TAKDIR 2

TAKDIR 2
26. kesabaran


__ADS_3

beberapa bulan kemudian


Amar tengah menyampaikan materi mata kuliahnya, keadaan kelas pun hening dan hanya suara Amar saja yang terdengar namun tiba tiba suara Jane terdengar merintih kesakitan


''auh..ssttt'' desisnya sontak Amar terdiam dan melihat jane


''pak sepertinya Jane ingin melahirkan'' ucap salah satu teman Jena yang ada di samping Jane dan sedang merangkul pundak Jane, seketika Amar menghampiri Jane dan melihat kondisinya, Jane berusaha mengatur nafas dan menahan kontraksi di perutnya


''jane.. apa sudah waktunya'' tanya Amar memegang pundak jane


''mungkin..'' jawab Jane lalu meraih pergelangan tangan Amar dan meremasnya


''Rahel tolong bantu saya membawa Jane ke rumah sakit dan yang lainya lanjutkan belajarnya Masing masing'' ucap Amar lalu membopong Jane dan membawanya ke rumah sakit di bantu Rahel. semua teman satu kelas jane sudah mengetahui status Jane dan status hubungannya bersama Amar, dan justru banyak yang mendukung dan salut dengan Jane yang hamil sendiri dan berjuang sendiri tanpa suami.


sesampai di rumah sakit Jane langsung di tangani dokter dan para perawat tak lupa Amar selalu di sampingnya yang selalu memberi dukungan, dan Rahel menghubungi sang kakak Siena.


''tuan terus beri dukungan pada istrinya, jarang jarang ada suami yang berani menemani proses istrinya melahirkan'' ucap sang dokter.


''iya dok'' jawab Amar tersenyum dan terus menggenggam jemari Jane


''mari nyonya tarik nafas, buang..'' ucap dokter pada Jane dan jane mengikutinya.


''jane.. kamu pasti bisa sayang'' ucap Amar pelan di telinga Jane dan Jane hanya mengangguk, dan sedikit tersenyum melihat wajah tulus Amar yang selalu ada untuknya. Jane sangat bersyukur di saat saat ia membutuhkan dukungan berjuang melahirkan anaknya, dan Amar lah yang selalu ada di sampingnya.


Tak lama terdengar tangisan bayi, Jane menangis saat mendengar suara sang bayi begitu juga Amar, Amar melihat perjuangan Jane melahirkan pun terharu. sesekali ia mengecup punggung tangan dan kening Jane. dan sang bayi di tidurkan di dada Jane untuk minum asi pertama


''selamat tuan, nyonya bayi anda laki laki''ucap sang dokter melihat Jane


'' iya dok, terima kasih'' jawab Jane lalu tersenyum. tak lama bayi Jane selesai menyusu lalu sang perawat mengambilnya lalu membedongnya, setelahnya sang perawat memberikannya pada Amar lalu Amar mengadzaninya, setelah Amar selesai mengazdaninya perawat membawanya ke ruangan bayi, dan Amar keluar dari ruangan bersalin sedangkan Jane masih di tangani perawat.


Amar kini berada di depan ruangan bayi, yang hanya di sekat dengan kaca tembus pandang, Amar melihat bayi Jane dari balik kaca, tak terasa ia meneteskan air mata.


''aku tidak tau di masa depan nanti, jika suatu saat Ayah mu mengambil mu, pasti ibu mu akan sangat hancur, terlebih diri ku, aku yang menemani ibu mu selama mengandung dirimu, tidak, aku tidak akan membiarkan itu, tapi aku yakin ayah mu orang baik, aku akan memberikan nama ku pada mu walau nama depan mu adalah nama ayah kandung mu'' batin Amar yang memang ia sangat ingin mempunyai anak dan ia sudah menganggap anak Jane sebagai anaknya.


''Reymond Aryan khan'' gumamnya lalu tersenyum melihat baby Jane. Amar dan Jane memang sudah sepakat untuk memberikan nama tersebut. walau sebenarnya Jane keberatan jika Amar memberikan namannya di belakang nama anaknya namun Amar memaksa karena nanti Reymond kecil akan menjadi anaknya.


Tak lama Amar dan Rahel ke kamar perawatan untuk menemui Jane yang sudah dipindahkan dan sedang istirahat.


''hai..''sapa Rahel, berjalan menghampiri Jane bersama Amar


''hai.. Rahel ''jawabnya lalu tersenyum


''hai sayang'' sapa Amar lalu mencium kening Jane dan mereka berdua tersenyum.


''heum..kalian berdua selalu membuat ku iri''celetuk Rahel ,dan mereka tertawa kecil


''Rahel terima kasih, selama ini sudah menjadi temen yang baik dan selalu membantu ku''ucap Jane meraih tangan Rahel


''sama sama Jane, sudah jangan selalu berterima kasih, aku seperti orang lain jika kamu selalu mengucapkan terima kasih'' balas Rahel lalu keduanya tertawa kecil.


''selamat siang nyonya ini bayi anda'' ucap sang perawat saat masuk ke kamar Jane dan membawa sang baby, lalu menidurkannya di samping jane.dan setelah sang perawat keluar dari kamar.


''iya suster terima kasih'' jawab nya lalu melihat wajah sang anak, tak terasa air matanya mengalir, tidak menyangka ia bisa melewati semuanya.


''kak Rey.. anak mu sudah lahir'' batin Jane lalu tersenyum melihat sang anak.


''jane siapa namanya''


''Reymond, seperti ayah kandungnya'' jawab Jane lalu menyeka air matanya, lalu tersenyum kearah Rahel, Amar tersenyum lalu mengusap rambut Jane dan melihat Rahel


''Reymond Aryan Khan''


''what..''


''heum.. karena aku ayahnya '' jawab Amar lalu ketiga tertawa dan Rahel paham maksud Amar yang sebentar lagi akan menikahi Jane saat masa Iddah Jane selesai dan kelak secara hukum Reymond kecil adalah anak Amar.


''ok baiklah aku mengerti'' jawab Rahel.


''jane.. apa kamu tidak memberi tahu orang tua mu'' tanya Amar

__ADS_1


''eum..mungkin nanti di saat kita menikah'' jawab Jane tersenyum.


''jangan seperti itu, hargai orang tuanya mereka juga berhak tahu kabar mu yang sebenarnya''


''Amar benar jane'' saut Siena yang baru saja datang bersama Neha


''kakak'' jawab Jane melihat kearah Siena yang baru saja datang


''hai Tante.. ''sapa Neha menggoda


''hai jangan panggil Tante usia ku lebih muda dari mu'' balas Jane lalu kedua tertawa kecil


''maaf Jane sengaja'' jawab neha lalu tersenyum dan sekilas melihat Amar


''jadi bagaimana'' Tanya Siena


''baiklah jika itu yang terbaik, aku akan menghubungi mama'' jawab Jane melihat Amar .


''ok.. biar kakak yang menghubungi papa '' ucap Siena lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Bryan. Jane sebenarnya cemas memikirkan bagaimana reaksi sang papa mengetahui jika dirinya melahirkan seorang bayi dan mempunyai kekasih yang usianya jauh lebih tua darinya, dalam benaknya apakah nanti sang papa akan menentangnya seperti hubungan Siena dan Nathan?.


'' halo pa selamat malam '' sapa Siena mengarahkan kamera ponselnya di wajahnya dan tersenyum lebar


''hai sayang.. tidak biasanya kamu menghubungi papa malam malam'' jawab Bryan yang sudah duduk di tempat tidur dan bersandar di sandaran tempat tidur


''ada kabar untuk papa dan mama''


''apa itu?.''


''jane.. bicaralah'' ucap Siena mengarahkan kamera ponselnya ke arah Jane


''sayang..kamu kenapa, kamu di rumah sakit?'' tanya Bryan panik yang baru sadar jika Siena di rumah sakit dan sambil membangunkan syasa


''iya pa..tapi tidak apa apa, dan ada kabar baik untuk papa dan mama''


''kabar apa sayang'' saut syasa yang menyandarkan kepalanya di bahu Bryan


''cucu, papa dan mama mempunyai cucu lagi'' saut Siena mengarahkan kameranya kearah baby Reymond yang di gendong Neha, Bryan dan syasa saling melihat satu sama lain.


''halo Tante, om, apa kabar?.''


''tunggu, ini maksudnya apa siena, mama dan papa tidak paham'' jawab syasa yang kebingungan. lalu Siena menjelaskan semuanya, dari Jane yang menyembunyikan kehamilan nya dari keluarga terutama Rey, dan menceritakan hubungan Jane dan Amar dan status Amar kewarganegaraannya serta usianya. dan menjelaskan Amar akan menikahi Jane setelah masa Iddahnya selesai. dan menceritakan selama ini Amar yang membantu dan menemani Jane selama kehamilannya. Bryan dan syasa hanya bisa diam dan membayangkan Jane hamil tanpa suami.


''tunggu papa'' ucap Bryan yang langsung mematikan ponselnya dan masih mencerna semua penjelasan Siena. tak lama ia menghubungi asisten pribadinya untuk menyiapkan pesawat pribadinya untuk terbang ke New York saat itu juga.



''sayang..''


''papa'' balas Jane melihat Bryan datang bersama sang mama. dan mereka saling berpelukan.


''papa, maafkan Jane pa''


''iya tidak apa apa'' jawab Bryan yang masih memeluk Jane yang duduk di brankar ,


''mama'' sapa Jane lalu melepaskan pelukannya dari Bryan dan memeluk syasa


''maafkan Jane ma..''ucap Jane dalam Isak tangisnya


''iya sayang tidak apa apa''jawab syasa memeluk sang anak sedangkan Bryan sudah menggendong sang cucu.


''hai..siapa nama mu, mata mu seperti mama dan hidung mu seperti ayah mu Rey'' ucap Bryan lalu tersenyum begitu juga syasa dan Jane.


''namanya Reymond pa''


''apa?''


''mas..'' bakas syasa yang memang paham sang anak , syasa paham jika Jane pasti tidak mungkin melupakan Rey begitu saja


''ok baiklah ,papa mengerti, tapi papa harap kamu tidak pernah lagi mengharapkan orang yang tidak mengharapkan mu''

__ADS_1


''tidak pa.. ada Amar yang mencintai ku'' jawab Jane lalu tersenyum.


''sayang aku datang...'' ucap Amar tiba tiba saat membuka pintu dan langkah nya terhenti saat melihat Bryan dan syasa


''om..tante..'' sapa nya lalu berjalan menghampiri Bryan dengan rasa canggung namun ia terus tersenyum


''perkenalkan saya Amar Aryan Khan'' ucap Amar sopan sambil mengulurkan tangannya,dan disambut hangat Bryan


''saya Bryan''


''tante'' sapa Amar saat selesai bersalaman dengan Bryan


''iya, bagaimana kabar mu'' jawab syasa lalu tersenyum


''baik tante'' jawab Amar


''Oh ya , Jane ini persenan kamu'' ucap Amar membawakan makanan kesukaan Jane yaitu sop iga


''terima kasih Amar''


''mau di makan sekarang''


''boleh, aku juga sudah lapar lagi'' jawabnya sambil membenarkan posisi duduknya sedangkan Bryan dan syasa hanya melihat dari sofa sambil duduk dan memangku cucunya . Bryan tersenyum melihat Amar begitu tulus dan telaten mengurus jane. menyuapi dan cara dan nada bicara Amar sangatlah lembut, Bryan melihat Amar seperti melihat sosok Reza yang memperlakukan bianca begitu manis.


''Aku tidak menyangka ada laki laki setulus Amar di belahan dunia ini sayang'' ucap Bryan lalu melihat syasa yang memangku Reymond kecil


''semua sudah garis takdir mas, jika Amar memang yang terbaik untu jane, aku tidak mempermasalahkan status dan usianya, yang terpenting satu keyakinan dengan kita'' jawab syasa lalu tersenyum melihat Amar dan Jane . ya, tak banyak laki laki seperti Amar yang mau menerima status wanita seperti jane, yang terkadang di pandang sebelah mata, dan syasa pun mengalaminya bahkan kedua anaknya pun mempunyai status yang sama yaitu janda dengan membawa anak.


''Amar sudah, aku sudah kenyang'' ucap Jane saat merasa sudah kenyang


''satu suap lagi''


''kenyang''


''ok baiklah'' jawab Amar lalu memakan suapan terakhir yang seharusnya untuk Jane, Jane melihat tingkah Amar pun hanya tersenyum


''Amar.. ''


''ya om..''


''boleh bicara sebentar''


''tentu'' jawab Amar lalu meletakkan piringnya di meja dekat brankar Jane kemudian menghampiri Bryan dan duduk di sofa di dekat Bryan sedangkan syasa memberikan baby Rey pada jane


''Amar apa kamu benar benar serius ingin menikahi anak ku Jane seperti apa yang dikatakan Siena pada ku''


''serius om, jika tidak, mana mungkin saya bertahan sampai sekarang, dan saya memang sangat mencintai jane''jawab Amar pasti


''baiklah, tapi jaminan apa yang akan kamu berikan pada anak ku, mengingat tradisi di negara mu rata rata kalian menikah dengan sepupu sendiri walau sudah mempunyai istri dari negara lain,dan aku sangat menentang itu''


''cinta tidak membutuhkan jaminan apa pun om, tapi saya pastikan hanya Jane satu satunya istri saya kelak dan keluarga saya sudah mengetahui status jane''


''baiklah, aku percaya pada mu, tapi ingat pegang janji mu karena laki laki sejati itu yang bisa memegang janjinya''


'' pasti om, dan untuk itu saya ingin melamar Jane untuk menjadi istri saya setelah masa Iddahnya selesai ,saya mohon izin pada om ingin menikahinya' jawab Amar penuh ketegasan dan meyakinkan Bryan


''aku terima lamaran mu dan sampaikan sendiri pada Jane'' balas Bryan menepuk pundak Amar dan keduanya tersenyum lalu melihat sekilas Jane yang sedang menyusui. lalu Amar membuang pandangannya, tidak enak hati melihat Jane yang sedang menyusui didepan orang tuanya .


Sementara itu Luna yang di tinggal syasa dan Bryan ke new York pun memilih untuk tinggal bersama Julio dan Yuna, ia sengaja tinggal bersama Yuna dan Julio karena ingin membantu usaha milik Yuna. ya Yuna kini tengah berjualan atau berbisnis makanan berupa batagor, dan segala jenis minuman. teras rumahnya di sulap menjadi seperti kafe kecil seperti tempat tongkrongan anak muda. walau dengan perutnya yang sudah terlihat membuncit namun ia tetap lincah dalam melayani pelanggan, dan rata rata pelanggannya adalah anak anak muda seumuran Luna. bahkan tak jarang Luna membawa semua teman teman sekolahnya datang di kafe kecil milik Yuna untuk sekedar melariskan batagor milik Yuna


Yuna terpaksa berjualan karena ingin membantu sang suami agar lebih cepat melunasi hutang ganti rugi toko meli.


''Alhamdulillah, penjualan hari ini meningkat Luna , terima kasih bantuannya.'' ucap Yuna pada Luna yang duduk di depannya sambil melihat Yuna menghitung uang hasil penjualannya.


''iya kak sama sama, semoga kafe kecil kakak nanti bisa bersaing dengan kafe kafe kak Laras''


''Aamiin , semoga di semogakan '' jawab Yuna lalu tersenyum. dan mengingat Julio . Julio benar benar memulai hidupnya dari nol, yuna hanya tidak menyangka menjadi anak orang terkaya di negri ini tidak menjadi jaminan hidup bergelimang harta. dan memang ini semua pelajaran untuk Julio yang memang dahulu kurang bersyukur. dan ia juga benar benar memulai lagi dari nol dan hanya kesabaran yang bisa membuat ia bertahan sampai saat ini .


* * * * * *

__ADS_1


terima kasih


__ADS_2