
Kia berjalan gontai menjauhi kerumunan para santri banin. Ia melamun menuju asrama putri. Entah apa yang dipikirkan gadis itu.
Sementara di rumah Kyai Syarif, Alkan menatap abanya yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Pria itu sangat merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi, meskipun tanpa sengaja ia melakukannya.
Setelah beberapa saat kemudian, Kyai Syarif mengerjapkan mata, lalu melihat Alkan yang duduk di sisi ranjang yang ia tiduri. Kyai Syarif menatap putranya itu dalam kebisuan.
"Aba..." panggil Alkan pelan setelah melihat Kyai Syarif sadar dan menatap dirinya.
Kyai Syarif memalingkan muka dari Alkan karena ia sangat kecewa dengan putranya karena kedapatan bermalam dengan orang yang bukan mahram. Sedangkan Alkan merasa terpukul dengan sikap abanya yang tidak mau menatap wajah pria tersebut.
"Maafkan Alkan, Ba!" ucap pria itu. Alkan merasa bersalah karena dirinya Kyai Syarif penyakitnya kambuh.
"Aku kecewa padamu!" ucap Kyai Syarif tanpa menatap wajah Alkan.
"Nikahi gadis itu! Aba tau kau mencintainya, tetapi bukan begini caranya Nak! Aba tidak pernah mengajarimu untuk menodai seorang gadis. Kau harus menghargainya, jangan ikuti kemauan Syetan." Kyai Syarif menatap Alkan kecewa.
"Tapi Alkan tidak menodainya Ba," ucap Alkan.
__ADS_1
"Terus apa namanya, jika kau dan dia berduaan di tempat sepi dan gelap, selain itu aba melihat sendiri kalau kau memeluknya tadi," ucap Kyai Syarif.
"Tapi Aba cuma salah faham, kami tidak melakukan apapun aba, kami disana karena terjebak hujan," jawab Alkan.
"Kalian bukan mahrom, tidak seharusnya kalian di sana berduaan. Apalagi letak gudang di area santri banin. Ngapain Kia kesana jika bukan kamu yang mengajak gadis itu." Kyai Syarif menatap Alkan dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Sedangkan Alkan tidak menjawab abanya lagi, karena walau bagaimana pun ia akan tetap salah.
"Baiklah Aba, aku akan menikahi Kia dan akan membatalkan pertunangan ini dengan Salimah." Alkan menatap Kyai Syarif dengan tatapan sendunya.-
"Ya sudah, aba mau istirahat! Tinggalkan aba sendiri?" ucap Kyai Syarif.
Kyai Syarif tidak menjawab, ia hanya memejamkan mata seakan enggan untuk mendengarkan ucapan Alkan.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
"Kia, apakah benar dengan apa yang ku dengar?" tanya Anggi setelah gadis itu melihat sahabatnya masuk kedalam kamar dengan wajah yang tertunduk. Kia melewati Anggi tanpa memperdulikan pertanyaan gadis itu.
__ADS_1
"Berarti benar?" tanya Anggi lagi. Mereka berdiri saling memunggungi.
Di dalam kamar itu tinggal Gracia juga Anggi hingga Anggi bebas berbicara dengan Zaskia apapun.
"Ki...," panggil Anggi. Anggi berbalik lalu ia membalik tubuh Kia kasar, gadis itu menampar wajah sahabatnya karena kekecewaan yang mendalam. Sedangkan Kia hanya diam saja menerima perlakuan Anggi, karena ia tahu Anggi melakukan itu semua karena telah membuat gadis itu cemas semalaman.
"Kenapa Ki? Kenapa kau melakukan ini? Kau tahu 'kan kalau perbuatanmu ini akan membuat daddy dan ayah malu? Aku tahu Ki, kau mencintai Gus Alkan, tapi bukan kayak gini caranya. Kau hanya akan mencemarkan nama baikmu juga keluarga kita!" teriak Anggi dengan air mata yang terus berderai.
"Kenapa kau diam saja Ki? Jawab Ki jawab!" teriak Anggi. Kia menatap Anggi datar entah apa yang gadis itu rasakan.
"Aku tahu Nggi aku salah? Apakah kau akan mendengarkan penjelasanku?" tanya Kia.
"Penjelasan? Penjelasan apa lagi? Jika Kyai Syarif sampai jantungan karena melihat kelakuan kalian berdua," ucap Anggi.
"Jika kau tidak mau mendengarkan penjelasan ku, lalu untuk apa aku menjawab pertanyaanmu, semuanya percuma 'kan?" Anggi melangkah lalu merebahkan dirinya ke atas tempat tidur sambil memejamkan mata."
...🍁🍁🍁🍁🍁...
__ADS_1
^^^Bersambung....^^^
Thank you untuk yang berkenan mampir ❤️