
Raka kini sudah menjemput Rania. Pria itu banyak melamun sejak perceraiannya dengan Anggi.
Di dalam mobil, hanya keheningan yang terjadi, karena Raka maupun Rania bungkam, mereka menyelami perasaan mereka masing-masing.
"Aku tak tega melihatmu seperti ini Ka! Aku tau kau sangat terluka karena Anggi akan berangkat ke Mesir, tapi apa yang terjadi saat ini adalah akibat dari perbuatanmu sendiri, bukan?"
"Aku tau kau seorang suami yang adil, tapi seadil-adilnya suami yang berpoligami, pasti akan membuat salah satu istrinya terluka." Rania menatap Raka dengan senyum kakunya.
"Aku sudah menjatuhkan talak satu pada Anggi, aku tidak mau menyiksanya lebih lama lagi, aku ingin dia mencari kebahagiaan yang tidak pernah bisa kuberikan padanya selama ini," ucap Raka yang masih fokus menyetir.
"Astaghfirullah ... kenapa kau memilih menyakitinya, Ka? Seharusnya apa yang kau lakukan padanya itu, kau lakukan padaku. Dia perempuan sholeha, kau tak pantas memperlakukan dia seperti itu," ucap Rania dengan perasaan bersalahnya pada Anggi.
"Aku mencintaimu, aku tidak bisa kehilanganmu apapun yang terjadi." Raka masih bicara tanpa menatap wajah Rania.
"Aku bukan perempuan sehat, Ka! Aku hanya akan merepotkanmu bukan melayanimu," ucap Rania.
Raka menepikan mobilnya. Lalu menatap Rania, dan menangkup pipi Rania dengan kedua tangannya.
"Kau segalanya bagiku Ra! Jangan pernah berpikir bahwa aku akan meninggalkanmu hanya karena kamu punya riwayat sakit jantung," ucap Raka tersenyum manis. Pria itu menghapus air mata Rania yang terus mengalir deras.
__ADS_1
"Maafin aku, Ka! Maafin aku! Aku tidak bermaksud untuk meminta kau meninggalkanku. Namun, aku tetap merasa bersalah pada Anggi karena telah menyakiti orang sebaik dia." Rania memeluk tubuh suaminya erat dengan tangis yang tersedu-sedu.
"Semoga dia segera menemukan kebahagiaannya," ucap Raka memejamkan mata.
_______________
"Kita pulang, Nak! Kau tidak perlu berangkat ke Mesir hanya untuk menghindari Raka!" ucap Rizky yang tiba-tiba berada di bandara.
Anggi terkejut mendengar suara ayahnya. Ia menoleh, ternyata dibelakangnya sudah ada Rizky dan Sheila yang menatapnya sendu.
"Ayah ... Bunda!" panggil Anggi dengan suara bergetar.
"Nanti kita bicara di rumah!" ucap Rizky dengan senyum kaku.
"Tapi ... "
"Tidak! Daddy tidak mengizinkan kamu ke Mesir, jika memang kau mau menambah ilmu agama, kembalilah ke pesantren. Kau tidak akan menyelesaikan masalah jika kau lari dari kenyataan," ucap Rizky datar. Pria itu tau pasti apa yang akan diucapkan putrinya.
Anggi menganggukkan kepala, sementara Rizky langsung balik badan dan melangkah menuju mobilnya setelah mendapat jawaban dari putrinya.
__ADS_1
"Sini, Sayang! Biar bunda yang bawa koper mu!" Sheila tersenyum sambil menatap putrinya.
"Biar Anggi saja bunda, lagi pula ini tidak berat," jawab Anggi membalas senyuman bundanya.
Sheila dan Anggi pun melangkah mengikuti langkah Rizky, lalu Rizky masuk mobil yang diikuti Sheila dan Anggi. Rizky pun melajukan mobilnya meninggalkan bandara tersebut.
Di dalam mobil Anggi hanya menatap pepohonan yang berlalu lalang, wanita itu banyak melamun dan jarang mengeluarkan suaranya hingga Sheila yang melihat putrinya tersebut menjadi khawatir.
Sesampainya di rumah Anggi turun dari mobil yang diikuti Rizky dan Sheila, ia hendak melangkah menuju pintu utama. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara ayahnya.
"Ayah mau pergi ke tempat suamimu dulu! Ayah ingin tanyakan mengapa dia memperlakukan putri kesayangan ayah seperti ini?" Rizky membuka pintu mobilnya kembali. Namun, ia langsung menghentikan aksinya setelah mendengar ucapan Anggi.
"Ayah, sebaiknya kita bicara dulu! Nanti ayah tanyakan padanya setelah Anggi menjelaskan masalah Anggi," ucap wanita itu.
"Anggi hanya ingin tenang, bukan salah Mas Rizky aku pergi!" lanjut Anggi.
...πππππ...
^^^Bersambung ... ^^^
__ADS_1