TAKDIR 2

TAKDIR 2
50.Realistis


__ADS_3

Jatuh cinta, Ada yang bilang cinta itu seperti pelangi  yang datang setelah badai dan hujan, namun ada juga yang mengatakan cinta itu berawal dari benci. Benarkah demikian, entahlah yang jelas cinta mempunyai cara tersendiri menemukan seseorang yang tidak pernah terlintas di benak kita.


Setiap Orang mempunyai batas kewarasannya masing masing.hanya  saja mereka memilih bertahan, diam bahkan melepaskan orang yang paling kita sayang walau dengan derai air mata mereka sanggup melakukannya hanya karena tidak mau banyak yang tersakiti.


Dan semua itu Laras dan Ardan alami, pernah menjadi bagian hidup, yang mungkin tidak akan pernah terulang meski saling memiliki rasa yang sama seperti dulu. ya itu lah takdir tidak ada yamg tahu kedepannya seperti apa.


Waktu terus berjalan. Ardan sudah kembali ke beraktifitas seperti biasa. menjadi guru dan mengurus yayasan sekolahnya dan meneruskan bisnis sang istri. Ia harus belajar lagi hidup tanpa seseorang dalam hidupnya dan hanya ada anak anak. mereka lah penyemangat Ardan saat ini.


Di luar sekolah nampak ada keributan, ada dua siswa laki laki yang sedang beradu mulut, di ketahui siswa tersebut adalah Daren dan dan Devan.


"Dengar Devan, katakan pada papa mu jangan pernah lagi bertemu, berhubungan dengan  mama ku" ucap Daren tegas pada Devan.


"Maksud kamu apa Daren, bukankah dari dulu papa ku dan mama mu mempunyai hubungan baik dan seperti sahabat" jelas Devan mencoba sabar menghadapi Daren yang sedang emosi.Daren mencengkram kemeja Devan dan menatapnya tajam.


"Dengar baik baik, tidak ada wanita dan laki laki dewasa yang murni bersahabat, jadi jauhi mama ku. katakan itu pada papa mu'' tegas Daren lalu mendorong Devan hingga Devan terhuyung.Ardan yang mendengar keributan pun menghampiri mereka.


"Ada apa ini?'' tanya  Ardan melihat Devan dan Daren. daren yang tidak menyukai Ardan semenjak Ardan memeluk laras sewaktu melayat  Andin pun melihat tajam ke arah Ardan.


"Maaf sebelumnya, saya harus mengatakan ini pada Om, jangan dekat dekat dengan mama saya, Terima kasih" ucap Daren tegas lalu pergi meninggalkan Ardan dan Devan begitu saja di halaman sekolah. Ardan terdiam dan menghela nafas panjang seraya melihat Devan lalu tersenyum padanya dan mengusap kepala sang anak.


"kembali ke kelas, jam istirahat sudah habis'' ucap Ardan pada Devan.


"Iya pa" jawabnya lalu menuju kelasnya. setelah anaknya menuju kelas, Ardan melihat sekeliling sekolahnya. melihat setiap sudut sekolah, memang setiap sudut itu sudah banyak berubah semenjak laras tidak lagi sekolah di sana, namun tidak dengan kenangannya bersama Laras, dan setiap sudut mempunyai kenangannya sendiri dan kenangan itu berputar manis di kepalanya.


"Bagaimana aku bisa melupakan mu Ras, sekolah ini mempunyai banyak kenangan  bersama mu,  mengingatkan sikap manja mu, marah mu, dan perkelahian mu dengan teman mu" batin Ardan mengusap air matanya yang tidak terasa meleleh di sudut matanya, setelah itu ia buru buru masuk ke ruangannya.


* * * * * *


"Apa kamu tadi membuat keributan di sekolah?" tanya Laras saat makan malam, Daren terdiam, melihat sekilas sang mama. martin pun melihat keduanya secara bergantian begitu juga Amara.


"Kenapa diam, mama bertanya pada mu" tanya laras lagi.


"Jika mama sudah tahu untuk apa Daren menjelaskannya" jawab Daren melihat  Amara, karena iya pasti tahu semua itu pasti Amara yang mengadu.


"Tapi mama butuh penjelasan mu, apa yang kamu ributkan"


"Dreeettt'' suara kursi terdengar, Daren berdiri dengan wajah kesal.


"Daren tidak suka jika Om Ardan mendekati mama, dan aku hanya menyampaikan itu pada Devan'' jelas Daren lalu meninggalkan ruang makan begitu saja.


"Daren!'' panggil sang papa Martin, Laras hanya terdiam mencerna kata kata anaknya.


"Nanti biar kau bicara dengan Daren sayang, apa maksudnya seperti itu" Ucap Martin mengusap lengan Laras. Laras tersenyum dan mengangguk kemudian melihat Amara yang dengan santainya melanjutkan makannya,tapi juga ada sesuatu yang ada di pikiran Amara namun ia hanya bisa diam.


"Amara selesai makan langsung ke kamar, kerjakan PR mu"ucap Laras lalu melanjutkan makannya, lalu diangguki Amara. Martin juga melanjutkan makannya sesekali ia melihat Laras yang menampakkan wajah datar, namun terlihat ia sedang memikirkan sesuatu.


"Apa yang sebenarnya ada di pikirkan anak ku Daren, mana mungkin aku meninggalkan Martin papanya, Jika aku mau, sudah aku lakukan sejak dulu, apa kurang pengorbananku melepaskan orang yang aku cintai dari dulu, tidak tidak Daren tidak ada hubungannya dengan masalah hati ku, wajar jika dia takut aku meninggalkan papanya karena ia tahu dulu aku adalah istrinya gurunya." Batin Laras, lalu tak lama ia menyelesaikan makannya, martin dan Amara pun selesai makan, Amara memutuskan untuk ke kamarnya sesuai perintah sang mama sedangkan Martin duduk di sofa bersama Laras


Cinta memang tidak terencana, ia bisa datang begitu saja, rasa itu muncul tiba tiba tidak ada satu pun orang yang bisa menolaknya. karena cinta itu pula seseorang bisa bertahan  walau tanpa kebersamaan, bertahun tahun saling menyimpan rasa menjaga semuanya agar hubungan yang sudah terjalin baik baik saja, akan tetapi harus di hadapkan dengan kenyataan yang terkadang tidak pernah terlintas di benak kita.


Laras  sudah menyimpan semuanya sendiri, begitu juga Ardan. menyimpan cintanya dalam dalam . mengorbankan semuanya. dan seharusnya Laras harus berfikir realistis

__ADS_1


''Sayang, sudah lama kita tidak berlibur, bagaimana kalau kita berlibur bersama anak anak" ucap  Laras melihat martin lalu masuk kepelukanya.


"Ide bagus tapi kita harus menyusun jadwal lebih dulu, dan menunggu anak anak libur sekolah" jawab Martin mengusap rambut Laras.


"Mau kemana? tanya Martin


"London, aku mau mengunjungi makam oma dan opa" balas Laras lalu tersenyum.


"Baiklah itu ide bagus, aku juga merindukan rumah di sana" jawab martin.


Laras bukan tanpa alasan ia hanya ingin menghindari Ardan lebih dulu, ia sengaja melakukan agar sang anak tidak selalu protes dengannya.


* * * * * * *


Yuna dan Julio sudah mulai beraktifitas seperti biasa setelah bulan madu, Julio bekerja di kantor dan yuna berada di kafe,seraya membawa, sang buah hati Emir. dari hasil kafe. YUna sudah bisa membeli mobil sendiri sedang julio masih menggunakan mobil sang kakek. bukan tanpa alasan julio memakai mobil sang kakek, ia sudah merasa nyaman dan mobilnya pun tergolong antik dan unik.


Mereka sibuk masing masing mempersiapkan diri untuk berangkat ketempat kerja masing masing. setelahnya mereka sarapan bersama.


"Yuna, pulang nanti jangan terlalu sore, kasihan Emir''


''Iya, tapi jemput ya, hari ini aku malas menyetir'' jawabnya lalu  ia meminum minumannya.


"Masih mau naik mobil antik"


"masih, asal tidak mogok di jalan saja" jawab Yuna lalu tertawa kecil mengingat masa masa awal menggunakan mobil lama sang kakek.


"Nanti kamu yang mendorongnya" canda Julio seraya mencubit pipi  Yuna


"Sudah ayo berangkat, ini pakai mobil baru saja" ucap Yuna memberikan kuncinya pada Julio lalu keduanya berangkat bersama tak lupa Emir ia bawa.


Diperjalanan mereka banyak bercerita rencana masa depan dan masa masa sulit mereka, serta bercanda tawa. Julio tidak menyangka bisa bertahan di titik terendah dalam hidupnya, ia tidak tahu jia ia tidak bertemu dengan Yuna mungkin hidupnya masih di jalan yang sesat. walau ia tahu Yuna wanita yang realistis semua ia ukur menggunakan uang, tapi disisi lain ia juga mempunyai hati yang baik.


"Yuna" panggil Julio saat mereka sampai di depan kafe batagor miliknya, dan Yuna hendak turun.


"Ya.." jawabnya lembut melihat kearah Julio


"cup" Julio mencium pipi Yuna, lalu mereka tersenyum


"Terima kasih sudah bertahan dengan ku"


"Pasti, Asal kamu membelikan ku cincin berlian" canda Yuna lalu tertawa kecil seraya mengusap pipi Julio, julio tersenyum seraya merogoh kantong jasnya, mengeluarkan kotak cincinnya, Yuna mengerutkan dahinya lalu tersenyum.


"Untuk mu" ucap Julio seraya membuka kotak cincinnya, Yuna tersenyum bahagia melihatnya julio, lalu julio menyematkan cincin nya ke jari manis Yuna.


"Julio terima kasih" ucapnya lalu tersenyum kemudian mereka berciuman.setelahnya mereka tersenyum dan masih menyatukan keningnya.


"Sudah, nanti kamu terlambat, Untuk imbalannya nanti malam saja" ucap Yuna menggoda Julio , lalu keluar dari mobil bersama sang bayi Emir. Julio tersenyum dan menggelengkan kepalanya setelahnya ia melajukan mobilnya.


Yuna masuk kafenya dan langsung menuju kamarnya yang dulu, ia sengaja membiarkan kamarnya tetap ada Agar Emir bisa tidur di sana dan ia bisa mengawasi karyawannya,serta bisa melayani pelanggan jika tenaganya di butuhkan.


Disisi lain Julio sudah sampai di kantornya, pagi ini ia sangat sibuk dan harus mewawancara karyawan barunya secara langsung.

__ADS_1


"Selamat pagi tuan." sapa Asistennya yang bernama Roni


"Pagi"


"Tuan calon Karyawan yang mau wawancara sudah hadir , Ada 7 kandidat yang mungkin anda cari"


"Suruh masuk semuanya" jawabnya, sekilas melihat Roni.


"Apa tidak sebaiknya satu satu tuan?"


"Apa kamu tidak mendengar perintah ku' jawab Julio tidak mau di bantah


"Ba-baik tuan" jawab Roni sedikit takut., lalu ia memanggil calon karyawannya agar semua masuk kedalam ruangan Julio.


"Selamat pagi tuan" sapa salah satunya, namun yang lain hanya diam, dan merasa gugup.


''Pagi" jawab Julio"tanpa melihat mereka, dan ia sedang duduk di kursi kerjanya serta posisinya membelakangi mereka,


"kalian duduklah" ucap Julio lalu berbalik ke arah depan dengan cara memutar kursinya, dan melihat karyawan  duduk di sofa dan kursi, namun ada salah satu gadis yang tidak bergerak di tempatnya, dan ia tetap berdiri, Julio sedikit tersenyum melihatnya, seolah ia mendapatkan karyawan yang pas.lalu ia berdiri dan duduk di ujung sudut meja lalu melihat satu persatu pelamar kerjanya.


"Siapa nama mu" tanya Julio pada gadis yang berdiri, dan memperhatikan wajahnya yang tenang dan seolah percaya diri, dengan senyum  sopan nya ia menjawab siapa namanya.


"Nama saya Aulia tuan'' jawabnya lalu sedikit menunduk dan tersenyum sopan,


"Aulia, kenapa kamu tidak ikut duduk dengan mereka" tanyanya lagi.


"Maaf tuan, Tuan menyuruh duduk tapi tuan tidak menjelaskan duduk dimana. karena saya merasa Sofa dan kursi yang ada di depan anda belum pantas untuk saya duduk di sana , kecuali anda menyuruh duduk dimana secara ditail mungkin saya akan duduk'' jelasnya dengan sopan,lalu tersenyum


''Bukankah, sofa dan kursi ini memang aku sediakan untuk duduk"


"iya, saya tahu tuan, tapi saya merasa belum pantas, dan perintah tuan harus jelas duduk di mana karena saat bekerja nanti saya harus tahu atasan saya memerintahkan saya seperti apa, dan bagaimana, jadi saya bisa menyelesaikan dengan baik"


"Bagaimana jika atasanmu memaksa mengerjakan sesuatu di luar bidang mu"


"Saya akan berusaha memberikan yang terbaik dan saya yakin bisa" jawab  Aulia percaya diri dan membuat  Julio tertarik, tertarik untuk langsung menerimanya, karena rasa percaya diri ini lah yang Julio cari agar bisa meyakinkan para klien.


"Jawaban yang bagus" batin Julio


"Roni" bawa Aulia ke ruang HRD dan hari ini sudah bisa langsung bekerja di bagian pemasaran" jelas Julio melihat Roni.


"Baik tuan"


"Aulia selamat bergabung di perusahan tambang kami" ucap Julio mengulurkan tangannya, Aulia berjalan tiga langkah dari depan julio untuk menyalami Julio dan tersenyum sopan dan pasti


"Terima kasih tuan" jawab Aulia lalu tersenyum sopan kemudian dianggukui Julio lalu Aulia keluar dan mengikuti langkah Roni.


"Untuk yang lainya kalian boleh pulang, datang lagi jika ada lowongan pekerjaan dan ini semua menjadi pembelajaran kalian saat melamar pekerjaan, percaya diri dan bisa membaca situasi" jelas Julio ke pada ke enam pelamar kerja, mereka hanya tersenyum kecut dan kecewa lalu keluar  dari ruangan Julio.


 * * * * * * *


Maaf baru bisa up kemarin lagi bener benar istirahat,  lagi kurang sehat.

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2