TAKDIR 2

TAKDIR 2
64. Atas nama cinta


__ADS_3

SEKOLAH MAHENDRA


hari ini adalah hari pertama Neha mengajar di sekolah Mahendra, ia mengajar di sekolah TK, sekolah TK hanya 3 kelas masing masing kelas 15 siswa. suasana sangat riuh, ada yang menangis ada pula yang bertengkar dan ada pula yang berebut mainan. Neha yang baru pertama kali mengajar pun kewalahan meski ada 3 guru, masing masing mendampinginya 5 anak ,Namun pengalaman mengasuh adik dan keponakanya dari pihak ibu kandungnya di India ia bisa mengatasi anak anak didiknya.


Ardan diam diam memperhatikannya dari jendela dan tersenyum saat melihat Neha mengajari anak anak didiknya menulis dan membaca.


''Plak'' Nadia sang kakak tiba tiba memukul kepala Ardan dengan buku


''Aduh!'' pekiknya dan melihat sang kakak yang sudah berkacak pinggang, Nadia memang selalu memperlakukan adiknya seperti anak kecil, Nadia tidak perduli adiknya itu sudah 47 tahun dan jika memukul asal saja.


''Sedang apa?, itu kelas 2 SMA B sedang tidak ada guru, ini malah mengintip guru baru''


''Ahhrrrqqq, kakak, tidak bisa lihat adiknya senang'' Jawabnya kesal seraya mengusap kepalanya.


''Sudah sana''


''Iya,'' jawabnya lalu melihat kearah jendela untu melihat Neha sebentar namun sang kakak menimpuk nya lagi dengan buku


''Plak''


''Aduh..sakit Kakak jatuh wibawa ku'' pekiknya lalu seraya menunduk dan mengusap kepalanya, Neha yang mendengar keributan pun berjalan ke arah pintu.


''Maaf Bu Nadia ,pak Ardan ada apa sepertinya ada keributan'' tanya Neha melihat Ardan sekilas yang sedang mengusap kepalanya. mereka memanggil ibu dan bapak saat sedang jam kerja di luar itu mereka memanggil seperti biasa.


''Tidak Ada apa apa Bu ,saya hanya memanggil Pak Ardan untuk mengajar kelas 2 SMA, permisi.''


''Permisi Bu Neha'' pamit Ardan lalu Neha hanya mengangguk sopan dan tersenyum kemudian masuk kembali sedangkan Ardan menuju kelas 2 SMA dan Nadia kembali ke ruangannya.


''Bisa bisanya aku tadi melihat Neha di kelas TK, ah sial, Ardan ayo waras kan pikiran mu, Neha itu anak sahabat mu,CK.. ya Tuhan apa aku puber ke dua, Shit!'' batinnya saat di dalam kelas dan berdiri di ambang pintu dan membiarkan muridnya mengerjakan tugas belajarnya. Disisi lain Neha juga memikirkan hal sama.


"om Ardan kenapa bisa di depan kelas TK, apa yang Om Ardan lakukan ,tapi kan dia yang mempunyai sekolah ini jadi sah sah saja di berkeliling'' Batinnya, lalu tersenyum dan melanjutkan mengajari murid muridnya.


Jam pelajaran terus berlanjut Dan saatnya anak anak TK beristirahat, Neha dan guru yang lainnya mendampingi di taman bermain mengawasi anak anak yang sedang bermain serta ada juga yang meminta gendong, Ardan yang kini sedang di lantai atas pun tersenyum saat melihat Neha menemani anak anak bermain. tiba tiba ponsel Ardan bergetar lalu ia mengambilnya dari saku kemejanya, lalu mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya.


''Halo'' jawabnya


''Ardan , Apa benar Neha sekarang menjadi guru di sekolah mu?'' tanya seseorang di seberang sana dan Ardan mengenali suara itu, lalu tersenyum


''İya Nath , Neha mengajar anak anak Tk''


''Oh.. bagus kalau begitu, aku harap dia tidak bersedih lagi dengan kegagalannya menikah''


''Iya, seperti dia sudah mulai menerima keadaan, ngomong ngomong Neha sekarang tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik'' ucap Ardan, lalu tersenyum.


''Jangan katakan kamu menyukai anak ku'' selidik Nathan memastikan. pasalnya, Nathan tahu bagaimana Ardan, jika sudah menyukai seseorang ia pasti mengatakan hal yang sebenarnya, sama seperti dulu saat jatuh hati pada Laras, hampir setiap saat ia mengatakan Laras cantik berbeda halnya dengan Andin Ardan tidak pernah memuji di depan Nathan.

__ADS_1


''Tapi maaf Nath, Aku akan melamar Anak mu, dan aku akan menjadi menantu mu'' goda Ardan lalu tertawa


''Dasar brengsek, awas saja jika kamu berani mendekati anak ku, Aku akan menghajar mu'' jawab Nathan dan Ardan tetap tertawa.


''Oh.. calon papa mertua marah, jangan marah pa, ingat jantungnya, sudah tua'' Goda Ardan lagi dan terkekeh begitu juga Nathan.


''Apa bedanya aku dengan dirimu sama sama sudah tua''


''Pasti berbeda, sayang anak mu itu sepertinya juga menyukai ku'' goda Ardan lagi lalu terkekeh.


''Percuma bicara dengan mu, duda kurang belaian, kurang waras'' jawab Nathan kesal lalu memutuskan sambungan ponselnya.


''Dasar Nathan tua Bangka, eh Aku juga sudah tua'' gumamnya lalu menggelengkan kepalanya dan tersenyum lalu melihat Neha kembali yang masih bermain bersama anak anak di taman bermain.


Tak lama, bel istirahat anak TK berbunyi tanda istirahat selesai lalu satu persatu anak berlarian, menuju kelasnya dan bersiap untuk pulang sedangkan Ardan menuju kelas yang tadi ia mengajar.


* * * *


Jane kini tengah berkunjung di rumah syasa bersama Amar ,Jane benar benar berubah bahkan kini ia menggunakan cadar saat di luar rumah,Dan membuka nya saat berada di lingkungan keluarga besarnya saja,ia pun masih belajar , ia masuk dengan menenteng tasnya dan Amar menggendong Adnan. ia masuk kedalam rumah dan menuju ruang keluarga.


''Mama, papa'' sapanya semua yang melihatnya tercengang dan saling pandang satu sama lain.


''Mama, kue buatan Luna sudah....'' ucap Luna terputus saat melihat orang bercadar masuk kerumahnya,dan ia baru saja keluar dari dapur.


''Ma, itu siapa? ter*r*s?''


''What...!?''


''Luna suara mu'' pekik Syasa lalu Jane pun membuka cadarnya.


''MashaAllah kak Jane, aku pikir siapa?'' ucap Luna tersenyum melihat sang kakak.


''Kamu pikir ter"r"s?'' saut Jane lalu semuanya tertawa


'' ter*ris hatinya kak Amar'' saut Luna lalu memeluk Jane.


''Maaf ma, Jane baru berkunjung''


''iya tidak apa apa'' jawab Syasa lalu sekilas melihat Amar dan tersenyum.


Perlahan Amar mendekati Syasa , karena ia ingin meminta maaf atas kejadian tempo lalu dan dirasa saat ini waktu yang tepat.


''Ma.. Amar datang kemari, ingin meminta maaf soal Tempo lalu, Amar benar benar menyesal ma'' ucapnya tulus.


''İya, mama maafkan, dan terima kasih sudah membimbing anak mama menjadi lebih baik''

__ADS_1


''iya ma, Jane tanggung jawab Amar sampai kehidupan kedua nanti dan tanggung jawab anak laki lakinya" jelas Amar melihat Jane lalu tersenyum. Yuna, Elsa dan Luna saling pandang, hati Mereka tergugah namun sepertinya mereka belum siap untuk melakukan perubahan seperti Jane lakukan.


Mereka berkumpul bersama saat hari libur tiba tak terkecuali Meli,dan Rey juga datang ke rumah syasa untuk mengantarkan Aryan dan dengan cara ini lah yang di sepakati Jane dan Rey untuk tidak membuat Amar cemburu, yaitu berkumpul dengan keluarga dan banyak orang, Amar mengizinkan Jane membuka cadarnya saat ada Rey karena pertimbangan lain yaitu Aryan, Amar takut JiKa Aryan takut saat melihat Jane menutup separuh wajah. karena belum terbiasa dan belum memahami.


* * * * *


Kandungan Laras memasuki, usia 4 bulan, Martin dan anak anak mereka selalu siap siaga menjaga Laras karena Laras hamil di usia yang tidak muda lagi yaitu 38 tahun. Ardan juga sudah mengetahui jika Laras tengah hamil lagi dari Arsy karena Amara bercerita kepadanya, sedangkan Arsy tidak menceritakan jika sang papa dekat dengan Neha, karena itu urusan pribadi sang papa.


Saat Ardan mengetahui Laras hamil, ia hanya menanggapinya dengan senyuman, dan semakin yakin Laras tidak akan pernah kembali lagi padanya, perlahan ia melupakan cintanya pada Laras dan mulai membuka hati untuk siapapun nanti yang manjadi pendampingnya. ucapnya yang dulu yang tidak mungkin bisa melupakan Laras mungkin itu hanya ucapan, nyatanya hanya Tuhan yang bisa membolak-balik kan hati hambanya


Dua bulan sudah Neha menjadi guru, dan dua bulan itu pula Neha dan Ardan terkadang menghabiskan waktu libur bersama tentunya bersama anak anak jika Arsy dan Devan bersedia. terkadang jika tidak ingin ikut hanya Ardan dan Neha saja, Arsy dan Deva paham jika Sang papa juga membutuhkan teman untuk bercerita selain pada mereka. seperti saat ini dua manusia yang beda generasi ini sedang berada di pantai tanpa anak anak Ardan, mereka duduk menikmati indahnya pantai di sore hari dan menunggu matahari terbenam.


Satu sama lain sudah memiliki rasa ketertarikan, dan hanya menjalani saja, Ardan belum berani mengungkapkan rasa di hatinya. begitu juga Neha, Namun bahasa tubuh mereka berkata lain, mereka sangat mesra dan saling nyaman dan membutuhkan.


''Om, sebentar lagi matahari nya terbenam'' ucap Neha memperhatikan matahari nya dengan kaca mata hitamnya begitu juga Ardan.


''Iya, kamu suka'' jawab Ardan melihat wajah neha dari samping,dan tersenyum perlahan Ardan meraih jemari Neha, Neha tersenyum dan melihat ke arah Ardan.


''Neha, om jatuh cinta padamu'' ucapnya lalu tersenyum dan melihat wajah manis neha.


Neha tersenyum lalu mengusap rahang Ardan yang ditumbuhi bulu bulu halus, wajah yang selama 2 bulan ini ia bayangkan, kini ia bisa melihatnya dengan dekat. wajah yang masih terlihat tampan, walau sedikit terlihat kerutan di dekat matanya, Dan tidak menghalangi Neha untuk jatuh hati pada Ardan. Bukan karena paras Ardan saja yang masih terlihat tampan dan gagah Namun perlakuan Ardan sungguh manis padanya, perlakuan lelaki dewasa kepala wanitanya.


''Neha juga jatuh cinta dengan mu om'' jawab Neha mengusap lembut bibir Ardan. Neha memberanikan diri untuk mencium Ardan saat matahari terbenam. sekilas Ardan membalasnya. lalu keduanya tersenyum dan saling menyatukan keningnya.


''I love you om Ardan.


''I love you to Neha'' lalu keduanya berciuman kembali, namun itu tidak lama , Ardan harus bisa menahan diri begitu juga Neha, Neha paham siapa yang ia ajak memadu cinta, laki laki matang dan pernah menikah sudah pasti mempunyai hasrat terpendam, Neha wanita dewasa yang memahami itu, jika mungkin tidak berdosa melakukan sebelum menikah, mungkin saja ia sudah melayani orang yang di depannya saat ini. orang yang membuat nya jatuh cinta. begitu juga Ardan ia tidak mungkin merusak Anak sahabat nya, Ardan juga paham bagaimana menjaga orang yang ia cintai.


''om bagaimana jika papa mengetahui hubungan kita dan tidak merestui kita'' tanya Neha, yang kini duduk di pangkuan Ardan.


''Aku akan menyuruhnya berkaca saat berjuang mendapatkan mama Siena mu, aku juga yang ikut andil dalam hubungan mereka''


''om bisa saja''


''jangan memanggil ku om, saat berdua seperti ini''


''lalu''


''eum.. Panggil aku Mas''


''Mas?''


''heum..''


''Baiklah, Mas Ardan'' jawab Neha yang merasa masih aneh dengan sebutan untuk Ardan. lalu keduanya terkekeh dan saling berpelukan.

__ADS_1


Cinta memang tidak pernah memandang apa pun, atas nama cinta mereka rela memberikan hatinya dengan suka rela tanpa imbalan apa apa, dan atas nama cinta mereka lupa bahwa terkadang cinta juga bisa menyakitkan jika tidak terbalaskan.


* * * * *


__ADS_2