
Luna kini sudah sadarkan diri, ia teringat jika ia sedang hamil. Namun saat meraba perutnya, Ia merasakan perutnya sudah rata. ia mengerutkan dahinya dan melihat perutnya.
''Bayi ku..'' ucapnya lirih,
''Bayi ku mana, mama bayi ku mana'' teriaknya sampai mengangetkan Attar yang tertidur di sofa. Attar bergegas menghampiri dan mencoba menenangkan Luna.
''Luna..''
''Bayi ku mana, Apa bayi ku sudah lahir kenapa perut ku rata'' ucapnya yang masih tidak percaya, lalu ia melihat Attar.
''Siapa kamu, lepas'' ucapnya saat melihat Attar memeganginya.
''Ini kak Attar Luna, suami mu''
''kakak'' ucapnya yang baru menyadari, di lihatnya dalam dalam wajah sang suami lalu ia memeluknya dengan erat.
''kakak, bayi kita mana'' tanya di iringi Isak tangisnya.
''Sabar sayang, bayi kita sudah di syurga'' jawab Attar menakup kedua pipi nya.
''Gak, gak mungkin, kembalikan bayi ku'' jerit Luna hingga tidak sadarkan diri.dan membuat Attar panik
''Luna, sayang.. Dokter ...suster..!'' panggil Attar seraya memencet tombol nurse call yang tidak jauh dari brankar Luna. Tak lama dokter dan suster datang lalu memeriksa Luna. Attar nampak cemas tidak terasa air matanya menetes di sudut matanya.
''Dok, bagaimana keadaan istri saya?'' Tanya Attar saat Dokter selesai memeriksa Luna.
''Nona Luna hanya syok tuan, kami sudah memberikan suntikan penenang di infusnya ,dan tolong jangan biarkan nona Luna sendiri'' jelas dokter.
''Terima kasih Dok'' Balas Attar lalu mendekat ke brankar Luna sedangkan dokter dan suster keluar ruangan.
'' Ya Tuhan kenapa menjadi seperti ini, aku tahu ini cobaan dari mu tapi kenapa harus Luna?'' batin Attar melihat Luna dan mengusap rambutnya. Attar sangat khawatir akan mental Luna terlebih sakit yang ia derita belum ada perubahan. Attar hanya takut Luna melupakannya dan memori akan kehilangan bayinya akan terus terekam di ingatannya.
Bagi Attar Luna adalah segalanya, setelah kepergian kedua orang tuanya Attar hanya memiliki paman dan sekarang sang paman juga sudah tiada setahun lalu dan hanya Luna yang ia punya di Jakarta.
''Attar..'' Sapa Wina yang baru datang bersama Bram. , Bram dan wina menyempatkan datang melihat cucunya. tidak ketinggalan Abi dan Utari serta Arya, dan dua anak kembarnya datang menjenguk dan yang lainnya masih berada di luar.
''Oma, Opa..'' balas Attar lalu menyalami Wina dan Bram
''Yang sabar ya.. semua nya pasti baik baik saja, Luna pasti pulih'' ucap Wina mengusap pundak Attar.
''Iya oma, Luna pasti sembuh, dan Harus sembuh, Hanya Luna yang Attar miliki Oma, Attar tidak mempunyai siapa siapa Oma, hanya Luna''
''Ssttt.. Apa yang kamu katakan kita semua selalu bersamamu , kita semua keluarga mu'' Jawab Wina lalu memeluk Attar, Wina tahu saat ini Attar pasti juga merindukan ibu dan ayahnya. ia merasa sendiri dan kesedihan bertambah ketika melihat Luna sakit.
''Luna Oma, Attar tidak bisa melihat Luna seperti ini, lebih Attar yang sakit''
''Jangan seperti itu, jika kamu yang sakit siapa yang menjaga cucu ku'' balas Wina yang juga ikut menangis lalu melepaskan pelukannya.
''Sudah, Luna pasti sembuh'' ucap Wina lagi lalu mengusap lengan Attar.
__ADS_1
''Oma.. Oma duduk ya'' Ucap Aryan pada Wina dan memegang kedua pundaknya.
''Oma duduk di sini saja'' jawab Wina ingin duduk di kursi dekat brankar Luna.
* * * *
Hubungan Amar Dan Jane sedang tidak baik baik saja, Amar sepertinya lupa akan janjinya yang tidak akan menyakiti Jane, tapi nyatanya Amar menampar Jane lagi hanya karena hal sepele , Jane sedang berbicara dengan teman laki laki semasa kuliahnya, dan Amar pun tahu siapa laki laki itu karena juga dulu mahasiswanya.
Jane saat ini sedang menyusui anaknya di dalam kamar, dan Amar sedang ada tamu.
"Mana istri mu'' tanya temennya yang bernama Farun.
''Ada di kamar, dia sedang istirahat dan menidurkan anak kami'' Jawab Amar yang sebenarnya tidak menyukai ada yang bertanya tentang istrinya.
''Oh.. '' jawabnya singkat. sementara itu Jane menidurkan Adnan, setelah selesai menyusuinya ,Jane menidurkan Adnan di boksnya dengan sangat hati hati, lalu ia tersenyum melihat wajah sang Anak.
Jane duduk di lantai kamarnya seraya membereskan mainan sang anak seraya menahan tangisnya, ia sangat merindukan Aryan, Namun ia tidak bisa menghubungi Rey atau Meli, Jane tidak mau lagi membuat Amar marah.
"Aryan, mama rindu nak, jangan menyusahkan mama Meli ya'' Batinnya yang air matanya kini lolos dari sudut mata dan membasahi pipinya.
Sudah dua hari Jane tidak keluar Apartemen bahkan tidak menerima tamu siapapun termasuk Siena dan Neha serta Nathan karena ia tidak mau kakaknya melihat wajah lebamnya.
Jane bertahan bukan karena ia takut menjadi janda, ia hanya bertahan demi Adnan. Tapi ia juga sudah tidak tahan dengan sikap Amar yang kembali kasar padanya.
Penampilan nya kini pun lusuh, ia malas untuk berdandan, untuk apa berhias, jika selalu di curigai oleh Amar pikir nya.
'' Jane, makan dan minum susunya.'' ucap Amar, Jane hanya diam, lalu mengambil makanannya, kemudian ia makan dan masih duduk di lantai. Jane tidak mengucapkan kata sepatah pun. hanya menurut apa yang di ucapkan Amar.
Jane seolah sudah menjadi bodoh di depan Amar. ia menyimpan semuanya sendiri hanya sekonyong-konyong demi anak. mungkin jika tidak ada anak Jane sudah meninggalkan Amar atau memilih mati.
Amar duduk di sebah Jane, lalu memeluknya ,dan mengusap lembut rambutnya. perlahan Amar mencium kening Jane.
''Maaf'' hanya itu yang keluar dari bibir Amar dan Jane hanya mengangguk , ingin sekali Jane menangis dan menghajar Amar tapi tidak mungkin tubuh Jane kecil dan Amar tinggi besar.
Tak lama Jane menghabiskan makanannya, Walau ia tidak berselera makan, Namum sang anak butuh nutrisi.
''Sudah Amar, aku mau mandi'' ucap nya lirih, dan sekilas melihat Amar lalu ia berdiri. Namun Amar menahannya, Mau tidak mau ia duduk kembali dan menghadap Amar.
Amar meraih dagu Jane lalu mengecupnya, Jane diam tanpa membalasnya. semakin diam Amar semakin liar dan itu membuat ia tidak nyaman. Akhirnya Jane mendorong Amar.
''Jane, apa maksudmu?'' ucapnya melihat Jane tajam.
''Aku, aku tidak mood''
''Layani suami mu atau..''
''Atau apa? kamu ingin menampar ku lagi''
''Jane..!'' ucap Amar bernada tinggi.
__ADS_1
''Jangan memancingku'' ucap Amar lalu menarik Jane dan ia hempasan di tempat tidur.
''Layani aku'' ucap Amar lalu membuka bajunya, Jane hanya pasrah, mau tidak mau ia melayani suaminya.
''Tidak mau, tapi kamu menikmatinya'' batin Amar tersenyum melihat Jane yang menikmati permainannya. dan itu yang membuat Amar tergila gila saat melihat ekspresi Jane ketika melayaninya.
Tidak di pungkiri Amar memang pintar membuat Jane melayang dengan permainannya. apakah ini salah satu alasan Jane tetap bertahan, entahlah.
''Terima kasih, aku harap jangan pernah menolak melayani suami mu'' ucap Amar, lalu memeluk Jane yang membelakanginya. Jane hanya Diam dan mengusap air matanya.
''Aku mau mandi'' balas Jane Lalu beranjak dari tempat tidurnya tanpa mengenakan apa pun, Amar hanya tersenyum melihat tubuh istrinya yang kecil tapi berisi dan memuaskan dirinya.
* * * *
Hari ini adalah hari ibu, sekolah Mahendra mengadakan acara memperingati hari ibu. Acara untuk memperingati pun sudah berjalan, setiap kelas mempunyai perwakilan untuk bernyanyi dan memberikan hadiah kepada ibunya masing-masing, tidak ketinggalan Amara dan Arsy juga turut andil. Namun saat Acara selesai dan semua menyerahkan hadiah untuk ibunya. dan hanya Arsi yang diam dan tersenyum melihat teman temannya memberikan hadiah pada ibunya .
Arsy menggigit bibir bawahnya dan menahan tangisnya, melihat teman temannya memeluk ibunya masing-masing dan ia hanya bisa membayangkan sang mama.
''Mama, semoga bahagia di surga'' Batinnya, Ardan berjalan mendekati Arsy lalu memeluknya.
''Papa.. Arsy rindu mama'' ucap nya lirih dan hanya Ardan yang mendengarnya, Ardan tersenyum. lalu mengusap air mata sang anak.
''Pulang sekolah nanti kita ke makam mama'' ucapnya mencoba menghibur sang anak. temen temen ikut menangis haru melihat Arsy. perlahan Laras menghampiri Arsy.
''Arsy..'' panggil lembut Laras.
''Tante..''
''kamu boleh peluk tante'' ucap Laras merentangkan tangannya. mata Arsy berkaca kaca lalu melihat Ardan, Ardan hanya mengangguk tanda memberi izin. Arsy pun menghambur ke pelukan Laras dan menangis sejadi jadinya. tak lama Amara pun memeluk Arsy.
''Kamu boleh memanggil Tante mama jika kamu mau'' ucap Laras mencium pucuk rambut Arsy, Arsy mendongak melihat wajah Laras dan memastikan, lalu melihat sang papa, sang papa hanya tersenyum dan mengedipkan matanya tanda mengiyakan.
''Mama'' ucap Arsy lalu tangisnya semakin pecah. Laras mengerti apa yang di rasakan Arsy, pasti ia sangat merindukan Andin sang mama.
Daren yang melihat pun mengepalkan tangannya lalu pergi dari depan panggung menuju kelasnya. Devan yang melihatnya dari kejauhan hanya tersenyum dan menyeka Aira matanya . sebenarnya ia juga sangat merindukan pelukan Sang mama, Namun ia masih bisa menahannya.
Tak lama Laras dan Arsy saling melepaskan pelukannya masing masing, Laras tersenyum melihat Arsy.
''Jangan bersedih ada mama Laras heum'' ucap Laras dan di Angguki Arsy.
''Terima kasih ma'' jawabnya sedikit canggung lalu tersenyum.
''Ya sudah mama, harus pulang acara sudah selesai, mama masih ada banyak urusan, kalian berdua jangan bertengkar ok'' ucap Laras pada Amara dan Arsy''
''Iya ma'' jawab mereka berdua bersamaan lalu ketiganya tertawa kecil kemudian Laras memeluk keduanya, Ardan tersenyum dan melihat pemandangan yang indah di matanya, pemandangan yang hanya angan saja melihat Laras menjadi ibu dari anak anaknya. dan itu mustahil Ardan pun menyadari itu.
Tak sengaja pandangan Laras bertemu dengan Mata Ardan, sejenak mereka saling pandang, Laras paham arti pandangan Ardan lalu tersenyum dan meneteskan Air matanya kemudian mencium puncak rambut Arsy. Ardan hanya mengangguk tanda terima kasih. lalu menyeka air matanya. kemudian membuang pandangannya.
* * * * *
__ADS_1