
Anggi menata barang-barangnya dalam lemari yang telah di sediakan di pesantren. Setelah Anggi selesai menata barangnya, ia menata barang milik Kia.
"Nggi, memangnya kamu nggak capek dari tadi beres-beres terus?" Kia menatap Anggi tanpa berniat membantunya.
"Ki...! jika kita tidak menata barang milik kita, yang ada entar kita di omelin sama anak-anak lama, kita ini anak baru, lebih baik kita jaga sikap dan jangan cari masalah!" ucap Anggi.
"Tumben kamu pinter?" Kia mencibir.
"Aku memang pinter tapi kamu aja yang selalu menganggapku bodoh." Anggi membanggakan diri.
"Cih...! kalau kamu pinter mana mungkin kau gampang di bodohi," ucap Kia.
"Memangnya siapa yang mau membodohiku? palingan juga kamu tuh yang suka nyuruh-nyuruh aku se enak jidat." Anggi cemberut.
"Kamu 'kan adikku, jadi wajar aja jika aku meminta bantuanmu." Kia tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.
"Iya iya...," Anggi pasrah, karena percuma saja ia membantah, toh pasti Kia yang akan menang jika berdebat.
"Nggi, kamu tau nggak di sebelah asrama ini ternyata ada ada asrama putra lo...!"
"Beneran? kamu serius kan?" Anggi begitu berbinar.
"Giliran urusan cowok aja kau semangat," ucap Kia.
__ADS_1
"Ya iyalah, emangnya kamu di sukai cowok aja selalu nolak, sedangkan aku sedikitpun gak ada yang ngelirik, padahal 'kan aku udah cantik begini." Anggi membenarkan kerudungnya sambil tersenyum sok manis.
"Kecentilan amat sih kamu Nggi, pantesan aja kaum adam pada lari ngelihat kamu, dandanan kamu terlalu berlebihan, norak tau..." Kia mengatakannya di dekat telinga Anggi.
"Kia...! kamu jahat banget sih." Anggi cemberut.
"Udah! nggak usah memanyunkan bibir seperti itu! nanti kita pikirkan bagaimana caranya nyelonong ke asrama putra?" ucap Kia.
"Apa?" Anggi melebarkan mulutnya.
"Kamu kenapa kaget kayak gitu Nggi? bukannya kamu pengen kenalan sama salah satu Santri putra?" Kia menaikkan sebelah alisnya.
"Tapi kita melanggar ki..., jika melakukan itu. Nanti kita di hukum." Anggi menundukkan kepalanya.
"Iya juga sih, tapi gimana kalau kita ke tahuan? aku nggak mau mengecewakan Ayah dan bunda." Anggi masih cemberut.
"Eh, sekarang jam berapa sih? kok santri disini belum pulang?" ucap Kia.
"Kata ayah sih santri disini pulang jam 11 siang dan sorenya sekolah lagi setelah sholat Ashar.
"Owh... " Kia menganggukkan kepalanya.
"Kamu tau nggak kantin disini dimana?" ucap Kia.
__ADS_1
"Kamu mau ngapain Ki cari kantin?" ucap Anggi.
"Nggak ngapa-ngapain, aku cuma mau beli minum aja, kita cari yuk? aku tidak hafal jalan sini, takut nantinya kebingungan untuk balik kamar lagi." ucap Kia.
"Yaudah ayo!" Anggi pasrah.
Keduanya melangkah hendak pergi cari minum. Namun, langkahnya terhenti saat berpapasan dengan anak lama yang sekamar dengan Kia dan Anggi.
"Kalian anak baru? perasaan nggak pernah ngelihat?" Tamara bingung sambil mencoba mengingatnya. Tamara mengamati wajah Anggi dan Kia bergantian.
"Enggak! aku memang nggak pernah lihat kalian, kalian pasti anak baru 'kan?" Tamara meletakkan jari telunjuknya di dagu.
"Iya, kami memang anak baru. Sekarang menyingkirlah! aku haus mau cari minuman." Kia memasang wajah datar.
"Eh, maaf." Tamara memberinya jalan.
Anggi dan Kia melanjutkan langkahnya tanpa menoleh pada Tamara. Sedangkan Tamara memandang kepergian kedua bocah usil itu.
"Anak baru aja blagu, apa lagi nanti!" Tamara menggeleng-grlengkan kepalanya sambil membuka pintu kamarnya lalu masuk ke dalam.
...πππππ...
...TBC...
__ADS_1
Semoga betah bagi yang berkenan mampir π