Takdir Cinta Si Kembar

Takdir Cinta Si Kembar
Keresahan


__ADS_3

Kyrana menatap seluruh dadanya yang memerah hingga keperut. Bahkan kedua pahanya pun tak luput dari keganasan bibir Gafa.


Kyrana menangis, mengapa Gafa harus melakukan hal ini lagi padanya.


Ceklek


Gafa membuka pintu kamar Kyrana sambil membawa nampan yang diatasnya terdapat segelas susu dan roti selai cokelat.


" Baru mau aku bangunin tapi ternyata kamu udah bangun. Aku udah buatin kamu susu sama roti."


Kyrana meminum susu itu tanpa menjawab Gafa. Ia memang merasa lapar setelah Gafa menguras tenaganya tadi.


" Aku mau jemput Elzan dulu. Kamu buruan mandi ya atau mau aku mandikan?" Tanya Gafa yang dijawab Kyrana dengan gelengan kepala yang pelan.


Gyut


" Ah Gaf! Turunin aku." Kyrana kaget saat Gafa tiba-tiba mengangkat tubuhnya hingga selimut yang ia gunakan lepas dan kembali menampakkan tubuh polosnya.


" Gaf, turunin aku. Aku bisa sendiri."


Gafa tak mendengarkan rengekan Kyrana dan tetap membawa wanita itu ke kamar mandi. Ia mendudukkan Kyrana diatas kloset dengan gerakan pelan.


Kyrana menunduk sambil menutup kedua organ sensitifnya karna tak ingin terlihat oleh Gafa. Wajahnya terangkat saat Gafa menarik dagunya.


" Maaf ya jika aku tadi terlalu kasar. Pasti tubuhmu sekarang merasa sakit. Aku akan mandiin kamu terus kamu bisa istirahat," ucap Gafa lalu kembali melepas pakaiannya.


" Gaf kenapa lepas baju?" Tanya Kyrana takut.


" Aku kan mau mandiin kamu jadi kalau aku nggak lepas baju nanti bajuku basah semua."

__ADS_1


Perlahan Gafa membasahi tubuh Kyrana. Ia mulai menyabuni punggung Kyrana dengan gerakan pelan.


" Gaf, jangan." Tolak Kyrana saat Gafa mulai membenamkan kepala didadanya.


" Tenang, aku hanya ingin meminumnya sebentar saja," jawab Gafa dengan suara parau.


Tangan Gafa terus turun hingga sampai dititik sensitif Kyrana.


" Gaf jangan. Badanku sudah tidak kuat lagi."


Tanpa kata Gafa mengangkat tubuh Kyrana hingga bersandar didinding dan memepetnya hingga membuat Kyrana kembali waspada.


" Gaf jangan." Tolak Kyrana yang merasa lemas.


" Tenang sayang. Ini akan sangat pelan. Aku janji setelah ini kamu benar-benar akan beristirahat." Bisik Gafa ditelinga Kyrana.


Benar saja, Gafa melakukannya dengan gerakan yang pelan hingga menimbulkam sensasi tersendiri untuk keduanya.


Tifana begitu panik karena dia tak bisa menemukan Erick dimana pun. Tifana berusaha menenangkam dirinya sendiri. Toh jika ia ketahuan Gafa maka ia berkeyakinan jika Gafa tak akan mungkin marah padanya.


Bukk


" Auwww..." Tifana terjatuh karena ia menabrak seseorang.


" Mbak nggak apa-apa? Kalau jalan lihat-lihat dong mbak."


Tifana menatap orang itu dengan kesal. Bukannya menolong tapi orang itu malah menyalahkan dirinya.


" Eh kamu nggak lihat kalau badan saya sakit semua? Malah ngome!"

__ADS_1


Pria itu mengulurkan tangannya dan bermaksud membantu gadis itu berdiri.


" Ya jelaslah mbak. Lihat ini, belanjaan saya jadi jatuh dan berceceran."


" Eh kalau cuma belanjaan yang jatuh bisa diganti la kalau saya?" Kesal Tifana sambil mengusap pantatnya yang terasa sakit.


" Ya makanya kalau jalan lihat-lihat. Terus gimana belanjaan saya?"


" Ya nanti saya ganti. Saya nggak lagi bawa uang cash."


" Alah mbak cantik-cantik kok nggak punya duit."


" Eh kamu jangan ngawur ya kalau bicara! Orang sekelas saya wajar aja kalau nggak punya uang cash!" jawab Tifana tak terima.


" Saya nggak peduli mbak kelas apa yang penting saya minta ganti rugi buat belanjaan saya."


Tifana begitu kesal dengan pria yang ada dihadapannya saat ini. Ia mencoba menelfon Gafa namun gagal terus.


" Gimana mbak? Jangan ngaku jadi orang kaya deh."


" Kamu itu ya nyebelin banget. Ya udah saya keatm dulu buat ngambil uang."


" Saya ikut."


" Ngapain ikut sih? Kamu jangan modus ya?"


" Haha...saya sudah punya calon istri yang cantik. Saya hanya ingin memastikan kalau mbak nggak bohongin saya."


Tifana pun terpaksa membiarkan lelaki itu mengikuti dirinya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2