
"Mas, bagaimana keadaan Rania sekarang?" tanya Anggi tersenyum setelah Raka menemani Rania seminggu di rumah sakit karena penyakitnya kambuh. Kini pria itu kembali untuk mengambil baju gantinya.
"Rania sudah membaik, besok sudah boleh pulang." Raka membalas senyuman Anggi Kaku. Pria itu duduk di sisi tempat tidur dengan Anggi di sampingnya.
"Apakah malam ini kau akan menginap di rumah sakit lagi, Mas?" tanya Anggi seraya menatap wajah suaminya dari samping.
"Aku tau, aku tidak adil padamu! Tapi aku tidak punya pilihan, karena Rania lebih membutuhkanku," ucap Raka seraya menatap lurus ke depan.
"Maafkan aku, Mas! Aku terlalu banyak menuntut!" ucap Anggi menundukkan kepalanya.
"Hey, ini semua bukan salahmu! Aku yang berdosa sama kalian!" ucap Raka. Pria itu langsung memeluk Anggi dengan perasaan campur aduk.
"Tidak, Mas! seharusnya Anggi lebih mengerti Mas Raka!" ucap Anggi dengan bibir yang dipaksakan untuk tersenyum.
"Nggi, bagaimana kalau malam ini kamu nginep di rumah sakit denganku?" Raka meregangkan pelukannya dan menatap wajah Anggi sambil menangkup kedua pipi istri keduanya itu.
"Maafkan aku, Mas! Tapi tidak ingin membuat Rania sakit hati dengan keberadaan ku, setangguh-tangguhnya perasaan wanita, pasti akan terluka jika melihat orang yang dicintai menduakan cintanya."
"Aku saja yang tidak mencintaimu terkadang masih terluka saat Mas Raka lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Rania." Anggi melepaskan tangan Raka perlahan seraya memalingkan muka untuk menghindari tatapan suaminya itu.
__ADS_1
"Maafkan aku!" ucap Raka dengan wajah sendu.
"Aku tidak ingin meminta perceraian, karena aku tahu hukum minta cerai pada seorang suami itu bagaimana. Jadi cobalah mengerti perasaan kami, carilah jalan agar kami tidak terluka lagi!" Anggi menundukkan kepala menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Apa artinya kau memberiku pilihan antara kamu dan Rania?" tanya Raka menatap Anggi intens.
"Tidak, Mas! Aku tau kau akan memilih siapa?" ucap Anggi.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Raka menatap Anggi bimbang.
"Kenapa sekarang kau bingung, Mas? Bukankah kau sendiri yang mengambil keputusan untuk berpoligami?"
"Tadinya aku berpikir bahwa aku akan mendapatkan payung emas karena ikhlas suamiku punya istri lain. Namun, rasanya aku salah. Aku tidak bisa membagi suamiku dengan siapun meskipun aku tau bahwa di sinilah aku yang menjadi orang ketiga di antara kalian, bisa dibilang aku ini adalah seorang pelakor," ucap Anggi yang sudah tidak bisa menahan air matanya lagi.
"Maafkan aku, Anggi! Sekarang aku tidak bisa kehilanganmu! Dengan kebersamaan kita yang hampir 2 bulan ini, aku tidak bisa berbohong bahwa hatiku tersentuh dengan kebaikanmu, aku mencintaimu meskipun cintaku tidak sebesar padanya," ucap Raka dengan suara tercekat.
"Jika kau memang mencintaiku, aku mohon berilah aku kebahagiaan lain! Aku tidak ingin berdosa karena minta cerai, jadi aku mohon mengertilah Mas! Mengertilah." Anggi meluapkan kesedihannya seiring air matanya yang ikut mengalir deras.
"Selain perceraian, apa yang bisa membuatmu bahagia?" tanya Raka menatap Anggi dengan wajah sendunya.
__ADS_1
Anggi menunduk. "Aku ingin melanjutkan kuliahku dan aku juga ingin memperdalam ilmu agamaku," ucapnya
"Aku ingin ke Mesir atas izin darimu," lanjutnya.
Raka menghela nafas. "Baiklah, aku akan mengurus segalanya besok! Sekarang aku harus ke rumah sakit untuk mengurus kepulangan Rania.
"Terima kasih, Mas!" ucap Anggi dengan senyum senyum kakunya.
Raka mengangguk, lalu berdiri dan melangkah meninggalkan kamar tersebut dengan perasaan kacaunya.
"Semoga setelah ini, aku bisa belajar lebih ikhlas!" gumam Anggi.
...πππππ*...
^^^Bersambung ...^^^
Assalamu alaikum Reader ku, Sayang π
Kalian ikuti alur ya π
__ADS_1
Jangan main tebak-tebakan, biar nanti othor nggak pusing sendiri mikir alur ceritanya karena ngikuti kalian π
Love you All ...