TAKDIR 2

TAKDIR 2
62. Jaga anak ku


__ADS_3

"Martin.. Martin.. Martin.!." panggil Laras melihat Martin sedang olah raga di taman belakang rumahnya.


"Martin...!!" Teriaknya sampai mengangetkan seisi rumahnya, Amara berlonjak dari duduknya menghampiri Laras begitu juga Daren,


"Ada apa ma, papa kenapa?" tanya Amara panik


"Ada apa sayang" balas Martin yang sedang berjalan menuju arahnya.


"Tidak ada apa apa sayang, kamu kembali ke kamar dan bersiap siaplah ke sekolah" jawab Laras pada Amara


"Amara pikir ada apa mama teriak teriak memanggil papa"balas Amara jengah lalu berjalan menuju kamarnya di atas, dan Martin hanya tertawa melihat kedua anaknya.


"Ada apa sayang, Heum.. kenapa wajahmu seperti itu" tanya Martin sekilas memeluk Laras yang wajahnya di tekuk.


"Minta apa Heum?" tanya Martin mengecup keningnya.


"Eum.. itu"


"Itu apa?"


"Ayo ke kamar, nanti ada anak anak, aku malu" jawab Laras, Martin tertawa lalu membopong Laras menuju kamar, dan mengira Laras meminta haknya.


Martin menurunkan Laras saat sampai di kamar dan mengunci pintunya. lalu tanpa Aba aba Martin langsung mencium Laras, dan sedikit mendorongnya menuju tempat tidur.


"Ah.. Martin tunggu" terdengar lenguhan kecil saat Laras sudah berada di tempat tidur dengan Martin yang sudah di bawahnya


"kenapa?"


"Bukan ini yang aku mau"


"Oh.. "Martin pun melepas celananya, Dan itu membuat gelak tawa Laras


"Stop, kenakan lagi celana mu"


"Lalu seperti apa yang kamu minta" jawab Martin dan justru melepas celananya. dan Laras tertawa terpingkal pingkal dan berguling di kasur.


"Denger kan aku dulu sayang"


"Ok, baiklah apa" jawab Martin lalu duduk di tepi tempat tidur.


"Aku hamil" ucap Laras lalu mengulum senyumnya melihat ekspresi Martin yang tercengang dan seperti tidak percaya.


"Benarkah?"


"Heum" jawab Laras mengangguk dan tersenyum bahagia.


"Yes...!!" ucap Martin lalu menakup kedua pipi Laras dan menciuminya.


''Terima kasih sayang, Akhirnya" jawab Martin lalu mereka berpelukan dengan tawa bahagia.


"Tapi bagaimana dengan anak anak" ucap Laras khawatir dengan anak anak mereka, Ia takut jika Amara dan Daren tidak mau memiliki adik lagi.


"Untuk Amara mungkin akan sulit, tapi Daren pasti sangat senang karena dia pasti berfikir , gurunya Ardan tidak akan mungkin mendekati mamanya yang sedang hamil" jawab Martin lalu keduanya tertawa.


"Kamu bisa saja" jawab Laras lalu memeluk Martin.


"Ardan, kita tidak akan pernah bersatu lagi,tapi kenapa saat aku mendengar namamu hati ku ini selalu bergetar. Ardan, kita masih saling mencintai tapi biarlah hanya hati kita saja yang terpaut rasa. semoga suatu hari nanti ada Wanita yang bisa mencintai mu dan menemani mu di masa tua" Batin Laras lalu tersenyum dan meneteskan air mata.


"Martin aku ingin anak laki laki'' ucap Laras lalu tersenyum.


''Aku juga, kamu bahagia'' balas Martin mengusap air matanya.


"Heum.." lalu keduanya tersenyum, Namun seketika Laras tertawa saat melihat Martin hanya menggunakan celana dal*mnya.


"Sudah Martin kenakan celana mu" ucap Laras sekilas merem*s bagian inti Martin.


"Selesaikan" jawab Martin menahan tangan laras di bagian intinya. perlahan mereka berciuman dan mereka bercinta di pagi hari.


Sementara itu Siena dan Nathan sedang di Indonesia karena menerima kabar jika sang putri Neha gagal menikah . Neha memutuskan untuk kembali ke Indonesia, dan tidak mau lagi tinggal di India.


Sudah satu Minggu Neha mengurung diri di kamar, meratapi gagalnya pernikahan lantaran calon suaminya berselingkuh. Siena dan Nathan mencoba menghiburnya namun nihil. kali ini Neha memutuskan untuk keluar dari kamar. lalu menemui sang papa dan mama Siena


"Pa,ma.." panggil neha pada Nathan yang sedang memeluk Siena yang sedang memasak dari belakang. mendengar Neha memanggil nya Nathan melepaskan pelukannya ,dan Siena mematikan kompornya.


''iya sayang, kamu lapar?" tanya Siena dan Neha menggelengkan kepalanya. perlahan Nathan menghampiri Neha dan memeluknya.


"Menangis lah jika ingin menangis biar hatimu lega" ucap Nathan menciumi pucuk rambut Neha sedangkan Siena mengusap rambut putri sambungnya itu.


''Tidak pa, Neha memutuskan untuk menerima semuanya, mungkin aku dan Rohit belum berjodoh, dan memang sudah takdir Neha harus gagal dalam menikah" jelas Neha yang sudah menerima semuanya.


"Syukurlah, sekarang kita sarapan ya, mama suapi''

__ADS_1


''mama, Neha sudah 25 tahun, bisa makan sendiri" jawab Neha lalu tersenyum .


''Baiklah ,ayo sarapan" jawab Siena lalu ketiganya duduk di kursi ruang makan.


"Oh ya ma, bagaimana kabar Jojo dan Naina" tanya Neha pada kedua adiknya yang masih di new York bersama orang orang kepercayaan Siena, mereka tidak bisa ikut pulang ke Indonesia Lantara sekolah.


”Adik adik mu baik, tapi ya begitulah Adik mu Neha sedikit manja" jawab Siena lalu tersenyum seraya mengambilkan makanan untuk Nathan dan Neha hanya mengangguk.


''Oh ya ma, hari ini sebenarnya aku ada reuni sekolah SMA acaranya di ballroom hotel om Abi, maksud Neha opa Abi" ucap Neha dan semuanya terkekeh di akhir kalimatnya pasalnya Abi tidak mau di panggil opa.


''Siapa saja yang datang?" tanya Nathan


" Teman Angkatan Neha pa, dan semua guru guru, papa tidak ikut, bukannya papa juga dulu mengajar di sana"


"Tidak sayang, papa mengajar di sana waktu angkatan mama mu saja, dan mungkin jalan papa bertemu mama Siena" jawab Nathan lalu ketiganya tertawa , mengingat kisah cinta nya.


"kisah cinta mama dan papa dramatis"


"Dan kamu terlibat di dalamnya" Saut Siena


"Tapi waktu itu aku tidak mengerti apa pun ,aku masih sebesar Maudy"


"Dan kamu sering memanggil mama dengan sebutan mama, sampai mama malu waktu itu. Dann teman teman mama selalu menggoda


jika mama nanti yang akan menjadi istri papa mu" jelas Siena dan semua tertawa.


" Tapi mama memang takdir papa" jawab Neha.


Mereka bertiga mengenang masa lalu, penuh cerita dan tawa. Siena tidak menyangka akan mencintai Nathan sampai saat ini.


* * *


REUNI


Acara begitu meriah banyak teman teman Neha yang hadir membawa suami dan anak anaknya dan juga ada yang membawa kekasihnya, Namun ia hanya datang sendiri, Akan tetapi tidak membuatnya patah semangat untuk bertemu dengan temen temannya sewaktu sekolah. Pesta bertema pesta topeng dan dress code gold and black, Neha menggunakan dress warna hitam dan ada layer berwarna gold . Dress yang membalut tubuhnya yang kini terlihat seksi, Neha tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik, pintar dan manis serta bijaksana seperti Siena. wajah cantik yang di wariskan sang mama membuat semua teman teman terpukau terlebih temen laki lakinya. sampai sampai membuat banyak iri temennya.


Ardan yang tengah berdiri melihat para alumni siswa di sekolah itu pun tersenyum sampai tidak sengaja ada yang mencuri perhatiannya. siapa lagi kalau bukan Neha yang kini sedang mengobrol dengan temennya.


Ardan memperhatikan dengan seksama pasalnya ia hampir tidak mengenali Neha karena sudah lama ia tidak bertemu dengan Neha terakhir bertemu dengan Neha saat Neha berusia 20 tahun. Saat sudah mengenali Neha Ardan tanpa sadar melangkahkan kaki nya menghampiri Neha.


"Neha.."sapa nya, Neha menoleh ke arah Ardan.


"om..eh..maaf, pak Ardan" Balasnya sungkan.


"Ah iya om, maaf, Neha turut bela sungkawa atas meninggalnya Tante Andin, Maaf Neha tidak bisa datang melayat karena masih di India''


''Iya Terima kasih, tidak apa apa" jawab Ardan sendu.


"Neha, pak Ardan ,kami mau duduk, acara mau di mulai" ucap temen Neha yang bernama Felicia.


''Iya fel nanti aku menyusul" balas Neha lalu tersenyum kemudian melihat Ardan yang juga tersenyum.


"Oh ya mana suami mu, aku dengar dari papa mu kamu menikah di India ? Tanya Ardan yang tidak mengetahui jika Neha membatalkan pernikahannya. Neha tersenyum kecut. lalu sedikit menunduk mengingat Rohit yang selingkuh dengan teman kerjanya di India.


"Neha batal menikah Om, Calon Neha eum.. selingkuh" jawabnya sendu lalu tersenyum menutupi kesedihan.


''Maaf" balas Ardan merasa bersalah karena sudah menanyakan hal itu dan membuat Neha terlihat sedih.


''Ya udah om kalau begitu Neha mau bergabung dengan Feli" ucap Neha dan di angguki Ardan lalu tersenyum kemudian Neha melangkah menghampiri Feli dan Ardan duduk bersama guru guru yang lainnya.


Pandangan Ardan tak lepas dari Neha, namun ia buru buru mengalihkan pandangannya. dan menikmati acara yang di suguhkan alumni siswanya. Saat acara berlangsung tiba tiba ponsel Neha bergetar ,di lihatnya ternyata sang mama Siena mengirimi pesan.


" Neha ...maaf sayang, malam ini mama dan papa harus kembali ke New York ,adik mu Naina sakit, pulang nanti hati hati , love you ". begitu isi pesan Siena.


"Iya ma hati hati , semoga Neha cepat pulih" begitu balasan Neha, lalu Neha kembali menyimpan ponsel nya di dalam tas tangannya. Diwaktu bersamaan Nathan menghubungi Ardan. saat ponselnya bergetar dan mengetahui jika sahabatnya yang menghubunginya, Ardan menjauh dari tempat acara untuk menerima panggilan Nathan.


"Ya Nath, Ada apa?"


"Ardan, aku titip Neha, tolong Antar kan dia pulang, tadi waktu berangkat aku yang mengantarnya"


''Lalu"


"Dengar dulu brengsek"


''Iya iya, cepat katakan''


"Malam ini Aku mau terbang ke New York, dan tidak ada yang menjemputnya, Tolong Antar kan dia pulang ke apartemen" jelas Nathan


''Iya, Ada lagi'


"Jaga Anakku'' jawab Nathan

__ADS_1


"heum" jawab Ardan lalu keduanya mematikan sambungan ponselnya masing masing. lalu Ardan kembali bergabung bersama guru yang lain.


Acara terus berlangsung sampai acara selesai dan yang lainnya pun pulang ke rumahnya masing-masing. Ardan yang melihat Neha berdiri di luar pintu ballroom pun langsung menghampirinya.


"Mau pulang?"


''Iya om tapi taksi Neha belum sampai sampai"


"Om antar pulang?''


''Tali Neha pulang ke apartemen Om''


''Iya tidak apa apa, lagian ini sudah hampir larut malam, Ayo''


''iya om , tunggu Neha batalkan dulu taksinya'' jawab Neha lalu membatalkan pesanan taksinya, kemudahan mereka berdua berjalan menuju parkiran.


''Ayo masuk'' ucap Ardan saat membukakan pintu mobilnya.


''Terima kasih om'' jawab Neha lalu masuk kedalam mobil bagian depan di susul Ardan di bagian kemudi.


Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana, semua merasa canggung. entah apa yang membuat mereka canggung padahal dulu Ardan dan Neha bermain bersama , Ardan menggendong Neha saat kecil.


''Neha'' panggil Ardan membuka percakapan.


''ya om''


''kamu masih kerja di India?'' tanya Ardan dan Neha menggeleng, karena semenjak gagal menikah ia putuskan untuk pulang ke Indonesia saja


'' sebenarnya Neha sedang mencari pekerjaan di sini, tapi belum mendapatkannya, Om tahu sendiri, sekarang mencari pekerjaan itu susah'' balas Neha sedikit tertawa di ikuti Ardan.


''Di sekolah Mahendra sebenarnya sedang mencari guru untuk Anak TK, tapi mungkin tidak sesuai dengan jurusan mu''


''Serius om, Neha mau om, dari pada Neha menganggur'' jawab Neha Antusias


''Iya, Tapi benar kamu mau, Anak anak TK biasanya Rewel Neha''


''Lebih rewel Naina'' jawab asal Neha diiringi tawa keduanya. mengingat betapa rewelnya neha waktu kecil.


''Baiklah, besok datang saja ke sekolah dan temui Tante Nadia, nanti om bantu'' jawab Ardan lalu tersenyum.


''Iya om terima kasih'' jawab Neha tanpa sadar memegang lengan Ardan. Ardan melihat tangan Neha lalu tersenyum.


Tak butuh waktu lama, mereka tiba di Apartemen. Neha membuka pintunya dan tersenyum melihat Ardan.


''Silahkan masuk om''


''Terima kasih'' jawab Ardan lalu masuk kedalam di ikuti Neha setelah menutup pintu.


''Oh ya om, mau minum Apa ,teh kopi ,jus''


''Air putih saja lebih sehat''


''Tunggu ya om , Neha Ambilkan.'' jawab neha lalu menuju dapur. Ardan mengedarkan pandangannya melihat ruangan Apartemen milik Nathan, lalu ingatannya kembali saat masih pacaran dengan Laras , di apartemen ini lah saksi cinta mereka pernah ada.


''Ini om, silahkan di minum'' ucap Neha mengagetkan lamunannya.


''Terima kasih''


''Sama sama, kalau begitu Neha tinggal sebentar , mau ganti baju sekalian mengambil berkas untuk besok'' jawab Neha lalu di angguki Ardan. kemudian neha berjalan ke kamarnya. setelah selesai Menganti bajunya Neha keluar sambil membawa beberapa berkas untuk melamar menjadi guru di sekolah Ardan.


''ini om berkasnya, Apa saja yang harus di bawa'' ucap Neha lalu duduk di samping Ardan , lalu Ardan melihat dan memeriksa semua berkas dokumen milik Neha yang besok akan di bawanya.


''Sudah, ini sudah cukup, yang terpenting kamu sabar mengajar anak anak terlebih anak Tk''


ucap Ardan saat membantu menyiapkan surat lamarannya.


''Iya om, Neha selalu sabar'' jawab Neha ambigu seraya menunduk. Ardan tahu apa yang di rasakan Neha, rasa dimana saat gagal menikah Namun Ardan hanya menepuk pundak Neha


''Ada pelangi setelah hujan badai'' hibur Ardan lalu tersenyum,


''iya om terima kasih''


''Ya sudah om pamit pulang'' pamit Ardan, Namun tiba tiba ada suara petir menyambar mengagetkan keduanya di tambah lampu padam sontak Neha berlonjak memeluk Ardan


''Om Takut'' ucapnya memeluk erat Ardan. dengan ragu Ardan membalas pelukan Neha dan tangan satunya mengusap kepalanya.


''Jangan takut ada om di sini'' ucapnya mengusap punggung Neha dan membuat ketakutan Neha berkurang.


''Jangan pulang om sebelum lampunya hidup''


''Iya'' jawab Ardan , Neha semakin mempererat pelukannya, saat ada petir yang menyambar untuk kedua kalinya. dan parahnya lampu tak kunjung menyala. Neha yang terus memeluk Ardan sampai Ardan merasa sesak namun ia tahan terlebih d*d* Neha menempel di d*danya membuat ia harus menahan diri sekuat tenaga. Lampu tak kunjung menyala akhirnya kedua manusia yang berbeda generasi itu tertidur di sofa dan saling berpelukan dengan posisi duduk bersandar di sandaran sofa.

__ADS_1


* * * *


__ADS_2