
Sesampainya di aula, para santri sudah berkumpul di sana untuk menyaksikan pertunangan itu.
Santri banin dan banat dipisah dengan tabir. Kedua keluarga sudah berkumpul diatas pentas untuk melangsungkan acara tukar cincin.
Salimah memakai niqob karena acaranya bukan hanya disaksikan santri banat tapi santri banin juga berkumpul di sana.
Suara tepuk tangan pun riuh saat Salimah menyematkan cincin pada jari manis Alkan, kini tiba giliran Alkan untuk menyematkan cincin pada jari manis Salimah. Pria itu tercekat menahan sesak karena harus bertunangan dengan orang yang tidak dicintainya. Namun, ia tetap melanjutkan pertunangan itu agar tidak mempermalukan orang tuanya.
Alkan mengambil cincin itu dan bersiap untuk menyematkannya pada jari manis Salimah. Namun, cincin itu tidak sengaja terjatuh.
Semua orang panik mencarinya, tetapi ternyata cincin itu terjatuh dan berputar berhenti tepat di kaki Kia. Gadis itu mengambil cincin tersebut dengan perasaan berkecamuk, ia mengantarkan cincin itu pada pemiliknya.
Kia mengayunkan langkah kakinya perlahan, mengabaikan orang yang sedang sibuk mencari cincin tersebut.
Di tengah keramaian santri banat, Alkan dapat melihat Kia yang melangkah mendekati pentas. Jantung pria itu pun semakin berpacu cepat, Alkan menatap Kia dengan mata tanpa berkedip, ia berusaha menetralkan jantungnya yang seakan-akan mau meledak. Namun, usahanya sia-sia, jantung pria itupun bahkan semakin berpacu cepat membuat pria itu sulit untuk bernafas.
Mata semua orang pun tertuju pada Kia yang sudah sampai di depan pentas. Tak terkecuali Kyai Syarif dan seluruh dua anggota keluarga tersebut. Arofah mendekati Kia, lalu gadis itu tersenyum melihat Kia berdiri di depan pentas.
"Apa ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Arofah berbisik. Gadis itu heran untuk apa sahabatnya itu mendekati pentas.
Kia menggeleng, lalu membuka genggaman tangannya dan menyerahkan isi dari genggaman tangan tersebut.
__ADS_1
Deg.
Alkan terkejut saat mendapati cincin yang tadinya jatuh ternyata ditemukan oleh orang yang dicintainya. Alkan menatap Kia sendu. Namun, pria itu pandai menyembunyikan perasaannya hingga semua orang tidak mencurigainya.
Akan tetapi, berbeda dengan Kyai Syarif, ia dapat melihat putranya yang menyimpan kesedihan setelah kedatangan Zaskia. Beliau melihat dengan jelas mata Alkan yang tidak berhenti menyorot pada Kia. Sang Kyai pun merasa bersalah karena telah memaksakan kehendaknya untuk menjodohkan putranya itu dengan sepupunya sendiri.
Sedangkan Arofah, ia mengambil cincin itu dan mengucapkan terima kasih dengan senyum sendu. Ia tidak tega melihat Zaskia dan Alkan yang terpisah karena perbedaan status.
Kia tersenyum menatap Alkan, Arofah dan seluruh dua keluarga itu, ia mengucapkan salam, lalu berbalik setelah memberikan cincin itu pada Arofah. Sedangkan Alkan matanya mengembun, namun ia langsung mengusap pupilnya agar tidak ada orang yang mencurigainya.
"Aku belum menikah, tapi kenapa rasanya sesakit ini? Bagaimana perasaannya sekarang? Apakah dia merasakan hal yang sama denganku atau bahkan lebih?" Alkan membatin sambil menatap punggung Kia yang menjauh darinya.
Sedangkan Anggi yang menyaksikan itu, langsung mengejar Kia. Namun, usahanya lambat karena Kia sudah mengunci kamar tersebut.
"Tok... tok... tok..."
"Kia, buka Ki, jangan seperti ini! Aku mohon buka pintunya," ucap Anggi.
"Please... tinggalkan aku sendiri! Sebentar... saja. Aku hanya ingin menenangkan diri Nggi." Kia menangis tersedu di balik pintu sambil duduk bersimpuh.
"Baiklah, tapi kamu harus janji! Setelah santri banat pulang kau harus sudah tenang, okay! Aku kembali ke aula dulu!" ucap Anggi.
__ADS_1
"Iya, aku janji!" jawab Kia. Gadis itu memegang dadanya yang terasa terhimpit. Sedangkan Anggi meninggalkan asrama menuju aula pesantren.
"Cintamu padanya begitu besar Ki, aku pernah berpikir bahwa aku tidak akan melepasnya untukmu. Namun, setelah kejadian ini aku baru sadar bahwa cintamu lebih besar dari cinta yang kumiliki," Anggi membatin.
Gadis itu kembali ke aula dengan perasaan yang tak menentu, ia sedih karena Alkan bertunangan dengan Salimah. Namun, ia lebih sedih lagi saat melihat sahabatnya yang terpuruk karena patah hati.
Setelah dirasa suasana cukup sepi, gadis itu berjalan keluar asrama mencari udara malam. Ia menangis tidak kuat menahan sakit hati yang dialaminya.
Kia terus berjalan mengitari taman pesantren, gadis itu tidak menyadari bahwa dirinya sudah melewati batas taman, dan berada di area taman santri banin.
"Ehem..."
Kia terlonjak saat mendengar seseorang sedang berdehem dari belakang punggungnya. Ia melihat area sekitar yang terasa asing baginya.
"Aku dimana?" Kia bergumam.
"Kau di area santri banin." Suara bariton dari arah belakang membuat jantung Kia seakan berhenti berdetak, ia sangat mengenali suara tersebut.
...^^^πππππ^^^...
...Bersambung...
__ADS_1