Takdir Cinta Si Kembar

Takdir Cinta Si Kembar
Akhirnya menikah.


__ADS_3

Tak pernah Yandri sangka jika hari itu ia akan menikah dengan Tifana. Hanya dengan berbekal peralatan sholat yang dibeli secara mendadak sebagai mahar pernikahan.


Segalanya seperti mimpi bagi Yandri tapi ternyata ini adalah kenyataan. Mulutnya tak mampu mengatakan hal yang sebenarnya saat melihat wajah Tifana yang begitu memohon padanya.


Tifana duduk disamping Yandri dengan menggunakan kebaya putih milik mamanya dulu untuk menikah. Sedang Yandri yang berada disebelahnya tampak tak menampilkan senyum apapun padanya.


Tifana menyesal telah menyeret Yandri untuk menyelamatkan hidupnya namun ia juga tak ingin menikah dengan pria pilihan papanya.


Sah


Tiba-tiba suara tersebut menyadarkan Tifana dari lamunannya. Tifana menyambut uluran tangan Yandri yang kini telah menjadi suami sahnya itu.


Tifana memasukkan semua bajunya kedalam koper. Sang papa langsung menyuruh Tifana pergi dan tak mengijinkan anaknya itu tinggal dirumah karena masih begitu merasa kecewa.


 " Mah, Tifana pamit ya. Maafin Tifana kalau Tifana banyak salah," ucap Tifana saat ia melihat mamanya yang masuk kedalam kamarnya.


" Yah," jawab Ranti singkat meski hatinya begitu berat melepas kepergian putri satu-satunya itu.


Tifana memeluk mamanya meski tak mendapat balasan. Ia menuju papanya lalu melakukan hal yang sama setelah itu ia keluar bersama Yandri.

__ADS_1


" Kita mau kemana Mas?"


" Sebelum kerumah kamu, aku sudah menyewa kontrakan didekat rumah temanku dan kita akan tinggal disana."


Tifana hanya mengangguk dan tak lama taksi pun datang.


Kontrakan Yandri ternyata cukup jauh dari rumah Tifana. Yandri menuntun tangan Tifana karena jalan menuju kontrakannya itu hanyalah gang sempit yang cukup licin karena habis hujan.


Tifana tampak jijik dengan hal tersebut tapi ia berusaha menahannya. Kini mereka sudah sampai didepan rumah kecil yang tampak begitu sederhana.


" Ini kontrakan kamu Mas?"


" Iya dan mulai sekarang kamu ikut tinggal aku disini. Ayo masuk," ucap Yandri sambil menarik tangan Tifana.


" Lemari ini cukup besar. Kamu bisa tata baju kamu disini tapi kalau nanti kurang besar, aku beliin lemari plastik yang baru," ucap Yandri lalu keluar kamar.


Tifana mulai menata pakaiannya. Yah mulai sekarang ia harus melupakan kamar dan rumahnya yang nyaman karena ini adalah pilihannya.


Hari sudah begitu malam namun Tifana tak juga mampu memejamkan matanya. Ia memandangi Yandri yang tidur memunggunginya.

__ADS_1


Semenjak tadi suaminya itu tak mengajaknya bicara banyak kecuali hanya untuk memberitahu tentang beberapa hal.


" Mas Yandri, kamu masih marah sama aku?"


Yandri hanya diam dan tetap berpura-pura tidur.


" Mas, maafin aku. Aku pengen kamu bersikap seperti dulu. Aku janji nggak akan menuntut kamu lebih dan mungkin kita bisa bercerai setelah beberapa waktu."


Yandri membalik badannya dengan cepat dan ia terlihat marah.


" Apa kamu pikir pernikahan itu mainan kawin cerai Fan. Pernikahan itu hal sakral dan itu adalah janji yang diucapkan dihadapan Tuhan. Aku butuh waktu Fan, semua ini terlalu....entahlah, aku merasa ini seperti mimpi tapi ini adalah kenyataan. Kita tidak saling mencintai tapi kamu memilih untuk menikah denganku dan aku tidak bisa melawan itu. Sudahlah, ini udah terlalu malam lebih baik kita tidur."


" Tapi aku nggak bisa tidur Mas."


" Kenapa? Apa karena kamar ini terlalu panas dan sempit buat kamu?"


" Aku kedinginan Mas. Disini lembab banget apalagi selimutnya juga tipis banget."


" Ya sudah besok aku beli lagi yang lebih tebal buat kamu. Agak kesini supaya kamu hangat."

__ADS_1


Tifana menggeser tubuhnya meskipun keduanya dipisahkan oleh sebuah guling sebagai pembatas.


bersambung......


__ADS_2