
Pagi itu Kyrana tampak sudah rapi dengan kemeja bunga dan celana jeansnya. Setelah rapi ia membawa Elzan keluar kamar.
" Elzan, kita sarapan dulu ya sambil nunggu bu Fatim. Mulai sekarang Elzan sama bu Fatim ya karena bunda harus masuk kuliah lagi supaya bunda bisa cepet jadi dokter," ucap Kyrana pada Elzan yang tengah menatapnya sambil tersenyum.
Kyrana mulai menyuapkan bubur bayi pada Elzan. Ia juga sudah menyiapkan stok asi untuk Elzan dikulkas. Tak lama bu fatim pun datang kekontrakannya.
" Assalamualaikum, pagi mbak Kyrana. Mbak Kyrana sudah mau berangkat?"
" Waalaikumsalam, ia bu ini saya udah selesai nyuapin Elzan. Oh ya bu nanti kalau Elzan mau minum, asinya sudah saya siapin dikulkas. Nanti kalau ada apa-apa, bu Fatim bisa hubungi ponsel saya."
" Iya mbak. Pokoknya mbak Kyrana bisa ninggalin Elzan dengan tenang. Sini, Elzan sama ibu dulu," ucap bu Fatim sambil mengulurkan kedua tangannya.
Elzan tampak tak rewel seakan dia mengerti jika bundanya akan pergi belajar untuk menggapai cita-citanya.
Kyrana mengambil tas yang tadi sudah ia siapkan. Ia mendekati Elzan lalu mencium seluruh wajah putranya dengan gemas.
" Elzan sayang, bunda berangkat . Pokoknya nanti setelah selesai semua bunda bakal langsung pulang. Saya berangkat ya bu." Pamit Kyrana pada putranya dan juga bu Fatim.
Kyrana begitu bersemangat memulai lagi aktifitas perkuliahannya setelah ia cuti melahirkan. Ia berjanji pada dirinya sendiri. Elzan dan mama Faysa jika ia akan belajar dengan rajin supaya bisa lulus tepat pada waktunya.
****
Gafa tengah berkunjung keperusahaan papanya karena ia tadi hanya ada kuliah pagi. Ia bermaksud membantu papanya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.
" Bagaimana Gaf, lancar semua kan?"
__ADS_1
" Ya hanya ada beberapa kendala kecil Pah tapi Gafa bisa ngatasinya kok."
" Baguslah. Oh ya ngomong-ngomong sekarang Kyrana tinggal dimana ya? Apa kamu nggak denger kabar tentangnya?"
" Untuk apa sih Pah kita bahas dia? Dia bukan istriku lagi jadi dia sudah bukan tanggung jawabku lagi. Aku sama sekali nggak berniat ingin tahu tentang kehidupannya saat ini," jawab Gafa tak suka.
" Bukan begitu Gaf tapi kan...."
" Kalau Papah masih mau bahas dia lebih baik aku pulang saja."
" Baiklah. Selesaikan yang ini saja dan papa tidak akan membahasnya lagi."
Gafa tampak gusar dengan pertanyaan papanya. Ia pun buru-buru menyelesaikan pekerjaannya agar bisa cepat pulang.
Dalam perjalanan pulang, Gafa masih memikirkan ucapan papanya tadi. Ia menepikan mobilnya untuk menenangkan pikirannya sejenak.
" Tifana...dia sama siapa."
Baru saja Gafa akan turun namun kedua orang itu sudah melesat menggunakan motor balap.
" Aku harus kejar mereka!" ucap Gafa dengan kesal.
Gafa berusaha mengejar motor itu namun motor itu melaju dengan begitu lincahnya lalu masuk kegang sempit sehingga mobil yang Gafa kendarai tak bisa mengejarnya lagi.
" Kurang ajar! Nanti malam aku harus menemui Tifana untuk meminta penjelasan darinya!"
__ADS_1
Malam pun tiba, Gafa sudah berdiri tepat didepan pintu apartemen Tifana. Tak lama Tifana pun membukanya.
" Sayang...kamu datang kok nggak bilang-bilang?"
Gafa tak menjawab dan langsung menerobos masuk apartemen.
" Sayang, kamu kenapa kok wajahnya gitu? Kamu lagi marah sama siapa? Atau kamu lagi ada masalah?"
" Tadi sore aku nglihat kamu keluar dari minimarket sama cowok dan kalian pergi naik motor. Dia siapa Tif? Kamu selingkuh ya?"
" Kamu apaan sih main tuduh aja! Dia itu temen aku dari Bandung dan kebetulan dia lagi ada dijakarta."
" Tapi ku kelihatan seneng banget waktu itu? Dan kenapa kamu jalan sama orang lain tanpa ngomong aku dulu?"
" Habisnya aku kesel sama kamu! Kamu nolak waktu aku ngajak kamu nonton film makanya aku ngajak dia mumpung dia ada disini."
" Fan...aku udah bilang kan kalau aku lagi sibuk bantuin papa diper...."
" Kamu selalu gitu, sibuk terus! Aku kan juga pengen jalan sama kamu!"
" Kan dua hari yang lalu kita abis jalan Fan," ucap Gafa frustasi.
" Terserah deh. Kamu pulang aja, aku mau tidur!"
Gafa mengusap wajahnya lalu ia bangkit dari duduknya. ia kuliah, ia juga punya pekerjaan. Ia tak mungkin selalu menghabiskan waktu berdua bersama kekasihnya itu. Tapi ia juga tak ingin Tifana meninggalkannya jika gadis itu marah dam bosan akan kesibukannya.
__ADS_1
Bersambung....