
Sesampainya di pesantren, Renald dan Rizky menyalamani 'Kyai Ahmad Syarif Syaibani' selaku pengasuh pondok pesantren An-nur.
Rizky dan Renald menitipkan putri mereka pada Kyai Syarif, Kyai Syarif memanggil salah satu Ustazdah untuk mengantar Kia dan Anggi ke asrama putri. Renald dan Rizkypun berpamitan setelah menitipkan putri mereka masing-masing. Sedangkan Syeila ikut Ustazhah mengantarkan Kia dan Anggi ke asrama mereka.
Renald melangkah untuk keluar dari halaman pesantren menuju parkiran mobilnya. Namun, langkahnya terhenti saat Kia memanggilnya.
"Daddy...!" teriak Kia, Kia lari lalu memeluk Renald dari belakang.
"Jangan tinggalkan Kia," ucap Kia menangis sesegukan.
Renald berbalik dan menangkup kedua pipi Kia. "Kia sayang, Kamu nggak malu nangis di lihatin banyak orang? kenapa kamu jadi cengeng kayak gini? kau sudah besar Nak! mana Kia yang dady kenal sebagai gadis kuat?" Renald tersenyum.
"Jadilah perempuan yang lemah lembut tapi jangan cengeng. Namun, ingat! kau jangan pernah cari masalah dengan siapapun, jaga sikapmu disini dan jadilah kebanggaan dady sayang, karena dady hanya punya kamu," ucap Renald.
"Ya udah dady pamit dulu, jangan nangis lagi." Renald mengusap air mata Kia.
Kia hanya menganggukkan kepalanya karena ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun karena kesedihannya yang akan berpisah dengan Renald.
__ADS_1
Renald melanjutkan langkahnya, yang di tatap kepergiannya oleh Kia. Kia kembali ke asrama putri saat melihat bayangan dadynya sudah menghilang.
"Kia, kamu dari mana saja sayang?" ucap Syeila yang sedang menunggunya di kamar Kia dan Muti.
"Aku mengahampiri dady sebentar Bunda, aku hanya ingin memeluknya sebelum dady pergi dari sini." Kia tersenyum getir.
"Kau nggak usah sedih Ki...! kan ada aku disini." Anggi menaik turunkan alisnya sambil tersenyum menampilkan dimple dipipinya.
"Apaan sih Nggi, aku kan jarang bersama dady, jadi wajar saja jika aku sedih berpisah dengannya," ucap Kia cemberut.
"Sedih boleh saja sayang, tapi jangan berlarut, kalian harus semangat belajarnya disini. Ingat! jangan macem-macem.
"Anggi...!" Syeila menekankan panggilannya.
"Yaudah bunda pamit dulu, kalian baik-baik disini ya?"
"Baik bunda." Kia dan Anggi menjawab bersamaan, lalu menyalami Syeila secara bergantian.
__ADS_1
Syeila melangkah keluar asrama, dan air matanyapun jatuh seketika yang di tahannya sejak dari kamar Kia dan Anggi tadi. Sebenarnya Syeila nggak sanggup melihat Kia dan Anggi di titipkan di pesantren. Namun, Syeila nggak boleh egois karena Rizky dan Renald menitipkan mereka demi kebaikannya.
"Nggi...! Kamu nggak sedih di tinggalkan disini sama ayah dan bunda." Kia menatap Anggi heran karena Anggi terlihat biasa-biasa saja.
"Aku kan sudah bialng 'aku nggak bakalan merasa sedih jika disini ada kamu.'" ucap Anggi santay.
"Terserah kamu deh, capek ngomong sama kamu." Kia merebahkan dirinya di atas kasur sempit yang hanya muat untuk dirinya sendiri.
"Ini kasur atau kayu sih, kok keras amet." Kia meraba kasurnya karena nggak mpuk.
"Emang kamu nggak bisa bedakan yang mana kayu? dan yang mana kasur. Kalau yang aku lihat kayaknya itu kasur deh," ucap Anggi polos.
"Udahlah Nggi, mending kamu tidur aja, dari pada nyela omongan orang," ucap Kia kesel.
"Tapi aku bener kan kalau itu kasur? kamu aja yang bodoh, makanya aku kasih tau," ucap Anggi polos.
"Anggi...!" teriak Kia.
__ADS_1
...πππππ...
...TBC...