
Persahabatan yang berubah menjadi cinta, atau cinta menjadikan sebuah persahabatan yang tidak ada satu pun yang yang di tutupi, semua lepas begitu saja. rasa kesal, suka, duka begitu meluap begitu saja tanpa ada satu pun yang di tutupi dan merasa canggung satu sama lain, dan anehnya tidak ada yang sakit hati dan dendam. Seperti halnya Rey dan Krisna, Meli dan Elsa, kini mereka sedang berkumpul bersama.
"Elsa apa kamu ingat, pertama kali bertemu dengan Krisna di sekolah'' tanya Rey pada Elsa yang sedang memangku Wisnu.
"Eum, ya masih, waktu itu saat aku baru pertama kali masuk ke kelas tiba tiba krisna tidak sengaja menabrak ku'' jelas Elsa mengenang awal bertemu dengan Krisna.
"Dan kamu tahu setelah itu"
"apa?
"krisna terus melamun tentangmu" jawab Rey di iringi tawa semuanya kecuali krisna yang menahan malu lalu melempar Rey dengan bantal sofa.
"Ya karena mungkin Krisna langsung jatuh cinta dengan Ku" Goda Elsa melihat Krisna.
"Siapa yang jatuh cinta dengan mu saat itu, jangan kepedean" sanggah Krisna bercanda lalu tertawa kecil
"Oh ya, jadi untuk apa kamu menunggu ku sampai sepuluh tahun, heum" balas Elsa tidak mau kalah lalu mendekatkan wajahnya, dan itu membuat Krisna salah tingkah.
"karena kamu cantik" jawab Krisna asal, walau kenyataannya memang Elsa cantik di matanya.
"Lihatlah Rey bahkan dia mengakuinya sendiri" jawab Elsa lalu tertawa.
"Mendengar cerita kalian semasa sekolah sepertinya sangat menyenangkan tapi tidak sewaktu aku pertama bertemu dengan Elsa, kita mempunyai cerita sendiri" saut Meli mengenang semuanya. mengenang susah Elsa dan kehidupannya, mereka benar benar berjuang suka duka berdua dan saling menguatkan sebelum bertemu dengan Rey dan Krisna.
"Meli tolong jangan ceritakan penderitaan kita, bisa bisa dua laki laki ini bisa menangis" jawab Elsa lalu mereka tertawa. namun krisna dan Rey hanya tersenyum, mengerti bagaimana keadaan mereka saat belum bertemu dengan mereka berdua.
Tak lama maudy berlari menuju tempat bermain milik Wisnu di ikuti Wisnu lalu Elsa dan Meli mengikuti anak mereka masing masing, sedangkan Krisna dan Rey berbincang.
"Rey.. kamu beruntung dan aku juga beruntung mendapatkan istri seperti mereka, tidak pernah mengeluh,tidak pernah protes ini dan itu, terkadang aku bosan hidup hanya monoton tapi aku selalu ingat penantian ku menanti Elsa bagaimana, sungguh aku beruntung Rey'' ucap Krisna
"Iya kamu benar Krisna, aku beruntung, Meli wanita sabar, ikhlas dan ibu yang baik, aku sangat menyayanginya, demi dirinya aku melepaskan cinta ku, entah benar atau tidak tapi aku tidak mau kehilangan Meli."
"Maksudmu?"
"Jane, aku mencintai Jane,tapi aku pikir melepaskan Jane lebih baik, karena Jane memiliki segalanya dan Meli, kamu tahu sendiri Meli bagaimana?'' jelas Rey. Krisna tersenyum sinis pada Rey, dan tidak habis pikir dengan jalan pikirnya
"Mungkin kamu beruntung mendapatkan Meli tapi kamu tidak menyadari ada dua hati yang kamu sakiti, pertama jane, kedua Meli. kamu mempertahankan Meli tapi kamu menyakiti Jane dan kamu mencintai jane dan secara tidak langsung Kamu menyakiti Meli.dan tanpa kamu sadari Jane lebih sakit dalam hal ini, kenapa? dia memiliki anak dari mu dan mengetahui kamu mencintainya tapi kamu lebih memilih bertahan dengan Meli" jelas Krisna lalu menepuk pundak Rey
"jika aku memilih Jane bagaimana dengan Meli, dan aku tidak akan pernah melepas Meli begitu saja"
"kamu hidup bersama Meli tapi hati mu menggenggam Jane. terserah kamu, yang terpenting Jane sudah bahagia dengan suaminya yang sekarang'' balas Krisna menatap Rey
"Jika sebaliknya" jawab Rey seolah tahu apa yang di rasakan Jane saat ini
"Apa kamu ingin memperistri adik ku lagi, Rey" jawab Krisna di iringi tawa
"Jika Meli mengizinkan" jawab Rey lalu tersenyum seolah Meli merestui lalu ia menghampiri Meli dan bermain bersama Wisnu. Krisna sejenak terdiam memikirkan sang Adik, Apa sang adik bahagia dengan seseorang yang jauh lebih tua terlebih beda dalam segala hal.
"Kenapa aku memikirkan ucapan Rey, Bagaimana jika Jane tidak bahagia dan menutupi semuanya, Ah tidak, Jane pasti baik baik saja , dan bahagia di sana'' batinnya lalu ia ikut bergabung bermain bersama anak dan istrinya.
* * * *
Krisna duduk terdiam memikirkan ucapan Rey kemarin lalu memikirkan sang adik Jane. tak lama ia mengambil ponselnya dan menghubungi Jane,
"Halo, ya kak"
__ADS_1
"Hai.. bagaimana kabarmu? apa kakak mengganggu istirahatmu" tanya Krisna tersenyum
"Ah, tidak kak aku baru saja terbangun, aku sedang menyusui Adnan"
"oh, begitu, jaga kesehatan mu ya"
"Iya kak, sudah ya kak, ada Am.." belum selesai Jane berbicara Amar merebut ponselnya
"siapa yang kamu panggil kakak, Apa mantan suami mu menghubungi mu di tengah malam?" ucap Amar emosi dan Krisna mendengar semuanya.
"Amar itu kak'' lagi lagi Amar menjambak rambut Jane sebelum Jane selesai berbicara dan masih memangku Adnan
"Ah.. sakit Amar lepaskan rambut ku" pekik Jane memegangi rambutnya dan seraya memangku Adnan,
"kakak siapa?''
"Kak krisna!!'' jawab Jane begitu lantang dan menatap tajam Amar, perlahan amar melepaskan tangannya lalu mengusap lembut rambut Jane lalu mencium pucuk rambutnya, dan sayangnya Krisan mendengar itu semua,lalu ia melihat layar ponselnya dan ternyata sambungan ponselnya sudah terputus.
"Ada yang tidak beres" batin Krisna saat menutup sambungan ponselnya, lalu ia mengusap kasar wajahnya. kemudian memutuskan untuk melanjutkan mengerjakan pekerjaan kantornya.
Seperti biasa Jane langsung diam lalu meletakkan adnan di boksnya lalu melihat Aryan di tempat tidurnya yang tidak jauh dari boks Adnan.Amar terus melihat Jane yang diam dan menahan tangisnya. Amar meraih tangan Jane lalu memeluknya.
"Maaf" ucapnya dan mengecup pucuk rambut Jane
"Mau sampai kapan kamu menyiksa ku, apa kamu tidak bisa mengurangi rasa cemburu mu yang berlebihan itu, Aku merasa sifat aslimu semakin nampak setiap hari" ucap Jane datar dan menahan tangisnya agar air matanya tidak jatuh.
"Jane aku sangat mencintai mu, aku tidak rela kamu berhubungan dengan laki laki lain"
"Tapi cara mu menyakiti ku Amar, Aku bisa saja membalas mu tapi aku tidak mau kurang ajar dengan suami ku" Jawab Jane melihat Amar
Setelah selesai melayani sang suami Jane membersihkan Tubuhnya di bawah shower dengan suhu hangat, ia menangis berfikir apa yang terjadi pada dirinya adalah kesalahannya masa lalu atau bagaimana?
"Apa dulu aku terlalu egois, apa ini karma ku terhadap kak Meli, apa ada yang kurang pada diri ku, apa aku dulu terlalu kasar dengan orang lain, sehingga aku mendapatkan pasangan yang juga sekarang aku tahu sifat aslinya" batin Jane yang terus menangis di bawah shower.
"Mama, papa Jane harus bagaimana, maafkan jane ma pa, mungkin Jane banyak dosa dengan mama dan papa dan ini semua hukuman yang harus Jane bayar, Ya Tuhan hanya diri mu yang bisa membolak-balik hati manusia tolong lembut kan lagi hati Amar , aku sudah tidak tahan, aku lelah'' batinnya lagi . lalu ia menyudahi mandinya dan keluar dari kamar mandi lalu mengeringkan rambutnya dan menggunakan baju tidur. setelahnya ia melihat sang anak kembali, ia mengusap adnan dan Aryan bergantian.
"Mama akan tetep bertahan dengan baba kalian, demi kalian sayang, biar mama yang menjalani ini semua, mama yakin nanti pasti baik baik saja" batinnya lalu menghapus air matanya. setelahnya ia berbaring di sebelah Amar dan membelakanginya. sadar ada seseorang yang berbaring di sampingnya amar pun langsung memeluk Jane dari belakang.
"kamu sudah mandi" tanya Amar memeluk Jane dari belakang dan mencium pucuk rambut Jane.
"Iya'' Jawab Jane singkat lalu menarik selimutnya dan Amar mempererat pelukannya dan Jane hanya diam lalu memejamkan matanya. Disisi lain Luna sedang sakit dan terpaksa Attar tidak bekerja, dan harus mengurusi Luna yang sedang sakit.
"Sayang minum obatnya ya''ucap Attar membawakan obat untuknya
"kak, mau ketemu papa" jawabnya manja dan itu membuat kekeh Attar,
"Kenapa kakak tertawa" Ucap Luna kesal
"Bagaimana kakak tidak tertawa kamu sakit seperti anak kecil, kamu itu sudah menjadi istri, jadi kalau sakit ya harus mencari suami bukan papa. jelas Attar lalu tertawa kembali
"Tapi Luna Rindu sama papa kak, sudah dua bulan Luna tidak bertemu papa" jawab Luna manja dan memeluk Attar. Attar tersenyum dan mengerti jika memang selama dua bulan terakhir ini belum mengunjungi Bryan dan syasa karena kesibukan keduanya, Luna sibuk dengan kuliah dan galerinya sedangkan Attar sibuk di kantor.
"Baiklah, hari ini kita ke rumah mama, menginap di sana tapi kamu harus minum obat lebih dulu'' Pinta Attar mengusap lembut pipi Luna
"Tidak mau, mau papa" rengek Luna yang tidak mau minum obat dan justru menyembunyikan wajahnya di dada Attar.
__ADS_1
"Ya sudah,kakak siapkan mobil lebih dulu, tapi janji sampai rumah mama kamu harus minum obatnya''
"Iya" jawab Luna bahagia lalu tersenyum seraya mengecup pipi Attar, kemudian Attar menyiapkan mobil dan menyiapkan keperluan Luna setelahnya memberitahu kepada asisten rumah tangganya bahwa mereka akan menginap di rumah orang tua Luna.
"Ayo" ajak Attar,lalu Luna bangun dari tidurnya dan berjalan perlahan di tuntun sang suami menuju mobil.Luna nampak bahagia duduk di mobil di samping Attar yang sedang mengemudi. kini ia paham sakitnya Luna di karenakan rindu dengan sang papa.Sesampainya di rumah,Luna langsung mencari sang papa dan meninggalkan Attar yang masih di mobil.
"Papa..!" panggilnya berlari kecil menghampiri Bryan yang sedang olah raga sore di taman belakang rumah bersama sang mama.Bryan menoleh kebelakang dan melihat Luna berlari.
"Luna" gumam Bryan tersenyum melihat sang anak
"Papa..'' Panggil Luna lalu memeluk sang papa.
"Astaga, kamu datang kenapa tidak memberitahu papa atau mama" tanya Bryan yang masih memeluk Luna
"Dadakan pa" saut Attar lalu menyalami Syasa kemudian menyalami Bryan
"Dadakan?''
"Iya pa, Luna rindu dengan papa" saut Luna yang langsung wajahnya berseri yang tadinya pucat.
"Iya sampai sakit' balas Attar lalu di iringi tawa semuanya.kemudiam Attar menceritakan semuanya.
"Dasar manja" ucap Bryan setelah Attar selesai menceritakan semuanya.lalu tersenyum dan merangkul Luna.
"Ya sudah, sekarang kamu mau makan apa?' tanya Bryan
"Eum.. bakso di kafe kak laras sepertinya enak pa, lalu batagornya kak yuna sepertinya enak juga dan sop iga buatan mama Luna juga mau, tapi Luna mau semua keluarga berkumpul" balas Jane yang membuat syasa dan Bryan saling pandang seolah sang anak sedang nyidam sedangkan Attar menggaruk tengkuknya, heran dengan permintaan sang istri yang mendadak begitu banyak.
''Sepertinya kita akan mempunyai cucu lagi mas?" Gumam Syasa melihat sekilas Luna. Bryan hanya tersenyum dan menuruti kemauan sang anak.
"Baiklah, papa undang semua kakak mu agar datang ke rumah kecuali kak siena dan Kak Jane, Karena mereka di New york" jawab Bryan lalu mereka masuk kedalam rumah. dan mempersiapkan apa yang di minta Luna.
Bryan memesan semua apa yang di minta Luna, memesan bakso dari kafe Laras dan batagor dari kafe Yuna serta Syasa memasak untuk sop iga permintaan Luna. Attar menyiapkan tempat di teras belakang rumah bersama beberapa asisten rumah tangga syasa.
Setelah semua tersedia satu persatu kakak, kakak Luna serta kakak iparnya dan keponakan pin datang.
''Ada acara apa ma, kenapa papa menyuruh kami datang'' tanya Laras yang dari kantor langsung ke rumah sang mama dan anak anak mereka menyusul.
''Hanya berkumpul saja, mama rindu kita berkumpul'' jawab Syasa menyambut semuanya. dan tidak memberitahu jika ini keinginan Luna, jika mengetahui pasti ada salah satu yang tidak datang. jika sang mama yang memerintah pasti tidak akan ada yang berani membantah.
''Kakak'' panggil Luna pada Julio, lalu menghambur ke pelukan sang kakak dan mereka berpelukan.
''Si manja'' balas Julio lalu tertawa melihat ekspresi Luna yang tidak menyukai jika di panggil manja.
''Sudah jangan seperti itu'' jawab Julio memeluk Luna lagi.
''Singa kakak mana?'' tanya Luna menanyakan Yuna.
''Sepertinya ke kamar menidurkan Emir, Emir sedang tidur'' jawab Julio lalu mengusap kepala Luna
''Oh..''jawabnya. lalu tersenyum. Luna nampak bahagia melihat semuanya berkumpul Namun ia juga memikirkan sang kakak Jane dan Siena tapi ia berfikir pasti mereka baik baik saja.
* * * * * *
Terima kasih
__ADS_1