
Pagi itu Kyrana dan Yandri tengah sarapan bersama. Yandri begitu menikmati sarapannya karena menurutnya masakan buatan Kyrana sangat lezat.
" Ky, masakan kamu enak banget. Makasih ya, oh ya besok aku akan anterin kamu ke kampus tapi tempatnya sedikit jauh. Sekitar satu jam dari sini."
" Makasih ya Mas atas pujiannya. Nggak masalah Mas yang penting aku bisa kuliah lagi. Kalau kamu sendiri rencana selanjutnya apa Mas?"
" Ya aku bakal bikin kios buat jualan martabak lagi. Oh ya Ky, untuk menghindari amukan warga, kita harus berpura-pura jadi suami istri supaya kita bisa tinggal bareng disini."
Kyrana diam dan menimang-nimang perkataan Yandri.
" Tapi Mas, aku kan bisa ngekos disekitaran kampusku nanti."
" Jangan Ky, aku nggak mau kamu jauh dariku. Disini aku yang bertanggung jawab untukmu. Ini kan hanya pura-pura demi keamanan kita."
" Ya udahlah aku ngikut Mas Yandri aja."
****
Gafa tengah menikmati status barunya sebagai seorang duda. Ia menambah kesibukannya demi melupakan kisah rumah tangga sesaatnya dengan Kyrana.
Ia bahkan menambah bisnis barunya tanpa harus menganggu kuliahnya. Ia pun kini kembali tinggal bersama orang tuanya seperti sebelum ia menikah.
Tok tok tok
__ADS_1
" Gaf, ayo sarapan dulu." Panggil Faysa dari luar pintu.
" Iya Mah, bentar lagi Gafa turun."
" Ya udah, ditunggu dimeja makan ya."
Tak lama Gafa pun keluar kamar lalu bergabung untuk sarapan bersama keluarganya.
" Gaf, muka kamu kelihatan capek banget. Kamu jangan terlalu sibuk dong kamu juga harus jaga kesehatan kamu," ucap Faysa sambil mengusap rambut putranya.
" Benar kata mama kamu Gaf. Kamu harus jaga kesehatan kamu dan konsentrasi untuk kuliahmu dulu." Sambung Gathan.
" Mah, Pah, Gafa baik-baik aja kok. Daripada Gafa manfaatin waktu luang buat nongkrong mending ya buat ngurusin bisnis aja."
" Ya udah terserah kamu yang penting semua aman terkendali."
Ia menunggu gadisnya itu diruang tamu karena sepertinya Tifana tengah bersiap namun tiba-tiba ia merasakan kepala berputar.
" Arghhh kenapa tiba-tiba rasanya pusing gini sih!" Erang Gafa sambil memegangi kepalanya.
Tifana yang seperti mendengar suara jeritan segera keluar dari kamarnya.
" Sayang kamu kenapa?"Tanya Tifana yang panik saat melihat wajah Gafa yang kesakitan.
__ADS_1
" Nggak tahu tapi tiba-tiba kepalaku pusing."
" Ya udah aku anterin kamu kerumah sakit sekarang."
" Nggak usah Fan, kamu berangkat duluan aja naik taksi. Aku istirahat aja disini, nanti juga sembuh."
" Tapi sayang...."
" Udah kamu berangkat aja. Nggak perlu khawatirin aku."
" Ya udah kalau kamu maunya gitu. Aku bikinin kamu teh panas dulu."
Tifana meletakkan teh panas diatas meja lalu segera berpamitan. Gafa meminum teh panas itu dengan perlahan lalu kembali merebahkan dirinya disofa.
Baru beberapa saat Gafa merasa pusingnya mereda, tiba-tiba ia kembali merasakan perutnya bergejolak.
Gafa berlari menuju wastafel lalu segera memuntahkan sesuatu yang ingin keluar dari dalam perutnya.
" Huek...huek..." Gafa memuntahkan isi perutnya sambil memijat tengkuknya sendiri.
Setelah agak reda ia kembali meminum teh panasnya untuk menghangatkan perutnya. Gafa yang merasa lemas segera merebahkan dirinya lagi disofa.
Ia memejamkan matanya yang terasa berat dan tubuhnya yang menjadi lemas setelah muntah tadi.
__ADS_1
Ia pun mengirim pesan pada Tifana untuk mengijinkan dirinya dikampus sebelum ia melanjutkan tidurnya.
Bersambung....