TAKDIR 2

TAKDIR 2
63.Bayangan Neha


__ADS_3

Ardan bangun lebih dulu dan melihat Neha yang masih tidur memeluk dirinya. mereka berdua tidur di sofa semalaman. Jam menunjukkan jam 5 pagi, perlahan Ardan menepuk lengan Neha.


"Neha.. Neha bangun''


''Eum..jam berapa, aku masih ngantuk'' jawabnya yang justru masih mengeratkan pelukannya.


''Bangun sudah jam 5'' jawab Ardan, Neha yang mendengar suara asing pun membulatkan matanya lalu melihat dada Ardan yang ia jadikan sandaran.


''hah..''ucap Neha terkejut dan mendorong Ardan sampai terjatuh dari sofa


''Brukk''


''Aduh..!, Neha, ini om Ardan'' pekik Ardan mengusap sikunya yang sakit karena untuk tumpuan


''Om Ardan, Maaf om, Neha tidak sengaja, Neha reflek'' jawab Neha seraya menghampiri Ardan dan membantu Ardan bangun dan mereka duduk di lantai


''Mana yang sakit'' jawab Neha memegang lengan Ardan.


''Tidak ada yang sakit''


''Maaf om, ayo Neha bantu berdiri'' lalu neha membantu Ardan berdiri, Saat sudah berdiri justru Neha kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke depan membuat Ardan terjatuh dengan posisi telentang dengan Neha di atasnya


''Huah...''teriak Neha


''Aduh pinggang ku'' pekik Ardan memejamkan matanya, begitu juga Neha. tak lama mereka sama sama membuka mata dan tatapan mereka saling bertemu, seketika Neha bangkit dan sedikit salah tingkah.


''Eum.. maaf om''


''Ya tidak apa apa'' jawab Ardan menahan sakit pinggangnya. lalu keduanya berdiri dan menjadi salah tingkah.


''eum... Neha mau ke kamar'' ucapnya , saat hendak melangkahkan kakinya, Neha tidak sengaja tersandung dan membuatnya hampir terjatuh beruntung Ardan sigap memegang pundaknya.


''Hati hati Neha'' dan sekali lagi tatapan mereka saling bertemu, Lalu neha sekilas tersenyum.


''Terima kasih om'' jawabnya gugup.


''Ya Sudah om pulang saja, takut Arsy mencari Om'' pamit Ardan yang juga sedikit gugup, Neha hanya mengangguk.


''Sampai ketemu nanti di sekolah''


''Iya om" jawab Neha lalu Ardan melangkah keluar di ikuti Neha di belakangnya.


''Hati hati om'' ucap Neha saat Ardan keluar, Ardan tersenyum lalu mengusap kepala Neha, kemudian melangkah menuju lift. setelah Ardan menghilang di balik lift, Neha menutup pintunya dan bersandar di pintu , memegang dadanya yang berdetak tak menentu.


''Ya Tuhan kenapa dengan jantung ku'' gumam Neha, membayangkan Wajah Ardan yang masih awet muda dan masih terlihat tampan di banding usianya. Neha bukan anak kecil lagi , ia sudah 25 tahun, cukup dewasa menilai laki laki terlebih laki laki yang sudah matang seperti Ardan.


''Huh.. baiknya aku mandi, siap siap ke sekolah'' gumamnya lalu ia menuju kamarnya.


Sementara itu Ardan yang sudah sampai di rumah, Ia buru buru mandi,Dan mengguyur kepala nya menggunakan air shower yang mengalir. Bayangan Neha yang menggunakan baju tidur membuat pikirannya kacau, terlebih semalaman mereka tidur saling berpelukan.


Ardan laki laki dewasa dan matang dan masih mempunyai hasrat, tidak heran saat berdekatan dengan Neha yang kini menjelma menjadi wanita dewasa hasratnya menjadi timbul. terlebih mengingat saat neha memeluknya dengan erat dan dadanya menempel di dadanya itu semakin membuat Ardan kacau.


''Astaga, apa yang ada dalam pikiran mu Ardan , Dia anak sahabat mu sendiri.'' Batinnya merutuki dirinya sendiri di bawah shower yang masih mengalir. Namun bayangan Neha menari nari di pelupuk matanya, seakan bayangan Laras perlahan sirna di dalam pikirannya dan teralihkan oleh Neha.


Kini Neha sedang berada di parkiran mobil, ia juga melihat mobil Ardan, ia mencoba menguasai kegugupannya, entah gugup karena ingin interview atau gugup bertemu Ardan entahlah.


''Ya Tuhan, kenapa aku menjadi gugup seperti ini'' gumamnya, seraya mengatur nafasnya.


''Neha, dia om kamu, hanya om tidak lebih, eng.. tapi kenapa aku semakin gugup, sial..." gumamnya lagi seraya mengibas ngibaskan tangannya di wajahnya, lalu menarik nafas dalam dalam kemudian membuangnya perlahan, di rasa gugupnya berkurang ia turun seraya mengambil tas dan berkasnya dan berjalan menuju ruangan staff..


Saat berjalan ia tidak sengaja melihat Ardan sedang keluar dari ruangannya dan berjalan menuju arahnya, Namun Ardan tidak mengetahui nya karena ia sibuk dengan ponselnya, tak lama Neha masuk keruangan staff yaitu ruangan Nadia kakak Ardan.


"Tok tok'' Neha mengetuk pintu ruangan Nadia. Nadia menoleh kebelakang dan melihat nadia


''Neha?"


"boleh saya masuk Tante?"


"Boleh.. ayo masuk" jawab Nadia lalu tersenyum, kemudian Neha masuk dan mereka duduk di sofa. saat Nadia ingin bicara tiba tiba Ardan masuk tanpa melihat kearah Nadia maupun Neha ia sibuk dengan layar ponselnya.


''Kak, Neha sudah sam...'' ucap Ardan terputus karena matanya melihat Neha yang sudah duduk di sofa bersama Nadia.


''Sudah ada perlu apa?, dan Neha ada perlu apa?" Tanya Nadia heran dengan kedatangan Neha dan tiba tiba Ardan juga menanyakannya. Ardan duduk di sofa di seberang Neha dan tepat di depan Neha.


''Begini kak, kelas TK kita membutuhkan guru, jadi aku menawarkan Neha untuk menjadi guru Di TK kita, karena Neha juga membutuhkan pekerjaan'' jelas Ardan melihat Neha dan Nadia bergantian.


''Oh.. begitu.. baiklah, tapi gajinya tidak sebesar seperti pekerjaan mu di India, apa kamu bersedia''


''Neha sudah memutuskan untuk mengajar anak anak Tante dan untuk masalah honor atau gaji Neha tidak mempermasalahkan, yang terpenting Neha tidak merepotkan mama dan papa dan bisa mencerdaskan anak bangsa'' jelas Neha lalu tersenyum. dan pandangan Ardan tak lepas dari Neha

__ADS_1


''Bagus, tapi tante dengar kamu sudah menikah, apa suami mu ikut kemari?'' tanya Nadia , sekilas melihat Ardan yang terus memandangi Neha.


''eum.. Neha batal menikah tante Rohit mempunyai wanita lain'' jawab Neha dan sekilas melirik Ardan, dan Nadia hanya mengangguk dan menaruh curiga pada mereka berdua


''oh begitu, lebih baik gagal di awal dari pada menikah dan berujung dengan perceraian, dan lebih baik terlambat menikah dari pada memaksakan yang tidak bisa kita terima'' balas , Nadia lalu tersenyum


''İya tante terima kasih, oh ya Tante ini persyaratannya yang di butuhkan'' jelas Neha memberikan map-nya


''kamu sudah tahu persyaratannya?"


''eum.. tadi malam om Ardan membantu menyiapkannya sepulang dari reunian''


''oh, di membantu" jawab Nadia melihat tajam sang adik Namun yang di lihat tidak menyadari Karena fokus melihat Neha.


''Baiklah, tante terima, nanti jika ada yang kurang, Tante hubungi kamu atau memberitahu om Ardan agar memberitahu mu'' jelas Nadia sekilas melihat berkas Milik Neha.


''Mulai besok kamu sudah bisa mulai mengajar, besok temui kepala sekolah lebih dulu dan temui Tante di ruangan tante''


''Baik Tante, kalau begitu Neha pamit'' pamit neha lalu mereka berdua berdiri dan bersalaman tak lama Ardan juga menyalami Neha.


''Selamat bergabung di sekolah MAHENDRA Neha''


''Terima kasih om, om sudah memberi kesempatan Neha untuk menjadi pengajar di sini'' balas Neha lalu keduanya tersenyum.


''Tante, om mari'' pamit Neha


''Mau om antar sampai parkiran'' Tanya Ardan tanpa sadar, Neha hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, sedangkan Nadia ingin sekali meneplak wajah adiknya.


''Tidak om, Neha masih hafal jalan koridor sekolah sampai parkiran, permisi''


''Ah.. iya ,hati hati'' jawab Ardan lalu tersenyum kemudian Neha melangkah keluar menuju parkiran.


''Plakkkk'' wajah Ardan di teplak map oleh Nadia.


''Aduh..!,sakit kak''


''Sejak kapan mata duda mu itu genit'' selidik Nadia.


''Apa sih kak, tidak bisa melihat adiknya senang''


''Oh.. jadi kamu eum... kakak tahu, kamu suka sama Neha'' goda ,Nadia melihat Wajah Ardan penuh selidik


''Jangan bohong''


''Kalau pun iya, kenapa?, kita berdua sama sama sendiri tidak terikat hubungan dengan siapapun, sah sah saja'' jawab Enteng Ardan


''Dasar duda genit, ketahuan Nathan baru tahu rasa'' Balas Nadia lalu tertawa kecil.


''Sudah kak, aku mau razia kelas dulu, aku mendapati laporan ada siswa membawa majalah dewasa''


''Heum.. ingat Ardan neha itu anak sahabat mu, jangan aneh aneh''


''İya , tapi kalau kita sama sama saling jatuh cinta bagaimana?''


''Kamu!'' teriak Nadia hendak memukul Ardan namun Ardan menghindar dan tertawa, kemudian Ardan meninggalkan ruangannya. sedangkan Nadia menggelengkan kepalanya.


''Semoga kamu cepat menghilangkan rasa cinta mu pada Laras Ardan, kakak tidak mau kamu tersiksa Batin. dan semoga kamu menemukan wanita, yang bisa menerima kamu dengan tulus untuk menemani mu di masa tua.'' Batin Nadia lalu duduk di kursinya dan memeriksa berkas milik Neha.


**


''shit...!'' ucap Ardan dalam hati, merutuki dirinya sendiri, karena otaknya di penuhi bayangan Neha.lalu ia duduk bersandar di sandaran tempat tidur. lalu ia meraih ponselnya dan melihat jam di ponselnya, jam menunjukkan pukul 8 malam, tak lama pintu kamarnya diketuk Arsy.


''tok tok''


''Masuk..''


''Papa Arsy lapar, tapi Arsy mau makan bakso di kafe mama Laras'' ucap Arsy di ambang pintu


''sini'' balas Ardan lalu Arsy melangkah menghampiri padanya


''Kafe Tante Laras dari rumah kita jauh sayang, bagaimana kalau makan bakso di dekat sini saja, sekalian nanti ke mini market membeli keperluan papa yang sudah habis'' jelas Ardan lembut


''Boleh minta coklat pa''


''Boleh''


''Asyik kalau begitu Arsy ajak kak Devan''


''iya..'' jawabnya lalu Arsy keluar untuk memanggil Devan sementara itu Ardan menggunakan celana panjang dan jaket tak lupa ia merapikan rambutnya. lalu mengambil kunci mobilnya.

__ADS_1


''Sudah siap''


''wah papa hari keren'' puji Devan


''papa dari dulu sudah keren kak''


''sudah sudah ayo jangan berdebat, keburu malam'' lalu ketiganya keluar untuk mencari bakso.


mereka makan bakso bersama tertawa riang bertiga lalu setelahnya mereka menuju mini market.


''Devan , mau ikut ke mini market?'' tanya Ardan pada Devan yang duduk di sebelahnya.


''Tidak pa, di mobil saja, lagian Arsy juga sudah tidur'' jawab Devan dan Ardan melihat Arsy di jok belakang.


''Ya sudah jaga adik mu, papa hanya sebentar, kamu mau apa ?''


''Tidak pa, Arsy saja katanya tadi minta coklat.''


'' Baiklah , tunggu'' jawabnya lalu Ardan keluar dan menuju mini market.


Saat memilih dan mengambil apa yang Ardan butuhkan kini beralih ketempat jajanan tanpa melihat kanan kiri depan belakang ia terus menyusuri rak rak jajanan tiba tiba saat hendak mengambil coklat bersamaan dengan itu ada seseorang yang juga ingin mengambil coklat, akhirnya tangan mereka bersentuhan dan keduanya saling melihat.


''Om..''


''Neha''


''Kenapa ada disini?'' tanya Ardan heran pasalnya mini market yang sekarang mereka datangi sedikit jauh dari apartemen Neha.


''ini om, Neha tadi jalan sama Feli, di daerah sini, kebetulan persediaan air di mobil Feli habis jadi mampir kemari'' jelas Neha lalu Ardan melihat belanjaan neha yang ada di keranjang.


''Oh..''


''Neha.. maaf aku harus pulang, suami ku sudah pulang, aku tinggal,kamu naik taksi saja bye.. maaf'' ucap Felicia terburu buru lalu meninggalkan Neha tanpa memberi kesempatan neha untuk bicara, neha hanya melambaikan tangannya.


''Sudah , nanti om antar'' ucap Ardan


''tidak perlu om, Neha naik taksi saja''


''Tidak apa apa, Ayo ke kasir'' jawab Ardan lalu keduanya ke kasir.


''Mbak jadikan satu ya'' ucap Ardan pada pegawai kasir saat menyerahkan belanjaannya.


''Tapi om''


''Tidak apa apa'' jawab Ardan Santai.


Setelah membayar, mereka keluar supermarket, lalu meletakkan belanjaannya di bagasi lalu membuka pintu belakang untuk Neha , namun Devan ternyata sudah tidur di samping sang adik dan memangku kepala Arsy di pangkuannya.


''Duduk di depan saja'' ucap Ardan menutup kembali pintunya lalu membuka pintu bagian depan kemudian Neha masuk, dan melihat kedua anak Ardan lalu tersenyum. di susul Ardan di bagian kemudi lalu melesat menuju apartemen Neha.


''Neha, maaf sebelumnya bagaimana kalau ke rumah om dulu biar anak anak om tidur di rumah'' ucap Ardan sekilas melihat Neha.


''eum.. iya om tidak apa apa ,maaf sudah merepotkan''


''Tidak apa apa santai saja, kamu seperti siapa saja, kita pernah satu rumah Neha dan kamu dulu sering mengganggu om dan Tante Laras'' jawab Ardan keduanya tertawa.


''Terserah om saja'' jawab Neha lalu tersenyum dan fokus melihat jalanan.begitu juga Ardan. tak Lama, Ardan sampai di rumahnya lalu menyuruh Devan ,Arsy turun dan langsung masuk kedalam rumah setelah sekilas menyapa Neha. Tak lupa Ardan mengambil belanjaannya.


''Neha ayo masuk dulu''


''Tidak apa apa om?''


''Astaga, kamu ini seperti kenal om baru sehari dua hari'' balas Ardan lalu meraih tangan Neha dan menariknya lembut masuk kedalam.


Neha menggigit bibir bawahnya, mengurangi gugupnya dan menghembuskan nafasnya perlahan. dan terus mengikuti langkah Ardan .


''Duduklah, om mau menyimpan belanjaan om ke kamar'' ucap Ardan di angguki Neha, kemudian Ardan menuju kamarnya dan Neha duduk di ruang keluarga. Neha mengedarkan pandangannya, melihat sekelilingnya, ia melihat foto keluarga dan melihat foto Devan kecil bersama Almarhum Andin, lalu ia melihat foto Ardan bersama sang papa waktu muda dan juga ada dirinya memegang telunjuk Ardan, Neha tersenyum mengingat masa kecilnya saat tinggal bersama di rumah Oma syasa.


''Ayo om antar'' ucap Ardan, melihat Neha sedang melihat foto.


''İya om'' jawabnya lalu melangkah keluar mengikuti langkah Ardan lalu keduanya masuk kedalam mobil kemudian Ardan melajukan mobilnya menuju apartemen Neha.


Saat di dalam mobil, Neha tiba tiba meraih jemari Ardan. dan membuat Ardan sedikit terkejut Namun ia membiarkannya.


''Om Terima kasih, dan maaf sudah banyak merepotkan'' ucap Neha dan sedikit menekan genggaman tangannya.


''Santai saja Neha, sudah om bilang om kenal kamu dari kecil malah dari bayi, tidak mungkin om membiarkan kamu pulang sendirian '' balas Ardan yang kini justru yang menggenggam jemari Neha lalu tersenyum. kemudian mengacak lembut rambut Neha seperti anak kecil dan keduanya tersenyum.


* * * *

__ADS_1


__ADS_2