TAKDIR 2

TAKDIR 2
49.Ada hikmahnya


__ADS_3

Ada rasa yang tidak bisa di ungkapkan, apa memang tidak berdaya dengan keadaan, Atau cinta itu yang membuat matanya tertutup, atau memang rayuan itu membutakan hatinya, Meli terus berfikir setelah beberapa kali mempergoki Sang suami diam diam sering melihat foto Jane bersama putranya, ia cemburu namun tidak bisa berbuat banyak. dan hanya tersenyum pasrah. Terlebih ada binar cinta itu tumbuh untuk Jane setalah dari pakistan. Naluri seorang istri tidaklah pernah salah, tapi Meli tidak bisa berbuat banyak, Meli benar benar lemah saat berhadapan dengan Rey.


"Meli.. sayang, kemana kemeja ku yang warna hitam'' panggil Rey di dalam kamar, Meli tersentak saat mendengar panggilan Rey.


"Iya sebentar" jawabnya lalu menghampiri Rey yang sedang di depan lemari.


"Ini, kenapa kamu tidak fokus Rey, apa pikiran mu masih tertinggal di pakistan" sarkas meli seolah mencari tahu isi hati Rey yang sebenarnya, Meli selalu teringat ucapan Amar tempo lalu bahwa Jane dan Rey saling mencintai.


"bercanda mu sampai luar negri Meli, jangan terlalu jauh sayang, aku tidak bisa mengejarnya'' jawab Rey lalu tersenyum dan mengusap pipi Meli dengan lembut, lalu mereka tertawa bersama.


"Oh ya, kamu mau kemana memakai kemeja hitam" tanya Meli melihat wajah Rey yang berubah sendu


"Tante Andin meninggal, jatuh dari tangga" jawab Rey lalu tersenyum tipis, Lalu mengenakan kemejanya.


"Tante Andin?, istrinya om Ardan"


"Iya''


"ya Tuhan, Rey aku ikut ya"


"Tidak sayang di rumah saja, jaga Maudy"


"Ok, baiklah kamu hati hati''


"iya, aku berangkat'' jawabnya lalu sekilas mencium Meli kemudian menuju rumah Ardan.


* * * *


KEDIAMAN SYASA.


"Mama..!" panggil Krisna seraya mengetuk pintu kamarnya


"Ma.."


"Apa kris,,?" jawab Syasa setelah membuka pintu kamarnya.


"kak Andin meninggal"


"Inalilahi, kapan?"


"Tadi pagi, katanya semalam jatuh dari tangga, sudah di bawa ke rumah sakit tapi tidak tertolong'' jelas krisna, Syasa menghela nafas panjang.


''kakak mu Laras sudah tahu"


"Tidak tahu, mungkin sudah''


"Ya sudah, Ayo ke sana''


''Baik ma'' jawab Krisna lalu ke duanya bersiap siap.


''Sayang kita pulang besok saja, hari ini aku mau ke rumah kak Ardan'' ucap Krisna pada Elsa yang sedang membereskan baju Wisnu.


''Kak Ardan?"

__ADS_1


"heum, istrinya meninggal subuh tadi''


''Inalilahi, jadi kamu mau melayat kerumahnya?''


"Iya, tapi kamu di rumah saja, tidak perlu ikut, jaga Wisnu saja'' jawabnya  seraya mengenakan kemeja Hitam, kemudian kaca mata hitam


''Iya tapi, kenapa dandanan mu sekeren ini, pakai kaca mata hitam?'' Jawab nya sedikit menggoda sang suami.


''kamu bisa saja''


''Awas nanti di kuburan ada yang jatuh cinta'' goda Elsa lagi seraya tertawa.


''di kuburan mana ada''


''Ada, mas pucung''


''Astaqfirllah, jangan sampai'' jawab Krisna bergelidik ngeri lalu meraih ponselnya di meja kemudian sekilas mencium Elsa dan Wisnu.lalu berangkat menuju rumah Ardan.


Sementara itu di kediaman Ardan sudah penuh orang yang melayat, Arsy putrinya hanya bisa menangis bersama  sang kakak di samping jasad sang mama Andin, sedangkan Ardan hanya diam, tidak bisa mengucapkan kata atau menangis, ia sudah iklhas dan pasrah, menangis pun tidak ada gunanya, tidak akan mengembalikan Andin hidup kembali. semua ia tahan membiarkan dadanya sesak sendiri.


Laras datang bersama kedua anaknya Daren dan Amara, Laras datang tanpa Martin Karena martin sedang ada urusan di luar negri, perlahan Laras mendekati Arsy dan devan.


"Arsy..'' panggil Laras lembut dan memegang kedua pundaknya, perlahan Arsy melihat Laras lalu menghambur ke pelukannya,


"Tante, mama, mama tante'' jawabnya dalam isak tangisannya, aras paham apa yuang di rasakan Arsy dan devan, Laras melihat Devan yang juga menangis, perlahan Laras juga menarik Devan ke pelukannya.


''Sabar ya, ini semua sudah takdir dari Tuhan, kalian pasti bisa melewati semuanya'' ucap Laras pelan pada mereka berdua.


"iya tante terima kasih'' jawab Devan, hanya itu yang bisa ia ucapkan.perlahan Laras melepaskan pelukannya, dan tersenyum tipis, lalu pandanganya beralih pada Ardan yang hanya diam tanpa ekspresi, Ardan tidak tahu harus bagaimana, Ia masih mencerna semua keadaan yang begitu mendadak merubah semuanya, bagaimana Ia bisa menjaga dan mengurus anak anak nya tanpa Andin, terlebih kedua anaknya beranjak remaja.


Laras perlahan berjalan mendekati Ardan lalu duduk di dekatnya, Nadia sang kakak sekilas memeluk Laras lalu meninggalkan Ardan dan laras berdua, dan orang orang yang melayat hanya sekilas melihat ardan dan Laras.


''kak" panggil Laras pelan, namun Ardan hanya diam tidak merespon panggilan Laras, Laras memperhatikan wajah Ardan lalu memegang punggung telapak tangan Ardan . perlahan Ardan melihat tangan laras lalu melihat Laras. seketika  Ardan memeluk Laras dan menangis sejadi jadinya di pelukan Laras, Laras diam dan ragu untuk mengusap punggung Ardan, ia menghela nafas panjang dan mengadahkan wajahnya ke atas menahan tangisnya, Namun tetap saja air matanya meleleh, Laras menangis bukan menangisi Andin melainkan menangis melihat orang yang masih ia cintai terpuruk. Perlahan Laras mengusap punggung Ardan mencoba menenangkannya sambil mengusap Air matanya sendiri


''Sabar kak, aku pernah kehilangan seperti kakak, kehilangan devan kita, aku tahu apa yang kakak rasakan, ikhlas ya kak'' ucap pelan laras dan hanya Ardan yang mendengarnya.


"Bagaimana aku melewatinya sendiri tanpa Andin ras, bagaimana dengan anak anak'' jawab lirih Ardan dan masih memeluk Laras


''Kakak pasti bisa melewatinya, dan kakak harus kuat demi anak anak kakak'' balas laras lalu melepaskan pelukan Ardan , Laras merasa tidak enak karena Daren melihatnya dengan tatapan tidak suka. Ardan mengusap Air matanya entah mengapa di hadapan Laras ia bisa menumpahkan semuanya, yang jelas ia tahu Laras lebih  paham akan dirinya


"Iya, terima kasih" jawab Ardan mengusap air matanya, dan melihat laras, membayangkan dahulu Laras kehilangannya dan devan, laras menghadapinya sendiri dan lebih berat dari pada dirinya, terlebih Laras waktu itu masih sangat muda. kini Laras berpindah duduk di samping Arsy dan merangkulnya, Ardan hanya bisa melihat anaknya yang menangis di pelukan laras.


PEMAKAMAN


Devan dan Arsy menangis di pusaran sang  mama, begitu juga Ardan. Ia mengingat banyak hal selama 13 tahun menikah dengan Andin. Ia mengingat semuanya, mengingat cinta Andin yang ia berikan padanya, walau ia juga tidak pernah lupa bagaimana Andin memisahkan  dirinya dengan Laras. dan Tidak akan pernah lupa, seperti cintanya pada laras Yang tidak mungkin lagi bisa bersama, jika pun iya,hanya takdir yang bisa menyatukan mereka berdua.


''Aku tidak pernah lupa caramu mendapatkan ku Andin, tapi aku juga tidak melupakan kebaikan dan cinta mu pada ku, terima kasih 13 tahun kamu sudah bersama ku dan memberi ku anak yang baik dan manis, Aku sudah memaafkan mu, istirahatlah dengan tenang''  batin Ardan mengusap  batu nisan  Andin lalu menghapus air matanya.


Semua yang melayat sudah kembali ke rumah masing masing, begitu juga daren dan Amara, tapi tidak dengan laras, laras masih di pemakaman, bersama keluarga Ardan.


"papa Ayo pulang" ajak Arsy pada Ardan,


"Iya kalian duluan ke mobil nanti papa menyusul'' jawab Ardan.

__ADS_1


"kak titip anak anak sebentar'' ucap Ardan pada nadia


"Iya, kakak tunggu di Mobil, Laras kakak duluan" pamit Nadia lalu mereka sekeluarga menuju mobil, tinggal lah laras dan Ardan.


''Ada pertemuan pasti ada perpisahan, kita tidak tahu kapan kita akan berpisah dengan orang orang yang kita cintai'' ucap Laras yang sudah duduk di samping Ardan, Ardan hanya diam dan hanya mendengar ucapan laras.


''Aku tahu perasaan kakak saat ini, bahakan lebih dari ini, tapi hidup harus tetap berlangsung'' ucap Laras lagi memegang lengan Ardan, Ardan melihat kearah Laras seolah paham bagaimana laras melawan keterpurukannya kehilangan dirinya dan juga anak mereka.


"Terima kasih sudah mengingatkan bagaimana rasa mu saat itu, maafkan aku tidak bisa bersama mu, melawan keterpurukan mu saat itu, maafkan aku'' balas Ardan lalu meletakan telapak tangannya di dahinya dan menunduk. serta air mata yang terus mengalir.


"Ambil semua hikmahnya , Tuhan mempunyai rencana lain, untuk saat ini aku tahu kakak masih sangat berduka, Tapi anak anak kakak butuh bahu yang kokoh untuk bersandar, kakak pasti bisa melewati semuanya" ucap laras mengusap Pundak Ardan, Ingin sekali Laras memeluk Ardan, namun itu tidak mungkin, begitu juga dengan Ardan ingin sekali memeluk laras menumpahkan semuanya. Namun keduanya hanya bisa diam dan laras hanya bisa menguatkan .


"Ayo pulang" Ajak Laras lalu keduanya menuju mobil masing masing.


Sesampainya Laras di rumah, ternyata Martin sudah pulang, dan duduk bersama kedua Anaknya, Daren melihat tajam ke arah Laras,dan merasa tidak suka mengingat Ardan memeluk sang mama.


''Sudah puas ma reuni sama mantan mama, pelukan'' ucap Daren kesal, Martin hanya diam dan menganggap Daren hanya cemburu lebih tepatnya tidak menyukai jika sang mama di peluk orang lain


''Maksud kamu Apa Daren , kenapa kamu menjadi tidak sopan dengan mama, pelukan, Apa maksudmu'' tanya Laras mengerutkan dahinya dan mendekati Daren.


''Untuk Apa mama berpelukan dengan om Ardan, Apa mama tidak menghargai papa, mentang-mentang papa tidak iku melayat''


''Astaga, Daren!, mama tidak memeluk om Ardan, om Ardan yang memeluk mama tiba-tiba, dan mana hanya memberi kekuatan untuk om Ardan tidak lebih, Ayo lah sayang, jangan seperti itu''


''Daren tetap tidak menyukai nya'' jawab Daren Yang sedikit bernada tinggi dan itu membuat Martin kesal


"Daren!!'' ucap lantang Martin pada Daren


"Jaga bicaramu pada mama" ucapnya lagi, lalu melihat tajam Daren, Daren takut jika sudah melihat Martin menatapnya lalu memutuskan masuk ke kamar sedangkan Laras syok mendengar Daren sedikit bernada tinggi padanya. Namun Martin langsung memeluknya.


''Jangan di Ambil hati, Daren hanya cemburu, dengan papanya saja cemburu apa lagi dengan orang lain'' ucap pelan Martin. Martin percaya dengan Laras, Laras sudah pasti menjaga semuanya, Walau ia tahu Laras masih ada cinta untuk Ardan.


"Martin,Apa aku salah mendidik anak ku'' ucapnya lirih


''Tidak sayang, Dia hanya cemburu'' jawab Marin lalu tersenyum.


"Mama minum'' ucap Amara memberikan air minum pada Laras


''Terima kasih sayang'' jawab Laras menerima sekelas air putih lalu meminumnya sampai habis.


''Ya sudah aku mandi dulu" pamit Laras untuk mandi, lalu ia menuju kamarnya. Martin hanya tersenyum lalu duduk di sofa bersama Amara.


''Mama akan selalu bersama kita pa, papa jangan cemburu, pak guru Ardan orang baik'' ucap Amara meyakinkan sang papa jika Ardan tidak akan merebut sang mama dari papanya.


''Iya sayang, mama akan selalu bersama kita'' jawab Martin lalu memeluk Amara.


* * * * * * *


Terima kasih


maaf ya baru up , badan lg kurang fit


jgn lupa like komen vote ,rate.

__ADS_1


__ADS_2