
Yandri terlihat mondar-mandir didepan pintu ruang persalinan. Didalam sana ada seorang gadis yang dicintainya sedang berjuang melahirkan seorang bayi.
Ceklek
Suara pintu yang terbuka membuat Yandri segera menoleh kearah pintu.
" Gimana dok, keadaan istri dan bayi saya?" Tanya Yandri panik.
" Alhamdulillah, istri dan bayi bapak dalam keadaan selamat. Oh ya selamat ya Bapak atas kelahiran putranya," ucap sang dokter sambil mengulurkan tangannya.
" Terima kasih sekali dok. Apa saya boleh menengok mereka sekarang?"
" Tentu saja Bapak. Saya yakin ibu Kyrana sedang butuh anda saat ini."
Yandri segera masuk keruangan Kyrana. Ia melihat seorang suster yang tengah membersihkan bayi yang baru saja dilahirkan Kyrana.
" Ky, selamat ya. Kamu bisa melahirkannya dengan selamat."
" Makasih ya Mas, ini semua juga berkat kamu yang selalu mendukung dan ngejagain aku."
Oek oek oek
Suara tangisan bayi langsung mengalihkan perhatian keduanya.
" Ky, boleh aku mengadzani bayi kamu?"
__ADS_1
" Tentu saja Mas."
Yandri segera mengendong bayi Kyrana dengan sangat hati-hati kemudia ia mulai mengadzani bayi Kyrana.
" Siapa nama baby tampan ini Ky?"
" Namanya Elzan Nadito Mas ," jawab Kyrana sambil mengusap pipi bayinya penuh sayang.
Yandri menyerahkan baby Elzan pada Kyrana untuk mendapatkan asi pertamanya.
" Ya sudah Ky. Kamu susui dulu baby Elzan. Aku mau beli makanan yang enak buat kamu."
Kyrana mengangguk lalu kembali fokus pada baby Elzan. Kyrana meneteskan air mata saat melihat baby Elzan mulai menghisap asinya.
" Kamu adalah anugrah terindah buat bunda sayang. Bunda sangat menyayangimu. Kita pasti akan bahagia meski tanpa ayah kamu dihidup kita," ucap Kyrana menguatkan dirinya sendiri.
" Ky, kamu makan dulu sana. Biar aku yang jagain Elzan."
" Iya Mas. Aku titip Elzan sebentar ya."
Kyrana makan dengan cepat karna ia tak mau terlalu lama meninggalkan Elzan. Ia kembali ke kamar dan melihat Yandri tertidur disamping Elzan sambil memeluknya.
Andai saja Gafa yang saat ini tidur disamping Elzan sambil memeluknya pasti aku dan Elzan akan sangat bahagia. Tidak...aku harus berhenti memikirkannya. Ia sudah memilih gadis pujaannya. Sekarang hidupku hanya untuk Elzan.
****
__ADS_1
Gafa tengah menikmati akhir minggunya bersama Tifana. Ia mengajak Tifana ketaman untuk sekedar menikmati waktu berdua.
" Sayang, apa rencanamu setelah lulus nanti?"
" Aku akan memperlebar usahaku sambil membantu papa diperusahaan supaya papa nggak terlalu berat kerjaannya."
" Hanya itu?" Tanya Tifana sedikit kesal.
" Nggak...yang pasti aku juga akan segera menikahi gadis yang aku cintai."
Tifana tersenyum bahagia mendengar jawaban Gafa. Ia memeluk Gafa begitu erat.
" Makasih ya sayang. Kamu tahu, aku sangat bahagia karna kamu sudah bercerai dan menjadi milikku lagi."
Gafa membalas pelukan Tifana. Sekilas ia melihat seorang ibu yang tengah menggendong bayi. Entah mengapa hatinya terasa terenyuh melihat hal itu.
Semalam ia bermimpi melihat seorang bayi yang tengah menangis dengan kencang namun saat ia mendekat, bayi itu diam lalu menghilang.
" Huftt..." Gafa mengusap wajahnya dengan kasar.
" Kamu kenapa sayang?"
" Nggak...aku nggak kenapa- napa. Kita pulang yuk, udah mau sore juga."
" Oke tapi nanti malem ke apartemen aku ya. Aku ada tugas kuliah yang belum selesai."
__ADS_1
Gafa mengangguk lalu segera berdiri dan berjalan mendahului Tifana.
Bersambung....