
Rey mengetahui rencana pengalihan hak asuh anaknya dari Siena, ia begitu senang, Namun juga sedih mengetahui perihal rumah tangga Jane sang mantan istri, Rey tidak tahu pasti apa permasalahnya. Akan tetapi ia juga tidak bisa berbuat banyak dan tidak bisa ikut campur apa yang sedang terjadi dengan Jane.
Pagi ini Rey mencoba berbicara pada Meli prihal hak Asuh Aryan yang akan di berikan padanya. apakah Meli mau mengurusnya? perlahan ia mendekati Meli yang sedang membaca buku di ruang keluarga. buku yang beberapa hari ini ia baca ketika luang saat si kecil tidur. buku yang mengajarkan bagaimana menjadi ibu yang baik dan cara polah asuh untuk anak laki laki dan perempuan dan masih banyak lagi buku buku yang ia baca tentang pengetahuan lainnya dan hanya itu yang ia bisa.
Meli sadar pendidikan tidak begitu tinggi, ia hanya tamatan SMA. Namun ia selalu belajar agar menjadi manusia yang lebih baik, sabar dan ikhlas terlebih menjadi seorang ibu. iya tidak mau saat anaknya bertanya sesuatu dia tidak bisa menjawabnya. ia harus bisa menjawab dengan bijak dan di terima pikiran anaknya kelak.
''Meli.. '' Panggil Rey duduk di sampingnya.
''Ya..'' jawabnya lembut lalu tersenyum melihat Rey.
''Aku ingin membicarakan sesuatu pada mu'' kata Rey meraih jemari Meli, Meli membiarkan jemarinya di genggaman Rey dan terus melihat sang suami begitu intens.
''Apa? katakan'' Jawabnya
''Apa kamu tidak keberatan jika mempunyai anak laki laki di rumah ini'' tanya Rey yang tidak memberitahu langsung. Meli tertawa kecil dan mengusap pipi sang suami.
''Rey.. berapa pun kamu menginginkan anak aku akan memberikannya jika aku masih sanggup dan sehat, tapi tidak untuk dalam waktu dekat ini, Maudy kita masih kecil sayang'' Jawab Meli lalu tersenyum
''Bukan itu maksud ku, Apa kamu mau merawat Aryan?'' jawabnya sedikit ragu, seketika Meli mengerut dahinya.
''Maksud mu?'' Tanya Meli lalu menyimpan bukunya di meja dan fokus dengan Rey yang duduk di sampingnya.
''Jane Akan mengantarkan Aryan,dan hak Asuhnya di berikan pada kita''
''Kenapa seperti itu?'' Tanya Meli penasaran.
''Kak Siena mengatakan jika Jane dan suaminya sedang bermasalah, jadi Jane takut dengan perkembangan Aryan, jadi Jane terpaksa memberikannya pada kita''
''Bermasalah, Maksudmu?''
''Meli aku tidak tahu permasalahan apa yang Jane hadapi dengan suaminya''
''Tapi sepertinya sangat serius Rey, Aku yakin Jane pasti berat melakukan ini, Aryan Masih membutuhkan ibunya, dan Jane mana mungkin seorang ibu bisa berpisah dengan anaknya begitu saja, jika tidak ada hal atau masalah serius Rey, Cobalah kamu bicarakan baik baik dengan Jane dan suaminya'' terang Meli melihat wajah Rey dan memikirkan keadaan Jane.
''Pasti Meli, aku akan menanyakan itu, tapi Apa kamu bersedia jika Aryan jadi tinggal dan besar bersama kita?'' tanya Rey melihat manik mata Meli mencari jawaban dan kepastian di sana. Meli tersenyum dan mengangguk.
''Aryan juga Anak ku, adik dari Maudy, Aku pasti akan merawat dan membesarkan seperti putra ku sendiri'' jawab Meli tanpa ragu.
''Meli terima kasih, kamu memang istri terbaik'' balas Rey lalu memeluknya.
''Aku akan melakukan apa pun yang berhubungan dengan mu Rey, Karena aku mencintaimu'' batin Meli memeluk erat Rey. ya begitulah Meli, rela melakukan apa pun dengan tulus untuk orang yang ia cintai.
''Jadi kapan putra ku datang'' Tanya Meli melepaskan pelukannya. Rey tersenyum dan melihat kearah pintu masuk ruang keluarga. Meli melihat Siena yang menggendong seorang bayi, Nathan dan Jane sedang menggendong Aryan serta di belakangnya seseorang yang tidak Meli ketahui.sesorang tersebut adalah pengacara keluarga Bryan. sedangkan Amar tidak ikut serta karena maslahah pekerjaan.
__ADS_1
''Jane'' panggil Meli yang langsung menghampirinya.
''Kak Meli..''jawab Jane lalu tersenyum. kemudian mereka duduk di sofa setelah Rey mempersilahkan duduk.
Sejenak suasana menjadi hening, Namun Siena memberi isyarat Kepada Jane untuk memulai pembicaraan.
''Kak Rey. kak Meli aku datang kemari tentunya kalian berdua sudah tahu maksud dan tujuan ku, sebenarnya aku berat melakukan ini tapi aku harus melakukannya'' ucap Jane sedikit menahan tangisnya.
''Jane apa tidak sebaiknya kamu pikirkan lebih dulu, kakak tidak tahu pasti permasalahan mu yang sebenarnya dengan suami mu, tolong pikir ulang Jane, Aryan masih membutuhkan mu'' jawab Meli berusaha meyakinkan Jane agar Jane memikirkan ulang tindakannya.
''Aku melakukan ini demi masa depan Aryan, untuk masalah mu bersama suami ku, ini urusan kami dan aku tidak mau melibatkan siapapun termasuk Aryan.'' jawab Jane yang sudah meleleh air matanya. melihat Aryan yang kini berada di pangkuan Reymond.
''Jane'' jawab Meli menghampiri Jane, Meli tahu apa yang di rasakan Jane. berpisah dengan anak tidaklah mudah.
''kakak Meli, maafkan aku, sudah merepotkan kakak, Jane titip Aryan, Jane percaya dengan kakak, kakak ibu yang baik''
''Jane.. pikirkan ulang Jane'' balas Meli mengusap rambut Jane.
''Maaf kak, tidak bisa ini semua demi Aryan'' jawab Jane yang langsung memeluk Meli dan menangis di pelukan Meli.
''Tolong kak'' ucap Jane yang membuat meli semakin tanda tanya. Meli hanya mengangguk lalu tersenyum.
'' kakak pasti akan merawat Aryan dengan baik, Aryan juga putra ku''
''Sudah, Kakak akan berusaha menjadi ibu yang baik dan akan selalu menceritakan tentang mu dengannya bahwa dia mempunyai mama yang luar biasa'' jawab Meli. Rey yang tanda tanya melihat Nathan seolah meminta jawaban. lalu keduanya beranjak meninggalkan ruang keluarga dan menuju ruang tamu
''Kak Nathan, sebenarnya apa yang terjadi pada Jane dan suaminya''
''Aku juga tidak tahu pasti yang jelas Amar berubah setelah mempunyai anak sendiri'' balas Nathan Lalu menceritakan kronologi yang sebenarnya dan membuat Rey tercengang dan menahan emosi.
''Brengsek'' umpatnya lalu melihat Jane dari kejauhan. tidak menyangka orang seperti Amar, terlihat wibawa dan penyayang mempunyai sisi yang tidak bisa di maafkan.
''Kenapa Jane masih bertahan kak?'' tanya Rey
''Adnan'' jawab singkat Nathan lalu menepuk pundak Rey berharap Rey memahami Jane yang bertahan demi Anak.
Setelah percakapan dan penjelasan dari pengacara mengenai hak Asuh Aryan, kini Jane menyerahkan Aryan pada Meli dan Rey. dengan Isak tangis Jane menyerahkan. Aryan sempat menangis Namun Meli yang lembut bisa meluluhkan Aryan dan mau bersama Meli di gendongannya.
''Kakak.. Maafkan Jane tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk anak kita. tolong maafkan jane'' ucap Jane di depan Rey sebelum pamit untuk pulang.sedangkan Meli mengendong Aryan di dalam rumah dan tidak ikut mengantar Jane ke depan rumah.
''Kamu ibu yang baik, semoga kamu selalu bahagia, kakak akan menjaga Aryan dengan baik'' balas Rey lalu tersenyum menguap pundak Jane. Jane hanya mengangguk lalu bersalaman kemudian masuk kedalam mobil.
Setelah pergi dari rumah Rey, Jane memutuskan untuk langsung ke New York karena ia sudah berada satu Minggu di Indonesia untuk mengurus dokumen Aryan dan hak Asuhnya. dan keputusannya itu tidak di ketahui Bryan dan syasa serta keluarga yang lainnya dan hanya Sien dan Nathan yang mengetahuinya. dan Siena serta Nathan menghormati keputusan sang adik.
__ADS_1
* * * *
NEW YORK
Satu Minggu sudah, Jane tanpa Aryan, Aryan pun sepertinya sudah terbiasa dengan Meli dan Rey. Meli memang sangat pandai membuat anak anak nyaman dengan kelembutan dan kasih sayangnya. maka dari itu Jane sangat percaya kelak anaknya tumbuh menjadi laki laki yang baik dan lembut serta bijaksana di bawah pengasuhan Meli.
Masih seperti biasanya Jane berkutat dengan bayinya. dan semua pekerjaan rumahnya. ia juga sudah tidak bekerja lagi membantu sang kakak di perusahaanya di New York. Jane benar benar menjelma menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. terkadang ia juga masih menangis saat mengingat Aryan, namun cepat cepat ia hapus air matanya, ia tidak mau sang anak kontak batin dan ikut bersedih lebih tepatnya menjaga rewel dan itu pasti membuat Meli dan Rey kerepotan.
Pekerjaan rumahnya kali ini sudah selesai lu ia melihat Adnan di dalam boksnya, lalu ia tersenyum dan menggendongnya. kini hanya Adnan yang menjadi pelipur lara nya mengobati rasa rindunya pada putra pertamanya.
''Hai.. Terima kasih sayang, sudah menguatkan mama. suatu hari nanti kita pasti bertemu dengan kakak mu'' ucap Jane sambil menyusui Adnan. tak lama suara pintu terbuka dan ternyata Amar yang sudah pulang.
''Sayang.. Aku pulang'' panggil Amar menghampiri Jane yang duduk di sofa. Jane tersenyum menyambut Amar walau senyum itu tak selebar dulu namun ia harus menyambut sang suami.
''Amar aku sudah memasak paratha dan kari untuk mu, aku juga membuat samosa permintaan mu'' ucap Jane melihat Amar yang duduk di sampingnya.
''Iya, terima kasih, kamu sudah makan'' tanya Amar melihat Jane.
''Sudah, tadi aku makan sop dan sudah minum susu'' jawabnya lalu tersenyum.
''Bagus, kamu harus banyak makan biar biar Asi untuk Adnan cukup'' jawab Amar, jawaban Amar sebenarnya membuat Jane kesal. pasalnya Amat selalu mengatakan itu seolah Jane tidak tahu apa pun tentang makanan yang harus ia konsumsi sebagai ibu menyusui. dan ia hanya mengiyakan semua ucapan Amar karena ia tidak mau berdebat dengannya.
''Oh ya Amar ada kiriman dari Pakistan, tapi aku belum sempat membukanya''
''Mana''
''Itu '' jawab Jane menunjuk boks di dekat televisi, lalu Amar mengambilnya dan membukanya di dekat Jane
''Shalwar kameez'' ucap Amar membuka kotaknya dan ternyata baju khas dari negara.
''Untuk mu'' ucap Amar lalu tersenyum. Amar sangat menyukai saat Jane mengenakan baju tersebut. dan sang mertua sangat menyayangi Jane, dan sebulan sekali pasti Jane mendapatkan kiriman baju atau makanan dan lain lain dari sang mertua.
''Dari ibu?''
''Iya'' jawab Amar lalu mengambil Adnan dari pangkuannya.
''Cobalah, dan nanti aku ingin kamu memakai ini'' balas Amar yang tanpa sadar seolah merubah identitas diri Jane yang ingin melihat Jane seperti wanita di negaranya. Jane hanya menurut saja.
''Baiklah, tapi nanti setelah mandi'' jawab Jane lalu hanya mencoba selendangnya yang ia letakkan di kepalanya.
''Kamu cantik jika menggunakan kerudung'' puji Amar, dan Jane hanya tertawa kecil menepuk lengan Amar
''Tapi aku tidak percaya diri jika harus menggunakan ini di sini'' jawab Jane lalu tersenyum simpul.
__ADS_1
* * * * * * *