Takdir Cinta Si Kembar

Takdir Cinta Si Kembar
Ingin pindah


__ADS_3

Kyrana terlihat sedang mengelap mulut Elzan yang belepotan sehabis makan. Ia begitu gemas dengan pipi putranya yang terlihat gembul seperti bakpao.


" Kamu kenapa Ky, kok senyum-senyum sendiri?"


" Eh ini Mas, aku gemes banget sama pipinya Elzan. Gembul bikin aku pengen nyubit pipinya," jawab Kyrana sumringah.


" Iya, Elzan tumbuh sehat dan makin pintar. Ibu-ibu sini aja gemes banget kalau mereka lihat Elzan pas aku bawa jalan-jalan."


" Alhamdulillah juga Elzan itu jarang rewel. Loh kamu belum siap-siap Mas?"


" Aku mau libur dulu Ky, capek banget. "


" Oh gitu. Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sama kamu Mas."


" Mau bicara apa? Ngomong aja sekarang."


" Ehmmm...aku berencana mau pindah kontrakan dekat kampusku Mas."


" Maksud kamu?"


" Aku pikir kita nggak mungkin selamanya tinggal bersama Mas karena kita bukan pasangan suami istri sungguhan. Sudah saatnya aku menjalani hidupku sendiri Mas."

__ADS_1


" Bukankah aku sering bilang kekamu supaya kita menikah Ky. Tapi kamu selalu menolak. Apa kamu nggak kasihan sama Elzan. Dia pasti butuh sosok seorang ayah," ucap Yandri meyakinkan Kyrana.


" Maaf Mas. Aku yakin kamu pasti dapat yang lebih baik dari aku. Aku akan berusaha menjadi ibu dan ayah buat Elzan. Aku berterima kasih atas semua kebaikan kamu dan segala yang udah kamu lakuin buat aku Mas."


" Aku mencintaimu Ky. Aku ikhlas melakukan semuanya dan kalau itu memang keinginan kamu maka aku tak bisa menolaknya. Aku akan membantu kamu menyiapkan semuanya tapi bagaimana nanti dengan Elzan?"


" Aku sudah minta tolong bu fatim buat njagain Elzan Mas."


" Ya sudah aku kekamar dulu."


Yandri kembali menatap Kyrana dari dalam.


Apa kurangku Ky hingga kamu selalu menolakku padahal aku sudah melakukan semuanya demi kamu.Tapi aku tidak menyerah sampai kamu bersedia membuka hati kamu buat aku.


Tifana tersenyum senang sambil memperhatikan kantung belanjaan yang berada dikedua tangannya.


Dia baru saja menghabiskan malamnya dengan pergi ke mall bersama Gafa. Ia tak menyia-nyiakan hal itu dengan meminta dibelikan tas dan baju branded yang sering dipakainya untuk kuliah.


" Makasih ya sayang. Kamu baik banget sama aku."


" Iya sama-sama. Aku juga ikut seneng kalau lihat kamu bahagia gitu. Aku pulang dulu ya."

__ADS_1


" Kamu nggak mau tidur disini aja?"


" Aku bisa digantung papah kalau aku sampai nginep disini. Ya udah aku pulang dulu yah," ucap Gafa sambil beranjak pergi.


" Sayang...kamu lupa sesuatu?" Teriak Tifana yang membuat Gafa menoleh.


" Apa?"


Tifana mengerucutkan bibir sambil menunjuk keningnya. Gafa yang mengerti pun langsung mendekati Tifana lalu mencium keningnya.


" Maaf ya aku lupa," ucap Gafa sambil mengusap rambut Tifana.


Setelah Gafa pergi, Tifana segera mencoba baju barunya.


Gafa menjatuhkan dirinya diatas ranjang. Ia mengusap wajahnya yang terasa lelah. Ia pun bangun lalu membuka laci. Ia mengambil sebuah kotak yang ternyata berisi cincin pernikahan.


Gafa memandangi cincin itu dengan wajah risau.


" Hah kenapa sih akhir-akhir ini aku sering mikirin dia.? Apa terjadi sesuatu sama dia? Tapi kalau pun iya bukankah itu bukan jadi urusanku lagi."


Klunting

__ADS_1


Gafa membuang cincin itu keluar dari atas jendela. Ia tak ingin jika mantan istrinya itu terus menghantui dirinya. Ia hanya ingin setia dengan Tifana tanpa ada gangguan.


Bersambung....


__ADS_2