
"Kia, ikut aku ke kamar mandi yuk? aku kebelet." Anggi membangunkan Kia tengah malam.
"Jam berapa sekarang Nggi? aku ngantuk banget," ucap Kia masih memejamkan matanya.
"Kia ayo...! aku bisa pipis di sini nanti kalau kamu nggak bangun-bangun," ucap Anggi mewek.
"Iya iya..., bentar aku mau ambil kerudung dulu." Kia bangun lalu mencari kerungnya dalam kegelapan, Kia tidak menghidupkan lampu karena takut mengganggu tidur santri yang lain.
"Kamu lelet banget sih Ki, ya udah aku duluan aku udah nggak tahan Ki, tapi kamu harus susul aku! Awas aja kalau nggak, nanti ku aduin kau ke Ayah," ancam Anggi.
Anggi yang sudah tidak bisa nahan ingin segera ke toilet, ia langsung lari meninggalkan Kia saat Kia menemukan kerudungnya.
Kia menyusul Anggi setelah selesai memakai kerudung. Namun, saat melewati taman, bulu kuduk Kia merinding karena melihat sesosok orang duduk di bawah pohon mangga dalam kegelapan.
"Wah..., ini pasti hantu, emang dia pikir aku takut apa? nggak ada juga ceritanya orang meninggal karena dimakan hantu, jadi untuk apa aku takut?" Kia mendekat tetapi wajah orang tersebut masih tak terlihat karena ia menenggelamkan wajahnya pada lengan yang bertumpu pada lutut.
Kia mengambil ranting lalu memukulnya sekencang mungkin.
__ADS_1
"Pergi kau hantu! aku nggak takut, pergi sana pergiii...!" Kia memukulnya tanpa henti.
"Hentikan!" ucap Alkan. Namun, Kia tak mendengarnya, Kia memukul Alkan membabi buta menggunakan ranting yang sengaja diambilnya tadi.
Alkan yang sudah kesakitan di pukul oleh Kia, langsung memegang tangan Kia untuk menghentikannya. Namun, Kia memberontak hingga akhirnya Kia terpeleset dan Alkan berusaha untuk menangkap kia. Namun, mereka berdua malah jatuh berguling-guling karena posisi pohon mangga tersebut tanahnya tidak datar.
Kia kaget karena ia terjatuh bersama orang yang dipukulnya dengan posisi Kia menimpa Alkan. Kia yang kaget malah mematung menatap Alkan dari jarak yang sangat begitu dekat. Kia dapat melihatnya karena sinar sang rembulan di malam itu begitu cerah. Pohon mangga yang rindang menutupi ke cerahan sinar sang rembulan, membuat Kia tidak bisa mengenali kalau yang dipukulnya adalah Alkan bukanlah hantu.
Deg
Deg
Deg
Ini pasti ada yang salah, jantungku? mengapa aku tidak bisa mengatur jantungku agar berdetak lebih normal? menapa aku sangat nyaman berada dekat dengan gadis ini? batin Alkan.
"Kenapa hantunya mirip Gus Alkan ya? apakah aku sudah gila? dan ini..." Kia menusuk nusuk pipi Alkan dengan jari telunjuknya. "Begitu nyata," gumam Kia. Namun, Alkan masih tetap tak bergeming membuat Kia menampar pipi Alkan.
__ADS_1
"Hai hantu, aku nggak takut ya sama kamu. Gus Alkan memang tampan, tetapi aku nggak akan tertipu sama kamu, meskipun kamu menyamar sebagai dia.
Alkan mendorong Kia dari tubuhnya, lalu duduk dan menyentil kening Kia.
"Santri edan," ucap Alkan lalu berdiri meninggalkan Kia yang masih kaget dengan suara Alkan.
Kia berdiri dari tempat tersebut, lalu menatap langkah Alkan yang menjauh darinya.
"Jadi tadi beneran Gus Alkan?" gumam Kia.
"Mampus gue, tapi aku kan nggak sengaja." Kia menjadi gugup, takut kelakuannya dilaporkan ke daddynya.
"Aku harus minta maaf, aku nggak mau mengecewakan daddy, aku nggak bermaksud bersikap kayak gitu lagi, aku nggak nyangka kalau yang ku pukul tadi beneran Gus Alkan." Kia merasa bersalah karena memukul Alkan membabi buta.
...πππππ...
...TBC...
__ADS_1