
Beberapa hari kemudian.
Alkan duduk termenung menatap taman rumahnya yang dihiasi dengan mawar putih kesukaan Arofah. Pria itu duduk lesehan di teras rumahnya, karena hari itu adalah hari Jumat maka santri libur sekolah, baik Alkan maupun Arofah tidak mempunyai kegiatan untuk beraktivitas seperti biasanya.
Arofah yang melihat Kakaknya yang termenung, ia juga ikut duduk di samping Alkan sambil melihat kakaknya yang melamun menatap taman.
"Apa yang Kak Alkan pikirkan?" tanya Arofah.
"Kia," ucap Alkan tanpa sadar.
Pria itu terkejut setelah menjawab pertanyaan Arofah, lalu menoleh menatap adiknya yang sedang menatap dirinya.
"Aku tau itu, kalian saling mencintai. Namun, takdir seakan tidak menghendaki kalian bersatu. Maafkan Arofah yang tidak bisa membantumu Kak!" ucap Arofah.
"Aku yang mencintainya, sedangkan dia tidak. Andai saja dia mencintaiku, mungkin aku punya alasan untuk memperjuangkannya," ucap Alkan.
"Tapi yang sesungguhnya Kia juga mencintaimu Kak, dia mencintaimu dalam diamnya karena ia tidak mau menyakiti Anggi yang juga mencintaimu." Arofah menatap Alkan dengan wajah seriusnya.
"Kau jangan bercanda Dek, siapa Kakak yang bisa dicintai mereka, mereka keturunan dari keluarga kaya, jadi nggak mungkin jika meraka mencinta kakak yang hanya dari keturunan sederhana. Kami tidak sederajat Dek!" Alkan tersenyum sendu.
"Bukankah Kakak sendiri yang mengajarkanku bahwa derajat kita sama di mata Allah, hanya akhlak kita saja yang akan menentukan siapa di antara kita yang lebih baik. Jadi harta tidak akan berguna jika kita tidak miliki sopan santun." Arofah tersenyum menatap adiknya.
"Kamu benar Dek, tapi aku belum percaya jika Kia juga memiliki perasaan yang sama dengan kakak jika Kakak tidak mendengarkan langsung darinya," ucap Alkan.
__ADS_1
"Baiklah, jika itu keinginan Kakak, aku akan memenuhi keinginan kakak, sekarang pinjamkan Arofah ponsel sebentar!" Arofah berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Alkan.
"Untuk apa?" tanya Alkan.
"Untuk memberimu bukti bahwa aku tidak pernah berbohong," ucap Arofah.
Alkan tersenyum menatap adiknya yang terlihat begitu bersemangat, pria itu menarik tangan Arofah hingga gadis itu duduk kembali.
"Kenapa kakak menarikku? Katanya mau mendengar langsung dari mulut Kia," ucap Arofah.
"Tidak perlu, Kakak percaya padamu," ucap Alkan tersenyum menatap Arofah.
"Terus, apa yang akan Kakak lakukan?" tanya Arofah.
"Baiklah, jika itu keputusan kakak, aku harap kakak selalu bahagia dengan keputusan kakak," ucap Arofah. Gadis itu tersenyum sendu.
"Terima kasih Dek," Alkan tersenyum menatap Arofah.
"Sama-sama, Arofah bahagia jika Kakak bahagia."
"Ya udah, Arofah bantu ummy masak dulu, jangan lupa bahagia!" ucap Arofah. Gadis itu berdiri lalu meninggalkan Alkan yang masih menatap dirinya.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1
Satu Minggu kemudian.
Kini tiba saatnya Alkan harus bertunangan dengan Salimah, pria itu sudah rapi dengan setelan Peci putih, baju koko putih dengan sarung warna hijau lumut tak lupa pula jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya membuat pria itu terlihat sangat tampan dan berwibawa dengan pakaian sederhananya.
Acara pertunangan itu di selenggarakan di pondok pesantren An-nur. Disana sudah tertata rapi dengan dekorasi yang sederhana tepatnya di aula pondok pesantren tersebut.
Alkan memandang pantulan dirinya di cermin, pria itu tidak tau apa yang harus ia lakukan, ia dalam dilema antara cinta dan berbakti, ia tidak mau menjadi anak durhaka. Namun, ia juga sangat mencintai Zaskia dan sulit membuang gadis itu dalam pikirannya.
Sedangkan di lain tempat, Zaskia melamun sambil duduk di pinggiran ranjang yang biasa ia tiduri tiap malam, gadis itu sudah siap menghadiri acara pertunangan Alkan dengan Salimah. Namun, gadis itu enggan untuk pergi.
Anggi yang merasakan perasaan yang sama dengan Kia, ia juga masih betah duduk di depan cermin. Akan tetapi, gadis itu tidak sengaja melihat Kia yang sedang melamun. Anggi beranjak dan mendekati sahabatnya itu lalu menangis terisak.
"Aku tahu perasaanmu Ki, kau jangan coba membohongi perasaanmu lagi hanya demi aku, aku menangis bukan karena Gus Alkan akan bertunangan. Namun, aku sakit hati melihatmu terpuruk seperti ini," ucap Anggi sambil menangis dalam pundak Kia.
Zaskia terperanjat mendengar ucapan Anggi, ia tidak menyangka bahwa sahabatnya itu sangat peka dengan apa yang dirasakannya tanpa Kia sadari.
"Anggi, jika kau tidak terluka melihat Gus Alkan akan bertunangan, aku mohon jangan menangisiku! Aku tidak apa-apa," Zaskia tersenyum lembut.
"Bibirmu berkata 'Tidak!' Namun, matamu tak kan pernah bisa membohongiku Ki." Anggi memeluk Kia kembali.
"Hei, aku tidak apa-apa, ayo ke aula! Buktikan jika kau tidak sakit hati melihat Gus Alkan bertunangan dengan orang lain," ucap Kia. Anggi hanya menganggukkan kepalanya tanpa bisa menjawab ucapan Kia.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
__ADS_1
...Bersambung...