TASBIH CINTA

TASBIH CINTA
Pancaran kebahagiaan


__ADS_3

"Mas Alkan, aku pengen mangga muda, Mas Alkan ambilin ya! Aku pengen Mas Alkan yang ambilin dari pohonnya." Kia merengek sambil ber gelanyut manja di tangan Kia.


"Tapi Mas nggak bisa manjat, Sayang!" ucap Alkan.


"Pokoknya aku maunya Mas Alkan yang mengambilnya!" rengek Kia dengan mata yang mengembun.


"Ya sudah aku ambilin, tapi aku nyuruh santri putra ya, buat ngambil!" bujuk Alkan.


"Nggak, aku maunya Mas Alkan!" rengek Kia.


"Ya sudah, lepaskan Mas! Mas mau ambil dulu di halaman sekolah santri putra, mumpung sekolah lagi libur!" ucap Alkan.


"Aku ikut!" rengek Kia dengan senyum manja.


"Ya sudah ayo!" ajak Alkan.


"Sebentar Mas! Aku mau ambil niqob dulu," ucap Kia penuh semangat. Wanita itu lari kecil saking senengnya.


"Sayang, pelan-pelan!" Alkan menatap istrinya khawatir.


Dalam beberapa menit, Kia sudah menutup wajahnya dengan niqob. "Mas, aku mau berjalan bergandengan," ucap Kia seraya mengulurkan tangannya pada Alkan.


Alkan menyambut tangan Kia dan menggenggamnya erat. "Istri manja ku!" Alkan mencubit pipi Kia yang dihalangi oleh niqob yang dikenakan.


"Anak aby baik-baik saja ya, Sayang!" ucap Alkan sambil mengelus perut Kia yang masih datar.

__ADS_1


"Iya aby, adik baik-baik saja di sini, karena aby telah menjadi aby yang terbaik untuk adik," ucap Kia menirukan suara anak kecil.


Alkan tersenyum, lalu mengecup kenig Kia. "Terima kasih, Sayang! Kau kebahagiaanku," ucap Alkan menatap Kia penuh cinta.


Kia membalas senyuman Alkan sambil mengelus pipi pria itu. Wanita itu juga memancarkan wajah bahagia menatap Alkan dengan mata teduhnya.


"Kau segalanya, Mas! Aku yang seharusnya berterima kasih karena mencintaiku begitu dalam, yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya," ucap Kia.


"Ya sudah ayo! Katanya mau ngambil mangga muda." Alkan menarik tangan Kia, mengajaknya untuk ngambil mangga muda tersebut.


________________


Sesampainya di halaman sekolah santri putra, tempat itu tampak sepi, tidak ada seorang pun yang lewat karena saat itu hari jumat jadwal santri dibesuk.


Alkan mencoba memanjatkan pohon mangga tersebut. Namun, ia hanya ditertawakan oleh Kia karena pria itu nggak bisa manjat.


Setelah beberapa kali gagal, akhirnya Alkan duduk di bawah pohon mangga itu dengan Kia yang terus menertawakan suaminya.


"Kamu tega sekali, Zaujaty!" ucap Alkan dengan wajah lesunya.


"Aku tidak menyuruhmu untuk manjat, Mas. Aku hanya menginginkan kamu yang ngambil." Kia masih asyik menertawakan suaminya.


"Kalau nggak manjat, cara ngambilnya gimana?" tanya Alkan dengan wajah lesunya.


"Tuh pakai itu!" Telunjuk Kia mengarah pada sebuah galah yang di sandarkan pada tembok sekolah tersebut.

__ADS_1


"Iya, ya? Kenapa aku nggak kepikiran dari tadi," ucap Alkan dengan senyum yang mengembang.


"Iya lah, Mas Alkan nggak kepikiran. Biasanya Mas Alkan tinggal merintah santri putra 'kan?" goda Kia dengan alis yang dinaik turunkan.


"Kau sangat menyebalkan, Sayang!" Alkan berdiri dan melangkah untuk mengambil galah tersebut.


"Mas, aku maunya yang masih sangat muda ya!" pinta Kia dengan wajah sumringah.


"Iya, nanti kamu pilih sendiri, Sayang!" ucap Alkan mendongak sambil berusaha untuk mengambil mangganya.


Setelah beberapa saat, akhirnya mangga itu terkumpul, Alkan dan Kia pun kembali ke kediamannya.


"Mas, buatin bumbunya ya! Biar aku yang mengupas mangganya," pinta Kia sambil mengedip-ngedipkan matanya.


"Apapun demi calon buah hati aby," ucap Alkan seraya mengelus perut datar istrinya.


...❤❤❤❤❤...


^^^Bersambung ...^^^


Assalamualaikum Readersku, Sayang 😍


Jika nggak mau komen atau pun Komen.


Please ... Like aja. Hanya tinggal Klik saja Ya. Please ... buar othor lebih semangat. Buat Readers yang dukung othor meskipun karya othor jelek.

__ADS_1


Makasih ya, Sayang?


Tanpa kalian othor galauuuuu 😢


__ADS_2