
"Kakak ... " Azka tersenyum saat mengetahui kedatangan kakaknya di rumah itu dan hendak memasuki kamarnya.
Namun, di detik berikutnya pria itu terkejut saat melihat kakak kandungnya membawa koper. "Kenapa Kakak bawa koper segala? Apakah Kakak mau nginep di sini lama?" tanya Azka menyerang Anggi dengan beberapa pertanyaan.
"Aku masih capek, Dek! Nanti aku jelaskan pada kalian tentang semuanya," ucap Anggi tersenyum dibalik cadarnya.
Azka hanya mengangguk, lalu Anggi pun memasuki kamarnya dengan Azka masih menatap wanita itu penuh tanya.
"Ayah, Bunda!" panggil Azka yang melihat kedua orang tuanya melangkah hendak masuk ke kamarnya dengan wajah sendu.
"Kalian kenapa?" tanya Azka bingung. Ia semakin penasaran dengan apa yang terjadi, setelah melihat raut wajah seluaruh keluarganya yang terlihat sendu.
Rizky dan Sheila menatap Azka datar, lalu Sheila masuk ke dalam kamarnya tanpa menjawab pertanyaan putranya tersebut. "Nanti malam kita bicarakan, ayah dan bunda masih capek!" ucap Rizky tersenyum. Lalu pria itu mengikuti Sheila yang masuk ke dalam kamarnya. Ia menutup pintu kamar tersebut, meninggalkan Azka yang masih dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan.
__ADS_1
"Apakah Kak Anggi punya masalah hingga bawa koper segala? Kenapa wajah semua orang di sini terlihat sedih? Sudahlah, lebih baik aku ke pesantren," gumam Azka. Pria itu melangkah meninggalkan tempat itu, mencoba mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang tiba-tiba timbul di keplanya.
Azka memang mempunyai kegiatan rutin mengaji kitab tiap minggu di sana. Ia mengisi hari liburnya untuk menuntut ilmu agama di pesantren An-nur tempat Anggi mondok.
Azka keluar dari pekarangan rumahnya menuju pesantren. Ia lebih semangat karena jatuh cinta pada sang putri Kyai dari pesantren itu yaitu Arofah- adik dari Alkan suaminya Kia.
Sejak pertemuannya dengan gadis itu, ia sering melamun dan tersenyum-senyum sendiri, hingga ia ingin selalu berada di pesantren itu hanya untuk melihat gadis pujaannya.
"Ya Allah, semoga dia jodohku!" gumam Azka seraya terenyum sambil mebayangkan wajah putri dari Kyai Syarif tersebut.
"Ka, apakah Anggi sudah berangkat ke Mesir?" tanya Rania sambil melangkah mendekati suaminya yang duduk termenung di balkon apartemennya.
"Entahlah, aku hanya merasa bersalah padanya, selama dia menjadi istriku, sekali pun aku tidak pernah membuatnya bahagia. Meskipun dia sering tersenyum, tapi aku tau bahwa senyuman itu adalah senyuman yang penuh luka, aku terlalu menyakitinya hingga aku malu untuk mengucapkan maaf lagi," ucap Raka menatap langit yang mendung semendung hatinya di kala itu.
__ADS_1
"Kenapa kau memilih menyiksa dirimu sendiri dibandingkan meninggalkanku yang jelas-jelas tidak bisa membuatmu bahagia, Ka? Aku tau kau mencintainya, sementara perasaanmu padaku tidak lebih hanya sekedar belas kasih karena umurku yang tidak lagi panjang," ucap Rania sendu.
"Stop, Ra! Apa pengorbananku tidak cukup selama ini? Aku meninggalkan segalanya demi kamu. Apa itu tidak cukup membuktikan bahwa aku benar-benar mencintaimu?" Raka hendak berdiri dari tempat duduknya dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Namun, tiba-tiba Rania memeluk Raka dari belakang dengan tangis yang terisak-isak.
"Maafkan aku, Ka! Aku sangat mencintaimu hingga aku tidak bisa melihatmu bersedih seperti saat ini, apalagi aku tau bahwa kau melakukan ini semua hanya untuk membahagiakanku," ucap Rania.
"Kamu salah, Ra! Aku melakukan semua ini bukan hanya untukmu, melainkan demi kebaikan kita bertiga," ucap Raka datar.
"Aku hanya bisa membuat Anggi menderita, begitupun denganmu. Jadi lebih baik Anggi pergi dari penjara yang yang telah kubuat selama ini. Dia ber hak mendapatkan kebebasan untuk mencari kebahagiaan yang lain." Raka memegang tangan Rania yang melingkar sempurna diperutnya.
"Maafin aku, Ka! Maafin aku," ucap Rania dengan sisa-sisa tangisnya.
"Jangan ulangi lagi! Aku sedih mendengarmu mengeluarkan kata seperti tadi," ucap Raka.
__ADS_1
Rania mengangguk dibalik punggung Raka dengan isak tangis yang tidak henti.
...πππππ...