
"Aku bermimpi 'kan, Mas?" tanya Kia saat membuka matanya. Wanita itu menatap Alkan sendu, lalu melihat sekelilingnya. Ia senang karena berada di ranjang yang biasa ia tiduri bersama Alkan.
Kia menatap Alkan lagi, lalu ia tersenyum berharap apa yang ia saksikan adalah bunga dari tidurnya. "Mas, apakah aku sedang bermimpi?" tanyanya dengan senyum yang mengembang.
Alkan duduk di sisi Kia, lalu memegang tangan istrinya sambil tersenyum dengan menatap tangan Kia yang digenggamnya. "Bersabarlah, Sayang! Allah tidak akan menguji seorang hamba di luar batas kemampuannya." Alkan beralih menatap wajah Kia yang kembali meneteskan air mata setelah mendengar ucapannya.
"Tidak, Mas aku belum bisa menerima kepergian daddy, daddy tidak boleh meninggalkanku, aku masih ingin dia bersamaku, Mas !" jawab Kia diiringi air mata yang menerobos tanpa henti.
"Sayang, daddy pasti akan sedih melihatmu begini sekarang yang dibutuhkan daddy dan mommy bukan makanan, melainkan doa dari kita," ucap Alkan sambil membelai rambut Kia lembut.
Alkan memegang kepala Kia lalu membawa wanita itu kedalam dekapan hangatnya. "Sayang, Percayalah dibalik kesedihan pasti akan ada kebahagiaan yang menanti kita. Janganlah berlarut-larut dalam kesedihanmu! Menangis boleh, tapi jangan sampai kita kufur karena tidak bisa menerima takdir dari Allah."
Seketika Kia mengehentikan tangisannya, lalu menatap wajah tampan Alkan yang selalu setia mendampingi dalam suka dukanya.
__ADS_1
"Kenapa, Sayang?" tanya Alkan lembut saat melihat Kia menatapnya intens.
Kia mengangkat tangannya lalu tersenyum sambil memegang kedua pipi Alkan. "Aku sangat beruntung memilikimu, Mas. Aku hanyalah manusia yang dipenuhi dengan dosa, tapi kau menerimaku dengan segala kekuranganku, aku merasa tidak pantas menjadi istrimu, kamu manusia sempurna hingga aku tidak menemukan sedikitpun celah untuk menilaimu buruk. Kau mencintaiku dengan tulus meskipun kau tau bahwa aku wanita dengan sejuta kekurangan," ucap Kia dengan air mata yang kembali menetes.
Alkan tersenyum, lalu memegang tangan Kia yang menempel di pipi gadis itu. "Kita tidak tahu yang mana yang lebih mulia di sisi-Nya. Menurut kita sempurna, tapi belum tentu di mata Allah juga sempurna, begitupun sebaliknya, menurut kita buruk belum tentu Allah juga menilainy begitu. Percayalah, aku mencintaimu karena-Nya," ucap Alkan menatap Kia dengan mata teduhnya.
Kia menelusupkan wajahnya kembali dalam dekapan pria itu, Kia menangis sesenggukan. "Aku janji, Mas! Ini terakhir kalinya aku menangisi daddy, aku akan mengikhlaskan kepergiannya supaya daddy bahagia bersama mommy di sana."
Alkan tersenyum sambil membelai lembut wanita itu. "Inilah yang ku suka darimu, Sayang! Kau adalah wanita Sholehahku, kau selalu mendengarkan apapun yang menurutmu baik meskipun berat untuk kau terima. Kau hanya belum terbiasa tanpa daddy, jika nanti kau benar-benar mengiklaskannya maka hatimu tidak akan berat lagi," ucap Alkan lembut.
"Ana uhibbuka fillah, Zaujaty!" ucap Alkan.
"Ahabbaka-lladzi ahbabtani lahu, Zaujy!" jawab Kia tersenyum.
__ADS_1
...ππππππ...
^^^Bersambung ...^^^
Assalamualaikum Readersku, Sayang π₯°
Mau ngucapin maaf, kayaknya kalian hingga bosen ya dengernya.
Entahlah ... rasanya mau namatin karya ini malah mentok, jadi maaf ya jika ada Typo atau jalan cerita yang tidak nyambung ...
Dalam beberapa bulan ini, Othor agak repot di dunia nyata π
Niatnya mau namatin karya ini dan bikin karya baru, eh ... dunia nyata malah sibuk, jadi janji hanya tinggal janji π’
__ADS_1
Cukup like dan komen Othor dah ber Terima kasih banget sama kalian β€οΈ
I Miss you All ππ’