TASBIH CINTA

TASBIH CINTA
Talak


__ADS_3

Keadaan Rania kini sudah membaik, wanita itu duduk bersandar pada pada bantal di atas ranjang pasien.


Raka sudah tiba di rumah sakit, pria itu pun duduk di samping Rania sambil duduk melamun, memikirkan ucapan Anggi.


"Ka, kenapa kamu kembali lagi ke sini? Bukankah aku sudah bilang padamu bahwa aku baik-baik saja?" Rania menatap Raka aneh, pria itu melamun sejak kedatangannya dari mansion.


"Ka!" panggil Rania. Seketika lamunan Raka buyar. Pria itu terkejut mendengar suara istrinya.


"Iya kenapa?" tanya Raka tersenyum.


"Kamu kenapa?" tanya Rania memegang tangan Raka yang juga sedang memegang tangannya.


"Nggak apa-apa," jawab Raka.


"Kamu terlihat sedang memikirkan sesuatu," ucap Rania dengan senyum kaku.


"Apa kamu sedang memikirkan Anggi?" tanyanya.


Raka menganggukkan kepala. "Iya aku sedang memikirkannya, dia akan pergi ke Mesir untuk melanjutkan pendidikan." Raka menundukkan kepalanya, sejak Anggi berpamitan.


Raka merasa ada yang hilang dari dirinya meskipun Anggi pergi. Pria itu perasaannya menjadi kacau dan banyak melamun.


"Aku tau, dia memilih pergi hanya untuk melupakan perasaannya yang tersakiti oleh kita, aku tau Ka, tentang perasaanya! Dia tidak akan pernah minta talak, karena seorang perempuan yang minta talak pada sang suami tanpa alasan, Allah tidak akan mengizinkan wanita itu untuk mencium aroma surga." Rania tersenyum sendu.


"Aku sangat terluka melihat kau bersama orang lain, aku yakin dia pun merasakan hal yang sama," ucap Rania dengan air mata yang tertahan. "Aku tidak ingin minta cerai darimu tapi .... "


"Cukup!" potong Raka pria itu sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan istrinya tersebut.


"Aku tidak ingin mendengar permintaanmu yang aku tau pasti akan membuatku semakin terluka, aku akan mengambil keputusan yang terbaik secepatnya, tapi tidak untuk saat ini. "Aku mencintaimu, aku tidak ingin kau meninggalkanku seperti apa yang Anggi lakukan," ucap Raka dengan perasaan kacaunya.


Rania hanya menunduk, ia tidak melanjutkan ucapannya karena ia tau betul dengan tipe Raka. Pria itu akan melakukan hal yang tidak pernah terpikir olehnya.


"Aku pergi ke taman dulu!" Pria itu berdiri, ia pergi hanya untuk menenangkan perasaannya yang tidak menentu.


Rania mengangguk sambil tersenyum kaku. Raka pun membelai kepala Rania lalu pergi meninggalkan ruang rawat tersebut.

__ADS_1


___________


Jam menunjukkan pukul 11 malam.


Anggi mengemasi barang-barangnya yang akan ia bawa pergi ke Mesir. "Apakah keputusanku sudah tepat?" gumam Anggi. Wanita itu menghapus air matanya yang jatuh tanpa sengaja.


"Ya Allah, kemana Engkau akan membawa takdirku?" Perlahan Anggi memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Tiba-tiba ia merasa dipeluk erat oleh seorang pria dari belakang.


Anggi memejamkan matanya, ia sangat mengenal aroma parfum itu. "Apakah kau akan mendengar ku jika aku melarang mu untuk pergi?" tanya Raka dengan perasaan kacaunya.


Anggi tersenyum. "Jika kau bisa menjaga perasaanku agar tidak terluka, maka aku tidak akan pernah menjauh darimu, Mas! Aku tau kau seorang suami yang sangat adil, kau menjaganya karena dia lebih membutuhkanmu dibandingkan aku, tapi hatiku tidak sekuat itu Mas, rawatlah dia dengan baik hingga penyakitnya cepat diangkat, agar kau bisa berbuat adil lagi dan tidak menimbulkan kecemburuan padaku," ucap Anggi.


Wanita itu mengusap kelopak matanya untuk mencegah agar air matanya tidak jatuh.


"Kau cemburu? Apakah berarti kau mencintaiku?" tanya Raka tersenyum.


"Aku tidak mengharapkanmu lebih, Mas! Karena aku cukup tau diri, tentang posisiku. Aku tidak berhak mencintaimu," ucap Anggi dengan suara tercekat.


"Kau istriku, aku adalah milikmu dan kau pun milikku," ucap Raka.


Raka membalik tubuh Anggi, lalu menatap wajah Anggi seraya menangkup kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya.


"Aku banyak berdosa padamu karena selama ini aku tidak adil, aku tau kau sangat kecewa padaku, tapi aku mohon maafkan aku!"


"Kau tidak perlu minta maaf, Mas! Apa yang kau lakukan sudah benar hanya saja, imanku terlalu lemah hingga aku tidak bisa mengikhlaskan mu untuk berbagi cinta." Anggi menatap Raka sendu.


Raka memeluk wanita itu erat. "Jika memang dengan melepas mu kau bisa menemukan kebahagiaan lain, aku akan mengikhlaskan mu untuk mencari kebahagiaan itu," ucap Raka.


"Kau tidak meminta talak padaku karena kau adalah perempuan soleha, jadi aku memutuskan untuk menjatuhkan talak padamu, kau tidak perlu pergi ke Mesir untuk menghindari ku dan Rania. Maafkan aku, yang menyiksamu terlalu lama," ucap Raka pelan.


Anggi meregangkan pelukan suaminya. "Kenapa kau berbicara seperti itu, Mas?" tanya Anggi dengan air mata yang sudah tidak bisa tertahan.


"Aku hanya akan membuatmu terluka setiap harinya. Maaf aku tidak bisa melepaskan Rania, karena dia cinta pertamaku dan aku lebih mencintainya," ucap Raka dengan perasaan bersalah.


"Aku tau itu Mas! Jadi kapan kau akan menjatuhkan talak padaku?" tanya Anggi sendu.

__ADS_1


"Sekarang." Raka menundukkan kepalanya.


"Sekarang kau bukan istriku lagi. Aku menjatuhkan talak satu padamu," ucap Raka seiring air matanya yang jatuh tanpa permisi.


"Aku lega, Mas! Meskipun saat ini aku sangat sakit hati dengan perpisahan kita, kau bukan suamiku lagi secara agama, sekarang kita hanya tinggal mengurus perceraian kita secara hukum." Anggi menangis terisak-isak.


"Mari aku antar kamu ke rumah orang tuamu," ucap Raka sendu.


Kia menggeleng. "Tidak Mas, kau antar aku ke apartemen saja! Aku belum siap untuk melihat kekecewaan di mata orang tuaku."


"Aku tetap harus pergi ke Mesir, kita kasih tau tentang rumah tangga kita setelah kita mengajukan gugatan perceraian," ucap Anggi.


"Baiklah, jika itu maumu!" Raka tersenyum sendu.


Setelah itu, Anggi benar-benar pergi dari mansion itu, wanita itu diantar ke apartemen keluarganya.


Sesampainya di apartemen, Raka hendak pergi untuk mengantar Anggi masuk. Namun, wanita itu melarangnya.


Akhirnya Raka kembali dan meninggalkan Anggi yang menatap kepergiannya. Anggi pun masuk ke dalam apartemen membawa luka yang telah Raka torehkan.


Anggi memegang dadanya yang terasa sesak, lalu wanita itu mengambil wudhu dan berdoa meminta jalan pada Allah sang maha pencipta.


__________


Ke esokan harinya.


Kini Anggi benar-benar pergi ke Mesir, ia tidak mengabari kepergiannya pada Rizky dan Sheila. Wanita itu tidak ingin membuat orang tuanya khawatir, meskipun ia tahu bahwa cepat ataupun lambat orang tuanya akan mengetahui tentang keretakan pernikahannya.


Anggi menggeret kopernya dengan perasaan kacau, hingga tanpa sengaja tubuhnya terbentur dengan seorang pria yang tak dikenal sebelumnya. "Sorry!" ucap pria itu tersenyum.


Anggi hanya mengangguk tanpa berniat ingin membuka suaranya. Wanita itu langsung melangkahkan kakinya meninggalkan pria itu yang masih menatapnya takjub.


"Aku tidak mengenalmu dan melihat wajahmu, tapi entah mengapa, aku tertarik padamu dalam pandangan pertama."


"Semoga kita jodoh!"

__ADS_1


TBC


__ADS_2