
Awan putih tebal menghiasi birunya langit, sinar matahari menjelang sore menambah keindahan. Krisna dan Elsa melihat dengan takjub sambil duduk santai di balkon rumahnya yang besar, dengan kolam renang yang luas, taman bunga yang indah terdapat ayunan dan beberapa taman bermain. Krisna sengaja menyiapkan semuanya untuk calon anaknya yang sebentar lagi akan lahir.
ya..Krisna memang berbeda dari semua adik adiknya, Krisna memang hampir sama dengan Laras yang cerdas dan pandai berbisnis. mungkin darah bisnis sang ayah lebih kental, terbukti Laras dan Krisna di takuti banyak pengusaha dalam dan luar negeri. terutama Laras yang tidak segan segan mengambil keputusan yang mungkin saja beresiko bagi pengusaha lainnya. dan kini mereka berdua memetik hasil kerja kerasnya. mempunyai rumah besar, mobil berjejer, apartemen di mana mana. bahkan perusahaan semakin berkembang. tak lupa peran Bryan yang selalu mengarah mereka berdua dalam berbagai hal namun anehnya kenapa di saat membimbing anak kandungnya sendiri seolah Bryan angkat tangan.
''krisna, rumah ini begitu luas untuk ku, apa kita tidak bisa pindah ke rumah yang sedikit kecil'' ucap Elsa yang duduk di kursi sambil mengusap perutnya yang sudah sangat besar
''tidak sayang.. ini istana kita, kamu ratu di rumah ini, kenapa''balas Krisna lalu bangkit dari duduknya dan menghampirinya Elsa,,lalu berlutut di hadapan Elsa.n
''terlalu besar Krisna dan terlalu banyak orang di rumah ini, aku merasa tidak bebas melakukan ini dan itu sendiri, mereka selalu melarang ku mengerjakan sesuatu'' keluh sendu Elsa melihat Krisna, krisna paham apa yang di maksud Elsa, Elsa tidak nyaman Karena banyak asisten rumah tangga yang melayaninya terlebih saat ini ia tengah hamil besar
''nanti aku pikirkan, tapi untuk sekarang fokus ini dulu, anak kita'' jawab Krisna mengusap perut Elsa.
''baiklah.. terima kasih atas segala perhatian mu Krisna'' ucap Elsa yang paham maksud Krisna. Elsa sangat beruntung krisna selalu memanjakannya, sampai sampai Elsa tidak di izinkan untuk melakukan apapun sendiri semua harus di bantu asisten rumah tangganya jika Krisna tidak sedang di rumah.
''bagaimana kabar adik kecil kita Luna'' tanya Elsa dan itu membuat Krisna tertawa , karena Luna sudah tidak pantas lagi di sebut adik kecil
''anak itu baik, kecil kecil sudah pintar menghasilkan uang sendiri, aku dengar kemarin lukisannya terjual lima puluh juta, dan uangnya di berikan pada Julio dengan dalih menanam saham di kafe batagornya Yuna, padahal Sebenarnya hanya ingin membantu ke uangan Julio, tapi jika Luna mengetahui yang sebenarnya mungkin Luna akan lebih marah dari pada aku''
''yah.. lebih baik Luna tidak mengetahuinya, biarkan ia tumbuh dengan kepolosannya yang suka membantu saudaranya dan orang lain'' jawab Elsa lalu tersenyum melihat Krisna berdiri lalu menghadap ke balkon
''kamu benar, Luna Sangat berbeda dengan Jane, Luna memang lebih dekat dengan Julio, bahkan dari kecil jika Julio di marahi mama, Luna yang selalu membelanya tapi Jane, Jane lebih dekat dengan ku, Jane dan Luna sering bertengkar'' jelas Krisna mengingat masa kecil adik adiknya dan tertawa kecil
''tapi bagaimana dengan Attar?
''Attar pemuda baik, aku sudah beberapa kali mengetes dalam kejujurannya dalam bekerja, dan setia tidaknya dengan Luna, aku pernah membayar sekertaris Julio untuk menggodanya tapi hasilnya nihil, Attar sangat dingin dengan wanita yang mencoba menggodanya, tapi sangat humoris dengan rekan kerjanya, semua tim yang bekerja sama dengannya, pasti lebih bersemangat dan menantu idaman mama'' jelas Krisna lagi melihat Elsa sambil menyandarkan punggungnya di besi pembatas balkon dan mereka tertawa bersama
''aku sudah mengusulkan pada papa untuk mengangkatnya sebagai meneger di perusahaan papa tapi papa bilang tidak sekarang, biarkan Attar benar dari nol'' jelas Krisna, Elsa yang sedari mendengarkan penjelasan Krisna hanya manggut-manggut sambil mengusap perutnya.
''oh ya bagaimana kuliah online kamu sayang?''
''ya begitulah, membosankan, lebih enak bertatap muka langsung dengan dosen'' keluh Elsa, Elsa semenjak menikah memang melanjutkan kuliahnya namun saat ini ia lebih sering mengikuti kuliahnya lewat online karena kondisinya hamil besar.
'' ya sudah ayo masuk'' ucap Krisna lalu membantu Elsa berdiri kemudian mereka masuk kedalam.mereka masuk kedalam kamar , Elsa memilih untuk mengerjakan tugas kuliahnya di leptop sedangkan Krisna memeriksa CCTV rumahnya.krisna melihat satu persatu ruangannya, dan juga di luar rumahnya, ia terkejut melihat vada kejanggalan saat melihat di depan rumahnya, ada seseorang yang seperti mengintai
''siapa ini yang melihat ke jendela kamar ku'' batinnya lalu ia menuju ke jendela dan memeriksanya, benar saja ada seseorang yang sedang melihat ke arah jendela dengan cara mengendap endap. tanpa pikir panjang ia langsung turun tanpa menghiraukan Elsa Sendang berbicara padanya.
''krisna..astaga kenapa pergi begitu saja'' grutu Elsa. Krisna berlari kecil menuruni anak tangga dan menemui satpam yang menjaga rumahnya di post gerbang rumahnya.
''pak ojib''
''tuan, ya tuan bisa saya bantu?''
''pak tolong, itu ada seseorang di bawah pohon yang terus melihat ke arah kamar saya, seret dan bawa kemari, dan beri tahu yang lainnya untuk menangkapnya'' ucap Krisna lalu melihat sekelilingnya.
''baik tuan''
''heum.. jangan sampai lolos'' balasnya lalu pak ojib mengumpulkan anggotanya yang berjumlah 5 orang dan 3 bodyguard, kemudian mereka semua. mengatur strategi untuk menangkap orang tersebut sedangkan krisna menunggu di teras rumah.
''siapa laki laki itu, sepertinya sudah lama mengintai rumah ini, tapi dilihat dari CCTV ia hanya melihat kamar ku'' batin Krisna begitu gelisah. dan berjalan ke sana kemari.
''krisna.."panggil Elsa tiba tiba
''sayang.. kenapaj keluar?'' jawab Krisna
''aku mau pindah kamar bawah, aku capek naik turun tangga''
''ok baiklah, tapi sekarang masuk ya, sudah sore ''
''ayo!'' suara salah satu bodyguard krisna menyeret seseorang masuk ke halaman rumah dan itu membuat Elsa terkejut pasalnya ia tahu siapa yang orang yang di seret salah satu bodyguardnya
'' mas Alan'' guamamnya
''brukk'' Alan tersungkur di hadapan kaki Krisna
''tuan ini orang yang ada maksud?'' ucap ojib
__ADS_1
''heum.. terima kasih'' jawab Krisna
''ternyata kamu, apa maksud mu diam diam melihat kamar istri ku'' tanya Krisna datar sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku celananya.namun yang ia ajak bicara diam dan justru melihat Elsa yang sedikit ketakutan sambil memegang perutnya. Krisna yang mengetahui jika Alan Melihat istrinya pun tidak terima dan langsung mencengkram kerah baju Alan
''jaga pandangan mu, jangan melihat istriku seperti itu'' ucap Krisna lalu menghempaskan Alan hingga Alan tersungkur kembali, dan justru Alan tertawa seolah tidak ada rasa takut dengan krisna
''ingat krisna aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milik ku'' ucapnya Alan Asal sambil menunjuk Elsa. dan itu membuat Krisna emosi namun ia tidak mau menunjukkannya pada Elsa ia memilih diam dan memberi isyarat pada bodyguardnya untuk menghajar Alan.
''cukup, pulangkan dia ke rumahnya dan beri peringatan pada keluarganya. jika masih berani mengusik lagi hidup istri ku, habisi, dan perketat penjagaan rumah'' ucap Krisna lalu merangkul Elsa masuk kedalam rumah dan Alan di pulangkan bodyguardnya ke rumahnya dengan keadaan babak belur.
''krisna aku takut, Alan orang yang nekat dia bisa berbuat apa saja''
''dan aku bisa lebih dari itu'' jawab Krisna mencoba menenangkan Elsa lalu mereka duduk di ruang keluarga.
✨
siang hari begitu terik, namun tidak menyurutkan semangat Luna untuk menemui sang papa di kantor sekaligus menemui sang pujaan hati Attar. tak lupa ia juga membawa makan siang untuk papa dan pujaan hatinya.
Luna berjalan dengan hati yang berbunga bunga pasalnya ini pertama kali ia datang ke kantor sang papa setelah mempunyai kekasih terlebih pujaan hatinya bekerja di kantor sang papa.
''siang mbak Lena'' sapa Luna pada resepsionis
''siang nona Luna, pasti mau menemui tuan Bryan ya'' tebak Lena dan mereka berdua tersenyum
''siapa lagi, eum.. tapi ada satu lagi yang mau aku temui''
''siapa?''
''rahasia'' jawab Luna lalu kedua tertawa, tiba tiba Attar melintas masuk bersama rekan kerjanya dan melihat Luna, Attar terkejut namun ia harus mengontrol dirinya dan menahan agar tidak menyapa Luna , Attar sekilas melihat Luna lalu fokus dengan langkahnya bersama rekan kerjanya sambil membawa beberapa dokumen dan memasuki lift.Luna sedikit kecewa melihat Attar yang acuh padanya, namun ia memilih diam.
''mbak aku ke atas..'' pamit Luna
''iya nona silahkan'' jawab Lena lalu Luna menuju lift.
''ah sudahlah mungkin dia hanya profesional kerja saja'' batinnya tidak mau berfikir yang aneh aneh.
''ting'' suara pintu lift terbuka lalu Luna keluar dan berjalan menuju ruangan sang papa dengan lesu.
''siang pa..'' ucap Luna saat masuk ke ruangan Bryan
''hai sayang.. mana mama katanya mau ke kantor, kenapa sendiri'' jawab Bryan lalu menutup leptop nya dan berdiri menghampiri Luna
''mama masih di klinik kecantikan, Luna bosan menunggu mama jadi Luna pamit lebih dulu datang kemari'' balas Luna sambil meletakkan kotak makannya di meja lalu duduk di sofa di ikuti Bryan
''lalu kenapa wajah mu masam seperti itu?
''kak Attar acuh pada ku pa , tadi tidak sengaja bertemu di depan meja resepsionis tapi kak Attar tidak menyapa ku'' jawab Luna sedih namun Bryan hanya tertawa
''kenapa papa tertawa?.''
''tidak sayang, apa yang di lakukan Attar sudah benar, Attar hanya profesional saja''
''tapi kan sudah jam istirahat pa'' protes Luna tidak terima
''tapi Attar baru kembali tugas dari luar sayang, baiklah papa akan memanggilnya biar kamu senang'' jawab Bryan lalu menghubungi Mira asistennya
''mira''
''ya tuan bisa bantu?'
''panggilkan Attar, suruh ke ke ruangan ku dan suruh membawa dokumen hasil meetingnya''
''baik tuan'' jawab Mira lalu Bryan menutup ponselnya lalu melihat Luna dan tersenyum
''sudah'' ucap Bryan, kini raut wajah Luna berubah menjadi ceria berulang kali ia merapikan rambutnya dan merapikan kemejanya di depan cermin yang ada di ruangan Bryan, Bryan hanya tersenyum melihat anaknya kini sudah tumbuh dewasa .
__ADS_1
''Luna.. papa sepertinya tidak rela kamu tumbuh menjadi dewasa, mungkin beberapa tahun lagi kamu akan menikah dengan laki laki pilihanmu'' batin Bryan melihat Luna yang sedang di depan cermin. tak lama terdengar ketukan suara pintu
''tok tok''
''ceklek'' suara pintu terbuka dan masuklah seseorang yang di tunggu Luna, Luna sejenak terdiam dan masih berdiri di depan cermin dan memperhatikan Attar di pantulan cermin
''selamat siang tuan'' sapa Attar
''siang, oh ya mana dokumen yang saya minta''
''ini tuan, semua sudah saya ringkas sesuai permintaan tuan'' jawab Attar sopan dan masih berdiri di dekat sofa.
''ok.. kerja mu bagus tapi masalahnya ada satu lagi pekerjaan untuk mu''
''apa itu tuan saya siap mengerjakannya'' jawab Attar yang selalu mencoba sopan dan layaknya atasan dan bawahan berbeda jika di rumah , Attar dan Bryan seperti teman yang sering berdebat dan bermain catur serta olahraga bersama.
''ajak putriku makan di luar, lihatlah wajahnya masam tidak enak di pandang'' balas Bryan melihat Luna yang cemberut,dan Attar pun sekilas Melihat Luna dan tersenyum lalu menutup matanya sejenak dan menggelengkan kepalanya lalu melihat Luna dan tersenyum
''baik tuan permisi, mari nona''
''kak Attar jangan terlalu formal, Luna tidak suka'' renggek Luna kesal dan itu membuat tawa Bryan
''baiklah ayo sayang'' jawab Attar mengulurkan tangannya lalu tertawa kecil. Luna perlahan meraih jemari Attar dengan senyum yang terus mengembang.
''pa.. pinjam karyawan papa sebentar''
''iya, tapi sebelum jam 2 harus kamu kembalikan'' saut Bryan
''lebih sedikit pa..da papa'' pamit Luna lalu menarik Attar keluar
''permisi om'' pamit Attar sebelum benar benar keluar dari ruangan Bryan. dan Bryan hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
saat di luar Luna paham dan langsung melepaskan genggaman jemarinya dari tangan Attar dan bersikap biasa, lalu keduanya menuju lift. saat sudah masuk lift baru mereka tertawa menertawai tingkahnya sendiri, tak lama Luna memberikan kunci mobilnya pada Attar.
''ini kak''
''kamu mengemudi sendiri''
''heum, kan sudah kuliah, jadi aku sudah tidak mau memakai sopir''
''oh.. tapi hati hati ya..''
''pasti kakak ku sayang'' jawab Luna meraih jemari Attar
''ting'' suara pintu terbuka, seketika mereka berdua'' melepaskan genggamannya masing-masing dan bersikap biasa.
''mari nona'' ucap Attar mempersilahkan Luna jalan lebih dulu. dan Luna hanya mengangguk dan tersenyum simpul. lalu mereka berdua berjalan keluar Kantor untuk makan bersama. ya, Luna paham maksud Attar yang masih menyembunyikan hubungannya dengan luna pada rekan rekan kerjanya, Karen tidak ingin ada yang iri padanya bisa menjalin hubungan khusus dengan anak pemilik perusahaan dan tidak ingin di cap aji mumpung dan mengambil kesempatan padahal jauh sebelum Attar bekerja di perusahaan Bryan mereka sudah menjalin hubungan.
''kak. kita ke kafe kak Laras ya'' ucap Luna saat di dalam mobil
''baik nona'' goda Attar di iringi tawa
''kakak, Luna tidak suka'' jawab manja Luna
''iya sayang.. mau makan apa'' tanya Attar
''bebek panggang''
''ok baiklah'' jawab Attar lalu menambah kecepatan mobilnya menuju kafe Laras.
Luna begitu bahagia tidak menyangka hubungannya dengan Attar sudah terjalin sepuluh bulan. dan selama itu Attar belum pernah mencium Luna, Attar benar benar menjaga Luna dengan baik dan itu membuat syasa semakin menyukai Attar sebagai calon menantu idaman.
* * * * * *
terima kasih
__ADS_1