
Alkan dan Kia saling menatap satu sama lain dan tak mengalihkan tatapannya sampai Anggi menarik lengan Kia karena cemburu melihat Kia dalam posisi begitu mesra dengan Alkan.
"Bukan mahrom," ucap Anggi tersenyum cengengesan.
Seketika saja Kia dan Alkan terkejut. Namun, Kia menutupi keterkejutannya dengan bersikap datar.
"Maaf, aku tadi melamun sampai tak sengaja menabrakmu," ucap Alkan tanpa ekspresi.
"Aku nggak apa apa, aku juga salah karena nggak melihat kedepan saat jalan," ucap Kia datar.
"Gus Alkan boleh kenalan nggak? aku Anggi adiknya Kia," Anggi mengulurkan tangannya.
"Bukankah kamu tadi menarik Kia karena kita bukan mahrom?" Alkan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Oh iya ya, aku lupa." Anggi menarik tangannya kembali. Sedangkan Alkan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lagi pula kau sudah tau namaku, ngapain berkenalan lagi?" Alkan melangkah meninggalkan Kia dan Anggi yang sedang berdiri menatap Alkan.
"Cih! Dasar sombong. Untung putra Kyai Syarif. Kalau bukan sudah ku bejek-bejek, kujadikan ayam geprek sekalian biar tau rasa," ucap Kia. Dan ucapannya berhasil menghentikan langkah Alkan.
"Apa tadi kau bilang?" Alkan menoleh menatap Kia yang memgomel-ngomel sendiri.
"Emang aku bilang apa?" Kia pergi begitu saja tanpa memperdulikan pertanyaan Alkan.
Anggi yang melihat Kia dan Alkan berjalan berlawanan arah terpaksa mengikuti Kia meskipun Anggi sebenarnya masih mau mendekati Alkan.
"Ada apa denganku? Mengapa aku begitu grogi saat menatap matanya dan rasanya aku ingin selalu dekat dengannya, aku juga merasa waktu terlalu cepat saat dia dekatku. Namun, apa yang harus ku lakukan? Aku begitu grogi sampai rasanya sulit untuk bernafas. Tidak, ini tidak mungkin cinta. Aku dan dia cuma berjumpa 2 kali, aku begini pasti karena aku lagi kacau sekarang," Alkan membatin.
__ADS_1
Alkan terus melangkah sambil meyakinkan dirinya bahwa Alkan tidak tertarik pada Kia, sampai akhirnya ia sampai di asrama putra dan duduk di kamar para santri yang sudah berubah profesi menjadi ustadz di Ponpes An-nur. Lalu Alkan tidur di ranjang sahabatnya.
Alkan dekat dengan para ustadz di pesantren itu karena yang menjadi para ustazd tahun itu adalah sahabat-sahabatnya Alkan, mulai dari adik kelas, satu kelas bahkan kakak kelas.
"Gus...! kamu kenapa? Kayaknya kamu lagi banyak pikiran," ucap Shoby sahabat dekat Alkan. Shoby mendekati Alkan yang lagi tiduran di ranjang, lalu Shobi tidur di sebelah Alkan sambil menatap dinding kamar.
Tempat tidur yang hanya muat satu orang membuat Alkan dan Shoby tidur miring saling memunggungi satu sama lain karena kalau terlentang, kasurnya tidak akan cukup untuk mereka berdua.
"Shob..., berdosakah aku jika aku menolak keinginan orang tuaku? sebenarnya aku tidak ingin menolak permintaan mereka, tetapi hatiku begitu sulit untuk menerima Salimah, karena perasaanku pada Salimah hanyalah sebagai adikku saja, tidak lebih dari itu, sama posisinya dengan Arofah di mataku, lalu apakah aku bisa menikahi orang yang sudah ku anggap sebagi adik, aku hanya takut melukainya nanti setelah kita nikah," ucap Alkan.
"Jika kau ingin menolak permintaan Kyai Syarif dan Nyai Fatimah, usahakan supaya kamu tidak melukai perasaannya. Aku tidak tau harus memberimu nasehat apa karena kamu jauh lebih ber ilmu dari pada aku," ucap Shoby.
"Jangan bilang seperti itu Shob, kalau soal ilmu, aku masih harus banyak belajar. Aku hanya butuh sahabat saat aku lagi kacau," ucap Alkan.
__ADS_1
...πππππ...
...TBC...