
"Memangnya apa yang kau inginkan? Jangan bersedih lagi! Aku akan berusaha untuk mendapatkan apapun yang kau minta," ucap Alkan.
"Aku hanya ingin Mas Alkan menikah lagi."
Jedduarrr
Bagai disambar petir disiang bolong, Alkan terpaku mendengar permintaan Kia. Pria itu membisu tidak mengerti dengan jalan pikiran istrinya.
"Aku tidak menginginkan apapun lagi Mas, aku hanya ingin Mas Alkan menikah, penuhilah keinginan Kia!"
Wanita itu tidak mampu menatap Alkan hingga ia memilih memejamkan mata dengan bersandar pada bahu Alkan, dan air matanya pun menetes tanpa bisa dibendung.
"Apa yang membuatmu memintaku untuk menikah lagi?" tanya Alkan datar tanpa senyum seperti biasanya.
"Aku hanya takut tidak sanggup melayanimu dengan baik," jawab Kia seraya menghapus air matanya.
"Alasan yang konyo! Jika itu permintaanmu, maaf, aku tidak bisa memenuhi keinginanmu!" tolak Alkan.
"Kenapa Mas? Aku hanya ingin Mas Alkan bahagia," ucap Kia. Wanita itu duduk dengan tegak. Lalu menatap Alkan intens.
Alkan pun juga menatap Kia, mereka saling tatap dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. "Apakah aku pernah bilang bahwa aku tidak bahagia?" tanya Alkan.
"Apakah aku juga pernah bilang bahwa aku akan bahagia jika menikah lagi dan menyakiti dua orang setiap harinya?"
"Bukan begitu Mas,"
"Terus kenapa?" tanya Alkan tanpa mengalihkan tatapannya dari Kia.
"Aku hanya ingin Mas Alkan menikah lagi," ucap Kia mengulang permintaannya.
"Iya, alasannya apa? Apa karena kau tidak bisa melayaniku dengan baik? Baiklah, mulai saat ini kau tidak perlu melayaniku karena aku bisa mengurus diriku sendiri bahkan sebelum menikah."
"Aku tidak bisa Kia, aku hanya manusia biasa yang nantinya hanya akan menyakiti kedua istriku karena tidak berlaku adil. Aku tidak ingin menyakiti siapapun. Hentikan permintaan konyolmu itu Kia, hentikan! Pikirkan ucapanku baik-baik! Aku mau istrihat."
__ADS_1
Alkan beranjak lalu melangkah menuju tempat tidur dan berbaring di sana, ia sudah tidak sanggup mendengar permintaan Kia yang tidak mungkin ia penuhi, sedangkan Kia hanya menatap suaminya sendu.
"Aku hanya tidak ingin kau terluka setelah kepergianku, Mas! Aku akan belajar ikhlas untuk melepasmu bahagia bersama orang lain," gumam Kia setelah mendengar nafas Alkan teratur.
...πππππ...
Sore harinya Kia dan Alkan sudah siap untuk pulang, mereka berdua menunggu Renald pulang kerja sekedar untuk berpamitan, dan untungnya Renald pulang cepat hingga pria paruh baya itu sudah sampai di mansionnya jam 5 sore.
"Daddy...!" ucap Kia setelah melihat Renald melangkah mendekat ke arahnya, Kia memeluk pria paruh baya itu setelah Renald berada di depan matanya. "Kia, jadilah istri yang baik Nak!" ucap Renald tersenyum.
"Insya Allah, Dad! Daddy jaga kesehatan ya, jangan bekerja terlalu keras," ucap Kia.
"Kau tidak perlu menghawatirkan daddy, Insya Allah daddy akan baik-baik saja!" ucap Renald tersenyum.
"Kalau begitu, Kia pulang dulu, Dad! Kabari Kia jika Daddy membutuhkan sesuatu," pamit Kia.
"Iya, Sayang,"
"Alkan juga pamit, Dad!" ucap Alkan seraya menyalimi tangan Renald.
"Iya, Dad! Insya Allah Alkan menjaga putri Daddy dengan baik, Assalamualaikum." Alkan memanggil salam setelah menyalimi pria paruh baya itu.
"Waalaikum salam warahmatullah," jawab Renald. Ia menatap kepergian putrinya dengan perasaan tak menentu.
"Putrimu sudah besar Muti, aku hanya menunggu waktu kapan takdir menyatukan kita kembali, aku sangat merindukanmu, sangat merindukanmu." Renald menahan perasaan sesaknya lalu melangkah menuju kamar yang selalu ia kenang karena di kamar itu ia menjalani hari-hari bahagianya bersama Muti.
**********
Di dalam mobil Kia hanya diam, ia menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong, sesekali Alkan melirik istrinya yang ia anggap aneh.
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu bersedih sampai memintaku untuk menikah lagi, tetapi sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa melukaimu dengan cara apapun, dunia seakan runtuh saat melihatmu bersedih," ucap Alkan dengan nada tercekat.
Kia hanya terdiam tanpa suara, ia tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya ingin Alkan bahagia meskipun tanpanya. Wanita itu tetap bungkam dengan menahan kesedihan yang ingin ia pendam sendirian.
__ADS_1
30 menit berlalu, kini Alkan dan Kia sampai di rumah yang mereka tempati. Alkan memarkirkan mobilnya di garasi.
Ketika Alkan hendak turun, ia menatap Kia yang masih melamun. "Zaujaty, kita sudah sampai," ucap Alkan tersenyum sambil memegang tangan Kia erat. Alkan meredam emosinya karena permintaan konyol istrinya.
Seketika lamunan Kia buyar. "Eh Iya, Mas!" ucap Kia membalas senyuman Alkan.
"Jangan terlalu banyak berpikir! Percayalah bahwa apapun masalah yang kau hadapi, insya Allah, Allah akan memberikan jalan. Jangan pernah meminta sesuatu yang tidak mungkin bisa ku kabulkan," ucap Alkan menatap Kia dengan senyuman.
Kia membalas senyuman Alkan tanpa mengucapkan sepatah katapun, setelah itu mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah minimalis tersebut.
...πππππ...
"Hai, Kak! Kenapa Kakak ngelamun sendirian disini?" tanya Azka. Azka duduk di sebelah Anggi yang sedang menatap sang rembulan di bangku taman mansion.
"Enggak apa-apa, aku hanya ingin mengobati rasa rinduku pada suasana mansion ini karena besok aku akan kembali ke pesantren," ucap Anggi.
"Kak, kenapa Azka perhatikan sejak resepsi pernikahan Kak Kia, Kakak tampak tidak punya semangat hidup, Kakak seperti orang patah hati gitu, aku tahu Kakak sangat menyayangi Kak Kia tapi tidak segitunya juga kali," ucap Azka menatap Anggi intens.
"Jangan sok tau," ucap Anggi menoleh lalu menoyor kepala adiknya sebelum melangkah pergi menjauh meninggalkan Azka di bangku taman sendirian.
"Aku memang kehilangan semangat karena patah hati," batin Anggi seraya berjalan menuju pintu utama mansion.
Sedangkan Azka hanya menatap kakaknya dengan tatapan bingung, biasanya kakaknya itu selalu bertingkah konyol, Azka merasa sangat aneh dengan perubahan sikap Anggi.
"Apa mungkin Kak Anggi dan Kak Kia mencintai orang yang sama?" gumam Azka seraya menaikkan sebelah alisnya. "Ah tidak mungkin, Kak Anggi Seperti itu pasti karena merasa kehilangan Kak Kia." Azka beranjak, lalu pergi dari taman tersebut menyusul kakaknya dan membuang pikiran negatifnya.
...πππππ...
^^^Bersambung...^^^
Assalamualaikum Readersku sayang π₯°
Sejauh ini masih sepi aja ni Karya, rasanya pengen hiatus, tetapi karena ada ada beberapa Readers yang sangat baik hati selalu mengikuti karya Othor meskipun karya Othor tidak sekeren karya Othor yang lain, semangat Othor bangkit karena kalian π₯° Meskipun Othor akhir-akhir ini jarang update π
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya π
Like, komen and Vote seikhlasnya β€οΈ