TASBIH CINTA

TASBIH CINTA
Aku tak berhak menagisinya


__ADS_3

Kia dan Arofah duduk di bangku taman halaman sekolah santri putri, dan kebetulan hari itu adalah hari libur sekolah, jadi suasananya sepi karena sebagian para santri ada jadwal pertemuan dengan orang tuanya.


"Kamu mau bicara apa Neng? Tak biasanya kau mengajakku bicara berdua, biasanya kau lebih dekat dengan Anggi," ucap Kia tersenyum.


"Aku mau curhat padamu Ki, aku lebih mempercayai kamu dari pada Anggi. Karena kamu tau sendiri sifat Anggi bagaimana? Dia sering keceplosan. Namun, aku butuh teman curhat dan hanya kamu yang bisa ku percaya." Arofah sengaja ingin menceritakan tentang kakaknya karena Arofah ingin melihat reaksi Kia, jika Kia tau bahwa Alkan akan segera menikah.


"Baikllah, sekarang ceritakan apa yang menjadi beban pikiranmu. Aku akan berusaha menjadi teman yang baik dan menjaga amanahmu." Kia tersenyum lembut.

__ADS_1


"Jadi begini Ki, Kak Alkan menyukai seorang gadis. Ciri-cirinya itu seperti kamu banget, tetapi Kak Alkan di jodohkan sama aba, Kak Alkan disuruh menikahi Kak Salimah sepupuku sendiri."


Deg.


Kia begitu terkejut dan entah mengapa ada rasa sakit yang menghantam dadanya saat mendengar kabar bahwa Alkan akan segera menikah. Namun, sebisa mungkin Kia menahan rasa sakit yang melanda hatinya dengan berusaha bersikap biasa saja dan tersenyum agar Arofah tidak mengetahui perasaan Kia yang sebenarnya.


"Kakakmu sudah melakukan hal yang benar Neng, kita sebagai anak diwajibkan untuk mematuhi perintah orang tua kita, cinta tidak harus memiliki, jika jodoh kakakmu bukanlah dengan orang yang dia cintai sekarang, mungkin kakakmu akan lebih mencintai orang yang tidak dicintainya saat ini, terkadang pepatah memang benar, bahwa cinta memang akan datang dengan adanya kebersamaan dan seiring berjalannya waktu." Kia menatap lurus ke depan dan tanpa sengaja tatapannya mengarah pada Gus Alkan yang sedang menatapnya dari jarak jauh.

__ADS_1


Kenapa hati ini begitu sakit? Saat aku mengetahui kalau dia akan segera menikah. Rasanya aku tak dapat membendung air mataku lagi agar tak menetes. Namun, aku tak berhak menangisinya karena aku bukanlah siapa-siapa. Dan rasanya aku ingin memilikimu, tetapi aku sadar bahwa kau terlalu sempurna bagiku. Aku ingin melihatmu tersenyum walaupun senyuman itu bukanlah untukku. Kia membatian sambil menatap Alkan, tatapan mereka bertemu dalam waktu yang cukup lama. Sehingga tanpa disadari Alkan dan Kia, Arofah melihat tatapan keduanya dan tersenyum lembut melihat tingkah kakak dan temannya tersebut.


"Apakah orang yang dicintai kakak adalah kamu Ki?" tanya Arofah yang berhasil membuat Kia terkejut dan langsung mentap Arofah.


"Ap-apa? Apa kau bilang Neng? Ya nggak mungkinlah kakakmu menyukaiku. Aku hanya santri yang nggak tau sopan santun, jadi mana mungkin Gus Alkan tertarik padaku? Lagi pula kita nggak pernah dekat." Anggi gelagapan karena tuduhan Arofah. Kia nggak mau kalau sampai ada orang lain tau tentang perasaannya pada Alkan.


...๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’...

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2