TAKDIR 2

TAKDIR 2
38.Lamaran Luna.


__ADS_3

Waktu yang di tunggu Luna tiba, akhirnya Attar datang melamarnya. memberi kepastian sesuai janjinya. Attar datang dengan pak RT dan istrinya .Awalnya sebelum berangkat, Attar sempat ragu karena ia benar benar bingung ingin melamar Luna dengan apa. memang benar Attar sudah melamar Luna saat ia masih di rumah sakit, namun itu hanyalah lamaran untuk menunjukan jika ia benar benar serius dan belum resmi menghadap orang tua Luna terlebih Bryan sang papa. saat itu ia hanya Membelikan Luna cincin 3 gram emas, ia membelinya hasil jerih payahnya di sela ia membangun rumah .Dan pada saat ia pulang, ia mendapati beberapa barang hantaran yang sudah di bungkus sedemikian rupa.dan ia juga mendapati surat dari krisna bawasan nya hanya itu yang bisa ia bantu yang terpenting adiknya bahagia.


Luna nampak bahagia, terlihat dari raut wajahnya. ia terus melihat laki laki yang ada di depannya, yang hendak melamarnya, sejenak Attar mengumpulkan keberanian untuk memulai bicara pada Bryan.Ia juga melihat Luna sejenak meminta dukungan agar tidak gugup. Luna tersenyum dan mengedipkan ke dua matanya, barulah Attar percaya diri.


''Selamat malam om dan tante dan kakak semua, maaf jika kedatangan kami mengganggu'' ucap Attar yang masih sedikit gugup, Bryan dan semuanya hanya tersenyum melihat Attar.


''Maksud kedatangan saya dan pak RT dan istri beliau adalah ingin melamar putri om dan tante yang bernama Luna putri akbar,untuk menjadi istri saya satu satunya dan tidak ada duanya'' ucap Attar di selingi canda di akhir kalimatnya, dan itu membuat tawa semuanya.


''Attar om dan tante hargai keberanian mu dan maksud baik mu, selama ini om dan tante melihat mu pemuda yang baik, pekerja keras, dan selalu membuat Luna tersenyum, untuk lamaran mu aku menerimanya dan selanjutnya om serahkan pada Luna karena ia nanti yang akan menjalani rumah tangga dengan mu'' jelas Bryan melihat Luna yang tersenyum.


''Luna bagaimana?,apa kamu menerima lamaran Attar?'' Tanya Bryan pada Luna, luna tersenyum dan mengangguk. dan semua pun mengucap syukur.


''Sebagai tanda saya melamar Luna, saya hanya membawa ini dan cincin ini om sebagi tanda pengikat'' ucap Attar, menyerahkan, barang barang bawaannya dan mengeluarkan kotak cincin  di sakunya, dan sekilas melihat krisna, krisna paham dengan tatapan Attar tanda mengucapkan terima kasih dan krisna hanya mengedipkan matanya dan mengangguk.


''Saya terima barang pemberianmu untuk Luna''ucap Bryan lalu tersenyum


''Untuk cincinnya kamu bisa berikan kepada Luna'' ucap Bryan lagi, lalu Attar menyematkan cincinnya kejari manis Luna setelahnya terdengar suara tepuk tangan semuanya.satu persatu kakak kakak Luna memberi selamat, dan terakhir adalah Laras. Laras tersenyum saat melihat Attar dan menepuk bahunya.


'Jaga adikku, dia masih sangat muda untuk berumah tangga, ajari berumah tangga yang baik karena rumah tangga bukan permainan ular tangga.'' jelas Laras lalu melihat Luna.


''iya kak, pasti'' jawab Attar singkat dan sedikit takut melihat Laras.


''Maaf sebelumnya untuk hari pernikahannya sendiri tanggal berapa tuan'' ucap pak RT tiba tiba.


''Bulan depan saat ulang tahun Luna''  saut krisna melihat semuanya


''Bagus, tepat sekali'' jawab krisna.


''Bagaimana Luna Attar, apa kalian setuju?'' Tanya Bryan pada Luna dan Attar.


''Luna setuju, kakak bagaimana?''


''Baiklah saya menurut saja, dan nanti saya akan menghubungi paman dan bibi saya'' Jelas Attar lalu tersenyum simpul.


Sebenarnya masih ada yang mengganjal di hati Attar, bagaimana tidak ia hanya mempunyai waktu satu bulan untuk mengumpulkan uang. ia bingung bagaimana biaya pernikahannya, tidak mungkin ia menjual kebon sawit milik almarhum ayahnya yang sekarang di kelola sang paman, jika di jual, bagaimana nanti sang paman mempunyai penghasilan. mungkin nanti ia akan bicarakan lagi dengan Luna.


Attar sangat pandai mengelola emosinya, ia sangat tenang dalam menghadapi masalah apa pun dan hebatnya ia masih bisa tersenyum walau banyak kesulitan selalu di hadapannya, dan itulah kelebihan Attar yang di sukai banyak orang, terlebih  di lingkungan pekerjaan.Acara berjalan lancar, acara terakhir adalah foto bersama dan makan bersama.


Laras sang kakak kini terdiam, di sudut ruangan dan hanya memperhatikan orang tua dan adik adiknya yang sedang bersenda gurau. pikirannya kembali ke masa lalu entah apa ia pikirkan, seharusnya ia tidak boleh melakukan itu.


Beberapa hari ini ia selalu teringat Ardan dan kenangannya. Tak ayal kadang ia  diam diam menangis mengingat masa masa sekolah, masa masa pacaran, dan awal awal menikah bersama Ardan, kenangan itu ia pendam sendiri dan hanya ia yang merasakannya,


Laras beberapa hari ini selalu mengandai andai, andai dirinya egois saat itu, andai ia tidak memikirkan perasaan orang banyak, andai ia masih mempertahankan Ardan tetep bersamanya, andai dan andai terus berputar di kepalanya.Namun ia hanya bisa menahannya sendiri. Apa ia tidak bahagia dengan Martin?, tidak!. ia sangat bahagia dengan Martin.hanya saja laras merindukan hal manis  saat dengan Ardan.Bagaimanapun Ardan  adalah cinta pertamanya dan itu akan terus di kenang.


''ARDAN MAHENDRA, batinya


''Aku pernah menyandang nyonya MAHENDRA, Ardan'' batin nya lagi seraya meneteskan air mata, namun cepat cepat ia hapus karena ia tidak ingin di lihat banyak orang, terlebih Martin.

__ADS_1


Disisi lain Meli dan Rey sedang berbahagia, karena memiliki mobil baru untuk pertama kalinya, mobil yang mereka beli dari hasil jerih payah mereka selama berjuang membuka toko kue tradisional. Walau mobilnya bukan mobil baru yang terpenting mereka semua tidak kepanasan dan kehujanan saat berpergian.


''Alhamdulillah Rey semua impian kita tercapai satu persatu'' ucap Meli pada Rey yang sedang duduk di teras melihat kedua adik iparnya mencuci mobilnya sambil bersenda gurau.


''Iya mel, kita harus bersyukur dengan apa yang sudah kita capai, dan terima kasih kamu sudah mau berjuang bersama ku, aku tidak akan pernah lupa bahwa dirimu sangat berarti dalam perjalanan hidup ku,dan selamanya kamu adalah proiritas ku'' jawab Rey seraya memeluk Meli.


Sama halnya seperti Laras, Rey teringat Jane lebih tepatnya ingat sang putra Aryan, tidak di pungkiri ia sangat merindukan putranya, ingin sekali memeluknya. Terkadang ia diam diam melihat media sosial milik jane.Namun sepertinya tidak pernah mengunggah foto sang anak ke media sosial. yang ada justru foto dirinya saat mereka menikah dan itu juga lama Jane tidak melihat media sosialnya lagi.


Semua keluarga Syasa dan semua anak anaknya jarang mempunyai media sosial. jika ada itu pun hanya Jane dan Julio namun itu pun tidak pernah aktif lagi semenjak menikah dan semua menantunya pun tidak ada yang menggunakan media sosial karena mereka tau itu semua menyangkut privasi keluarga.Rey bertanya dalam hati kenapa Jane tidak menghapus foto dirinya padahal mereka sudah bercerai


* * * * * *


Amar melamun di balkon  Apartemennya, ia berfikir kenapa Jane tidak pernah menunjukan rasa cemburu di depan nya, Jane selalu bersikap acuh saat Amar sengaja  dekat dengan wanita lain hanya ingin melihat Jane cemburu. Ia berfikir apakah Jane benar mencintainya atau tidak.


"Amar ini kopi mu'' ucap Jane meletakkan kopinya di meja di dekat Amar.


''Terima kasih sayang'' jawab Amar lalu tersenyum


''Ya sudah aku tinggal, aku mau menyelesaikan tugas kuliah ku dulu'' jawabnya lalu hendak melangkah meninggalkan Amar namun pergelangan tangannya di cekal oleh Amar


''Duduk sebentar, aku ingin menanyakan sesuatu padamu'' ucap Amar sedikit menarik Jane agar duduk di sampingnya.


''Kamu ingin menanyakan apa?'' tanya Jane melihat Amar, Amar sejenak meminum kopinya. Setelahnya ia meletakan  cangkir kopinya di meja, lalu tersenyum.


''Apa kamu mencintai?'' Tanya Amar melihat jane, Jane yang mendengar Amar menanyakan hal yamg sering ia tanyakan pun tertawa kecil.


''Aku bosan menjawab pertanyaan itu Amar, kamu sudah sering menanyakan hal itu berpuluh puluh kali, pasti aku mencintai mu mana mungkin tidak''


''menunjukan seperti apa?, marah marah tidak jelas atau aku harus melabrak dan menjambak teman wanita mu itu!, mereka bukan kelas ku '' jelas Jane tersenyum simpul.


''Bukan kelas mu atau kamu memang tidak pernah mencintai ku'' jawab Amar lebih serius,


''Amar apa yang kamu katakan, aku mencintai mu, aku harus bagaimana menunjukan rasa cemburu ku?, asal kamu tahu, aku tidak pernah menunjukan rasa cemburu ku pada siapa pun termasuk  kamu, bahkan  saat aku masih menjadi istri kedua dari kak Rey aku hanya bisa menangis , aku tidak pernah menunjukan hal itu,tapi bukan berarti aku tidak mempunyai rasa cemburu Amar.'' jelas Jane yang kesal lalu meninggalkan Amar begitu saja dan masuk kedalam karena mendengar tangisan sang anak.


Amar terdiam memang selama ini Jane tidak pernah bercerita banyak tentang dirinya, bagaimana dirinya saat emosi, menginginkan sesuatu dan tidak menyukai sesuatu. Amar menyusul Jane ke kamar sang anak dan mendapati Jane sedang mencoba menidurkan Aryan. setelah Aryan tidur Jane keluar dan tidak menghiraukan Amar  yang menunggunya di ambang pintu.


''Jane'' panggilnya, mengikuti langkah Jane menuju kamar. '' jane'' panggilnya lagi


''Sudah Amar aku tidak mau membicarakan dan berdebat hal yang tidak penting'' ucap datar Jane yang berdiri di meja belajarnya.


''Oh.. jadi aku tidak penting bagi mu'' nada Amar mulai meninggi dan itu membuat jane emosi dan membanting bukunya ke lantai.


''BRRAAK'' lalu Jane berjalan ke arah Amar lalu menariknya dan menghempaskan ke tempat tidur.


''Apa maksud mu membentak ku hah!, kenapa kamu mencari masalah Amar, Apa kamu ingin bertengkar dengan ku hah, aku mencoba sabar dan tidak ingin mencari masalah di rumah tangga kita, Tapi kenapa justru kamu yang memulai keributan'' ucap jane yang juga emosi, Amar terlihat syok saat Jane menyeretnya dan menghempaskan nya ke tempat tidur, Amar belum mengetahui jika jane pandai bela diri, dan ia juga pertama kali melihat Jane semarah ini.


''Kenapa kamu diam Amar, jawab!?'' karena tidak ada jawaban Jane menarik kerah baju Amar dengan sorot mata yamg penuh amarah,Jane sebenarnya tidak menyukai dirinya jika sedang marah , karena ia tidkj bisa mengontrol emosinya dan ia sangat membenci dirinya sendiri.

__ADS_1


Amar menyadari kesalahannya, ia pun meraih tengkuk Jane dan mencium bibirnya, Awalnya Jane memberontak namun tenaga Amar adalah tenaga laki laki sekuat apa pun Jane memberontak tetep Amar bisa menguasainya. perlahan Jane membalas ciuman Amar, dan akhirnya berakhir di tempt tidur. setelah selesai Jane membelakangi Amar dan tersenyum sendiri.


''memang benar kata kak Laras jika selesai bertengkar, suami makin ganas.'' batin Jane lalu tersenyum sedangkan amar pun melakukan hal yang sama ia juga tersenyum membayangkan permainan panas sang istri bahkan lebih panas dari biasanya.Perlahan Amar memeluknya dari belakang dan menciumi tengkuknya, dan berbisik


''Maafkan aku'' dan di angguki jane.


''Jangan menanyakan hal yang membuat ku marah lagi Amar, aku tidak menyukai diri ku yang sedang marah'' balas Jane lalu membalikkan tubuhnya menghadap Amar lalu mereka berciuman kembali.


''Iya maafkan aku''


''bantu aku menyelesaikan tugas kuliah ku, karena kamu sudah mengambil waktu ku satu jam''


''Apa aku harus membayar waktumu''


''Ya.. tentu tidak ada yang gratis seorang dosen meniduri mahasiswanya'' kelakar Jane dan keduanya tertawa.


''baiklah, tapi kita mandi lebih dulu'' jawab Amar di angguki Jane lalu mereka mandi bersama sebelum.


* * * * *


Pagi pun tiba semua anak dan cucu Syasa kecuali jane dan Amar serta Aryan yang tidak ada. Siena dan Nathan serta anak anak mereka sedang berada di Indonesia seminggu lalu karena ia jug mengurusi Neha yang juga akan menikah dalam waktu dekat.dan Laras dan martin , dua manusia itu pun sibuk dengan ponselnya yang terus berbunyi . mereka berdua memang sangat super sibuk hingga akhirnya perut keduanya sudah terasa lapar dan mereka pun menuju ruang makan secara bersamaan.


Laras tersenyum melihat Martin yang sedang melihatnya, mereka sama sama duduk di meja makan dan bersebelahan, Martin mengetahui arti senyum dan tatapannya , seketika Martin pun menyuapi Laras dan itu sudah menjadi kebiasaan mereka dari awal pacaran menikah sampai saat ini.


''Terima kasih sayang'' ucap laras di sela sarapannya


''Heum, oh ya mana Daren'' tanya Martin


''Sepertinya sedang bermain dengan sepupunya wisnu dan Emir , sedang berjemur di taman belakang'' jawab  Laras lalu meminum jusnya.


''Sepertinya aku ingin menambah anak laki laki satu lagi'' ucap Martin santai, seketika Laras melebarkan matanya.


'' aku tidak mau, usiaku sudah 38 Martin, yang benar saja, tidak,! dua anak cukup'' tegas laras yang sudah tidak mau mempunyai anak,


''Ya sudah aku cari istri baru lagi'


''Buukk'' laras meninju dada Martin, dan Martin pun kesakitan


''auh.... sakit sayang'' pekiknya


''jangan macam macam dengan ku'' jawab Laras lalu meninggalkan Martin sendiri di ruang makan


''Dasar wanita, apa semua wanita sepeti itu , suaminya minta anak lagi, dia tidak mau memberinya , nanti suaminya mencari ibu baru marah, wanita sulit di mengerti'' grutu Martin lalu melanjutkan makan nya.


Grutuan martin hanyalah di bibir saja, ia tidak begitu serius dengan ucapannya Yang ingin memiliki anak lagi , ia juga sadar laras sudah tidak muda lagi terlebih dirinya yang sudah 48 tahun.


* * * * * *

__ADS_1


komen like vote rate ya


terima kasih


__ADS_2