
''Kalian dari mana?'' tanya Syasa melihat Abi dan Luna saling merangkul sambil tertawa cekikikan di lobby hotel.
''Hehe, jalan jalan ma ke pantai, tapi...eum..'' jawab Luna yang tidak melanjutkan kalimatnya dan justru tertawa bersama Abi
''Kalian berdua kenapa malah tertawa?'' tanya Syasa heran lalu Luna dan Abi menceritakan semuanya dan akhirnya Syasa pun ikut tertawa.
''Suger daddy , Suger baby, awas saja kalian berdua mempunyai niat seperti itu'' jawab Syasa menunjuk anak dan adiknya
''Apa bedanya kak Jane sama kak Amar'' desis Luna yang mengetahui jarak usia Jane dan Amar yang terpaut 15 tahun.
''Beda konteks'' saut Syasa lalu berjalan menuju restoran hotel menyusul yang lainnya dan di ikuti Abi serta Luna yang masih tertawa kecil di belakang Syasa.
Restoran hotel hampir penuh dengan keluarga Syasa dan Amar, mereka duduk berdampingan di meja masing masing dan sang pengantin di meja khusus yang sudah di sediakan.sementara itu Laras masih sibuk sendiri di meja makannya, ia sedari tadi memainkan ponsel karena sedang mengecek pekerjaannya.
Martin yang melihatnya begitu kesal dan merebut ponsel Laras dengan kasar lalu melempar ke lantai, Laras terkejut terlebih semua orang, Laras dan Martin kini menjadi pusat perhatian keluarganya dan keluarga Amar. Laras benar benar emosi lalu tanpa segan menampar Martin.
''Plakkk''
''Apa maksud mu!'' ucap Laras dengan nada tinggi, lalu ia berdiri dan melihat tajam Martin, Martin terdiam sejenak dan melihat Laras, kemudian melihat sekelilingnya. Martin mencoba sabar dan tenang lalu berdiri dan memegang kedua pundak Laras kemudian menyuruhnya duduk. namun Laras tidak mau dan memilih mengambil ponselnya, namun saat ingin mengambil Martin sengaja menendang ponsel milik Laras. Lagi lagi itu membuat Laras semakin emosi
''Apa maksud mu hah!'' ucap Laras emosi sembari mendorong dorong Martin , dan membuat kesabaran Martin pun jebol
''Dewi Larasati balder!, ini acara keluarga kita, acara adik mu, dan kamu sibuk dengan ponsel mu hah ..! apa itu pantas, sudah berulang kali aku katakan pada mu, aku tidak menyukai saat di meja makan kamu justru lebih mementingkan ponsel mu!'' jawab Martin dengan nada tinggi.
Laras terdiam dan melihat sekelilingnya ia menyadari kesalahannya, namun ia tidak terima dengan sikap Martin yang seenaknya memarahinya di depan orang banyak. Laras beranjak pergi meninggalkan acara makan siang dengan menahan tangis dan rasa malu. Tak lama Martin menyusulnya.
Abi dan yang lainnya hanya menghela nafas panjang lalu menggelengkan kepalanya, Abi tidak mau lagi ikuti campur dengan masalah keponakannya karena mereka sudah dewasa, namun tidak dapat di pungkiri ego keduanya sama sama tinggi. Bryan dan Syasa hanya mengusap kasar wajahnya dan meminta maaf pada keluarga sang besan bahwa sang anak sulung dan suaminya sudah biasa seperti itu dan tak lama nanti juga berbaikan.
''Seperti ini keluarga mertua Amar , pantes saja anak perempuannya semua menjadi janda tidak mau menurut dengan suaminya'' bisik salah satu keluarga Amar dengan bahasa mereka sehingga Syasa dan Bryan dan yang lainnya tidak mengetahui.
''Amar maafkan kakak kakak ku, mereka sudah membuat keributan'' ucap Jane pada Amar , Jane merasa tidak enak hati pada keluarga Amar, baru pertama sudah memberi kesan yang buruk.
''Tidak apa apa, suami istri sudah biasa berselisih paham nanti juga berbaikan lagi dan mesra kembali'' bisik Amar di akhir kalimatnya lalu tersenyum begitu juga jane.
Martin meraih lengan Laras namun Laras menghempaskan nya dan melihat Martin tajam
''Sayang.. ayo lah jangan seperti ini '' ucap Martin membujuk Laras
''Seperti apa hah!, kamu mempermalukan ku di depan banyak orang Martin, kamu sengaja?'' jawabnya mendorong tubuh Martin. Martin mencoba bersabar dan dengan sigap langsung memegang pundaknya dan menahan tengkuk lalu mencium bibirnya, sejenak Laras meronta namun perlahan ia luluh dan membalas ciuman suaminya, ah Laras kamu selalu luluh dengan ciuman Martin.
''Maaf'' ucap Martin saat melepas ciumannya dan melihat Laras masih memejamkan matanya. Laras tidak bisa lagi berkata kata karena memang itu kelemahannya, dan Martin mengetahui itu
''Ayo pulang ke Indonesia'' ucap Laras sedikit salah tingkah. Martin tersenyum melihat Laras yang sudah melunak. Lalu mereka menuju kamarnya dan memilih makan siang di kamar hotel saja. dan sorenya memutuskan untuk pulang ke Indonesia.
✨
''Pa..pa..'' suara anak kecil terdengar di dalam mimpi Rey, hingga ia terbangun dari tidurnya dengan nafas tidak teratur , Meli yang mendapati suami terbangun dengan raut wajah kebingungan pun heran dan ikut bangkit dari tidurnya.
''Rey kamu kenapa, mimpi anak itu lagi'' tanya Meli mengusap lengan Rey
''Iya Mel.. berbulan bulan mimpi itu selalu hadir, anak laki laki, kecil mungil langkahnya yang lucu, dia datang menghampiri ku dan memanggil ku papa, tapi siapa?'' jelas Rey dengan segala kebingungannya selama beberapa bulan ini, bermimpi selalu bertemu dengan anak laki laki dan memanggilnya papa, dan bagi Rey mimpinya itu sangat jelas.
''Apa kamu tidak mempunyai firasat apa pun tentang Jane, apa kamu tidak menanyakan kabar Jane pada tuan Krisna, firasat ku mengatakan sebelum Jane berpisah dari mu Jane tengah mengandung anak mu dan dia menyembunyikannya'' beber meli yang jauh hari mempunyai firasat jika Jane pasti mengandung anak dari Rey
__ADS_1
''Dari mana kamu tahu'' tanya Rey , dan meli hanya tersenyum
''Aku istri mu, dan kala itu Jane juga istri mu, dan aku yakin Jane mengandung anak mu, tapi waktu itu aku belum begitu yakin, tapi setelah mengetahui kamu bermimpi terus menerus tentang anak laki laki itu, aku jadi semakin yakin Jane mempunyai anak dari mu, ikatan ayah dan anak itu pasti ada, walau tidak pernah saling bertemu'' jelas meli tanpa beban dan memang benar apa adanya meli siap menerima anak Rey dari jane
''Lalu aku harus bagaimana mel''
''Cari tahu kabar Jane, jika tuan Krisna bungkam, aku yakin Elsa tidak akan melakukan hal yang sama'' jawab meli meyakinkan Rey
''Meli..'' ucap Rey lalu memeluk Meli
''Maafkan aku dari awal pernikahan aku sudah banyak menyakiti mu'' balas Rey memeluk erat Meli, Meli tersenyum dan mengusap punggung Rey.
''Sudah, semua sudah digariskan dan di takdirkan, jadi tugas kita hanya mensyukuri, dan ikhlas menjalaninya, jika itu benar adanya aku tidak keberatan menerima anak itu dengan tangan terbuka'' jelas meli melihat Rey lalu tersenyum. Rey semakin tidak bisa berkata apa pun, ia merasa seperti bukan menikahi wanita biasa melainkan malaikat berwujud manusia.
''Mel.. hati mu terbuat dari apa?''
''Dari kapas'' jawab meli lalu tertawa kecil di ikuti Rey, meli hanya ingin mengibur Rey yang beberapa bulan ini nampak gelisah
''Aku hanya orang biasa, dan kebetulan bertemu dengan mu dan jatuh hati pada mu, dan hati ku sudah aku serahkan semuanya pada mu''
''Meli...'' ucap Rey yang langsung memeluk Meli kembali.
''Sudah tidur lah lagi, ini masih larut malam'' balas meli lalu keduanya berbaring, meli membelakangi Rey dan Rey memeluk Meli dari belakang, keduanya sepakat untuk tidur namun tidak dengan pikirannya Rey, Rey memikirkan mimpinya, mimpi yang terus hadir beberapa bulan terakhir.
''Semoga Tuhan memberikan jalan terbaik'' batin Rey mempererat pelukannya pada meli dan Meli hanya tersenyum dan membalas dengan menggenggam jemarinya.
Keesokan harinya setelah Rey dari toko dan bertemu dengan beberapa penyewa apartemen serta rukonya, Rey bergegas menemui Krisna di kantornya, ia berjalan masuk lobby kantor dan langsung menuju lift, tidak ada yang berani menghentikan langkahnya karena karyawan mengira ia masih bekerja menjadi asisten krisna namun sedang di tugaskan di luar kota.
''Pagi Kris..'' sapa Rey saat masuk ke ruangannya
''krisna aku datang kemari ingin menanyakan kabar Jane? tanya Rey tanpa basa basi namun Krisna tertawa kecil dan memang sudah paham watak sang sahabat jika menanyakan sesuatu tidak mau berbasa basi dan langsung pada pokok intinya
''Untuk apa? kalian sudah berpisah, jika kamu menanyakan kabarnya dia baik, dia sudah menikah lagi dengan dosen nya yang berasal dari Pakistan, dia sudah mendapatkan kebahagiaannya walau usia suaminya jauh lebih tua dari ku'' jelas Krisna lalu ia berdiri dan menghampiri Rey.
''Bukan itu yang aku maksud?''
''Lalu?''
''Anaknya?'' jawab tegas Rey melihat sorot mata Krisna, Krisna terlihat sedikit gugup pasalnya ia sudah berjanji pada Jane agar tidak memberitahu Rey.
''Jawab jujur Kris!'' nada tinggi Rey seraya meraih kerah kemeja Krisna
''kamu tidak bisa berbohong pada ku Kris!'' ucapnya lagi dengan nada yang sama, dan Krisna mencoba tenang lalu melepaskan tangan Rey dari bajunya.
''iya, Jane mempunyai anak dari mu dan usia bayinya baru tiga bulan lebih 2 Minggu'' jelas Krisna melihat raut wajah Rey yang seperti tidak percaya, Rey terduduk di kursi di depan meja Krisna. ia terdiam membayangkan Jane menjalani kehamilan tanpanya
''siapa namanya?'' tanya Rey lirih
''Reymond Aryan khan''
''khan?, kenapa tidak ada nama belakang ku Prakoso dan justru Khan?'' tanya Rey tidak habis pikir
''untuk itu kamu tanyakan sendiri pada Jane dan suaminya, kenapa nama suami Jane yang ada di belakang nama Aryan'' jawab Krisna melihat Rey yang nampak tidak terima.
__ADS_1
''aku akan menyusulnya ke New York''
''kamu gila, kamu ingin merusak kebahagiaan adik ku hah! , Rey asal kamu tahu, Jane mati Matian melupakan mu, di saat bersamaan ia harus menjalani kehamilan tanpa orang yang ia cintai dan itu menyakitkan, beruntung ada Amar yang selalu ada dan membantunya di saat ia butuh sandaran''
'' aku hanya ingin bertemu anak ku, bukan merusak kebahagiaan Jane dengan suaminya''
''aku bilang jangan Rey, jangan menggoyahkan hati Jane dengan cara kamu mendatanginya''
''bukankah jane sudah menikah?''
''Tapi dia masih mencintaimu!, tolong ..Jane masih labil dan bingung dengan perasaannya ,beri Jane kesempatan untuk belajar mencintai suaminya, jika kamu ingin menemuinya langsung, mungkin tahun depan , tahun depan Jane sudah wisuda dan setelahnya Jane dan suaminya dan juga anak mu akan kembali ke Indonesia, dan kamu boleh menemuinya '' beber Krisna yang tahu betul isi hati adiknya namun Rey langsung pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun.
''Sial..'' umpat Krisna mengusap kasar wajahnya lalu melihat pintu ruangannya. Krisna paham betul jika Rey sudah diam, Rey pasti nekat menemui Jane lebih tepatnya menemui sang anak.
✨
Bandara
Akhirnya Martin dan Laras benar benar memutuskan untuk pulang ke Indonesia lebih dulu dan sang Adik Luna ikut pulang karena sudah sangat rindu dengan sang kekasih Attar.
Attar menjemput Luna di bandara, padahal tanpa di jemput pun Luna bisa pulang bersama sang kakak Laras.
''kakak..!'' teriak nya saat melihat Attar ia berlari menghampiri Attar lalu menghambur ke pelukannya sampai berputar putar. mereka benar benar melepas rindu.
Kini Attar menggendong Luna di depan seperti anak kecil dan Luna mengaitkan kakinya di belakang pinggang Attar serta memeluk Attar. Martin dan Laras yang melihat mereka berdua hanya tertawa kecil dan mengingat masa masa awal menikah, saat tubuh Laras belum begitu berisi. sementara itu Daren dan Amara melihat Luna dan Amar merasa sedikit muak namun tidak mereka tunjukkan pasalnya sudah menjadi makanan sehari hari mereka melihat kedua orang tuanya bermesraan.
''Jangan berharap aku akan menggendong mu seperti itu lagi'' ucap lirih Martin pada Laras yang berjalan di sampingnya.
''iya aku paham, pinggang mu sudah tidak sekuat dulu'' jawab Laras menahan tawa, Martin menyeringai melihat sang istri lalu menggelengkan kepalanya
''ada anak anak'' balas Martin menoleh kebelakang melihat Daren dan Amara yang mengikuti langkahnya di ikuti petugas bandara yang membawakan koper koper mereka menuju keluar bandara
''kak, aku pulang sama kak Attar nanti aku menginap di rumah kak julio''
''iya hati hati dan jangan macam macam, Attar jaga adik ku'' pesan Laras saat mereka hendak masuk kedalam mobil masing-masing. seperti biasa Attar menggunakan mobil Luna karena Lunau yang memintanya.
''iya kak pasti, kami duluan'' pamit Attar lalu masuk kedalam mobil bersama Luna dan langsung melajukan mobilnya.
''kak Attar Luna rindu'' ucap Luna manja saat di dalam mobil dan meraih jemari Attar, Attar tersenyum melihat sang kekasih yang terlihat jelas sedang merindukannya
''iya kakak juga merindukan mu'' balas Attar mencium punggung tangan Luna seraya tersenyum
'' oh ya mau langsung ke rumah Julio atau mau melihat pembangunan rumah kakak'' tanya Attar sekilas melihat Luna lalu fokus kembali ke jalan.
''langsung ke rumah kak Julio kak, Luna takut kak Yuna mengkhawatirkan ku , karena tadi aku sudah menghubunginya, dari bandara mau langsung ke rumah, pasti kak yuna sudah menunggu''
''iya baiklah, tidurlah nanti kalau sampai di rumah Julio kakak bangunkan'' balas Attar mengusap lembut rambut Luna, Attar tahu jika Luna pasti kelelahan setelah perjalanan begitu lama dari New York ke Jakarta
''iya kak, aku memang mengantuk dan lelah, semua bagian sendi ku rasanya sakit semua, sudah seperti Oma Wina '' kelakar Luna dan kedua tertawa .
''Kamu bisa saja tidak boleh seperti itu , Oma masih tetap cantik walau sudah mempunyai cicit'' jawab Attar mengacak lembut rambut Luna dan mereka tertawa kecil, tak lama Luna memutuskan untuk memejamkan matanya dan Attar fokus menyetir seraya sesekali mengusap kepala Luna
* * * * * *
__ADS_1
terima kasih
komen like dan vote jangan lupa 🤗