TASBIH CINTA

TASBIH CINTA
Tatapan sendu


__ADS_3

"Andaikan saja kamu yang ditakdirkan tuhan untukku, aku ingin melihat senyum teduhmu setiap saat, aku tak dapat menahan perasaan ini lagi. Namun, aku tak punya kekuatan untuk memperjuangkanmu."


"Aku hanya pasrah pada takdirku yang akan mengarah entah kemana. Namun, meskipun pasrah, rasanya sulit untuk mengikhlaskanmu untuk orang lain."


"Aku harus apa? Aku berada dalam dilema yang sangat besar, aku ingin memilikimu. Namun, aku tidak mau dibenci orang tuaku karena lebih mementingkan perasaanku padamu. Aku tidak mau jadi anak durhaka," Alkan membatin.


Alkan menatap Kia dari teras kantor sekolah, ia duduk di sana bersama para ustazd lainnya sekedar berbincang-bincang saja. Namun, ia tak sengaja melihat adiknya menarik pergelangan tangan Kia dan membawanya duduk di bangku taman sekolah.


Alkan terus memperhatikan Kia yang sesekali tersenyum dan sesekali ia bicara tampak serius, entah apa yang dibicarakan Kia dan adiknya, Alkan tak dapat mendengar obrolan Kia dan Arofah.


Alkan menatap Kia tanpa mengalihkan pandangan matanya sedikitpun, sampai pada akhirnya tatapan Kia mengarah padanya yang membuat jantung Alkan semakin bergemuruh tak karuan.


Alkan tetap menatap Kia menikmati tatapan teduhnya pada Alkan, entah apa yang ada dalam pikiran Kia, Alkan tak dapat menebaknya. Namun, Alkan sangat bahagia karena bisa menatap Kia secara langsung dalam waktu yang cukup lama. Setelah beberapa saat Kia mengalihkan tatapannya dan terlihat terkejut lalu menoleh pada adiknya Arofah.

__ADS_1


Sebenarnya apa yang mereka bicarakan? Kenapa mereka terlihat begitu serius? Apakah Arofah sedang menceritakan tentang perjodohanku padanya? Serentetan pertanyaan muncul dalam benak Alkan.


Kia, jika saja kau punya perasaan yang sama denganku. Apakah kau akan terluka jika mendengar aku akan segera menikah dengan orang lain? Namun, aku tau bahwa itu hanya anganku saja. Alkan membatin.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


"Kia, apakah orang yang dicintai kakakku adalah kamu?" tanya Arofah menatap Kia yang sedang menatap lurus ke arah Alkan.


"Ap-a-pa? Itu tidak mungkin. Kakakmu tidak mungkin menyukaiku," ucap Kia gugup.


"Memangnya kau lihat apa?" Kia menormalkan sikapnya agar ia tidak terlihat grogi, Kia penasaran benarkah apa yang dikatakan Arofah? Namun, kia menepisnya bahwa Alkan tidak mungkin menyukainya.


"Aku melihat dua pasang mata yang saling menatap dalam, dimana tidak ada seorangpun yang mampu untuk menyelaminya." Arofah tersenyum sambil mengerlingkan matanya.

__ADS_1


"Sok tau kamu Neng, kakakmu memang tampan tapi aku tidak menyukainya, aku cuma nggak sengaja aja lihat kakakmu duduk di situ." Kia mengelak.


"Terserah kalian deh mau bilang apa? Sekarang aku tau jawaban dari segala pertanyaanku." Arofah berdiri hendak pergi meninggalkan Kia.


"Eh eh eh...Neng. Kau mau kemana? Kau salah faham tau." Kia memegang tangan Arofah.


"Udah ah, aku mau pergi. Bicara sama kamu sama aja dengan bicara sama kak Alkan," ucap Arofah melepas genggaman tangan Kia lalu melangkah pergi.


"Ok! aku akan memgakui perasaanku padamu," ucapan Kia sukses menghentikan langkah Arofah. Arofah terkejut dan langsung menoleh pada Kia.


Arofah kembali dan duduk di samping Kia sembari menatap wajah Kia serius. Kia menunduk sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Apa yang ingin kau katakan padaku? Aku tau ada kecemasan yang terlihat diwajahmu saat aku mengatakan kalau kau dan kak Alkan saling mkencintai." Arofah menatap Kia yang sedang menunduk dengan wajah yang terlihat sendu.

__ADS_1


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


......TBC......


__ADS_2