
Sekitar pukul 9 malam, Kyrana baru pulang setelah mengikuti acara tahlilan untuk nenek Isma. Dia melangkahkan kakinya naik ketangga dengan letih.
Ceklek
" Mas!" Kyrana terperanjat kaget saat melihat Gafa yang sudah duduk diatas ranjang.
" Mas, kamu sudah pulang?" tanya Kyrana dengan berbinar karena merasa lega melihat kepulangan suaminya.
Gafa tak menjawab lalu berdiri dan mendekati istrinya.
" Darimana kamu? Kenapa jam segini baru pulang?"
" Aku...aku habis dari rumah temanku Mas. Neneknya meninggal jadi aku melayat dan ikut tahlilan disana."
" Oh ya? Emang penting banget ya sampai jam segini baru pulang? Nggak inget sama status kamu sekarang?"
" Mas...aku inget kalau aku udah bersuami. Aku selalu mencoba menghubungi kamu tapi ponsel kamu nggak pernah aktif. Aku khawatir dengan keadaan kamu Mas. Kenapa malam itu kamu tinggalin aku gitu aja Mas? Bahkan kamu menghilang begitu tanpa kasih kabar?"
Gafa berbalik lalu duduk kembali diatas ranjang.
__ADS_1
" Aku cuti kuliah dan pergi liburan sama Tifana sekalian ngurus bisnis baruku. Itu alasannya kenapa aku pergi gitu aja."
" Apa Mas? Aku khawatir dengan keadaan kamu, kamu tinggalin aku sendirian dan sekarang dengan entengnya kamu bilang kalau kamu pergi liburan sama Tifana. Dimana pikiran kamu Mas!" Teriak Kyrana yang mulai terpancing emosi.
Gafa yang kesal mencengkram dagu Kyrana.
" Kamu makin berani sekarang ya Ky! Aku mencoba bersikap baik dan manis kekamu tapi kamu malah nglunjak. Ingat ya meskipun kamu istriku tapi kamu nggak ada apa-apanya dibanding Tifana. Kamu tu cuma upik abu yang naik pangkat jadi cinderela setelah aku nikahi!"
" Mas, kamu tega banget ngomong gitu sama aku. Tolong hargai perasaanku sedikit saja Mas. Kalau aku emang nggak berharga, kenapa kamu harus perkosa aku Mas? Kenapa?"
" Jangan salahin aku. Aku udah bilang kalau kamu yang menggodaku saat diapartemen!"
Kyrana mendekati Gafa lalu memeluk suaminya itu. Ia menyandarkan kepalanya didada Gafa.
" Mas, aku mohon demi janji suci pernikahan kita. Kamu tinggalin Tifana dan kita perbaiki semua Mas, hiks...hiks...hiks."
" Tinggalin Tifana? Kamu pikir selama ini aku nggak tahu kalau kamu sering bertemu dengan lelaki penjual martabak kesayangan kamu itu? Aku akan segera mengurus surat perceraian kita."
" Mas, aku nggak mau kita cerai."
__ADS_1
" Nggak mau katamu? Bukannya kamu sendiri yang ingin kita bercerai lalu sekarang kenapa kamu keberatan?"
" Maaf Mas, aku hanya emosi. Aku nggak bersungguh-sungguh mengatakannya Mas."
Gafa menarik tangan Kyrana hingga terjatuh diranjang. Gafa mengukungnya dengan sorot mata yang tajam.
" Mas."
" Layani aku untuk terakhir kali," ucap Gafa yang langsung melakukan aksinya.
Kyrana hanya diam membiarkan Gafa memasuki dirinya. Haruskah ini yang terakhir untuk mereka sebagai pasangan suami istri?
Meski diliputi rasa kecewa dan sakit hati tapi Kyrana tetap berusaha melayani suaminya dengan ikhlas. Bahkan beberapa kali Kyrana membalas ciuman dari Gafa yang terlihat begitu berhasrat.
Kyrana terbangun dengan kondisi yang masih tanpa pakaian. Kyrana meraba sebelah ranjangnya namun kosong dan itu artinya Gafa sudah bangun.
Dengan berusaha mengumpulkan tenaganya kembali, Kyrana bangkit dari tidurnya untuk membersihkan badannya yang terasa begitu lengket.
Selesai mandi, Kyrana turun kebawah namun ia tak menemukan suaminya dimanapun. Mungkinkah Gafa pergi meninggalkan dirinya lagi?
__ADS_1
Bersambung.....