TAKDIR 2

TAKDIR 2
56.Lelah


__ADS_3

Meli bermain bersama Aryan dan Maudy, tidak ada jarak antara mereka, Meli memperlakukan Aryan dan Maudy sama saja tidak ada perbedaan, hanya pola asuh saja yang berbeda. karena ia tahu anak laki laki dan perempuan harus berbeda cara pola pengasuhannya.


Meli sedikit kerepotan di tambah ia tidak menggunakan jasa baby sister, namun ia berusaha menjaga anak anak dengan baik serta mendidik adik adiknya dengan baik.


Rey memang beruntung sebagai laki laki dan suami, memiliki istri seperti Meli yang begitu sabar dan telaten dalam mengurus nya dan anak anak serta adiknya.


Rey melihat Meli sedang menidurkan anak anaknya , Maudy yang tidur di sebelahnya seraya memeluk perutnya sedangkan Aryan tidur di dadanya dan memegang pipi nya. pemandangan yang sangat mengharukan.


''Apa mereka sudah tidur?'' tanya Rey.


''sepertinya sudah?'' jawab Meli melihat Maudy dan Aryan satu persatu. Rey mengambil Aryan dari dada Meli lalu menidurkannya di sebelah Maudy, kemudian Meli bangkit dan merapikan rambutnya.


''Meli..'' panggil lembut Rey


''ya..'' jawabnya tersenyum melihat Rey merentangkan tangannya


''kemari lah'' jawab Rey lalu Meli pun masuk kedalam pelukannya Rey.


''Kamu lelah''


''heum'' jawabnya singkat dan tersenyum


''Peluk aku, lelah mu pasti hilang''jawab Rey mengusap punggung Meli dan memang obat palin ampuh untuk seorang istri ketika ia lelah dengan semua aktifitas nya di rumah adalah pelukan dan pengertian sang suami.


''Kamu memang pengertian Rey, Aku mencintai mu'' jawab Meli mempererat pelukannya.


'' Aku juga mencintai mu Meli, istri ku ,ibu dari anak anak ku'' jawab Rey dan keduanya tertawa kecil dan masih berpelukan.


''Kamu bisa saja, sudah aku siapkan makan malam untuk mu, dan kamu mandilah'' balas meli lalu melepaskan pelukannya. kemudian Rey menuju kamar mandi dan Meli menyiapkan makan malamnya.


''Kak.. '' panggil Amel saat Meli di dapur, Meli menoleh kearah Amel


''Ya, ada Mel, kamu belum tidur''


''Belum kak, Amel mau minta uang untuk membeli buku'' ucap Amel yang memang peralatan sekolahnya sudah harus semua di ganti.


''oh.. berapa?''


''Lima puluh ribu kak'' jawabnya lalu tersenyum.


''iya , tunggu ya kakak mau memasak untuk kak Rey dulu''


''Iya kak, Amel ke kamar ya kak''


''Iya.. '' jawab Meli lalu tersenyum dan mengusap lembut rambut adiknya. kemudian Amel pun menuju kamarnya


''Ternyata Adik ku sudah besar'' batin Amel yang melihat sang adik kini sudah remaja.


Meli memasak Nasi goreng sesuai permintaan Rey sebelum pulang. dan membuatkan jahe hangat untuknya.


''Rey.. nasi goreng nya sudah matang, dan ini jahe hangat untuknya mu'' ucap Meli saat Rey menghampirinya di meja makan.

__ADS_1


''heum.. aromanya menggoda'' jawab Rey lalu duduk di kursi.


''Makanlah ,aku mau ke kamar Amel sebentar '' balas Meli tersenyum kemudian Meli ke kamar adiknya.


''Amel..'' panggil Meli saat masuk ke kamar Amel dan melihat adiknya sedang membaca buku.


''ya kak''


''İni, gunakan dengan baik ya'' ucap Meli memberikan uang merah merah 2 lembar.


''kak, Amel cuma minta lima puluh ribu'' Jawab Amel heran, Namun Meli hanya tersenyum dan mengusap rambut sang adik.Meli paham jika sang Adik kini beranjak remaja sudah pasti mempunyai banyak kebutuhan.


''tidurlah sudah malam'' jawab Meli lalu tersenyum kemudian keluar dari kamar Amel.


''Amel kenapa?'' tanya Rey saat Meli duduk di samping nya


''Minta uang untuk membeli buku'' jawab Meli


''Oh.. bagaimana sekolah Andi dan Amel''


''Ya begitulah, Andi mendapat beasiswa sampai kelas dia lulus nanti'' jelas Meli. ya Andi adik Meli kini duduk di bangku SMA kelas satu, dan ia termasuk siswa berprestasi. semenjak Andi paham dengan perjuangan sang kakak ia giat belajar dan bertekad untuk membahagiakan sang kakak agar perjuangan sang kakak tidak sia sia.


''Bagus, Andi memang pintar'' balas Rey lalu tersenyum, kemudian melanjutkan makannya.


''Seharusnya, Anak seperti Andi masuk ke sekolah Mahendra school, di sana fasilitas lengkap, dan gurunya juga berkompeten'' ucap Rey yang memang ia seorang Alumi sekolah Mahendra dan ia sekolah di sana lewat jalur prestasi.


''semua guru sama Rey, mereka pasti akan memberikan yang terbaik untuk anak didiknya, fasilitas hanya pendukung'' jelas Meli


''Ya kamu benar'' jawab Rey lalu tersenyum.


Amar kini tengah melihat beberapa bahan makanan yang sudah mulai habis, iya melihat lemari pendingin dan lemari penyimpanan lainnya. dan juga melihat kebutuhan Jane di kamar dan kamar mandi. lalu ia mencatat semuanya apa saja yang harus ia beli Nanti. setelahnya ia menemui Jane yang tengah asyik bermain bersama Adnan.


''Jane ayo ikut'' ajak Amar


''Kemana?''


''Ke supermarket, bahan makanan kita hampir habis?'' jawab Amar lalu duduk di samping Jane.


''Iya tapi aku ganti baju dulu'' jawab Jane lalu beranjak ke kamarnya dan mengganti bajunya. dengan setelan celana Jane dan kaos santai serta mengikat rambutnya yang panjang seperti ekor kuda. lalu ia mengambil tas dan Gendongan untuk sang anak.


''Amar aku sudah siap'' ucap Jane melihat Amar sedang memakaikan sepatu pada Adnan. Amar melihat Jane dan sedikit kecewa Melihat apa yang di kenakan Jane.


''Jane bisa kamu mengganti baju mu dengan baju yang di kirim mama Tempo lalu atau pakai baju yang kemarin di kirim bibi untuk mu'' jelas Amar yang ingin Jane menggunakan baju dari negara asalnya.


''Amar ayo lah ini musim panas aku tidak mungkin menggunakan baju lengan panjang dan selendang.


''sayang.. ''


''Ok baiklah'' ucap Jane yang tidak mau berdebat dengan suaminya.lalu ia menggunakannya baju seperti permintaan Amar


''Masalah baju saja di permasalahkan'' batin Jane lalu keluar dari kamar. Amar melihat Jane dengan baju yang dia inginkan pun tersenyum lalu membenarkan selendang nya di lehernya.

__ADS_1


''Ayo'' ajak Amar lalu menggandeng Jane lalu mereka menuju supermarket dengan mengendarai mobil milik Jane.


Jane nampak kurang nyaman dengan bajunya, karena ini pertama kali menggunakannya di tempat umum dan bukan di negaranya sendiri, atau negara suaminya. memang banyak wanita yang menggunakan baju sepertinya tapi memang mereka dari negara asalnya Pakistan dan sudah terbiasa menggunakan.


''Amar aku tidak nyaman dengan baju ini, orang orang melihat ku aneh'' ucap Jane saat sudah berada di supermarket.


''santai saja sayang, kamu cantik, sudah jangan hiraukan mereka'' jawab Amar seraya tersenyum lalu mereka lanjut memilih barang barang kebutuhan sehari hari mereka.


Dengan canggung Jane memilih apa yang Amar catat di kertas catatan, Jane dengan cepat menyelesaikannya karena memang ia tidak nyaman di perhatiannya banyak orang.


''Amar sudah ayo cepat bayar dan kita pulang'' ucap Jane lalu mengambil Adnan dari Gendongannya.


''Kenapa terburu buru'' tanya Amar


''Aku lelah, bayar dan aku tunggu di mobil'' balas Jane lalu berjalan keluar menuju mobilnya seraya menggendong Adnan.


''Arrrq, menyebalkan'' ucap Jane kesal lalu membuka selendangnya yang menggantung di lehernya.


''Kenapa selendang nya juga panjang sekali?'' sungutnya lagi. sang Anak pun tersenyum melihat Jane mengerutu, Jane yang melihat senyum anaknya pun ikut tersenyum lalu mencium pipi sang Anak kemudian ia menyusuinya. Tak lama Amar datang dan memasukkan semua belanjaannya kedalam bagasi lalu masuk ke bagian kemudi.


''Sayang kamu kenapa terburu buru, biasanya kamu paling senang berbelanja?'' tanya Amar melihat Jane yang sedang menyusui anaknya.


''Aku lapar dan capek'' jawabnya datar.


''Ya sudah kita pulang'' jawab Amar lalu melajukan mobilnya.


Sepanjang perjalanan, Jane diam dan memilih tidur, sambil memangku Adnan. Dan Amar pun dengan pikirannya sendiri. sesampainya di apartemen Jane langsung menuju kamar dan menidurkan bayinya kedalam boks, setelahnya ia mengganti bajunya dengan baju santai.


''Amar yang melihat pun hanya menghela nafas panjang, dan menatap tidak suka dengan cara Jane yang langsung Menganti bajunya.


''Kamu bukan capek dan lapar tapi kamu hanya ingin cepat cepat mengganti baju mu?'' ucap Amar memperhatikan Jane mengikat rambutnya.


''Terserah aku tidak mau berdebat, aku sudah menuruti kemauan mu lalu di mana salah ku'' jawab Jane datar lalu ia duduk di kursi di depan meja riasnya dan melepas gelang gelangnya.


''Apa kamu tidak mau membuat suami mu senang'' Tanya Amar mendekati Jane


''Senang seperti apa lagi Amar, aku sudah menuruti semua kemauan mu, aku sudah berhenti dari perusahaan ku sendiri, setiap hari aku sudah di rumah seperti yang kamu mau, lalu kamu kurang senang apa lagi'' balas Jane dengan nada yang masih sama datar. Amar nampak tidak menyukai jawab Jane lalu ia meninggalkan Jane di kamar dan menutup pintu dengan kasar hingga membangunkan sang bayi sampai menangis.


''Amar..'' geram Jane lalu mengepalkan tangannya kemudian menghampiri sang bayi dan mendiamkannya. setelah diam ia menyusul Amat keluar.


''Apa maksud mu membanting pintu sampai anak kita terbangun. apa kamu tidak bisa pelan '' ucap Jane pada Amar yang sedang membereskan belanjaannya. Namun Amar hanya diam


''Amar jawab'' Namun Amar tetap diam dan melanjutkan membereskan belanjaannya


''Terserah'' jawab Jane lalu meninggalkan Amar menuju kamar.


''Apa begitu cara mu berbicara pada suami mu'' balas Amar saat Jane belum jauh


''Apa kamu bisa, tidak menjawab saat aku berbicara, Apa kamu tidak bisa menuruti ku, Aku ini suami mu, dan aku hanya ingin melihat isteri ku menggunakan apa yang menurut ku pas di mata ku saat di keramaian. jika di rumah silahkan kamu memakai baju pendek, celana pendek asal hanya aku yang melihatnya. Apa aku salah?'' Jelas Amar seraya berdiri dan melihat punggung Jane


''Salah, karena kamu terlalu memaksa ku, dan kenapa baru sekarang kamu mengatakan hal ini pada ku. kenapa tidak dari Awal sebelum kita menikah'' balas Jane tidak mau kalah, lalu ia membalikkan badannya dan melihat Amar

__ADS_1


''Aku juga mempunyai perasaan Amar,Aku bukan Boneka yang sesuka hati kamu mainkan atas keinginan mu sendiri. dan satu lagi Aku bukan wanita dari negara mu ,aku mempunyai prinsip sendiri, bagaimana aku menjaga diri ku sebagai istri dan ibu'' jawab Jane lalu ia ke kamar dan berharap Amar menyadari jika segala sesuatu tidak bisa dipaksakan. dan Jane memang sudah lelah menghadapi sikap Amar.


* * * *


__ADS_2