TASBIH CINTA

TASBIH CINTA
Prasangka buruk


__ADS_3

"Kalau pilih teman itu pilihlah yang benar! jangan pilih yang hanya berparas cantik saja." Alkan kesel karena baru pertama kalinya ada seseorang yang tak menghormatinya sebagai putra dari Kyai Syarif.


"Sebenarnya mereka baik kok Kak, kakak 'kan tak pernah mengenal mereka? makanya kakak bilang kayak gitu. Aku tidak mudah untuk dekat dengan santri disini, dan kakak tau itu," ucap Arofah karena ia tak terima Kia dan Anggi di anggap teman yang nggak benar oleh Alkan.


Deg.


Alkan terkejut. karena Arofah tak pernah membantahnya kecuali Arofah merasa dirinya benar, dan biasanya Arofah nurut jika ia memang salah.


"Kia sikapnya memang seperti itu, tetapi di balik sifatnya yang cuek dan terkesan sombong, dia anak yang baik bahkan lebih baik dari pada perempuan yang suka menunduk dan cari perhatian disini. Bukankah Kakak yang mengajariku jika menilai orang, janganlah di lihat dari luarnya saja, tetapi kenapa malah Kakak yang menilai mereka jelek. Sedangkan Kakak tak pernah mengenal mereka sebelumnya." Arofah pergi meninggalkan Alkan yang masih berdiri dengan 3 ustazd yang di ajaknya.


"Apa aku memang terlalu buruk sangka pada mereka, sehingga aku melihat kekecewaan di mata adikku? apa bener mereka anak yang baik? sama seperti apa yang di katakan Arofah. Astagfirullahal azdim, aku telah berburuk sangka pada mereka, meskipun aku tak menyukai sifat mereka, bukan berarti aku bisa menilai mereka perempuan yang tak mempunyai akhlak." Batin Alkan.


"Gus...! apakah Gus Alkan baik-baik saja?" ucap salah satu uatadz yang di ajak Alkan dan mengagetkan Alkan yang sedang melamun memikirkan perkataan adiknya, karena sebelumnya Arofah tidak pernah membantah Alkan.

__ADS_1


"Iya!" Alkan mengerjapkan matanya.


"Apakah Gus Alkan jadi menghadiri pengajiyan di masjid At-taqwa?" ucap Mahmud salah satu ustadz senior di pesantren An-nur.


"Iya Jadi. Kalian tunggu di sofa dulu! aku mau ngambil kitab Taklimul muta'allim di kamar." Alkan tersenyum pada ke 3 ustazd yang di ajaknya.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


"Kamu apaan sih Ki? tadi itu Gus Alkan, tetapi mengapa kau tak menghormatinya? malah nyelonong gitu aja tanpa permisi. Nggak sopan tau." Anggi berdiri di samping Kia sambil mengikuti langkahnya.


"Apa aku mesti nyalamin dia? kita ini bukan mahrom, dosa jika aku menyentuhnya," ucap Kia datar.


"Ya nggak mesti nyalamin dia juga kali Ki, seharusnya kamu menunduk tadi, sebagai tanda penghormatan, dan tumben-tumbenan aja lo ingat dosa." Anggi memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Udahlah nggak usah bahas Gus Alkan! kita udah telat masuk kelas tau. Siap-siap kita nih di hukum, hari ini jadwal ustazdah Zulaika 'kan?, dia galak, kita bisa kena denda nanti." Kia mengambil buku-bukunya dengan cekatan, sedangkan Anggi hanya menatap Kia.


"Nggi, kamu nggak mau masuk kelas?" tanya Kia.


"Eh, iya aku lupa." Ucap Anggi dan langsung mengambil buku-bukunya yang sudah tertata rapi dalam lemarinya. Sedangkan Kia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah aneh Anggi.


"Yaudah Ayo!" ucap Kia setelah melihat Anggi sudah siap dengan buku-bukunya.


"Seriusan lo Ki, nggak tertarik pada Gus Alkan? dia Sangat tampan? aku gemes pengen memeluknya." Anggi senyam senyum sendiri sambil mengikuti Kia yang melangkah menuju kelasnya.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2