
Di Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. ya, itulah hidup. biarkan takdir yang bekerja, apakah pertemuan itu akan dipersatu kan, atau hanya sekedar singgah sementara. sama halnya Jane dan Amar, Meli dan Rey. mereka tidak tahu takdir apa yaang membawa mereka ke masa depan. yang jelas semua sudah ketetapan dari Tuhan.
Hari ini adalah hari pertemuan Rey dan anaknya. Rey membawa meli serta Maudy sang Anak. Jane juga mengajak Amar. Mereka bertemu di salah satu taman bermain Agar anak anak mereka bermain bersama.
Rey terdiam melihat sang anak Aryan, yang berada di gendongan Jane, Rey memperhatikan wajah sang anak dengan begitu lekat, mata dan hidung mirip sekali dengannya, tanpa terasa ia meneteskan air mata. begitu juga Jane, Amar dan Meli hanya melihat dari jarak satu meter dari tempat mereka berdiri dan hanya tersenyum simpul.lalu keduanya memutuskan untuk duduk di satu bangku panjang sementara itu maudy tidur di kreta bayinya.
''Apa kakak boleh menggendongnya" tanya Rey melihat Jane lalu mengusap kepala sang anak.
"Boleh kak, Aryan anak kakak'' jawab Jane memberikan Aryan pada Rey, seketika rey memeluk sang anak dan membayangkan betapa sulitnya Jane mengandung anaknya tanpa ia ada disisinya
''Maafkan papa nak, maafkan papa'' ucap Rey menciumi pipi sang anak, Aryan hanya diam dan melihatnya sedikit takut, Aryan melihat Rey tanpa berkedip dan bibirnya seakan menahan tangis, Namun Rey langsung tersenyum agar sang anak tidak takut. seketika Aryan tersenyum lebar seolah tahu siapa yang menggendongnya. Perlahan Aryan meraba pipi sang papa dan tersenyum.
"Baba'' ucapnya Rey tersenyum saat mendengar sang anak mengucapkan kata Baba.
''papa'' ralat Rey lalu mencium pipi Aryan.
Hidup adalah pilihan, semua manusi berhak menentukan dan pengambil keputusan dalam hidup mereka, meski pilihan itu tidak mudah dan ada yang harus di korbankan demi kebaikan seseorang. Rey mengambil keputusan yang tepat yaitu mempertahankan Meli tetep bersamanya, walau yang sebenarnya ia harus mengorbankan perasaan Jane, dan itu membuat Jane benar benar kecewa terlebih mereka saling mencintai dan baru menyadari satu sama lain.
Mereka tidak mau menunjukan atau membuat kecewa pasangannya saat ini, dan memilih menyimpan rapat rapat perasaan mereka. berbicara tentang pilihan berarti akan ada banyak pertimbangan sebelum menentukan pilihan, Pilihan dimana sebenarnya sulit menjalaninya terlebih Jane yang dulu memilih berpisah dengan Rey sedangkan Rey tidak mau membuat Meli semakin menderita.
Amar dan Meli hanya melihat mereka sedang bermain bersama dengan sang anak terlebih Rey yang begitu antusias bermain dengan Aryan.Amar melihat tawa bahagia dari Jane yang begitu lepas saat melihat Rey bermain bersama sang Anak , ia hanya bisa menahan cemburu.
"Aku tidak pernah melihat Jane selepas itu saat tertawa, dan baru kali ini aku melihatnya begitu lepas'' ucap Amar pada Meli yang duduk di sebelahnya
''Itu hanya perasaanmu saja tuan, mungkin Jane bahagia karena berada di negaranya sendiri, dan juga,,'' jawab Meli menggantung dan tidak melanjutkan kalimatnya, Namun Amar paham maksud Meli jika Jane masih mempunyai rasa terhadap Rey, terlihat dari sorot matanya,
"Apa kamu tidak cemburu, melihat mereka" tanya Amar melihat Meli, Meli sekilas tersenyum lalu melihat Amar , kemudian melihat Rey .
''Aku pernah lebih cemburu dari saat ini, tapi aku bisa apa, aku hanya wanita lemah saat di hadapan suami ku, sampai aku tidak berdaya saat suami ku meminta izin untuk menikahi Jane,dan aku mengizinkannya begitu saja,aku tidak tahu aku yang bodoh atau aku yang terlalu mencintai Rey''
''Menurut ku tidak dua duanya, tapi Rey pintar merayu mu, aku melihat Rey orang yang humoris, tegas dan pandai menguasai keadaan dan perasaannya, jika Jane mengatakan pada ku bahwa Rey tidak pernah mencintainya, justru aku melihat sebaliknya'' balas Amar yang membuat Meli mengerutkan dahinya, dan melihat Amar dengan penuh keheranan
''Maksud mu?''
''Rey juga mencintai Jane jika tidak, untuk apa mereka sampai menikah, Jane mengalah demi dirimu dan kebahagiaan Rey, entahlah aku hanya menduga, jangan kamu pikirkan ucapan ku'' jawab Amar yang tidak mau membuat Meli berfikir yang aneh aneh walau nyatanya Meli sudah berfikir dan ingatannya kembali kebelakang, mengingat awal awal menikah dan awal ia di madu. dan ia juga tidak mau terlalu memikirkannya.
* * * * *
Hari pernikahan Luna dan Attar pun tiba,Luna nampak cantik di balut dengan kebaya rancangan Utari, kebaya bernuansa biru muda, ia nampak cantik dan Anggun. begitu juga Attar yang nampak gagah dengan balutan kemeja yang warnanya senada dengan Luna, kini Amar duduk di depan penghulu dan Bryan dan para saksi. Attar nampak gugup namun ia harus bersikap tenang dan sesekali menarik nafas panjang untuk menghilangkan rasa gugupnya,
Acara demi acara sebelum akhad di mulai sudah terlewati. Kini saatnya acara inti di mulai, petugas KUA mengintruksikan kepada Bryan agar acara di mulai. Bryan mengulurkan tangan dan di sambut Attar. Tangan Attar begitu dingin saat Bryan menjabatnya, Bryan hanya tersenyum ia paham posisi Attar saat ini sama seperti dulu waktu menikahi syasa walau saat menikahi syasa usianya sudah 40 tahun.
''Saya nikahkan putri kandung saya, yang bernama Luna putri Akbar binti Bryan Ahmad Akbar dengan Engkau Attar Pratama bin Ardiawan Pratama dengan uang sebesar sembilan belas juta di bayar tunai"
__ADS_1
''Saya terima nikah dan kawinnya Luna Putri Akbar binti Bryan Ahmad Akbar dengan uang tersebut di bayar tunai'' jawab Attar dengan satu kali tarikan nafas.
"SAH!"
"SAH...!!!'' jawab semuanya, Attar bernafas lega begitu juga dengan Luna yang menyaksikan di layar besar di balik ruangan terpisah, sejenak Attar menitihkan Air mata, ia tidak menyangka ia bisa menikahi seorang gadis yang begitu istimewa, gadis yang sangat mencintainya, gadis dari kalangan atas, gadis luar biasa sederhana walau bergelimang harta. sama halnya dengan Attar, Luna juga merasakan hal yang sama, ia bahagia menikah dengan orang yang ia cintai, menikah dengan cinta pertamanya,
Luna keluar dari ruangan khusus di dampingi tasya dan juga Neha dan para pengiring pengantin lainnya siapa lagi kalau bukan anak anak dari om dan tante nya. dari pihak Attar ada Arya, Bima , Tara ,Raffi, dan delano, daren, jojo, sedangkan dari pihak Luna, ada Tasya, Dira , Neha, Naina ,Amara tidak ketinggalan anak dari Banyu dan Bayu serat anak bunggsu Bianca, mereka semua adalah pendamping sang pengantin.
Luna duduk di sebelah Attar, Attar terus memandanginya dengan penuh haru namun senyum keduanya tidak pernah pudar dan terus mengembang. tak lama mereka menandatangani berkas berkas pernikahan dan Attar menyerahkan maharnya yang berupa uang yang sudah bentuk sedemikan rupa di dalam bingkai dan nampak indah, semua nampak bahagia tidak terkecuali Namun Bryan sang papa tidak sanggup menahan emosionalnya, ia menangis melihat sang putri bungsu menikah , waktu begitu cepat rasanya baru kemarin ia menggendong Luna dan mengajaknya bermain, kini ia sudah dipersunting dengan laki laki pilihannya, setelah segala prosesi selesai Luna menghampiri Bryan dan mereka saling berpelukan
''Papa, Luna minta maaf jika selama ini Luna tidak bisa menjadi anak yang penurut, Luna belum bisa membuat papa bangga seperti kak laras dan kak Krisna, tapi percayalah pa, luna sangat mencintai papa, papa cinta pertama Luna, dan terima kasih papa sudah mengizinkan Luna untuk menikah sebelum lulus kuliah, terima kasih pa, tapi Luna akan terus berusaha menjadi anak yang baik dan manis, dan istri yang baik bagi suami Luna'' ucap Luna seraya memeluk sang papa.
"papa tidak bisa berbuat banyak nak, papa hanya bisa mendoakan semoga kamu selalu bahagia dengan laki laki pilihanmu, dan satu pesan papa jangan pernah keluar dari rumah di saat kamu marah dengan suami mu''jelas Bryan yang tidak bisa berkata apa apa lagi,
'' iya pa, tapi keluar kamar boleh ya pa?'' sontak semuanya tertawa,
''Dasar, papa serius kamu malah bercanda'' jawab Bryan di iringi tawa semuanya lalu Bryan memeluk Luna kembali. Acara selanjutnya adalah sungkeman kepada orang tua, dan acara lainya, sampai acara selesai dan di lanjutkan resepsi malam hari pun .
Acara resepsi gelar, Yuna,Julio ,Attar dan Luna nampak cantik dan tampan, ya, resepsi pernikahan mereka di gelar bersama, dan ini adalah pesta mantu terakhir Bryan dan Syasa. begitu banyak tamu yang di undang, seandainya tidak mengundang tamu pun keluarga besarnya sudah sangat ramai, dan meriah. Ardan dan keluarganya pun datang, namun sang istri Andin dan sang putri tidak ikut hadir karena sedang berada di jerman mengurusi bisnis berliannya. Ardan datang bersama sang putra Devan. Attar dan Meli juga hadir serta tak lupa sang putri Maudy juga ikut serta.
Saat pesta memasuki acara dansa, banyak antara mereka yang ikut berdansa bersama ke empat pengantin, Laras berdansa dengan Martin dan semuanya dengan pasangannya masing masing. namun tiba tiba martin mendapat panggilan dari ponselnya, lalu ia meminta izin untuk mengangkat panggilannya, mau tidak mau laras duduk kembali bersama orang tuanya, tiba tiba Ardan menghampiri mengulurkan tangannya dan mengajaknya berdansa, sejenak Laras terdiam dan melihat martin, Martin hanya mengangguk mengizinkan Laras berdansa, dengan sedikit ragu Laras mengulurkan tangannya, tangan yang mungkin ia rindukan namun hanya dia yang tahu.
"Apa kabar" tanya Ardan di sela dansanya dan menatap laras, laras tersenyum lalu menundukkan pandangannya
''Kamu semakin cantik'' pujinya dan tersenyum
''Terima kasih kak , tapi aku memang sudah cantik dari lahir'' jawab Laras dan keduanya tertawa.
''Kemana istrimu, kenapa tidak ikut?'' tanya Laras yang tidak tahu jika Andin sedang berada di jerman.
''Ada di jerman sama putri kami Andin sedang ada urusan di sana''
''Oh begitu''
''Yah.. jadi aku lebih leluasa berdansa dengan mantan istri ku yang cantik ini'' Goda Ardan
Dan " plak" Laras menepuk pipi Ardan dan Laras tertawa, sedangkan Ardan mengusap pipinya
''sakit ras, kamu tidak berubah" Protes Ardan melihat Luna sedikit kesal namum mereka masih tetep melanjutkan dansanya, dan yang melihat mereka sudah tahu pasti mereka sedang bercanda, karena Ardan suka menjali Laras saat bertemu.
''Aku tidak pernah berubah Ardan, tidak pernah'' ucap Laras Ambigu, lalu menyudahi dansanya, walau ia masih ada rasa dengan Ardan namun sebisa mungkin ia harus menjaga hati suaminya, kini ia kembali berdansa dengan Martin sedangkan Ardan duduk kembali bersama sang putra dan mencerna apa yang di ucapkan Laras.
Lain halnya dengan Jane yang sedang duduk bersama Amar, ingin sekali Jane dansa, Namun Amar masih malu dan canggung dengan keluarga sang mertua. Julio dam Yuna berdansa dengan mesranya begitu juga Luna dan Attar dunia terasa milik mereka berempat , namun tiba tiba musik berubah menjadi musik india, dan itu semua ulah Abi, dan tiba tiba ia di tengah tengah antara attar dan julio tak lama ia juga menarik Amar untuk ikut menari bersama, semua tertawa melihat tingkah Abi, ke empat mempelai pun mengalah dan duduk kembali ke kursi pelaminan dan menyaksikan om dan Amar serta yang lainnya menari, di tambah juga Arjuna serta Diah. wina dan Bram hanya geleng geleng kepala melihat tingkah anak dan cucu cucunya.
__ADS_1
"Ini bukan pesta kita tapi pesta om Abi'' ucap Julio yang tidak begitu menyukai india namun ia menikmatinya.
''Resiko nikah gratisan'' saut Yuna di iringi tawa Attar dan Luna.
Luna dan Attar tidak peduli ,mereka asyik dengan dunianya sendiri, Attar terus memandangi Luna begitu juga Luna yang terus memandangi Attar, sesekali mereka mencuri curi untuk berciuman,
"Apa kakak tidak bisa sabar'' ucap Luna
''Aku sudah lama ingin mencium mu sayang, dan sekarang aku bebas melakukan apa pun pada mu''jawab Attar lalu mencium pipi Luna, tiba tiba " plak" Julio meneplak kepala Attar
''Aduh.'' pekiknya Yuna dan Luna hanya tertawa
''Bisa sabar tidak''
''Enggak'' jawab Attar meledek.
Sementara itu Jane dan Rey diam diam bertemu di salah satu sudut ruangan di saat semua orang tengah asyik menari india. dan meli sendiri tengah asyik menikmati pestanya dan maudy ada di pangkuannya sedang asyik bermain dengan mainannya.Jane membawa Aryan bersamanya untuk menemui Rey.
''kak'' panggil Jane dan tersenyum begitu juga Rey,lalu Rey sekilas memeluk Jane dan mencium keningnya, lalu mencium sang anak. Entah apa yang terjadi pada mereka terlebih Rey untuk apa sebenarnya mencium Jane yang jelas jelas sudah bukan istrinya, apa Rey masih merasa Jane istrinya? hanya Rey yang tahu.
"kapan kamu kembali ke new york?''
''Belum tahu kak, karena selesai Pesta ini Amar mau pulang ke negaranya pakistan, dan aku tidak ikut, kasihan Aryan jika harus ke sana kemari, aku di indonesia mungkin satu bulan lagi, kemungkinan aku berangkat sama kak siena dan Kak Nathan, Amar sendiri dari pakistan langsung ke new york.
''Oh..jadi aku masih bisa sedikit lama bertemu dengan Putra ku'' jawab Rey yang membuat terharu Jane saat Rey mengucapkan ''kata Putra ku''
"Iya kak'' jawab Jane lalu tersenyum dan sedikit meneteskan air mata
''Hei kamu kenapa'' tanya rey melihat jane meneteskan air mata, lalu Rey mengusap air matanya dengan ibu jarinya, kemudian mengusap lembut pipinya.
''Tidak apa apa kak, aku hanya terharu kakak menyebut Aryan, putra kakak'' jawabnya lalu Rey mengambil Aryan dari gendongan Jane.
''Memang dia putra ku Jane, dia ada setelah kita menikah"
" Tapi kita sudah berpisah kak'' jawanya sendu
''Sudah, jangan membuat kakak semakin bersalah, jalani saja kedepannya seperti apa, Ayo kita kembali nanti Meli mencari ku, dan Biar Aryan bersama ku sebentar dan nikmatilah pesta keluarga mu''
''Iya'' jawab jane lalu mereka kembali ketempat masing masing tanpa ada yang curiga.
* * * * **
terima kasih
__ADS_1
like. komen, Rate and vote.