TAKDIR 2

TAKDIR 2
18 lepaskan jane


__ADS_3

''jane hati hati... ayo aku bantu'' ucap Amar membantu Jane menuruni anak tangga di depan kampus saat pulang kuliah. lalu amar mengambil buku yang di pegang Jane dan memegang tangannya.


''terima kasih pak'' jawab Jane lalu Tersenyum sambil tangan satunya memegang perutnya yang sedikit sudah terlihat membuncit


''jam kuliah sudah berakhir, panggil nama saja seperti biasa'' protes amar lalu tersenyum dan menuruni anak tangga


''iya maaf.. '' jawab Jane lalu mereka berdua berjalan kaki menuju halte untuk menaiki bis


''duduklah'' ucap Amar mempersilahkan Jane untuk duduk di kursi halte dan ia pun duduk di samping jane


''apa kamu ingin minum'' tanya Amar


''tidak Amar terima kasih'' jawab Jane lalu tersenyum. banyak pasang mata yang melihat Jane dan Amar, mereka mengira Jane dan Amar adalah sepasang suami istri.karena perlakuan Amar sangatlah manis, seolah sedang menjaga dan menemani sang istri tengah hamil


''Amar apa bisnya masih lama'' tanya Jane sambil melihat jam tangannya


''sepertinya iya, bagaimana jika naik taksi saja'' jawab Amar


''boleh.. aku ada janji dengan dokter kandungan''


''astaga.. aku lupa hari ini jadwal pemeriksaan mu, ya sudah tunggu disini aku akan menyetop taksi'' balas Amar lalu berdiri dan menyetop taksi. setelah taksinya berhenti amar membukakan pintu mobilnya lebih dulu lalu membantu Jane membawakan barang bawaannya.kemudian mereka masuk ke dalam taksi


''mayo clinic pak'' ucap Amar setelah menutup pintunya. sedangkan Jane hanya memandangi laki laki yang usianya jauh lebih tua 15 tahun darinya. bahkan hampir setiap hari amar selalu ada untuknya. di kampus, pusat perbelanjaan bahkan saat Jane pulang ke apartemen pun Amar selalu ada di sampingnya hanya waktu malam saja Amar kembali ke apartemennya


''baik tuan'' jawab sang sopir taksi lalu melajukan mobilnya.


''Amar.. boleh aku menanyakan sesuatu padamu'' tanya Jane sedikit memiringkan tubuhnya agar menghadap ke arah Amar


'' tentu ''


''kamu selalu menemani ku, apa nanti tidak ada yang cemburu?'' tanya Jane serius namun Amar hanya tertawa


''yang cemburu pada mu itu tembok di kamar apartemen ku'' jelas amar lalu tersenyum kemudian meraih jemari Jane dan menepuk nepuknya


''dengar, aku belum menikah jadi kamu jangan khawatir'' jelas Amar lalu melepas tangannya dari jemari Jane dan menghadap ke depan


''eum.. tapi bukankah di negara asal mu, kamu di jodohkan dengan sepupu jauh mu?''


''iya.. tapi aku mempunyai jalan dan pilihan sendiri dan orang tua ku memaklumi pilihanku dan itu tidak bisa di paksakan, apa lagi masalah hati''


''oh.. begitu'' jawab Jane lalu tersenyum simpul membayangkan tradisi negara asal Amar Pakistan.


''sekarang ceritakan tentang mu'' ucap Amar yang sebenarnya ingin tahu kenapa Jane bisa hamil dan sampai tinggal di new York


''kamu benar amar masalah hati tidak bisa di paksakan'' jawab Jane sendu sontak Amar melihat ke arah Jane


''aku pernah memaksakan hati seseorang untuk mencintai ku tapi aku baru sadar saat mengandung anaknya, jika cinta tidak bisa di paksakan dan akhirnya aku memilih untuk berpisah dengan suami ku walau keadaanku sedang hamil'' jelas Jane sambil meneteskan air matanya. Amar hanya menyimak penjelasan Jane.


''apa suami mu mengetahui jika kamu hamil?'' tanya Amar melihat lekat Jane yang sedikit menunduk namun Jane menggelengkan kepalanya.


'' tidak.. aku sengaja tidak memberitahu demi menjaga hati istri pertamanya yang juga sedang hamil, biarkan takdir saja yang mempertemukan anak yang ada di dalam kandungan ku ini dengan papanya'' beber Jane lalu tersenyum simpul dan melihat Amar


''Tuhan akan mengganti pengorbanan mu dengan kebahagiaan di masa depan'' jawab Amar lalu tersenyum dan meraih jemari Jane seolah memberi kekuatan. Jane tersenyum dan menyeka sisa air matanya dengan tangan satunya


''aku pikir kamu Gadis nakal saat di negara mu ternyata kamu datang kemari untuk menjauhinya suamimu demi istri pertamanya, aku yakin tidak mudah bagi mu menjalani masa kehamilan mu tanpa suami. tapi aku salut dengan mu kamu begitu tegar'' batin Amar yang masih menggenggam jemari Jane

__ADS_1


''maaf tuan nyonya, kita sudah sampai di mayo clinic'' ucap sang sopir tiba tiba


''Ah.. iya terima kasih'' jawab Amar lalu membawakan barang milik Jane dan mereka turun dari taksi tidak lupa Amar membayar taksinya.seperti biasa Jane langsung menemui dokter kandungan yang menanganinya karena sudah membuat janji dan kali ini Amar ikut masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.


''selamat siang nyonya'' sapa sang dokter saat Jane duduk di kursi di depan mejanya lalu melihat Amar


''selamat siang tuan, sepertinya hari ini anda bisa mengantarkan istri anda untuk pemeriksaan'' ucap dokter mengira Amar suami Jane lalu tersenyum begitu juga Amar,


''buk.. '' ucap Jane terputus karena Amar memegang pundaknya, dengan maksud biarkan saja dokter mengira ia suaminya, lalu Amar duduk di sebelah Jane kemudian Jane mengeluarkan buku pemeriksaannya. setelahnya dokter memeriksa Jane dengan cara USG, dan Amar tidak segan untuk melihat hasil USG yang ada di layar monitor dan di samping Jane


''bayinya seperti Sangat aktif nyonya, Sekarang memasuki 18 Minggu nyonya'' ucap sang dokter. Amar dan Jane takjub melihat bayinya yang begitu aktif dan sehat


''dok apa boleh tahu jenis kelaminnya'' tanya Jane tersenyum melihat gambar bayinya di layar monitor begitu juga Amar


''sebentar nyonya, eum... sepertinya bayi anda malu malu, masih tertutup kakinya'' jawab dokter .


''ya sudah dok tidak apa apa'' jawab Jane lalu tersenyum, tak lama dokter selesai memeriksa nya kemudian Jane bangun di bantu Amar lalu mereka duduk kembali di kursi didepan meja sang dokter.kemudian dokter memberikan resep vitamin pada Jane. setelahnya Jane dan Amar keluar dari ruangan dokter.


''Amar.. terima kasih selama ini kamu menemaniku dalam hal apa pun'' ucap Jane saat mereka berjalan di lorong rumah sakit


''tidak perlu berterima kasih, aku senang menemanimu'' jawab Amar lalu tersenyum kemudian meraih jemari Jane pandangannya kini lurus ke depan seolah bangga menggandeng Jane . Jane hanya tersenyum dan mengikuti langkah Amar yang mengimbangi langkahnya


''jadi seperti ini di perhatikan, kak meli pasti sangat bahagia karena sudah tidak ada lagi yang mengusiknya. mungkin rasa ini yang di rasakan kak meli'' batin Jane melihat Amar yang begitu tulus selalu menemaninya. tak lama ada taksi yang menghampiri mereka. lalu keduanya masuk dan menuju apartemen Jane.


sesampainya di apartemen. Jane dan Amar masuk dan di sambut Maria sang maid yang setia menyiapkan segala keperluan dan kebutuhan Jane.


''selamat siang nona, tuan '' sapa Maria pada Jane dan Amar saat keduanya masuk


''siang Maria..'' balas Jane lalu tersenyum dan terus berjalan menu meja makan di ikuti Amar


''maria masak apa hari ini''


''Amar ayo kita makan , aku lapar sekali'' ucap Jane lalu duduk di ikuti Amar.


ya, Amar memang sering makan siang di Apartemen Jane dan Jane tidak keberatan karena Amar juga sering membawakan bahan makanan dan buah untuk Jane, agar Jane tetap makan makanan yang bergizi karena selama ini Jane berhemat biar bagaimanapun ia memang harus berhemat untuk biaya tambahan pemeriksaannya ke dokter. walau sang kakak Krisna setiap bulanya mengirimi uang untuk biaya hidupnya di new York akan tetapi Krisna tidak tahu jika sang adik mempunyai biaya tambahan untuk bayinya. Jane masih menyembunyikan kehamilan dari keluarganya di Indonesia.


Rey dan meli memutuskan untuk membuka usaha kue tradisional di salah satu ruko miliknya, walau dalam keadaaan hamil meli sangat cekatan dalam membuat kue bersama sang suami di bantu 15 karyawan dan kedua adiknya. Rey dan meli benar benar membuka usahanya dari nol. berkat Elsa yang mengajari meli membuat kue tradisional sewaktu masih belum bertemu suami masing masing, kini meli memanfaatkan keahliannya untuk membuat berbagai kue tradisional. bukan hanya kue tradisional. di toko meli juga terdapat kue kue modern dan minuman. serta terdapat kafe kecil untuk orang orang yang ingin memakan kue di tokonya.


dua bulan sudah usaha meli dan Rey berjalan, dan kandungan meli kini memasuki 6 bulan mereka berdua nampak bahagia. dan Julio diam diam selalu mengawasi mereka dan menunggu waktu yang tepat untuk masuk kedalam hubungan mereka. entahlah apa yang ada di pikiran Julio padahal Jane sudah baik baik saja.


Rey memutuskan mengontrakkan rumah miliknya agar ada tambahan penghasilan, dan sudah tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga dan memilih tinggal di rumah meli yang sederhana. mobilnya pun ia jual dan menggantinya dengan mobil bak terbuka agar usaha tetap berjalan.


ya.. hidup Rey benar benar berubah drastis dari yang bisa membeli segalanya dengan gaji berpuluh puluh juta kini hidup jauh dari kata mewah.kemana mana ia harus mengendarai sepeda motor miliknya yang dulu bersama meli. dan motor meli untuk andi sekolah bersama Amel. motivasi terbesar Rey mampu bertahan saat ini adalah janjinya pada meli untuk membiayai hidup adik adiknya dan sekarang meli sang istri tercinta tengah mengandung anaknya.


''sayang.. kamu istirahat saja biar nur dan Marni dan juga Roni yang melanjutkannya'' ucap Rey pada meli yang sedang menyusun kue di dalam kotak kue


''iya sebentar sedikit lagi'' jawab ya lalu tersenyum.


''roni nanti jangan lupa antarkan pesanan kue Bu Mega ya, semua ada dua ratus kotak, terus seratus lima puluh kotak ke rumah pak hamdan '' ucap meli pada Roni yang sedang menyusun kotak kue kedalam boks.


''baik Bu.. '' jawab Roni sopan lalu meli dan Rey istirahat di ruangannya , ruangan khusus untuk istirahat meli saat berada di ruko.


''tidur sianglah, kamu tidak boleh kecapean'' ucap Rey pada meli sambil membantu meli berbaring di sofa panjang, sofa khusus untuk meli tidur siang saat di ruko.


''terima kasih Rey.. kamu suami terbaik'' puji meli mengusap pipi Rey

__ADS_1


''kamu juga.. terima kasih sudah mau berjuang bersama menemani ku dari nol lagi'' balas Rey mengusap rambut meli


''sudah pasti Rey karena aku istrimu sudah seharusnya aku mendukungmu apa pun usaha mu'' jawab meli mencium telapak tangan Rey dan tersenyum.


''meli bersabarlah, nanti aku pasti akan membeli mobil untuk kita dan anak anak kita serta adik adik kita agar tidak kepanasan dan kehujanan''


''iya sayang.. pasti aku akan bersabar, tidak ada mobil juga tidak apa apa asalkan kamu selalu ada untuk ku'' jawab meli lalu tersenyum begitu juga Rey lalu Rey mengecup kening meli. kemudian Rey mengusap perut meli dan mengusap rambut meli sampai meli tertidur. setelah meli tertidur Rey keluar untuk membantu menyelesaikan pesanan pelanggan dan melayani pengunjung.


''selamat siang Rey.. '' sapa seseorang tiba tiba saat Rey sedang membungkus pesanan pelanggan


''hai.. siang krisna, Elsa.'' balas Rey tersenyum melihat kedatangan dua sahabatnya.


''semua tiga puluh ribu bu'' ucap Rey pada pelanggan saat pelanggan membayar kue nya


''ini kembalian Bu, terima kasih kunjungannya'' ucap Rey saat pelanggan hendak meninggalkan tokonya.


''apa kabar Rey. '' tanya Elsa saat Rey menghampiri


''baik els.. '' jawab Rey sambil mengajak mereka duduk di kursi di kafe kecilnya


''tidak biasanya orang super sibuk sepertimu bisa datang kemari siang siang seperti ini Kris'' tanya Rey saat mereka duduk.


''ini ibu hamil nyidam kue putu'' jawab Krisna melihat Elsa yang matanya melihat deretan kue dibelakang Rey dan Rey tertawa melihat ekspresi Elsa.


''tunggu aku ambilkan'' balas Rey lalu Rey mengambilkan kue yang di inginkan Elsa serta kue kesukaan krisna serta tidak lupa minumannya. Krisna melihat Rey begitu lekat dari kejauhan. Krisna yakin Rey bisa sukses dan bangkit mengembalikan ekonominya.


''nah.. ini dia kue putu meli'' ucap Rey meletakan nampan di atas meja di depan Elsa


'' wah.. terima kasih Rey '' jawab Elsa yang langsung memakan kuenya


''oh ya mana meli?'' tanya Elsa di sela makanya


''ada di dalam sedang tidur siang, kasihan dari pagi membantu membuat kue'' jawab Rey melihat Elsa dan krisna bergantian


''oh..'' jawab Elsa


''krisna.. bagaimana kabar Jane'' tanya Rey tiba tiba


''baik, kabarnya sedang dekat dengan dosen nya, kenapa kamu tiba tiba menanyakannya?'' tanya krisna heran.


''ah.. tidak tiga hari ini aku bermimpi dia pulang membawa seorang anak perempuan dan anak itu memanggil ku papa'' ujar Rey membayangkan mimpi mimpinya bersama Jane dan seorang anak perempuan


''mimpimu berlebihan Rey, atau jangan Jangan kamu merasa kehilangan adik ku'' goda krisna tertawa kecil


''bukan begitu Krisna aku hanya memastikan mimpi ku'' jelas Rey serius


''sudahlah mimpi mu hanya bunga tidur, fokus dengan meli dan usaha mu''


''Jane masih istriku Krisna, aku belum menjatuhkan talak padanya dan menandatangani surat perceraian itu'' jelas Rey sendu, Elsa dan krisna paham maksud Rey kenapa sampai saat ini Rey belum menjatuhkan talak pada Jane . Rey hanya ingin memastikan Jane hamil atau tidak


'' Rey.. sekarang begini, jika Jane hamil anak mu apa kamu tidak menalaknya atau justru sebaliknya, dengar Rey pikirkan perasaan meli jika dia tahu kamu belum menalak dan juga pikirkan Jane yang mati Matian melupakan mu, saran ku lepaskan Jane, jika memang dia hamil anak mu , Jane tidak sejahat yang kamu pikirkan pasti dia akan mempertemukan mu pada anak mu sendiri nanti'' beber Krisna melihat Rey


''tapi bagaimana aku menalaknya sedangkan aku tidak mempunyai kesempatan untuk bicara dengannya aku tidak mengetahui nomor ponselnya di New York, bahkan kamu tidak mau memberi tahu ku'' jelas Rey


''maaf Rey , ini semua keputusan Jane tidak ingin kamu menghubunginya karena ia benar benar ingin melupakan rasa cinta nya pada mu

__ADS_1


''ya kamu benar krisna, aku mengerti'' balas Rey lalu melihat Elsa begitu lahap memakan kuenya


* * * * * * * *


__ADS_2