane..'' gumamnya lalu ia duduk di bawah dan meletakkan kepalanya di dekat kepala Jane dan menggenggam jemarinya lalu mengusap usap perut Jane. suasana menjadi hening Karena mereka berdua tertidur, hingga tiba tiba seseorang masuk dan mendapati mereka tidur dengan posisi masing-masing terlebih melihat Amar memegang perut Jane yang terlihat buncit. orang tersebut hanya mengerutkan dahinya dan mengingat ingat sesuatu. tak mau berfikir lama lalu ia membangunkan Amar.
''bangun..'' ucapnya sambil sedikit mengguncang tubuh Amar, Amar bangun karena ada yang mengusik tidur nya lalu melihat kearah orang yang membangunkannya.
''krisna?'' ucap Amar lalu ia bangun dan berdiri
''siapa kamu, dan kenapa kamu ada di apartemen adik ku'' tanya krisna melihat Amar dari ujung rambut sampai ujung kaki.
''kakak?'' ucap Jane lalu ia bangun dan duduk
''jane..siapa dia'' tanya Krisna dan masih melihat Amar yang kini tengan duduk di sofa di dekat sofa panjang yang di duduki Jane
''ini Amar kak '' jawab Jane melihat Krisna yang sudah duduk di sampingnya.
''Amar yang sering Jane ceritakan saat kakak meneleponku'' ucap Jane mengusap perutnya, Krisna pun melihat adiknya begitu lekat seolah meminta jawaban kenapa perutnya membesar, Jane yang paham tatapan kakaknya pun sedikit takut. lalu ia menghela nafas panjang.
''ini anak kak Rey kak, aku hamil anak kak Rey''
''apa! maksud mu?
''saat papa dan mama mengetahui jane menjadi istri kedua kak Rey, papa dan mama kecewa dan menyuruh jane untuk berpisah saja dengan kak Rey, karena mama dan papa tahu jika kak meli memilih ingin berpisah, Karena tidak sanggup berbagi cinta dengan ku, papa menyuruh ku karena kak meli sedang hamil.dan sebenarnya Jane juga ingin memberitahu kak Rey jika Jane hamil tapi Jane memilih menyembunyikan kehamilan Jane dari kak Rey, mama dan papa serta kakak.'' jelas Jane pada Krisna, Krisna pun langsung memeluk adiknya. Krisna paham apa yang dirasakan sang adik pasti tidak mudah menjalani hari harinya dengan kondisi hamil tanpa suami namun Krisna tahu ini adalah konsekuensi sang adik. dan tidak memihak siapa pun.
Jane hanya diam saat krisna memeluknya, Jane tidak ingin lagi menangis walau sebenarnya hatinya menjerit. pandangan krisna kini beralih pada Amar lalu tersenyum. begitu juga Amar.
''terima kasih sudah menjaga adik ku'' ucap Krisna lalu melihat Jane
''sama sama'' jawab Amar yang juga melihat Jane lalu ketiganya tersenyum.
''oh ya kenapa kakak datang kemari tidak memberitahuku'' tanya Jane
''sengaja, kakak ingin memberimu kejutan tapi justru kakak yang mendapat kejutan dari mu'' jawab Krisna lalu mengusap perut Jane ,lalu ketiganya tertawa
''tidak, kakak mu juga sekarang tengah hamil 5 bulan''
''syukurlah akhirnya kak Elsa hamil, oh ya kak, kabar kak meli bagaimana''
'' baik, kehamilan sudah masuk 8 bulan, dan kehamilan mu sekarang berapa bulan?
''masuk 6 bulan kak'' jawab Jane mengusap perutnya lalu tersenyum
''mana Maria? tanya krisna
''pulang kak, ini kan hari liburnya, sebentar Jane ambilkan minum untuk kakak''
''tidak perlu''
''hanya minuman'' jawab Jane menepuk lengan sang kakak. lalu ia berdiri menuju dapur. saat Jane mengambil minuman krisna dan Amar berbincang menanyakan hubungan Amar dengan Jane.
''Amar.. oh ya perkenalkan nama ku Krisna'' ucap Krisna mengulurkan tangannya lalu di sambut Amar
''Amar'' jawab Amar lalu keduanya tersenyum.
''selama ini Jane bercerita banyak tentang mu melalui telepon, kamu baik, perhatian dan selalu ada untuknya'' ucap Krisna menirukan ucapan Jane
''jane berlebihan Krisna'' jawab Amar lalu tertawa kecil
''tidak Amar, aku tahu adik ku seperti apa, jika ia kagum dengan seseorang pasti dia akan bercerita semua yang ia rasakan'' jelas krisna melihat sang adik datang dengan membawa nampan.
''ini kak.. '' ucap Jane meletakan nampannya di meja
__ADS_1
''oh ya bagaimana hubungan kalian''
''kakak..'' pekik Jane, dan memang Krisna senang sekali jika menggoda adiknya.
'' krisna.. aku akan berterus terang saja, jika setelah Jane melahirkan dan selesai masa Iddah nya aku akan menikahi Jane'' ucap Amar melihat Krisna begitu serius
''eum.. boleh saja, aku hargai niat baik mu, tapi kamu harus menerima semua yang ada pada diri Jane''
''pasti''
''jane bagaimana dengan mu'' tanya krisna ,namun Jane hanya mengangguk dan tersenyum
''tapi Jane minta kakak menyembunyikan kehamilan Jane pada keluarga di Indonesia, termasuk mama dan papa terlebih kak Rey . biar Jane sendiri saja nanti yang menceritakannya'' jelas Jane yang masih ingin merahasiakan kehamilan pada keluarganya
''iya kakak mengerti maksud mu'' jawab Krisna lalu tersenyum dan mengusap kepala Jane. mereka bertiga mengobrol bersama tertawa dan bercanda.
Disisi lain Julio sedang menjemput Yuna di toko kue meli, Julio berhasil merayu Yuna dan mereka kini tengah berpacaran dan sudah berjalan satu bulan, bukan tanpa alasan Julio menjadikan Yuna kekasihnya yaitu untuk melancarkan aksinya untuk misi balas dendam pada Rey, dan Yuna juga sudah mengetahui semuanya.
''hai sayang..'' ucap Julio saat Yuna masuk kedalam mobilnya
''hai..maaf sudah lama menunggu'' jawab Yuna lalu menutup pintu mobilnya
''tidak apa apa'' jawab Julio lalu mencium pipi yuna
''lio apa yang kamu lakukan'' balas Yuna menepuk lengan Julio
''kenapa, kamu kan kekasihku'' jawab Julio beralasan. dan Yuna hanya tersenyum malu.
''baiklah sekarang temani aku'' ucap Julio lalu melajukan mobilnya.
''kemana,? ini sudah malam '' jawab Yuna
''kenapa toh tidak ada yang mencari mu bukan?'' jawab Julio yang memang tahu Yuna hanya hidup sendiri di Jakarta dan tinggal di sebuah kosan.
''iya sih..'' jawab Yuna pasrah dan menuruti Julio. Julio membawa Yuna ke apartemenya di sana mereka bercanda, tertawa dan makan bersama, bahkan Julio membelikan baju dan kebutuhan Yuna bahkan Julio membelikan beberapa barang yang menurut Yuna mustahil ia bisa membeli yaitu ponsel keluaran terbaru serta perhiasan dan cincin berlian.
''julio kamu memberi ku banyak barang, kamu tidak berniat macam macam pada ku kan'' tanya Yuna saat selesai mandi dan sudah mengenakan dress barunya, namun Julio hanya tertawa lalu mendekati Yuna dan memeluknya dari belakang
''laki laki yang mencintaimu pasti akan memberikan apa yang di inginkan pasangannya, dan aku hanya ingin cinta mu sayang'' jawab Julio menciumi curuk leher yuna. lalu mengusap rambut Yuna.
''dasar laki laki'' jawab Yuna tertawa kecil lalu membalikkan badannya lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Julio
''jangan memancingku bocah, kamu tahu kan aku seorang janda tanpa anak, heum.. ''balas Yuna meraba pipi Julio, Julio pun tersenyum sinis.
''aku tahu keinginanmu '' jelas Yuna lagi lalu meraba dada Julio. kemudian melepaskan kancing kemejanya satu persatu.
''yuna.. kamu ternyata agresif'' balas Julio lalu mereka saling berciuman.
''tidak ada yang salah menjadi kekasih mu, aku bisa memanfaatkan uang mu, kamu pikir aku menyukai mu setelah aku tahu rencana mu untuk menghancurkan tuan Rey, justru aku akan membuat mu tergila gila pada ku'' batin Yuna yang memang lebih licik dari Julio. Yuna tidak tinggal diam jika Julio menghancurkan Rey dan meli Karena Rey dan meli sudah banyak berjasa padanya.
''lakukanlah.. '' ucap Yuna menarik lembut Julio ke tempat tidur, lalu mereka melakukan apa yang seharusnya tidak mereka lakukan.
''terima kasih sayang'' ucap Julio memeluk Yuna saat mereka selesai melakukanya .
''sama sama, tapi kamu harus janji menikahi ku'' balas yuna mengusap rambut Julio
''pasti..''jawab Julio asal sambil memejamkan matanya, tanpa sadar Julio terlelap. saat Julio terlelap Yuna bangun dan menuju kamar mandi. sambil membawa ponselnya
'' dengan video ini aku bisa menjadi menantu tuan Bryan Ahmad Akbar , orang terkaya di negri ini, dan aku bisa membatalkan semua rencana Julio pada tuan Rey dan Bu meli , bagaimana tuan Rey sudah menyelamatkan nyawa ku saatnya aku membalas Budi padanya walau harga diri ku aku taruhkan, ternyata salah satu anak tuan Bryan begitu bodoh'' batin Yuna tertawa di dalam kamar mandi. Yuna sengaja merekam apa yang ia lakukan bersama julio hanya untuk senjatanya. mungkin Julio memilih partner kerja yang salah , ternyata partnernya lebih licik darinya. setelah Yuna selesai mandi ia pun keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaiannya setelahnya ia mengeringkan rambutnya kemudian berbaring di sisi julio, Julio yang sadar Yuna berbaring di sampingnya pun lalu memeluknya dan menyembunyikan wajah ya di dada Yuna seperti anak kecil yang tidak mau di tanggal sang mama. Yuna hanya tersenyum dan membalas pelukan Julio.
__ADS_1
* * * * * * * *